SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Dua puluh enam


__ADS_3

Usia kandunganku kini sudah lima bulan dan ternyata jenis kelaminnya laki-laki. Hubunganku dengan Agarish juga sudah sangat baik. Namun aku belum tau apakah dia sudah normal atau belum.


Soalnya selama ini kami tidak pernah melakukan nana nina yang itu loh, walaupun kami sudah dalam tinggal satu kamar.


Bram juga tidak pernah lagi menampakkan diri. Walaupun begitu aku tetap waspada. Kita tidak tau kan kapan dia bakal muncul lagi. Siapa tau dia ada menyimpan dendam untuk kami berdua.


Tugasku sekarang adalah bagaimana caranya membuat Agarish berbaikan dengan kedua orang tuanya. Kalau dipikir-pikir kesalahan ayahnya Agarish memang sangat fatal.


Aku mengelus perut buncitku sambil memakan buah apel yang sudah dipotong-potong sama pelayan.


"Ngelamun aja kamu" aku mendanga dan menatap Agarish yang sudah berjalan mendekat keruang santai.


"Eh kamu udah pulang?" Aku bangkit dari dudukku lalu mengambil tas milik Agarish.


"Perhatian bangat sih.." ucap Agarish sambil megelus pipiku yang kini telah melebar.


Serius body ku yang dulunya kayak gitar Spanyol kini udah bengkak kayak karung beras.


"Halo anak ayah..." Agarish mengelus perut buncitku lalu menunduk untuk menciumnya.


Ini yang aku suka dari Agariah sekarang. Dia lebih perhatian dan sering-sering mengajak bicara bayiku.


"Ihh dia nendang Yas!" Agarish antusias sendiri kala anak kami memberikan respon ketika ayahnya mengusap perutku dan mengajaknya bicara.


"Mau jadi pemain bola kali dia nantinya" jawabku sambil terkekeh.


"Masa sih? Tapi kamu gak boleh keras-keras nendang perut mamah yah, nanti mamanya sakit. Nanti aja kalau udah lahir ayah ajarin main bola deh" lagi-lagi aku tersenyum melihat Agarish yang terus mengajak interaksi dengan anaknya.


"Kamu mau makan sekarang atau mandi dulu?" Agarish menghentikan kegiatannya.


"Aku mandi dulu aja deh baru makan, badan aku lengket soalnya"


"Yaudah ayo aku bantu siapin kamu baju sama air hangat" namun Agarish menggeleng tegas lalu menuntunku untuk duduk kembali diatas sopa.


"Udah kamu duduk aja disini, aku bisa sendiri. Aku gak tega lihat kamu naik turun tangga dengan perut besar gini" Agarish mengacak pelan rambutku.


"Yaudah deh, aku tungguin disini aja" balasku dengan tersenyum.


🐣🐣


"Ga"


"Iya.." dia meletakkan tab ditangannya lalu menatapku. Ini juga salah satu perubahan Agarish sekarang. Dia selalu menatap kalau aku ajak bicara, tidak seperti dahulu.


"Aku rencananya besok mau berkunjung ke rumah mamah. Boleh gak?" Tanyaku hati-hati.


"Mau ngapain kesana?" Raut wajahnya kini berubah menjadi datar. Sudah aku duga bakalan begini.

__ADS_1


"Gak ngapa-ngapain. Aku cuman kangen sama mamah, semenjak kita menikah aku belum pernah nerkunjung kesana lagi"


"Tidak boleh" jawabnya dengan cepat lalu kembali memegang tab nya.


"Iihhh kenapa gaboleh" rengekku sambil menggoyang-goyangkan lengannya.


"Aku gak mau kamu kenapa-kenapa Yas" matanya tetap pada benda persegi ditangannya.


"Dasar nyebelin!" Aku membaringkan badan lalu memunggunginya.


Sebenarnya aku tidak kangen sih, cuman yah aku mau merekatkan  hubungan ayah sama anak yang sudah retak, itu saja tidak lebih. Aku tidak begitu mengenal orang tua Agarish, berbeda dengan Yasmin yang dulu.


Terdengar helaan napas dari Agarish dan juga suara benda yang diletakkan diatas nakas. Kemudian dia ikut berbaring disampingku lalu memelukku dari belakang.


