SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Enam Belas


__ADS_3

Aku benar-benar niat hilang dari kehidupan Agarish. Buktinya aku sudah hampir dua bulan berada di perkampungan yang asri dan menyenangkan ini.


Aku tidak sepenuhnya lupa pada Agarish, bahkan aku sangat rindu padanya. Huhuhu bagaimana ini 😑.


Tapi gapapa kalau memang jodoh bakalan ketemu lagi. Allen juga tidak memaksaku untuk pulang, bahkan dia menyuruhku untuk tetap tinggal hingga aku benar-benar baik-baik saja.


Padahal mah dia kayak gitu lantaran senang dengar cerita neneknya yang ada kawan bicara disini. Tapi aku juga suka tinggal disini.


Kata Allen juga Agarish makin kaya orang gila. Setiap hari mampir ke cafe hanya untuk melihat apakah aku udah ada disana. Dia memang tidak memberitahukan apa masalah kami pada Allen. Bahkan Allen berpura-pura tidak tau masalah kami, dan dia juga mengatakan pada Agarish kalau aku kabur dari rumahnya.


Memanglah si Allen ini.


Kadang ada juga masanya Allen ingin memberitahukan keberadaanku, namun ia teringat lagi bagaimana terlukanya aku hari itu. Jadi ia memutuskan untuk bungkam.


"Yasmin kau tidak ikut ke kebun hari ini?" Tanya nyonya Emily padaku.


"Maaf nyonya kayaknya aku istirahat dulu hari ini, aku lagi gak enak badan" ucapku yang kini tiduran diatas tikar didalam ruang tengah.


"Kamu sakit nak?" Nyonya Emily mendekat dan memeriksa suhu badanku. "Badanmu hangat, yasudah istirahat saja dulu yah" dia mengelus kepalaku lalu beranjak pergi.


Entahlah dari semalam badanku rasanya lemas sekali. Mau makan apapun rasanya tidak nafsu.


Jadi dari pagi hingga menjelang siang aku hanya menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Dan setelah itu aku memaksakan diri untuk masak makan siang biar nanti Emily pulang tinggal makan.


Dengan kepala yang sakit luar biasa aku mencoba fokus untuk memasak. Hingga semua selesai barulah nona Emily datang.


"Ya Tuhan Yasmin! Kenapa kamu memaksakan diri buat masak nak" Emily tergopoh membantu aku berdiri.


Saat ini aku memang terduduk didapur dengan memegang kepala. "Biar nyonya tidak usah memasak lagi" nyonya Emily berdecak sebal, namun ia tetap sigap membopong badanku hingga kedalam kamar.


"Badan kamu panas, harusnya kamu istirahat saja nak" Emily menyelimuti badanku lalu menghapus peluh yang membanjiri wajahku.


"Maaf udah buat nyonya repot" ucapku lemah.


"Tidak ada yang repot Yasmin. Bahkan aku merasa bersalah karena tidak seharusnya aku membiarkan kamu sendirian disini tadi" aku tersenyum mendengar kata-katanya.


"Terima kasih nyonya"


"Sudah-sudah. Kamu istirahat saja jangan memaksakan diri dulu untuk keluar" aku mengangguk lalu memejamkan mata.


Hingga keesokan harinya aku merasa makin lemah, bahkan untuk bangun saja aku susah. Aku menangis, menangis karena tidak bisa apa-apa dan bakalan merepotkan nona Emily kembali.


"Ya Tuhan kau kenapa nak?" Emily datang dengan wajah khawatir.


Ah rupanya suara tangisku bisa ia dengar, padahal aku sudah mencoba untuk tidak bersuara.


"Sakit..." hanya itu yang bisa aku ucapkan.


"Tunggu sebentar nak, aku akan panggilkan kepala desa agar membawa kau ke puskesmas di kampung sebelah" setelah kepergian Emily penglihatanku menggelap dan tidak mengingat apa-apa lagi.


🐣🐣


Aku mengerjabkan mata, dan yang pertama kali aku lihat adalah wajah Emily yang terlihat khawatir.


"Kamu udah bangun nak, mau minum?" Aku menganggukkan kepala. "Bagaimana perasaanmu apa ada yang sakit?"


"Masih sedikit pusing nyonya" Emily mengangguk. "Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri nyonya?" Tanyaku kemudian.

__ADS_1


"Hampir 3 jam kamu tertidur nak. Maafkan wanita tua ini tidak bisa menjaga kamu dengan baik" dia menghapus air matanya.


"Jangan menangis nyonya Emily, kamu sudah sangat baik padaku. Terima kasih" ucapku tulus.


"Ah yah, apa kata dokter tadi?" Tanyaku penasaran. Penyakit apa yang membuat aku sampe pingsan begini.


"Enggg..." nyonya Emily terlihat ragu, dia menggaruk pelipisnya.


"Katakan saja nyonya, apa penyakitku sangat parah?" Tanyaku sedikit panik karena ekspresi Emily.


"Bu-bukan nak, justru ini bukan sebuah penyakit" jawabnya ragu.


"Lah terus apaan?" Tanyaku sesikit berbicara informal.


"Nak Yasmin sedang mengandung"


Deg


Jantungku rasanya bekerja dua kali lipat dari biasanya. Apa katanya tadi?, aku mengandung?. Hahahaha omong kosong.


"Saya tidak bercanda nak" jawab Emily tegas ketika melihat aku geleng-geleng kepala.


