SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Epilog


__ADS_3

"Aunty Allen......" Theo langsung berlari kearah Allen ketika kami sampai di Cafe.


"Halo ponakan gantengnya aunty All" Allen langsung menggendong badan mungil milik Theo.


Sebenarnya sudah tidak kecil lagi sih. Usia Theodoric sekarang sudah tiga tahun. Berarti baru setahun ini aku menghabiskan waktu dengannya.


"Aunty ... Theo pengen makan Bakso" bisik nya pada Allen. Padahal jelas-jelas aku bisa mendengarnya.


"Mama denger yah Theo" Theo langsung menutup mulutnya dengan tangan.


"Hehehe ketauan deh..." Cengir nya.


"Hahahaha ponakan aunty ko gemesin bangat sih, hmmm?" Allen langsung bertubi-tubi menciumi pipi gembul milik Theo.


"Kan anaknya mama Yasmin aunty, pastinya ganteng dong" aku mendecih pelan mendengarnya.


Karena kalau Theo udah muji-muji gini pasti ada maunya.


"Tetep gak boleh makan Bakso yah Theo" peringat ku, Theo langsung merengut sebal.


"Mamah gak asik kan aunty" bisiknya pada Allen dan jelas-jelas masih bisa aku denger.


"Itu karena mamah sayang sama Theo. Theo kan masih kecil, jadi  belum boleh sering-sering makan Bakso. Gimana kalau gantinya aunty kasih sate aja?" Theo langsung mengangguk antusias.


Aku bukan tanpa sebab melarang Theo makan bakso, seperti yang kalian tau bakso itu banyak bumbu penyedapnya. Kecuali aku buat sendiri khusus untuk dia. Beda sama sate, dia cukup dikasih satenya aja gak usah pakek bumbu apa-apa.


"Lo ngapa dah Yas" senggol Allen padaku.


"Emang aku kenapa?" Bingungku.


"CK muka lo kayak gak tidur semalaman, udah gitu cara jalan lo juga kayak gak beres gitu" selidik Allen.


Wajahku auto memerah.


"Hayoo ngaku lo nyet!" Allen makin gencar menggodaku.


"Biasalah, habis digempur bapak Agarish tadi malam"


"Aanjiiirr!!! Ko malah gue yang malu ya?" Allen menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Hahahaha  itu karena otak lo lagi berselancar mikirin Nana Nina , ngaku gak Lo?" Tanyaku padanya.


"CK tau aja lo isi pikiran gue saat ini" jawabnya malu-malu.


"Ohmaygat!!! Dasar mesum lo All" aku menimpuk nya  dengan gulungan tissu.


"Hehehehe gue kan pengen nyobain juga Yas" ucapnya sambil menggerling  nakal.


"Mesum itu apa mamah?" Tanya Theo dengan polosnya.


Aku langsung tergagap, bingung mau jawab apa.

__ADS_1


"Mampus Lo! Ayo buru dijawab" Allen terbahak melihat wajah gusar ku.


Jadi ceritanya tuh Theodoric udah ngerti bahasa aku sama Allen. Aku juga bingung kenapa dia bisa ngerti. Tapi kata Agarish, mungkin karena sering dengar aku sama Allen ngomong, makanya dia bisa ikutan ngerti. Taulah otak anakku ini sangat encer kayak bapaknya.


Udah gitu Agarish juga udah pandai bahasa. Itu karena dia maksa agar Allen mengajari dia sewaktu aku lagi koma. Bahkan nih yah si kampret Arthur juga ikut-ikutan ngerti sekarang.


Semua pegawai cafe juga udah mulai paham walaupun baru sedikit-sedikit. Aku jadi berpikir kalau otak manusia di planet ini memang diciptakan untuk bisa cepat memahami.


🐣🐣


Beberapa hari ini kondisi badan aku agak gimana gitu. Ini hampir sama kayak aku pertama kali mengandung Theo dulu.


"Ga...." Aku menepuk pipi Agarish yang kini berbaring di sampingku.


"Kenapa yank?" Dia langsung duduk.


"Aku haus" ucapku lemas.


"Kamu sakit?" tanya dia khawatir. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. "Kita ke rumah sakit habis ini" katanya setelah memberiku air minum.


Malam itu juga aku langsung dia bawa ke rumah sakit. Lebay bangat emang. Kan dia bisa manggil dokter pribadi ke rumah ngapa musti ke rumah sakit coba?. Iya aku tau sih, Agarish tuh sensitif bangat kalau udah lihat aku sakit sedikit saja. Dia kayak ketakutan gitu, mungkin dia masih trauma saat aku koma selama dua tahun dahulu.


Sebelum sampai ke rumah sakit aku udah keburu pingsan karena lemas. Pemandangan terakhir yang aku lihat adalah wajah panik Agarish yang terus-terusan menyuruh sopir agar lebih cepat bawa mobil.


Aku gak tau berapa lama aku pingsan, tapi pastinya setelah aku membuka mata, pemandangan yang pertama kali aku lihat adalah wajah kusut milik Agarish.


