
Diakhir usia kandungan aku yang ke 6 bulan, mamah minta agar mengadakan syukaran 7 bulanan dirumah mereka.
Aku belum menyampaikan ini pada Agarish, aku takut dia tidak setuju.
"Ga.." panggilku ketika kami sedang duduk diruang santai.
"Iya kenapa Yas?" Dia mengalihkan pandangannya dari tv ke arahku.
"Mmmm mamah minta kita ngadain syukuran 7 bulanan aku di rumah mereka"
Hening. Agarish masih diam sambil menatapku. Aku makin merasa gak enak sekarang.
"Kalau kamu gak mau aku bicarakan baik-baik deh sama mamah biar dia gak salah paham" ucapku kembali.
"Gapapa" aku mengerutkan dahi tidak paham. "Gapapa kamu terima aja" aku melongo sekarang.
"Beneran?" Tanyaku meyakinkan. Agarish hanya menganggukkan kepala sekilas. "Aaaaaa makasih Aga"
Aku refleks memeluk kaki Agarish yang ada di sampingku. Posisi kami saat ini adalah Agarish duduk di sopa sedangkan aku duduk lesehan diatas karpet.
"Seneng bangat kamu" kekehnya lalu mengacak rambutku.
"Seneng bangat malah tau, aku jadi gak capek mikirin alasan kalau mamah nanti nanyak soal ini"
"Gak usah capek-capek mikir kalau gitu" aku mendengus mendengarnya.
"Tapi kamu bakalan datang kan Ga?" Tanyaku khawatir.
"Datanglah. Mana mungkin aku biarin kamu sendirian di sana? Kan yang mau syukuran juga anak kita" aku bahkan melongo mendengar jawaban panjang dari mulut Agarish.
"Astaga Aga! Ini beneran kamu kan yang ngomong?" Tanyaku sambil mendongakkan kepala.
"CK. Iayalah siapa lagi" ucapnya sebal.
"Aku belum yakin tau gak Ga"
Cup
Sebuah ciuman mendarat di bibirku walau hanya sekilas.
"Gimana udah percaya belum?" Tanya dia dengan menaik turunkan alisnya.
"Dih dasar mesum!" Aku memukul betisnya. Agarish hanya tergelak melihat wajahku yang sudah memerah karena malu.
__ADS_1
🐣🐣
"Kamu kasih apa si Agarish sampe mau datang kemari Yas?" Bisik mama ketika kami sampai di rumah.
Ini masih pagi, acaranya diadakan sore biar bisa ngundang kolega bisnis ayah sama Agarish.
"Entah, Yasmin juga bingung mah. Waktu aku nanyak soal ajakan mamah dia langsung setuju aja tanpa nanyak apa-apa" ucapku sambil menggidikkan bahu.
"Apa dia udah maafin mamah sama ayah Yas?" Tanya mamah antusias. Aku meringis sendiri melihat wajah bahagianya.
"Mungkin saja iya mah. Buktinya ia mau menerima usulan mamah" jawabku meyakinkan. Padahal aku juga belum tau apakah Agarish sudah memaafkan mereka atau tidak. Daripada mamah kecewa mending bilang iya aja.
"Aamiin semoga aja yah Yas" aku mengangguk sambil tersenyum.
Sesederhana itu harapan seorang ibu terhadap anaknya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kerinduan di hati mamah sudah menggunung untuk anak semata wayangnya itu.
Aku bisa melihatnya dengan jelas. Tatapan mata mamah bakalan berubah sendu ketika menatap Agarish. Begitu juga dengan ayah, dia tidak jauh berbeda. Jelas sekali kalau dia juga punya beban yang sangat kentara ketika melihat Agarish. Mungkin dia menyesal namun masih malu untuk meminta maaf.
"Hahhh" tanpa sadar aku menghela napas ketika sedang istirahat dikamar lama milik Agarish.
"Kenapa hmm?" Tanya Agarish yang sedari tadi mengekor kemana saja aku pergi.
"Gak, lagi bingung aja" jawabku mengurut pelipis.
"Bingung kenapa?" Agarish kini menarik ku agar berbaring di atas pahanya. Aku menurut saja. Lalu aku tersenyum kala tangannya dengan pelan memijit kepalaku.
"Jangan mikirin yang tidak-tidak Yas. Mending kamu fokus sama anak kita aja. Ini urusan aku sama ayah dan gak ada hubungannya sama kamu" ucapnya dingin.
