SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Delapan


__ADS_3

Happy reading  😊


_______________________


Weekand kali ini aku memilih libur dulu, capek tau kerja mulu. Sesekali libur juga gapapa. Lagian cafe udah bisa diurus sama yang lain walaupun aku belum datang.


Aku heran sendiri disini. Masa yah cafe yang aku buat sering dijadiin tempat romantis sama pasangan muda ataupun yang udah berumur.


Bukan gak bersyukur yah, tapi kan makanannya kaya gak cocok gitu loh.


Kalau dikita kan lagi eniv itu makanannya steak atau apalah itu, terus makannya di restoran terkenal.


Yang aku bingungkan, cafe yang kami buat ini makanannya cuman Bakso, Soto, Sate, Mie Ayam dan macam-macam makanan pake mecin lainnya. Tapi ko malah dijadiin tempat romantis yah?.


Tapi syukur deh, berarti mereka suka sama makanan yang baru dilidah mereka. Bahkan woy, aku juga ikutan terkenal gara-gara nyiptain makanan ini. Padahal mah aku cuman jiblak dari tetua didunia ku dahulu.


Ditambah lagi pas aku nyanyi malam itu ada nyebarin vidionya di internet, makin terkenal dah ntu cafe kami.


"Selamat pagi" ucapku lemas kala memasuki ruang makan.


Semua orang menatapku aneh. Tak biasanya kan aku lemes begini pagi-pagi. Mana aku belum mandi lagi. Aku cuman nyuci muka sama gosok gigi lalu turun ke ruang makan.


"Gak kerja kamu Yas?" tanya Agarish yang kini sudah duduk manis didepanku. Dia terlihat memakai pakaian santai, iyalah wong ini hari libur ko.


"Enggak, mau libur dulu hari ini" aku menegak air hangat lalu memakan roti untuk sarapan.


"Tumben makan roti, biasanya langsung makan nasi" entrupsi Agarish lagi.


"Ck, sejak kapan sih kamu perhatiin setiap gerak gerik aku" ucapku tak bersemangat.


"Capek banget yah sampe lemas gitu?" Bukannya menjawab dia malah mengalihkan pembicaraan.


"Ho oh capek banget"


"Makanya bangun tidur itu langsung mandi biar seger" ucapnya lagi.


"Berisik bangat sih kamu" aku bangkit dari duduk ku. Lalu membuka baju tidur terusan bermotip beruang milikku.


"Eh eh ngapain kamu buka baju?" Panik Agarish kala aku membuka kancing baju tidur milikku.


"Kenapa emang, takut kegoda kamu?" Mataku langsung berbinar ketika melihat wajah panik Agarish.


"Ya..ya kan kamu bisa buka di kamar" jawabnya tergagap.


"Enggak ah aku mau buka disini aja" aku melempar asal bajuku dilantai, menyisakan celana hotpants dan tantop.


"Astaga Yasmin!, cepat pake bajumu kembali" teriak Agarish.


Ogah ah nurut. Aku malah melepas alas kaki lalu melenggang pergi dari ruang makan.


"Yasmin mau kemana kamu!"


"Mau nyari cowok baru" jawabku memanas-manasi.


Padahal mah tujuanku ke taman belakang, mau berjemur. Biar kulitku yang gelap makin gelap.

__ADS_1


Aku bersenandung memasuki taman, lalu merebahkan badan dilursi panjang taman.


"Ahh nikmatnya"


Aku memejamkan mata menikmati hangatnya cahaya matahari yang menimpa kulit.


Namun beberapa menit kemudian aku tidak meraakan panas di area wajahku. Ketika aku pembuka mata ternyata ada tangan yang menghalangi cahaya matahari langsung kewajah.


"Nagapain kamu?" Aku langsung mendudukkan badan kala mendapati Agarish berdiri menjulang disampingku.


"Nutupin cahaya matahari biar wajah kamu gak makin gosong" ucapnya santai lalu ikut duduk disamping.


"Biar hitam gini banyak yang naksir sama aku biar kamu tau" sinisku.


"Biarpun banyak kalau cuman aku yang bisa milikin kamu gimana"


"Songong sekali anda"


"Benaran kan kamu itu milik aku bukan orang lain?" Tuturnya sambil menaik turunkan alis.


"Iya sekarang aku milik kamu, tapi gak tau kedepannya gimana" aku menatap lekat wajah Agarish.


"Apa kamu gak ada niatan buat berubah menjadi normal lagi Ga?, apa sebegitu tidak menariknya aku di matamu hingga kamu lebih memilih Bram untuk meyalurkan hasrat bioligis kamu?"


Agarish masih diam, tidak mau mengeluarkan apa pun. Biarkan saja, sesekali aku kasih cerama gak akan ada salahnya.


"Agarish coba kasih tau aku dimana letak menariknya Bram?. Dia itu laki-laki, apa yang membuat kamu hingga lebih memilih dia?. Logika aja Aga, aku... aku lama-lama juga gak bakalan tahan sama pernikahan kita yang sekarang"


Wajahnya serius menatapku sekarang, aku tidak peduli. Dia harus sadar kalau dia itu salah.


