SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Dua Belas


__ADS_3

Happy reading


Setelah kejadian dikantor hari itu, Bram selalu memandang aku sinis kala kami bertemu. Seperti pagi ini dia ikut sarapan dengan kami di rumah.


Aku yang baru mau turun kebawah tersenyum miring mendapati Bram yang sudah duduk rapi dimeja makan.


"Selamat Pagi..." sapaku pada mereka. Dan seperti biasa, senyum para pelayan mengembang kala aku menyapa mereka, tak terkecuali Agarish.


"Selamat pagi tuan suami" aku dengan lancangnya mengecup pipi Agarish sebelum duduk dikursiku.


Iya, aku sengaja duduk disamping Agarish pagi ini. Sengaja, buat manas-manasi Bram.


Sesaat Agarish kelihatan kaget, namun dia memberiku senyuman tipis. "Selamat pagi juga Yas" jawabnya.


"Oh ada Bram juga?" Tanyaku pura-pura kaget.


"Iya nyonya" jawabnya dengan tersenyum canggung.


"Gak punya duit buat beli sarapan yah makanya ikut gabung makan disini" sindirku.


"Yasmin, jaga bicaramu!" Agarish menatapku tajam.


"Ahahaha saya bercanda tuan suami. Manalah mungkin Bram tidak punya uang, sedangkan bosnya aja kaya raya dan penuh perhatian dengannya" ucapku dengan tersenyum.


Lalu seperti biasa aku akan mengambilkan nasi untuk Agarish.


"Selamat makan" ucapku kemudian.


Aku tau sedari tadi Bram itu curi-curi pandang dengan Agarish. Biarkan saja. Aku tau hati dia sedang panas pagi ini.


Aku tidak pernah berpikiran akan memperebutkan seorang laki-laki dengan laki-laki juga. Harusnya aku mengalah saja bukan, toh suamiku sekarang ini adalah penyuka sesama jenis dan besar kemungkinan bakal sulit untuk dikembalikan normal lagi.


Tapi heyy...., aku adalah Tania. Aku akan mengembalikan Agarish menjadi laki-laki seutuhnya seperti sediakala. Bisa jelek reputasiku tidak bisa membuat seorang laki-laki menegang melihat bodiku yang bohay ini.


Sudah lupakan. Mari kita lanjutkan acara memanasi pasangan paling menjengkelkan pagi ini.


"Ga.." panggilku pada Agarish. Saat ini kami sudah selesai sarapan, seperti biasa Agarish akan bersantai sekitar sepuluh menitan sebelum memulai aktivitas lebih dulu.


"Emmm" jawabnya sambil menatap layar tab ditangannya.


"Kamu sengaja yah gak perbaiki AC dikamar aku biar bisa tidur bareng aku terus, yakan?" Pasalnya sudah seminggu kamar aku belum diperbaiki. Alasan Agarish adalah selalu lupa.


"Eng-gak ada tuh!" Jawabnya gagap.


"Halahhh bilang aja iya. Sok malu-malu kamu" colekku pada dagu Agarish.


Dan blush wajah Agarish memerah hingga ke telinganya bersamaan.


"A cie cie blushing nih" aku malah sengaja menyenggol bahunya.


"Hentikan Yasmin" ucapnya dengan suara tertahan.

__ADS_1


"Aaaaa... kamu ko lucu bangat sih" aku menoel noel pipi Agarish . Jujur saja, aku juga kaget waktu melihat wajah memerah Agarish.


"Suami siapa sih ini?" Saking gemesnya aku menggigit lengan Agarish yang sudah tertutup oleh jas berwarna Navy yang ia kenakan.


Takk


Agarish menampar jidatku pelan. "Kamu kira tanganku ini makanan heh?" Matanya melotot padaku.


"Ngapa harus ditampar sih" sebalku lalu menjauh dari tangannya, tak lupa juga dengan bibir yang mengerucut.


"Kamu sih, kalau aku kena Rabies nanti gimana?" Jawabnya enteng.


"Ih dasar suami nyebelin!. Kamu kira aku anjing apa" tanganku kini memukuli lengan Agarish dengan membabi buta.


"Hahahaha... udah Yas udah. Sakit tau" dia mengambil tanganku lalu menjauhkan dari lengannya.


"Ekheemm" aku dan Agarish menoleh kearah sumber suara. "Sepertinya kita harus ke kantor tuan, setengah jam lagi akan ada rapat" ucap Bram.


Cih mengganggu saja. Cibirku dalam hati.


Tapi tunggu, kenapa wajahnya tegang begitu?. Aha aku tau. Dia pasti kepanasan melihat keuwuan kami berdua tadi.


Mampus kan lo Bram, aku tersenyum sinis kearahnya.


"Oh baiklah" Agarish bangkit dari duduknya. " aku berangkat dulu yah" serun Agarish ketika kami sudah ada dipintu utama.


"Hati-hati berangkatnya" Agarish mengacak rambutku lalu menganggukkan kepalanya. Dan itu semua tidak lepas dari perhatian Bram. Sejak tadi tangannya terkepal namun tidak bisa melanpiaskan amarahnya.


