
Diusia kandungan yang ketiga bulan aku menjadi sangat aneh. Pasalnya aku suka sekali berkebun, walaupun sebenarnya sebelum ini aku juga sering membantu nyonya Emily di kebun.
Tapi ini berlebihan pemirsa. Masa pagi-pagi buta aku udah pengen menyentuh tanah? Woyylah ini gila. Tapi demi si dedek bayi aku pergi ke area kebun, bahkan ini masih sangat pagi. Buktinya nyonya Emily belum bangun.
"Ahhh segarnya"
Aku mengirup udara pagi. Sama seperti biasanya, selalu segar. Aku turun dari rumah dan menginjak rerumputan yang masih berembun. Sensasi dingin langsung menjalar ditelapak kakiku, tapi aku suka.
Aku bersenandung kecil menuju kebun yang terletak disamping rumah. Mataku berbinar melihat tanaman timun yang sudah memiliki buah walaupun masih kecil.
Aku sangat bersyukur dimasa kehamilanku ini tidak pernah aneh-aneh. Bahkan aku tidak mengalami morning siknes seperti kebanyakan ibu hamil diluar sana. Babyku sangat pengertian, bahkan ia tidak meminta makanan aneh-aneh yang bisa merepotkan ibunya.
"Sehat-sehat yah baby biar mama bisa jagain kamu disini" aku mengelus perutku yang sudah sedikit membesar.
Ketika aku sedang berjalan-jalan di area kebun, aku mendengar teriakan nyonya Emily.
"Yasmin dimana kamu nak?" Teriaknya sambil terburu-buru turun dari tangga.
Ebusettt ternyata nyonya Emily sudah bangun.
"Saya disini nyonya" balasku sedikit berteriak juga.
Bisa aku lihat nyonya Emily datang dengan langkah cepat. "Ya Tuhan Yasmin, pagi-pagi kau udah buat aku hampir jantungan" aku terkekeh melihat wajah khawatirnya.
"Maaf nyonya, aku tadi terbangun dan tidak bisa tidur lagi jadinya aku jalan-jalan hehehe. Maaf yah?" Aku merangkul pundaknya.
"Sudah lupakan. Kenapa kau tidak pake alas kaki heh?" Tanya dia kala melihat kakiku penuh tanah yang masih basah.
"Hahaha aku sengaja tidak pakai nona, si baby mau mamahnya gak pake alas kaki"
"Hahh ada-ada aja permintaan mu nak" Emily mengelus pelan perutku.
Pada akhirnya nyonya Emily kembali kerumah dan membiarkan aku tetap dikebun.
🐣🐣
Siangnya aku mendapat kabar dari Allen kalau Agarish masuk rumah sakit. Badannya sekarang kurus dan kelihatan sekali dia tidak makan teratur. Dari mana aku tau? Allen mengirimkan poto Agarish padaku yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
"Hiks hiks maaf Aga..." ucapku terisak.
__ADS_1
"Ada apa nak?" Emily mengelus rambutku yang kini sudah panjang melebihi pundak.
Aku memperlihatkan poto Agarish padanya. "Dia suamimu?" Tanya Emily hati-hati. Aku menganggukkan kepala.
"Dia sakit karena tidak mengurus diri nyonya, aku... aku tidak tega melihat dia seperti ini" nyonya Emily merengkuhku, mengelus pelan pundakku.
"Kembali lah kalau kau mau nak. Turunkan egomu, sudah cukup kau menyiksa dia beberapa bulan ini. Kalau memang ada masalah cobalah bicarakan baik-baik, apalagi sekarang kau lagi mengandung"
Aku makin terisak didalam pelukannya.
Setelah berpikir lama, aku akhirnya memutuskan memberi kabar pada Agarish. Aku belum siap ketemu dengannya.
Aku menghubungi Allen dan menyuruhnya agar memberikan hp nya pada Agarish agar kami bisa bicara.
"Nah! Yasmin mau bicara sama kamu" setelah itu gambar didalam vidio terlihat kasak kusuk, lalu tak berapa lama muncul wajah Agarish.
Aku menutup mulut kala melihat langsung wajah Agarish yang kurus dan pucat.
"Yasmin ini benaran kamu?" Tanya dia suara bergetar. Aku menganggukkan kepala lalu sedikit memberi senyum. "Aku minta maaf Yas. Aku mint maaf" .