Suaraku mulai serak, dadaku naik turun menahan sesak. Aku menangis sekarang. Entahlah, setelah beberapa bulan tinggal dengan Agarish, aku seakan merasakan kesakitan Yasmin dahulu.


"Kalau kamu mau, ayo kita berpisah aja" mata Agarish menatap tajam, rahangnya mengeras mendengar ucapanku.


"Biarkan aku bebas, aku juga pengen bahagia. Sudah cukup selama ini aku bertahan didalam pernikahan ini. Aku bertahan selama ini karena aku pikir kamu akan berubah, kamu akan melihat aku sebagai perempuan seiring berjalannya waktu. Tapi semuanya omong kosong"


Aku bangkit dari duduk, menghapus kasar air mata yang sialnya terus saja mengalir.


"Hari itu, ditaman ini kamu pernah bilang akan berusaha padaku, tapi apa? Kamu masih tetap orang yang sama. Agarish si laki-laki sialan!"


Aku tergugu hingga tak sanggup menopang badan. Badanku luruh diatas rerumputan hijau yang terbentang ditaman ini.


"Aku capek jatuh cinta sendirian..."


Dengan sisa-sisa tenaga, aku berdiri lalu meninggalkan Agarish sendirian di taman.


Sekali sialan yah tetap akan seperti itu. Masa aku udah nangis kejer begitu dia gak ada respon? Ada inisiatip kek buat nenangin, peluk misalnya.


Ini malah bengong kaya patung. Salahku juga berharap sama pria itu.


🐣🐣


Siangnya aku memilih menonton tv diruang santai. Masih belum mandi, dan masih tetap memakai tanktop dan hotpants tadi pagi. Memang jiwa rebahan kini lebih mendominan didalam diriku saat ini.


"Belum mandi juga kamu?" Aku yang tadinya sedang menggaruk ketiak menatap sumber suara.

__ADS_1


"Belum" jawabku sekenanya lalu kembali pokus pada ketiak, menatapnya teliti, mana tau ada bulu yang belum kecabut.


"Emmm Yas" panggilnya ragu.


"Paan" jawabku malas.


"Aku mau minta maaf sama kamu"


"Untuk?" Aku menaikkan satu alis, berpura-pura lupa akan kejadian tadi pagi.


"Untuk semua yang terjadi diantara kita. Aku yang salah Yas" dia menunduk tak berani menatapku.


"Betul yang kamu bilang, harusnya aku tidak egois dan seenaknya sama kamu. Tapi tolong Yas kasih aku waktu. Kasih aku waktu sebentar lagi" kini ia mengangkat wajahnya lalu menatapku lekat dengan wajah bersalah.


"Aku akan berusaha berubah, aku akan mencoba menghilangkan kebiasaan burukku saat ini. Tapi aku mohon Yas jangan tinggalin aku" dia mengambil tanganku, menggenggamnya dengan erat.


Bah, padahal kan aku baru aja ngegaruk ketek tadi.


"Bantu aku Yas" ucapnya dengan wajah memohon.


Aku menghembuskan napas kasar. Lalu menganggukkan kepala pertanda setuju.


"Terima kasih Yasmin" dia memeluk badanku dengan erat.


"Udah ah lepas!, aku belum mandi bodoh" Agarish terkekeh lalu mengacak rambutku.


Untuk sesaat aku lagi-lagi sesak napas melihat senyumnya. Buru-buru aku mengumpat dalam hati.


"Yaudah sekarang pijitin dong, itung-itung balas budi, gimana?"


"Yaudah sini" aku langsung mendekat kearahnya.


"Pijitin yang bener ye, capek nih badan aku" tanpa menyela perkataanku lagi, Agarish memulai pijitannya dipundakku.


"Duuh enak bangat Ga, ngapa gak dari dulu yah aku minta pijit sama kamu" ucapku menikmati pijitan Agarish.


"Harusnya kamu yang mijitin aku Yas, aku itu suami kamu"


"Kalau aku yang mijit, ntar malah ada adegan pijit plus plus nya Ga" aku terkekeh sendiri memikirkannya.


"Plus plus apaan?" Aku mendangak, hingga wajah Agarish berada tepat diatasku.


"Kayak gini misalnya" aku dengan cepat memberi kecupan dibibir Agarish. Matanya langsung membulat.


Aku buru-buru bangkit lalu berlari kearea tangga. "Hahahaha mau nambah gak Ga?" Teriakku dari lantai dua. Membuat Agarish yang tadinya bengong kini sadar.


"Mulai berani kamu ya Yas" ucapnya geleng-geleng kepala.


Berani lah coy, malahan yang lebih dari itu juga udah berani. Asek asek joss


Hai hai Thank you udah baca part ini


Semoga suka yah


Dan jangan lupa vote nya

__ADS_1


Nur Dyh


__ADS_2