
Seseorang tergesa menemui tuannya, raut khawatir jelas terpampang di wajahnya. Setelah mengetok pintu, dia dengan cepat masuk kedalam ruangan tersebut.
"Tuan..." Serunya dengan panik. Sang tuan mengerutkan dahi. "Gawat tuan, ini buruk sekali" ucapnya kembali dengan wajah gusar.
"Ada apa? "
"Ini soal Agarish tuan" ucapnya dengan wajah pias lantaran tatapan tajam dari depannya.
"Kali ini ada apa lagi sama anak itu" dengusnya tak suka.
"I-itu tuan, Agarish menghamili seorang wanita"
Deg
Bagai dihantam palu berukuran besar, kepalanya mendadak sakit mendengar penuturan sekretarisnya barusan.
"Kau jangan macam-macam Ken! Kebohongan darimana itu kau dapat heh?" Dia menatap tajam Ken yang saat ini sedang ketakutan didepannya.
"Ini bukan kebohongan tuan, ini nyata. Tadi saya melihat sendiri Agarish membawa wanita itu periksa ke rumah sakit dan setelah saya ikuti kembali ternyata wanita itu juga tinggal di apartemen pribadinya"
Nathan, ayah dari Agarish mematung. Ia mencoba mencerna kabar yang barusan sekretarisnya katakan.
"Apa kau sudah menyelidiki soal wanita itu?"
"Sudah tuan" jawabnya mantap lalu memberikan tumpukan kertas pada tuannya.
Perlahan tapi pasti kerutan di dahinya makin terlihat ketika membaca lembar demi lembar tentang wanita yang anaknya hamili.
"Anak kurang ajar itu! Sudah berapa kali aku peringatkan agar berhenti bermain-main dengan perempuan! Lalu apa ini? Dia menghamili anak kecil? Astaga....." Nathan melempar asal kertas ditangannya hingga berserak di lantai.
"Sudah menghamili malah menyembunyikan heh!" Dadanya naik turun karena menahan emosi.
"Ken!"
"I-iya tuan" jawab Ken gugup.
"Batalkan semua rapat hari ini, aku akan menemui anak sialan itu" mau tak mau Ken setuju saja. Ngeri melihat tuannya kalau sudah marah begini.
"Baik tuan" Ken langsung melarikan diri dari ruangan yang sesak itu." Sepertinya akan ada perang nanti" gumamnya.
Siangnya, dengan mengatur ekpresi sebaik mungkin, Nathan melangkah dan masuk kedalam ruangan milik anaknya.
Keduanya untuk beberapa saat terdiam, hingga Nathan membuka suara.
"Apa ada yang kau sembunyikan dari ayahmu ini nak?" Tanya dia setenang mungkin.
Agarish menegang. Apa mungkin ayahnya sudah tau soal Sona.
"Memangnya apa yang bisa aku sembunyikan dari ayah?" Jawabnya dengan wajah datar.
Benar bukan kalau ayahnya tau apapun tentang dirinya.
"Apa kau yakin, sedang tidak menyembunyikan apapun dariku?" Tanya Nathan kembali.
"Tidak ada ayah" jawab Agarish m
mantap.
"Baiklah, aku harap kau tidak menyesal nantinya" Nathan bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangan Agarish.
__ADS_1
Sementara Agarish langsung terduduk dilantai kala ayahnya keluar dari ruangannya. Dengan tergesa ia merogoh kantong lalu menghubungi Sona setelahnya.
"Halo Sona, kau baik-baik saja?" Suaranya benar-benar sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja Rish, kenapa emang?"
"Syukurlah. Tidak ada orang asing yang menemuimu akhir-akhir bukan?"
"Tidak ada. Ada apa?, kau kedengaran sangat khawatir "
"Tidak apa-apa. Kau jangan pernah mengijinkan siapapun masuk kedalam apartemen. Siapapun, ingat itu Sona"
"Ah baiklah"
"Sudah kalau begitu aku tutup dulu. Aku belum bisa mengunjungimu untuk sementara, aku lagi banyak kerjaan"
Bohong. Alasan sebenarnya Agarish tidak mau mengunjungi Sona adalah karena takut ayahnya akan mengetahui soal Sona nantinya.
Dilain tempat, Nathan tertawa geli. Anaknya berani berbohong padanya, padahal apa salahnya kalau ia jujur? Toh dia juga tidak akan menghajar atau membunuhnya juga.
🐣🐣
Pada akhirnya Nathan memutuskan menemui wanita yang katanya sedang mengandung cucunya.
