SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Delapan Belas


__ADS_3

Jujur aja aku masih kepikiran soal Agarish. Tapi egoku masih lebih besar walaupun sangat khawatir akan keadaannya.


Sore ini aku lagi duduk dibale depan rumah sambil makan rujak mangga yang aku buat sendiri.


"Oiii Yasmin" aku menoleh kesumber suara barusan.


"Eh ada Harry, mau kemana Ry?" Tanyaku pada Harry yang sedang membawa ember ditangannya.


"Mau ke kolam ikannya pak kepala desa" dia mendekat ketempat aku duduk.


"Mau ngapain?" Aku mengintip kedalam ember yang ia bawa.


"Mau nangkap ikan, ikut gak?" Aku mengerutkan dahi.


"Ngeledek kamu Ry? Aku lagi hamil tau, masa kamu suruh nangkap ikan" aku mencebikkan bibir padanya.


"Ck. Aku kan cuman ngajak aja Yas. Siapa tau kamu mau ikut, orang kolam ikan pak kepdes mau panen ko jadi udah gak banyak airnya lagi"


"Serius kamu?" Aku mulai tertarik akan ajakan Harry.


"Yah serius lah!. Kamu tuh ko sekarang nyebelin si Yas?" Sungut Harry padaku.


"Hahaha bawaan bayi Ry" aku mengelus perutku.


Jadi Harry ini salah satu anak muda di desa ini. Dia sama kawan-kawannya sering main kemari semenjak aku tinggal sama nona Emily. Mereka tuh orangnya ramah dan juga nona Emily sering membeli ikan hasil tangkapan mereka.


"Mau ikut gak nih!" Tanya dia kembali.


"Ikut lah" Aku turun dari bale lalu menarik lengan Harry agar berjalan lebih cepat.


"Tadi aja gak mau, sekarang malah narik-narik" Harry mencebikkan bibir dan aku tidak peduli sama sekali.


"Rame gak nanti disana Ry?"


"Rame lah, banyak anak gadis juga disana ikut bantu. Lumayan kan dapat uang jajan" aku menganggukan kepala.


Dan benar saja, sesampainya kami disana udah pada rame. Mulai dari anak-anak hingga orang tua. Yang masuk kedalam mah cuman yang masih muda, yang tuanya cuman menonton sambil ketawa.


"Wiiih rame bener. Boleh ikut gak?" Tanyaku kala sampai ditepi kolam.


"Boleh dong, ayo sini!" Ajak para anak gadis.


Aku mau masuk kedalam kolam tanpa melepas sendal." Heyyy..


" Harry menarik kerah bajuku dari belakang.


"Apasih Ry!" Teriakku kesal.


"Sendal tuh dilepas ibu Yasmin. Mau kamu gak bisa jalan pas udah masuk kedalam lumpur hmm?"


"Ehehehe harus dilepas yah?" Tanyaku cengengesan.


"Gak!, tapi dimakan" sontak saja hal itu membuat tawa semua orang pecah.


"Jangan dikasarin Ry, ibu hamil itu" teriak salah satu anak muda.


"Tau nih Harry suka bangat marah-marah" aku melepas sendal lalu memberikannya pada Harry. "Tolong simpenin sendal aku ya Ry" Harry melongo akan kelakuanku.


"Untung kamu lagi hamil Yas, kalau gak udah aku buang nih sendal butut kesungai" sungutnya namun tetap menyimpan sendalku.


Aku sangat menikmati sore kali ini, berkali-kali aku teriak kala tak bisa menangkap ikan. Jangan lupakan badanku yang sudah penuh dengan lumpur, begitu juga dengan wajahku yang sering keciprat gara-gara kepakan ikan.


"Eh buset lincah bener nih ikan" aku sampai terhuyung kebelakang gara-gara susah menarik kaki.


"Hahahahaha" seketika tawa anak-anak pecah, apalagi Harry dia yang paling heboh.