"Tapi aku gak suka lihat kalian diam-diaman begini Ga" jawabku jujur.
"Udah aku bilang gak usah dipikirin, bandal kamu yah" Agarish menyentil keningku.
"Hanya istri yang tidak peduli sama suaminya yang bersikap bodoh amat ketika sang suami bermasalah dengan ayahnya sendiri" dengusku tak suka mendengar pendapat Agarish.
"Iyalah yang punya istri perhatian kayak kamu" kekehnya sambil menyentil hidung mancung ku.
"Nah itu. Udah tau istrinya perhatian api masih aja suka ngebantah" cibirku tak suka.
"Bukan gak suka sayang..., Hanya saja aku masih butuh waktu" tangannya masih berkutat di kepalaku, memberikan pijitan pelan di sana.
"Mau sampai kapan Ga? Mau nunggu aku mati dulu?" Agarish menghentikan pijitannya lalu menatap dingin mataku.
"Aku gak suka kamu ngomong kayak gitu Yas" dia meletakkan kepalaku diatas bantal lalu keluar dari kamar.
__ADS_1
Ahhh sepertinya aku keterlaluan saat ngomong tadi.
Tapi heyyy aku tidak salah sama sekali. Bukankah setiap ibu hamil pernah berpikiran seperti ini di kala kehamilannya menjelang persalinan?.
Lagipula aku tidak tau kapan aku bisa bertahan lama didalam tubuh Yasmin. Siapa tau suatu saat Yasmin datang lalu mengambil alih tubuhnya.
Tidak ada yang tau masa depan bukan?. Kalaupun ada yang bilang tau masa depan maka itu hanya omong kosong.
"Ngelamu aja bumil" Allen mencolek daguku.
"Eh udah datang All?" Kagetku ketika Allen kini ada diruang tamu.
"Iya baru aja. Kamu sih dari tadi ngelamun Mulu" aku hanya tersenyum.
"Anak-anak gak ada yang ikut?" Tanyaku padanya.
"Nanti malam itu baru kesini. Nanggung kalau nutup cafe jam segini. Palingan sekitar jam 7 an gitu lah" aku menganggukkan kepala.
"Btw udah baikan?" Aku memutar bola mata malas kala mendengar pertanyaan Allen untuk kesekian kalinya dari dulu.
"CK itu terus yang kau tanya. Belum loh All. Ntu bapak sama anak masih aja keras kepala. Tidak ada yang mau negur duluan" aku geleng kepala kala mengingat pertemuan mereka berdua tadi pagi.
Keduanya hanya memandang sebentar lalu membuang muka secara bersamaan. Aku bingung sendiri mau bagaimana lagi cara agar Agarish mau mengalah saja dan melupakan dendamnya pada ayah.
"Udah gak usah dipikirin Yas. Kamu gak boleh stres, ingat kamu lagi hamil tua sekarang" aku menganggukkan kepala.
Sorenya setelah kolega bisnis ayah dan Agarish berkumpul maka acara syukuran pun dimulai.
Ayah mengenalkan aku pada kawan-kawannya. Membanggakan aku sebagai menantu satu-satunya milik keluarga Moracco.
Tanpa sepengetahuan Agarish juga, ayah sering membicarakan perusahaan milik Agarish pada kolega bisnisnya. Membanggakan anak satu-satunya yang sudah punya perusahaan besar sendiri.
Aku tersenyum kala mendengar ayah begitu antusias membicarakan anaknya. Aku menatap Agarish yang sedang mengobrol dengan kolega bisnisnya sendiri.
Aku tidak ikut gabung dengannya lantaran ayah yang duluan menarik tanganku dan membawa aku kemana pun ia berjalan.
Aku bisa melihat jelas wajah masam Agarish ketika kami bertatap muka. Aku hanya tersenyum kikuk ketika ditatap seperti itu.
Rasanya tuh kayak ketahuan selingkuh, tapi ini bukan selingkuh coy. Ini hanya karena Agarish merasa kalah sama bapaknya saja.
Padahal yang menjadi pemeran utama saat ini adalah aku, dan yang aku dampingi malah ayah mertua bukan suami sendiri.
Aku mengucapkan kata maaf padanya tanpa suara ketika mata kami tak sengaja bertemu. Dia hanya buang muka.
__ADS_1
Udalah tadi dia ngambek pas aku ungkit soal mati, ini malah ditambah sama ayah mertua yang tanpa merasa bersalah malah membawa aku kemana-mana.
Poor you Yasmin