"Ga..."  Dia langsung berlari memanggil dokter. Padahal kan aku butuhnya dia saat ini.


"Kusut bangat muka kamu" aku mengelus pipinya.


"Aku takut bangat waktu kamu pingsan tadi Yas" dia berkali-kali menciumi tanganku yang ada di genggaman nya.


"Aku kan udah gapapa sekarang" dia menganggukkan kepala. "MMM pasti aku lagi hamil lagi kan Ga?" Tanyaku padanya.


"Ko kamu tau yank?" Bingung dia, aku terkekeh pelan.


"Karena gejalanya sama kayak aku pertama kali ngandung anak kita" kening  Agarish  berkerut.


"Jadi kamu pas hamil Theo juga gini?" Aku mengangguk.


"Bahkan aku waktu itu sampai gak sadar selama setengah hari. Bahkan pingsan di rumah Emily gara-gara udah satu hari demam tapi gak dibawa berobat"  Agarish meringis mendengar penjelasan ku.


"Maaf yah dulu aku gak ada saat kamu kesusahan waktu pertama kali ngandung Theo" ucapnya sendu.


"Gapapa. Aku juga dua tahun gak bisa bantu kamu ngurus Theo waktu itu, anggap saja kita impas. Dan ayo memperbaiki diri ke lebih baik biar kita bisa menjaga anak-anak kita nanti.


Agarish tersenyum lembut lalu menciumi tanganku kembali.


🐣🐣


Aku sedari tadi masih syok melihat interaksi Allen dengan Arthur. Bagaimana ceritanya dua manusia berbeda frekuensi ini bisa pacaran?

__ADS_1


Iya! Mereka berdua pacaran. Aku aja sampai mematung ketika melihat Allen yang menempeli Arthur kemana pun Arthur bergerak.


"Tolong kasih tau aku Ga kalau ini cuman mimpi" tatapku pada Agarish yang berdiri di sampingku saat ini.


"Kamu gak mimpi sayang, ini tuh nyata" Agarish menarik pipi gembul milikku. Iya, badanku kembali melar di kehamilan yang kedua ini.


"Tapi Ga, masa sama Arthur sih?" Tanyaku memelas.


"Hahaha mana aku tau, namanya juga cinta" aku menelan ludah sendiri. Padahal aku yang dulu nge jodoh-jodohin Arthur sama Allen, tapi ko sekarang aku kayak gak rela gitu yah?.


"Thur Lo masih waras kan?" Tanyaku dramatis padanya yang lagi berkutat di dapur.


"Waras lah, kenapa emang?" Tanya dia dengan wajah lempeng. Jangan lupakan kalau Arthur itu udah ngerti Bahasa sekarang.


"Lo ko mau sih sama si Allen yang kadar ke normalannya cuman secuil doang?"


"Anjirrr mulut Lo Yas!" Allen bergerak hendak menimpuk kepalaku, namun tak jadi lantaran dipelototi oleh Agarish.


"Serem bangat pawang Lo Yas"


"Hahaha macam pawang Lo enggak aja All. Noh lihat wajahnya datar, terus sipatnya kayak es, lebih ngeri siapa coba?" Tanyaku meledek.


"CK ngeri pawang gue" bisiknya . Aku langsung tertawa keras.


"Aku masih bisa denger yah Yank" ucap Arthur.


"Astaga Dragon! Arthur Lo manggil Allen lebay bangat!" aku bergidik ngeri.


"Kan aku manggilnya gitu juga yank" bingung Agarish.


"Kamu mah beda Ga, Masih bisa dimaklumi. Tapi ini Arthur Ga! Arthur si manusia es!" Aku geleng-geleng kepala.


Mata Arthur kini melotot kearah ku.


"Tuh tuh lihat tuh Ga, dia melototi aku tau. Hiiihh" aku beringsut kebelakang punggung Agarish.


"Mamah........." Suara bocah memecah ketegangan didalam dapur. Dia langsung memeluk kaki ku.


"Kenapa nak?" Aku memegang tangan Agarish agar bisa berjongkok mensejajarkan tinggi dengan Theo.


"Theo mau BAB" ucapnya dengan wajah memerah.


"Hahahaha anak mama lucu bangat sih" aku mencubit pipinya. "Yaudah ayo" aku kembali berdiri sambil berpegangan pada Agarish.


Usia kandungan aku juga udah masuk lima bulan sekarang. Lalu sipat posesif Agarish bakalan mulai menjadi.


"Sama papah aja yok, kasian mamahnya"


"Yaudah cepetan pah! Udah diujung nih" Theo memegangi bokongnya.


Dengan berlari kecil Agarish menggendong Theo hingga kamar mandi.

__ADS_1


Lagi-lagi aku hanya bisa mengucapkan syukur banyak-banyak karena telah diberi kesempatan untuk bertemu suami dan orang-orang baik di dunia ini.


__ADS_2