Mobilnya kini berhenti didepan gedung pencakar langit, tempat dimana Agarish menyembunyikan wanita itu. Nathan turun lalu menaiki lift untuk mengantarkannya kelantai 30 tempat wanita yang akan ia temui.
Tak perlu repot-repot memencet bel, ia sudah tau sandi apartemen anaknya, toh kalaupun ia memencet maka tidak akan ada yang keluar dari dalam sana, karena sudah pasti anaknya mewanti-wanti agar wanita itu tidak menerima tamu.
Sona yang sedang menonton TV berjengkit kaget ketiga mendengar bunyi dari luar, dia kira Agarish yang datang, dengan cepat ia bangkit lalu tersenyum lebar untuk menyambut orang yang akan muncul dari balik pintu. Namun sayang, senyumnya luntur kala mendapati orang lain yang ia temukan.
"A-anda siapa?" Tanya dia sambil berjalan mundur.
"Kau yang siapa, berani sekali kau tinggal di apartemen anakku" Sona tercekat mendengar jawaban laki-laki paruh baya didepannya.
Sona hanya bisa mematung ditempatnya. Nathan menghela napas kasar.
"Gak usah tegang begitu, aku kesini bukan mau menculik atau membunuhmu" Nathan dengan santainya duduk di sopa tanpa harus disuruh terlebih dahulu.
"Ngapain kau masih berdiri disitu? Ayo duduk aku mau bicara" dengan pelan Sona mendekat lalu ikut duduk di sopa tepat di depan Nathan.
"Jadi kau sedang hamil hmm?" Sona membulatkan matanya kaget. "Tidak usah kaget begitu, kau hampir saja mengeluarkan biji matamu di depanku saat ini" Sona semakin gugup.
"Jadi apa itu hasil dari anak saya?" Tanya Nathan to the point.
"I-iya tuan" jawabnya gugup.
"Apa kau yakin hmm?" Nathan tersenyum sinis saat ini. Lagi-lagi Sona menganggukkan kepala.
"Benarkah?" Nathan pura-pura kaget, membuat Sona makin menggigil ketakutan.
"Ahhh sayang sekali aku tidak pernah suka dengan anak yang suka berbohong sepertimu nak"
"A-apa maksud tuan?" Nathan terkekeh geli.
"Aku rasa kau bukan anak yang bodoh nak, nyatanya kau bisa dapat beasiswa karena kepintaranmu" Nathan menatap datar Sona.
"Sekarang aku tanya, apa benar itu anaknya Agarish nak?" Sona mengangguk canggung. "Baiklah, kalau begitu ayo ikut denganku, aku akan mengurus dan memperhatikanmu. Istriku pasti sangat bahagia ketika tau kalau sebentar lagi dia bakalan mempunyai cucu" seringai Nathan.
Sona makin membeku, ingin sekali dia kabur saat ini. Namun rasanya itu sangat mustahil.
__ADS_1
"Ah apa perlu aku memanggil kedua orang tua mu dari kampung?" Sona memelototkan matanya. "Sepertinya mereka juga akan bahagia kalau tau anak yang mereka banggakan kini hamil dan akan segera punya anak"
Nathan kembali menyeringai. Ken yang ada di belakangya saja sudah ketakutan melihat aura membunuh dari tuannya.
"Jangan tuan saya mohon" ucap Sona dengan lirih.
"Kenapa? Bukankah tidak apa-apa? Kalaupun kau putus sekolah itu tidak akan merugikan apapun. Aku ini orang berada, jadi tidak akan menyuruh Agarish untuk membuatmu hidup miskin bukan?. Ayolah, ini adalah kabar bahagia, iya kan Ken?" Ken hanya mengangguk kaku.
"Ah, kau juga tidak perlu khawatir, anakmu masa depannya akan terang kalau menyandang nama Moracco. Jadi apa lagi ayo ikut denganku, akan ku perkenalkan kau kepada semua orang. Karena kau telah mengandung anak dari anak Agarish"
Cukup. Sona sudah tidak kuat lagi. Dia menjatuhkan diri dilantai lalu bersujud di kaki Nathan.
"Saya mengaku tuan, ini bukan anak Agarish. Ini anak orang lain, sa-saya diperkosa oleh seseorang bulan lalu. Lalu kandungan saya juga baru berusia satu bulan. Maafkan saya tuan"
Akhirnya apa yang diinginkan Nathan terwujud. Wanita itu telah jujur, walaupun harus dipaksa dahulu.
Dia tidak sejahat itu, dia tidak ada niatan sekalipun untuk mengancam ataupun membunuh wanita itu. Hanya saja ia sudah menyelidiki terlebih dahulu baru berani mendatanginya kemari.