"Heh!, lo ngapa senyam-senyum gak jelas sih dari tadi?" Tanya Allen ketika kami sedang ikut bantu-bantu Arthur didapur.


"Gua lagi senang bangat pagi ini All" jawabku dengan tersenyum lebar.


"Iya tapi karena apa geblek! Gue penasaran tau dari tadi" sebal Allen.


"Gua habis buat pacar si Agarish kebakaran jenggot tadi pagi" Allen menganga.


"Ko bisa?" Tanya dia kepo.


"Ya bisalah" jawabku dengan sombong.


Takk


Allen memotong daging untuk sate dengan kuat, membuat aku dan Arthur berjengkit saking kagetnya.


"Buset dah lu ngapa njir!" Ucapku sambil mengelus dada.


Tiba-tiba Allen meraih kerah kemeja ku dengan kasar. "Heh lu mau ngapain?" Tanyaku sambil melotot.


"Dari tadi lo cerita gak jelas tau gak?. Sekarang lo cerita yang sebenarnya sebelum gua habisi lo sekarang" aku menelan ludah gugup melihat saat ini.


"Ngapain kamu?, mau jadi preman?" Arthur mendorong jidat Allen, membuat ia sedikit terhuyung kebelakang dan sialnya aku makin kecekek.

__ADS_1


"Allen lepasin tangan lo bego!, gua bakalan mati kecekek ini!" Aku menampar-nampar lengan Allen. Sebelum Allen lepas, Arthur lebih dulu merampas tangan Allen dari leherku.


"Astaga Tuhan akhirnya aku bisa napas"  aku menghirup udara banyak-banyak.


Saat ini Allen beserta Agarish sedang tatap-tatapan dengan mata masing-masing melotot. Kalau saja ada laser yang keluar dari kata keduanya maka yang akan terjadi setelah ini adalah mata mereka yang saling berlobang lantaran tertusuk oleh laser yang mereka keluarkan.


"Mau sampai kapan kalian berdua begitu heh!. Mau aku ambilkan kalian satu-satu pedang biar terjadi pertumpahan darah di dapur ini?"


Keduanya akhirnya saling memutus pandangan. Padahalkan tadi Allen yang marah samaku, kenapa sekarang malah mengeluarkan aura membunuh pada Arthur?.


Aku menarik Allen dari dapur. Kalau dibiarkan disitu terus, maka akan terjadi pertumpahan darah yang sesungguhnya. Entahlah kedua manusia ini sering sekali berantam. Kadang aku pusing sendiri melerai mereka.


"Sekarang lo cerita hal lucu yang lo maksud tadi" ucap Allen kala kami sudah berada didalam ruangan pribadi.


Aku menghela napas sebentar. Ternyata gara-gara ini toh dia ngamuk kayak orang kesurupan tadi. Aku geleng-geleng kepala sebentar lalu menceritakan semuanya pada Allen.


"Hahahaha harusnya tadi lo sama Agarish bercumbu diruang makan biar si Bram makin kepanasan"


Aku melongo sendiri melihat reaksi Allen. Saat ini ia sudah tiduran dilantai yang sudah dilapisi karpet saking hebohnya tertawa.


Padahal tadi lo yang kaya orang gila lagi ngamuk di dapur. Sekarang malah gila benaran.


"Apa jangan-jangan si Agarish udah mulai balik normal lagi Tan?" Kini Allen sudah normal, tidak segila tadi.


"Gue juga bingung All. Dibilang normal juga aku belum yakin, pasalnya dia masih menatap Bram seperti sebelumnya"


"Siapa tau udah ada perubahan sedikit Tan" aku mengangguk mengiyakan.


"Kadang dia tuh aneh All. Perhatian layaknya suami pada istri kalau kami sedang berdua. Kadang juga sering salah tingkah kalau aku goda, kayak tadi pagi. Tapi kalau udah ada Bram dia kayak balik seperti awal gitu" aku mengacak rambut prustasi.


"Berarti sekarang biangnya itu ada pada Bram" cetus Allen lalu kuangguki.


"Aku rasa juga begitu All. Tapi logikanya aja, kalau memang Agarish udah mualai punya rasa sama gue, terus kenapa dia masih sama Bram"


"Mungkin Agarish butuh waktu Tan, lo tau sendiri kan kalau dia itu belum pulih sepenuhnya"


Lagi-lagi aku membenarkan asumsi Allen. Aku menghela napas kembali. Entahlah, ini sangat memusingkan sekali.


"Udah gak usah dipikirkan Tan, berdoa aja semoga Tuhan membukakan pintu hati suami lo. Terus berusaha biar dia balik normal lagi" Allen menepuk pundakku, seolah meyakinkan kalau aku pasti bisa.


"Iya All, lo juga doain gue yak"


"So pasti my sista"


Heloo...., gimana?


Udah kasih vote nya belum?


Kalau belum, gak ada salahnya kasih dukungan loh


Thank you

__ADS_1


Nur Dyh


__ADS_2