SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Dua Puluh


__ADS_3

HAPPY READING


Setelah aku kembali kerumah, Agarish tuh berubah bangat tau gak. Masa aku gak dibolehin kemana-mana? Pan aku orangnya gak bisa diem. Orang pas dikampung aja pagi buta aku udah main dikebun kok, eh nyampek disini malah dikurung kayak burung dalam sangkar.


Pagi ini aku sengaja bangun lebih dulu dari Agarish, ini pun bisa bangun duluan karena aku tidur terpisah sama Agarish. Kenapa bisa? Aku ngambek sama dia gara-gara gak dibolehnin keluar rumah.


Aku udah berencana mau kabur pagi ini sebelum ia bangun pagi. Jam 6 aku udah rapi sama wangi. Aku menutup pintu kamar dengan hati-hati lalu menuruni tangga dengan pelan agar tidak menimbulkan suara.


"Aman" aku menghembuskan napas lega kala tidak menemukan siapa-siapa dilantai satu. Aku bersiap hendak membuka pintu.


"Mau kemana?"


Aihhh ketahuan anjirr.


Aku membalik badan lalu menatap Agarish tanpa ada ekspresi.


"Mau keluar" aku melanjutkan membuka knop pintu, toh udah ketahuan juga ngapain musti bohong.


"Mau kemana?" Tanya dia kembali. Dia mendekat kearahku masih dengan pakaian tidur.


"Udah dibilang mau keluar juga!" Dengusku.


"Yah mau kemana dulu" sumpah aku udah kesal bangat disini. Udalah ketahuan malah dipojokkan lagi.


"Keluar yah keluar! Heboh bangat.." aku keluar dari rumah namun Agarish tetap mengekor dibelakang.


Aku melangkahkan kaki ketamana, iyalah mau kemana lagi coba tujuan aku kalau bukan kesana. Mau keluar rumah? Hahaha itu namanya cari mati, wong bos besar ngekor dibelakang ko.


Aku mendudukkan pantat diatas kursi panjang terus Agarish malah ikut-ikutan duduk.


Bukk


Aku menendang pantat Agarish yang hendak duduk.


"Yasmin!"


"Apa hah!?" Tanyaku tak kalah garang.


"Kenapa kamu malah nendang pantat aku sih?" Dia mengelus-elus pantatnya.


"Salah sendiri! Ngapain coba ikut-ikutan duduk disini" aku melipat tangan didada.


"Yah gak boleh emang?"


"Sangat tidak boleh. Udah sana ngapain kamu ngikutin aku sampe sini sih!" Aku kembali menendang udara agar Agarish menjauh.


"Kalau aku ninggalin kamu, yang ada nanti kamu malah kabur" dengusnya. Bener sih, cuman aku gak mau mengakuinya.


"Udah ah sana! Aku mau sendiri" aku berdiri lalu mendorong bahu Agarish agar kembali ke rumah.


Agarish mendesah. "Yaudah, tapi kamu jangan kemana-mana yah"


"Mmmm"

__ADS_1


"Jangan coba-coba berencana kabur"


"Mmmm"


"Aku mau kekamar dulu, mandi bentar"


"Mmmm"


"Sekali lagi kamu bilang mmmm bakalan aku cium"


"Mmmm...eh?" Aku tersadar akan jawabanku.


"Hahahaha beneran nih mau aku cium?" Agarish mendekatkan wajahnya.


"Aku buru-buru berdiri lalu mengambil sendal dan.." plakk aku menabok pantat Agaris dengan sendal jepit milikku.


"Awww ko dipukul sih Yas!" Dia merengut lalu mengusap-usap pantatnya kemudian.


"Makanya kalau ngomong tuh disaring!"


"Ya tapi kan...."


"Ngomong sekali lagi aku tampar tuh mulut" aku mengangkat tangan yang memegang sendal, sontak saja hal itu membuat Agarish mengunci mulutnya.


"Udah sana mandi!" Dengan wajah ditekuk Agarish dengan berat hati meninggalkan area taman.


Sepeninggalnya aku berfikir keras bagaimana caranya kabur dari rumah besar ini. Aku bosan. Aku pengen jalan-jalan keluar. Gara-gara si Agarish aku jadi gak bisa bebas.


Demi mengusir kebosanan, aku berkeliling area rumah. Sudah berapa lama aku tinggal disini? Dan selama itu juga aku belum pernah mengelilingi keseluruhan tempat tinggal ini.


Tiba dibagian belakang mataku berbinar melihat pohon jambu yang sedang berbuah lebat. Aku meneguk ludah sendiri. Bayangan bumbu rujak seakan menari diotakku sekarang. Dengan langkah bahagia aku mendekat kearea pohon. Dan seperti yang kalian bayangkan aku dengan tidak malunya memanjat pohon dengan baju terusan yang hanya sampai selutut.