"Lalu kenapa kau mengatakan kalau anak itu adalah anak Agarish hmm?"
"Saya tidak punya pilihan lain tuan. Hanya Agarish yang saya punya, lagipula dia menerima saja tanpa harus mengeceknya lebih dahulu" Sona menunduk takut. " Kumohon tuan jangan beritahu Agarish, hanya dia yang mau mempertanggung jawabkan anak ini, saya tidak mengenal pria yang memperkosa saya tuan. Saya mohon" tangisnya tergugu.
"Maaf nak aku tidak sebaik itu. Aku juga ingin yang terbaik untuk anakku, jadi kau urus sendiri masalahmu dan jangan pernah menganggu anakku lagi" Nathan angkat tangan akan masalah ini.
"Kumohon tuan" tangisnya dengan keras.
"Kau gugurkan saja dari pada kau mau menyusahkan anakku" dengusnya tak suka. Berani sekali dia memohon sesuatu hal yang mustahil padanya.
"Tidak!" Sona menggeleng tegas. "Aku tidak mau membunuh anak ini, aku tidak mau!"
"Kalau begitu pertahankan saja , asal kau tidak mengganggu anakku. Agarish bukan tempat penampungan anak orang lain"
"Aku mohon tuan" Sona kembali bersujud di kaki Nathan, membuat ia meringis.
"Astaga anak ini! Sudah kubilang kalau aku tidak akan menyetujuinya!" Namun Sona tetap kekeh pada pendiriannya.
"Baiklah begini saja. Aku tidak akan menyuruhmu untuk membunuh janinmu sendiri. Aku akan berbaik hati membiayainya hingga dewasa nanti asalkan kau menjauh dari anakku dan mengaku padanya kalau itu bukan anaknya. Bagaimana?"
"Tidak tuan! Aku tidak mau di cap wanita murahan karena hamil di luar nikah apalagi tidak punya suami. Apa kata orang tuaku nanti!"
"Dasar wanita gila! Kau yang jalang malah mau menyulitkan anakku!" Nathan bangkit dari duduknya lalu menyuruh Ken agar menyeret Sona dari kakinya.
"Aku sudah berbaik hati padamu tapi kau malah melunjak! Kalau kau tetap tidak mengaku pada anakku, lihat saja aku akan membunuh kedua orang tuamu di kampung sana" Nathan berjalan menjauhi ruang tamu.
"Ah yah satu lagi. Aku kasih kau waktu seminggu untuk bicara dengan Agarish, kalau sampai seminggu belum kau beritahu maka jangan harap kedua orang tuamu akan hidup di dunia ini lagi" Sona makin meraung.
"Dan ku Ken! Setiap hari datanglah kesini untuk memastikan wanita ini tidak kabur dan berbuat macam-macam" Ken hanya mengangguk.
Nathan keluar dari sana dengan emosi tang menggebu. Padahal ia sudah mengasihani anak itu dan berjanji akan membiayai anaknya kalau sudah lahir kelak, tapi dia malah menolak.
"Dasar gadis gila!"
🐣🐣
Pada akhirnya Sona tetap memilih bungkam, dia tidak memberi tahu Agarish sekalipun. Nathan juga semakin memberi Agarish tugas kantor yang membuat ia harus lembur tiap hari, agar tidak bisa berkunjung ke apartemen dan menemui Sona si keras kepala.
Ken juga setiap hari datang untuk memastikan, namun Sona tetap keras kepala. Bahkan kejiwaannya kini sedikit terganggu karena terus-terusan didesak oleh Ken.
Ken hampir setiap jam mendatangi rumahnya dan membuat Sona kewalahan. Karena itu juga Sona stres dan pada akhirnya memilih bunuh diri.
__ADS_1
Dia lebih memilih mengakhiri hidupnya daripada jujur pada Agarish. Lalu sebelum mati ia membuat surat yang seolah-olah kalau ayah Agarish lah yang membuat ia memutuskan bunuh diri. Ia merasa tertekan karena terus-terusan diancam oleh ayah Agarish bahkan mengancam kalau akan membunuh kedua orangtuanya kalau tidak mau menggugurkan kandungannya.
Hingga Agarish termakan oleh emosi dan lebih memercayai gadis licik itu daripada ayahnya sendiri. Nathan juga tidak berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Karena sekeras apapun ia jelaskan Agarish tidak akan mendengarkan ucapannya karena ia sudah lebih dulu tersulut emosi karena kematian Sona dan calon anaknya. Padahal itu bukan anaknya sama sekali.