__ADS_1


Belum sempat aku bangun, tiba-tiba suara seseorang memanggil namaku dan suara itu berhasil membuat jangntungku seketika berhenti berdetak.


"Yasmin.."


Deg


Aku membulatkan mata kala mendengar suara itu. Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi.


"Yasmin" aku menoleh kesamping dan seketika kaki ku rasanya tidak memiliki tenaga untuk digerakin sama sekali.


Aku mematung dan masih saja terduduk di dalam kolam.


"Yas sadar..." seseorang menepuk pelan pundakku. "Kamu gapapa Yas? Ayo aku bantu berdiri"


Harry dengan telaten membantu aku berdiri lalu menuntunku naik kepermukaan. Daisy memberiku air untuk mencuci tangan dan kaki.


"Makasih" Daisy mengangguk lalu kembali masuk kedalam kolam.


"Benaran udah jadi anak kampung kamu Yas hahaha" Allen tertawa sambil memegangi perutnya.


Aku mendengus. Bisa-bisanya dia ketawa sedangkan aku lagi syok sekarang.


"Ketawa aja terus mulut lo itu. Ngapain lo bawa dia kemari!" Ketusku dan aku melupakan bahasa yang baru saja keluar dari mulutku.


Semua orang menatapku heran, mungkin karena suaraku yang meninggi atau karena bahasa yang aku gunakan.


"Wehh santai dong bumil, jangan marah-marah kasian ponakan aku didalam perut terkejut karena emaknya galak" aku makin mendengus mendengar suara Allen.


"Yasmin.." orang itu memegang lenganku namun aku tepis dengan kasar.


"Apa sih pegang-pegang!" Suaraku kembali meninggi.


"Kita bicarain dirumah aja yah, malu diliat orang" bisik Allen padaku. Aku mengangguk mengiyakan.


"RY..." panggilku kuat.


"Sisain aku ikannya nanti yak" pintaku dengan wajah memelas.


"Malas, minta aja sendiri sama pemiliknya" ketus Harry.


"Ayolah Ry, masa kamu tega sama anak aku sih" aku merengut lalu mengusap perutku yang sudah tercetak dibalik baju lantaran basah karena lumpur.


"Sumpah enek bangat gue dengar suara lo Tan" Allen bergidik.


"Bodo amat!" Ketusku, aku kembali menatap Harry.


"Iya iya, nanti aku sisain buat kamu" putus Harry. Senyumku akhirnya mereka mendapat jawaban dari Harry.


Agarish? Sejak tadi dia hanya diam mematung memandangi aku. Mungkin karena dia jijik kali yah melihat aku yang belepotan lumpur. Lah bodo amat sih yah.


Aku berjalan duluan, meninggalkan Allen juga Agarish dibelakang.


Kalau boleh jujur aku deg deg an bangat saat ini. Bayangin aja aku dihadapin sama orang yang saat ini aku rindukan dan juga orang yang udah buat aku kecewa berat.


🐣🐣


Suasana ruang tengah saat ini hening. Tadi setelah dari kolam ikan aku buru-buru mandi di sungai. Malu lah kelihatan gadel depan suami. Apa gak makin ilfil dia lihat aku berlumpur kayak tadi.


"Jadi apa tujuan kamu datang kemari?" Aku menatap tajam tepat ke mata Agarish yang sejak tadi menatapku. Suasana hening tadi makin mencekam.


"Jangan emosi Yas, ingat kamu lagi hamil" Allen mengelus lenganku. Aku mengumpat dalam hati, kalau bukan gara-gara Allen si Agarish ini tidak akan tau kalau aku ada disini.


"Aku mau jemput kamu Yas" ucapnya lirih.


"Cih sejak kapan kamu anggap aku sebagai istri kamu?" Agarish menggeram, namun ia kembali berusaha tetap tenang.

__ADS_1


"Aku tau aku salah Yas, tapi apa kamu tidak ada niatan mau memaafkanku? Aku mengaku salah Yasmin" Agarish menunduk.