Bodo amat, yang penting dapat jambu segar. Lagian aku kenapa tidak tau disini ada jambu dan kenapa tidak ada yang memeberitahuku sebelumnya? Ckckck.


Tidak sampai lima menit aku sudah nangkring diatas sambil menelan ludah melihat betapa besar dan enaknya jambu dihadapanku sekarang.


Gerakan tanganku terhenti kala menyadari tidak membawa plastik atau apapun yang bisa menampung jambu yang aku petik nanti. Aku mendesah pelan, mau turun malas, gak turun percuma manjat gak dapat apa-apa.


Akhirnya yang aku lakukan adalah nangkring seperti monyet diatas dahan. Badan kusandarkan kepohon besar, sementara aku duduk didahan sambil mengayun-ayunkan kaki. Udara pagi masih begitu segar saat ini. Aku memilih menyanyi. Ah sudah lama sekali aku tidak manggung.


Cinta kita melukiskan sejarah


Menggelarkan cerita penuh sukacita


Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu


Cinta kita sejati


"Astaga Yasmin!"


Aku tersentak kaget mendengar suara yang tiba-tiba. Karena kaget badanku jadi limbung dan terjun kebawah. Aku tidak bisa memikirkan apapun, hanya memejamkan mata.


"Eh ko gak sakit?" Gumamku lalu membuka mata. Aku berkedip sekali kala melihat wajah datar Garish yang kini tepat berada diatas mataku. Wajahnya sekarang memerah. Marahlah berarti.

__ADS_1


Dia menurunkan aku tanpa kata lalu pergi begitu saja dari belakang Mansion. Aku kelagapan sendiri. Belum pernah aku lihat Agarish seperti ini.


Mampus! Apa dia marah yah?


Aku menggigit kuku jari jempolku lalu ikut berjalan dengan pelan dibelakangnya. Jujur saja aku takut saat ini. Agarish diam, terus pandangan matanya tadi seperti ketakutan dan ada kecewa disana.


Aduhhh masalah apalagi ini...


Aku berhenti berjalan dan lebih memilih duduk dikursi taman. Entahlah nyaliku seketika menciut ketika mengingat ekpresi Agarish barusan.


Apa dia marah yah?


Tapi marah karena apa?


Aku menengadah keatas langit yang kini telah mendung. Ahh aku baru sadar, selama ini aku belum pernah tahu ada turun hujan setelah aku berpindah jiwa.


Tak berapa lama rintik-rintik gerimis mulai turun, dan aku makin betah untuk tetap diam sambil menikmati air yang perlahan mulai membasahi wajahku. Namun baru beberapa lama air hujan tak lagi menetes, aku membuka mata dan ternyata terhalang oleh payung yang kini ada diatasku.


"Mau nyari penyakit? Tolonglah Yasmin sekaliiii aja kamu jangan buat aku khawatir" aku mengerjapkan mata melihat ekpresi Agarish yang kini memayungi tubuhku.


"Ayo masuk nanti malah sakit hujannya juga bakalan deras sebentar lagi" dia menarik lenganku agar berdiri. Mau tak mau aku menurut saja.


Selama perjalanan kedalam rumah kami berdua hanya diam tak ada yang buka suara. Aku juga memilih bungkam, takut salah bicara. Udah berapa banyak kesalahan yang aku buat pagi ini, aku takut Agarish kumat.


Setelah sampai dikamar pun aku tetap bungkam. Aku bukan marah, hanya saja kalau aku ngomong takut membuat Agarish semakin kesal.


"Yass..."


"Apa?" Aku menoleh kesamping tempat Agarish duduk.


"Aku minta maaf" aku mengernyit bingun. Kenapa malah dia yang minta maaf? "Aku gak bolehik kamu kemana-kemana itu ada alasannya" ucapnya lalu menghela napas.


"Alasan apa?" Aku makin bingung.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa kalau tanpa pengawasan. Aku trauma Yas.." ucapnya lirih.


Lah trauma apaan dah? Emang dia udah pernah punya bini sebelumnya, enggak kan.


Aku memutar otak untuk berpikir, lalu seketika aku membeku mengingat kata-kata Yasmin dahulu.


"Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan masa lalu kamu?" Tanyaku hati-hati. Dan tanpa terduga Agariah menganggukkan kepalanya.


Wahhh apa ini?


_________


Segini aja dulu, besok kita lanjut.


Part besok akan ada penjelasan kenapa Agarish menjadi penyuka sesama jenis dan itu semua ada campur tangan si Bram juga


Tungguin yak 😉


Nur Dyh

__ADS_1


__ADS_2