Dia terisak sambil menutup mulutnya. Aku yang melihat dari sini juga ikut tercekat menahan tangis.
Kini suara tangisnya makin kuat, aku juga mati-matian agar tidak ikutan menangis. Tapi tetap saja mataku berkaca-kaca.
"Aku.. aku hampir gila pagi itu kala menyadari perbuatanku padamu Yas. Apalagi ketika aku sadar akan perbuatanku malam itu dan...dan aku .., "
"Sudah cukup!" Aku memotong ucapannya. Aku tidak mau mengingat hal menyakitkan malam itu lagi. Kini air mataku ikutan luruh, padahal aku udah mati-matian menahannya.
"Aku udah dapat hukumannya Yas. Aku tidak bisa hidup tenang setelah kepeegianmu, aku hampir gila karena sampai saat ini belum bisa menemukanmu. Aku menyesal Yas. Maaf"
Lagi-lagi ia tergugu membuat dadaku semakin sesak melihat dia serapuh itu.
"Sudah aku maafkan, jadi tolong jangan seperti ini lagi Ga. Jangan menyakiti diri kamu sendiri lagi. Kamu gak lihat badan kamu sekurus apa heh!. Mau jadi mayat hidup kamu?" Bukannya menjawab dia malah terkekeh lalu kembali terisak.
"Aku rindu suara kamu Yas, aku rindu kala kamu selalu memarahi aku seperti ini. Aku... rindu semua tentang kamu Yas"
Kali ini aku tidak kuat lagi, aku meletakkan hp lalu memeluk lututku. Aku menangis terisak. Ingin sekali aku memeluk dan menenangkan dia.
"A..aaahhh" perutku tiba-tiba melilit.
__ADS_1
"Yasmin!" Nyonya Emily yang baru saja menaiki rumah berlari kearahku. "Kenapa nak, ada apa?" Tanya dia Khawatir.
"Perutku sakit..." aku memegangi perutku.
"NENEK... NENEK, YASMIN KENAPA NEK?"
Bisa aku dengar teriakan panik Allen dari dalam hp. Emily mengambil hp lalu berbicara dengan Allen.
"Perutnya sakit Len" ucap Emily khawatir.
"Yasmin kenapa?" Lalu kini suaranya berganti dengan suara Agarish. "Kasih liat padaku Yasmin kenapa!" Agarish setengah berteriak.
Buru-buru nyonya Emily mendekatkan hp padaku.
"Yasmin sayang kamu kenapa? Ada apa?" Khawatir Agarish dari sebrang.
Aku menyeka keringat yang mengalir dipelipisku. Dan hey.., kenapa perutku berhenti bergejolak?.
Aku mengelus perutku dengan dahi berkerut. "Sepertinya dia rindu ayahnya nak" perkataan Emily berhasil menarik perhatianku dan juga Agarish.
"Benarkah?" Aku mengelus perutku dengan senyum, lupa akan Agarish yang masih memperhatikan kami.
"Apa maksud kalian?, " aku masih bisa mendengar suara Agarish yang kebingungan. Tapi setelahnya panggilan terputus, kurasa Allen menarik paksa hp nya.
"Kamu rindu sama ayah nak?" Aku mengelus perutku dengan senyum merekah.
"Sudah pasti dia rindu dengan ayahnya nak, buktinya tadi dia merespon dengan baik kala mendengar suara ayahnya" tambah nyonya Emily.
Aku menghembuskan napas. Aku bingung dengan semua ini. Aku tidak tau apakah Agarish akan menerima anak ini atau tidak. Tapi yang pasti seberapa keras pun dunia menolak kehadirannya maka aku sebagai ibunya akan menerima dia apapun yang terjadi.
"Gak usah dipikirkan nak, kalau memang masih berat buat menumuinya maka kau boleh tetap menetap disini. Bahkan kalau mau kau boleh tinggal disini selamanya bersamaku" ucap Emily lembut.
"Tentu saja kau mau aku tinggal disini nyonya. Biar ada kawan bicaramu iyakan?" Tanyaku bergurau.
"Tau saja kamu"
Aku tertawa melihat reaksi Emily. Selalu menyenangkan kala mengobrol dengannya.
Heyoo thank you udah baca part ini :)
__ADS_1
Nur Dyh