Anjirr! masa gue bunting anaknya Agarish?. Pan cuma sekali ngelakuain itu. Masa langsung jadi sih?.


Wah gila si Agarish tokcer bener tuh anak.


"Yasmin kamu tidak apa-apa?" Emily menyentuh lenganku membuat kesadaranku kembali.


"Aku gapapa nyonya, hanya saja aku masih syok akan kabar ini" aku mengusap kasar wajahku.


"Tidak apa-apa nak. Oh yah tadi aku udah menghubungi Allen" jawabnya lagi.


"Dia akan kesini. Mungkin lagi dijalan sekarang" aku makin susah menelan ludah. Ini benar-benar diluar kendaliku.


Aku bukannya tidak mau dengan anak ini, tapi keadaanku juga sedang rumit saat ini. "Ssshh" aku mendesis kala kepalaku kembali sakit.


"Jangan terlalu stres nak, bahaya sama kandungan kau nantinya" aku menganggukkan kepala.


Aku baru ingat sekarang. Pantas saja bulan semalam aku tidak kedatangan tamu bulanan rupanya ada anak bayi disini. Aku mengusap perutku yang masih rata.


Malam harinya Allen benar-benar datang ke kampung. Dia dengan wajah khawatir langsung memelukku erat ketika memasuki ruang rawat.


"Astaga Yasmin!. Aku khawatir bangat sama kamu" dia menangis dalam pelukanku. Kami kalau didepan orang lain memang akan memakai bahasa seperti biasa. Beda lagi jika kami sedang berdua dan ketika di restoran.


"Sesak All" gerutuku. Allen hanya cengengesan lalu melepas pelukannya.


"Aku langsung berangkat dari rumah kala nenek menelpon tadi. Bagaimana, masih ada yang sakit?" Aku menggeleng lemah. "Syukurlah" ucapnya lagi.


"Nenek mau cari makan dulu kalian mengobrol lah" seolah tau keadaan, nona Emily memberi kami privasi untuk berbincang.


"Lo sakit Tan?" Tanya Allen kala nona Emily sudah keluar dari ruangan.


Aku mendesah pelan.


"Kenapa Tan, parah bangat yah?" Tanya Allen khawatir.


"Gue hamil All"

__ADS_1


Satu detik, dua detik, Allen masih diam lalu mata dan mulutnya seketika membola.


"Lo bunting anak siapa ege!" Dia mengguncang bahuku kuat.


"Anak Agarish lah bego, siapa lagi!" Ketusku.


"Oh iya yah hehehe. Gue lupa tujuan lo kabur itu apaan" dia menggaruk kepalanya.


Untuk sesaat kami terdiam.


"Terus lo rencananya mau gimana? Tetap pertahanin anak lo atau kayak mana?" Tanya Allen hati-hati.


"Yang jelas gue bakalan pertahanin anak gue meski gak ada bapaknya" sambungku sedih.


"Jangan sedih gitu dong. Gue bakalan tetap ngedukung dan ngejagain elu sampai kapan pun. Lo percaya kan sama gue?" Aku menganggukkan kepala mantap.


"Gue lebih percaya sama lo didunia ini daripada siapa pun All. Buktinya gue pindah dimensi lo juga ikut-ikutan. Itu buktinya lo emang benar-benar mau ngejagain gue dimanapun dan kapan pun"


Allen berhambur kedalam pelukanku. Entahlah aku juga bingung kenapa kami sekarang malah melow begini.


🐣🐣


Tiga hari dirawat di puskesmas akhirnya aku diperbolehkan pulang. Allen masih setia menemaniku disini. Padahal aku udah berkali-kali menyuruh dia untuk kembali dan mengurus cafe, namun dia keras kepala.


"Mulai sekarang kamu tuh jangan ceroboh lagi Yas, ingat didalam perutmu ada baby" peringat Allen kala kami dalam perjalanan kerumah.


"Iya aunty Allen" jwabaku terkekeh.


"Buset dah!, bakalan jadi aunty aku bentar lagi"


"Makanya kau juga menikah lah Len biar nenek punya cicit" timpal nyonya Emily.


"Gak mau ah nek, Allen masih kecil belum boleh punya anak"


Cih tubuhmu aja yang kecil, jiwamu udah tua kali, decihku dalam hati.


"Kecil dari mana. Sekarang saja kau dikawinkan bulan depan pasti bakalan udah bunting!"


Astaga aku juga Allen menganga mendengar perkataan nyonya Emily, bahkan supir pribadi Allen saja menutup mulut menahan tawa.


"Asataga nenek. Jahat sekali mulut itu ya ampun" Allen meringis.


"Lagian kau itu udah cukup umur, apa salahnya menikah heh? Biar orang tuamu punya cucu" lagi-lagi raut wajah Allen berubah menjadi pias.


"Nek, Allen baru 22 tahun loh. Tuanya dari mana coba?" Ucap Allen tak percaya.


"Nenek dahulu menikah di umur 18 tahun gapapa tuh" aku aja sampai geleng-geleng kepala. Ternyata nona Emily bisa secerewet ini juga.


"Jaman dulu sama sekarang bedalah nek, ya Tuhan" Allen memijit pelipisnya.


Aku dan supir hanya terkikik geli mendengar pertengkaran dua manusia beda generasi ini.


Hay hay terima kasih sudah baca


Jangan lupa vote nya,


makasih 🌼

__ADS_1


Nur Dyh


__ADS_2