"Sudah aku bilang kan kalau aku udah memaafkanmu" Agarish mengangkat wajahnya lalu menyunggingkan senyum tipis. "Tapi kalau untuk kembali aku masih butuh waktu" senyumnya perlahan luntur.


"Tapi Yas, kamu kan udah memaafkan jadi kenapa tidak mau kembali" dia menatapku dengan wajah memohon.


"Memaafkan bukan berarti melupakan" Agarish mendesah pelan.


"Tapi setidaknya ayo pulang Yas, biarkan aku merawat kamu dan anak kita" aku tertawa sumbang.


"Anak kita kamu bilang? Aku gak salah dengar kan? Hahahaha"


"Yasmin jangan begini nak" nyonya Emily mengelus rambutku. "Bukankah kamu bilang bakal belajar mengikhlaskan?" Aku mengangguk. "Kalau begitu mulailah dengan menerima semua yang sudah terjadi, suamimu udah meminta maaf nak, dia juga udah jauh-jauh datang kemari"


Aku memeluk nyonya Emily erat. Aku memang sudah memaafkannya tapi tetap saja rasa sakit itu masih ada dan bahkan masih membekas.


"Aa.. ssshhh.." aku meringis memegangi perutku.


"Kenapa nak?" Panik Emily


"Sa-sakiit.." aku memegangi perutku.


"Yasmin kamu kenapa?" Agarish mendekat lalu ikut memegangi perutku. Aku ingin menepisnya tapi tidak cukup ada tenaga.


"Saya rasa dia menginginkan ayahnya nak" aku tidak terlalu mendengarkan perkataan Emily. "Coba elus perutnya siapa tau dia bisa diam" perintah Emily pada Agarish.


Dengan gerakan canggung Agarish mengusap perutku, dan... heyy perutku sedikit membaik.


"Kamu suka sekali mengerjai mama nak" aku mengusap perutku lalu menangis. "Tidak bisakah kamu hanya butuh mama seorang?" Aku makin sesenggukan.


"Yasmin jangan begini, aku minta maaf. Maaf.." Agarish membawaku kedalam pelukannya, aku ingin berontak namun Agarish tetap memaksa.


"Kasih aku kesempatan Yas, aku tau kesalahan yang aku buat sangat menyakiti kamu. Tapi aku mohon Yas jangan tinggalin aku lagi.." lirihnya. Bahkan tangisannya sangat memilukan ditelingaku.


Emily dan Allen saja bahkan ikut menangis melihat Agarish yang terlihat putus asa.


"Baiklah. Aku akan pulang"


Semoga saja keputusanku saat ini adalah yang terbaik. Sesekali mengalah dan tidak membiarkan ego menang juga tidak apa-apa.


"Terima kasih Yas terima kasih" Agarish makin mengeratkan pelukannya membuat aku sesak.


"Lepas! Kamu menyakiti anakku bodoh !" Aku menggigit bahu Agarish dan mau tak mau dia akhirnya melepas pelukan kami.


"Ma-maaf Yas aku terlalu bersemangat" ucapnya malu.


"Kalau aku mati bagaimana!" Ketusku.


"Ayolah Yas, kamu gak bakalan mati hanya karena dipeluk oleh Agarish" aku mendelik mendengar omongan Allen.


"Diam kamu! Kalau bukan karena mulut embermu dia tidak akan tau tempat ini. Dasar penghianat!" Allen melototkan matanya.


"Yasminn jangan gitu dong~" dia mendekat dan mencoba memelukku namu aku segera menghindar.


"Aku gak butuh teman penghianat kayak kamu yah" aku menggeser badan lalu sembunyi dibalik badan Emily.


"Yasmiiinnn..." Allen merengek kaya bocah.


"Jauh-jauh sana!" Allen mengrucutkan bibirnya.


"Dasar bumil galak!"


__________________


Terima kasih atas partisipasinya untuk membaca part ini 🙏

__ADS_1


Semoga kalian suka lalu meninggalkan jejak berupa vote :)


Nur Dyh


__ADS_2