"Aku bukannya ngekang kamu Yas. Aku cuman takut kalau ayah bakalan berbuat kayak dulu. Aku gak mau kehilangan kamu Yas" tangannya melingkar diperut buncitku.


"Itu gak bakalan terjadi" jawabku yakin.


"Siapa yang jamin Yas, ayah itu gila. Dia bisa berbuat apa saja sesuai kehendaknya" Agarish makin merapatkan badannya dipunggungku.


"Ada mamah disana. Lagian kan kamu yang bilang kalau mamah sama ayah yang menjodohkan kita. Bahkan ayah mengancam kamu waktu itu agar mau menerima perjodohan kita" Agarish terdiam. "Aku gak bakalan kenapa-kenapa Ga, percaya deh" aku mengelus tangannya lalu membalik badan.


"Kamu bisa ikut denganku kalau kamu khawatir" ucapku dengan senyum mengembang.


Agarish mendengus. "Itu tidak akan pernah terjadi" senyumku kini luntur melihat keseriusan dalam ucapannya.


"Gak ada salahnya kalau orang tuanya modelan kayak ayah" aku terkekeh lalu mencubit pipinya.


"Dih apa bedanya coba. Bagaimana pun juga dia tetap ayah kamu tau"


"Udah deh jangan bahas mereka lagi. Sekarang kita tidur aja" Agarish merapatkan badannya padaku.


"Keras kepala" aku menepuk pelan kepalanya.


🐣🐣


Seperti janji Agarish tadi malam, pagi ini dia mengantarku ke kediaman orang tuanya.


Satpam yang menjaga pagar rumah orang tua Agarish awalnya terkejut kala melihat mobil milik Agarish, mungkin karena sakit lamanya Agarish tidak berkunjung kesini.


"Aduuhh mantu mamah udah datang" mamah langsung buru-buru menyambutku yang baru saja keluar dari mobil.


"Maaf yah mah baru bisa berkunjung sekarang" aku membalas pelukan mamah.


"Gapapa sayang. Kamu udah mau berkunjung saja udah syukur" ucapnya tersenyum lembut. "Itu suami kamu gak mau turun" tunjuk mamah kearah mobil dengan dagunya.


"Masih keras kepala dia mah" ucapku sambil menghela napas kasar.

__ADS_1


"Gapapa biarkan saja. Ayo kita masuk aja, biarkan anak kurang ajar itu di sana. Kalau bisa kamu menginap aja disini biar dia mau menaikkan kaki ke rumah ini lagi" dengus mamah. Aku hanya bisa terkekeh mendengar omelan nya.


"Ayah ada di rumah mah" tanyaku ketika kami sudah memasuki ruang tamu.


"Adalah" jawab mamah dengan tersenyum.


"Gak kerja emang mah?" Tanyaku bingung.


"Mamah ancam tidur diluar kalau dia kerja hari ini. Enak saja dia mau kerja padahal mantu kesayangan mamah hati ini datang berkunjung" dumel mamah.


"Hahahaha anak sama ayah sama yah mah. Sama-sama takut sama istri"


"Biasa itu kalau udah terlanjur cinta" aku hanya tersenyum menanggapi.


Cinta yah? Aku aja bahkan belum tau apakah Agarish udah ada perasaan samaku saat ini. Kalau dilihat dari perlakuannya sih kayaknya udah ada, tapi aku belum bisa mengatakannya sudah cinta, karena dia belum pernah menyatakannya sama sekali padaku.


Ketika mamah pergi keatas untuk memanggil ayah, aku hanya duduk lalu memainkan hp untuk mengusir rasa bosan.


Ketika mendengar suara langkah kaki dari tangga aku menoleh dan seketika terpana melihat penampilan ayah mertuaku. Sumpah guys ini tuh mertua aku gantengnya waahh bangat. Sugar Daddy sekali.


Wajahnya tidak jauh beda dengan Agarish, badan atletis yang kontras sekali dengan kulit sawo matangnya. Belum lagi garis wajah yang kelihatan tegas membuat penampilannya Mateng bangat untuk mata memandang.


"Sudah lama sekali yah" katanya ketika medekat kearah ruang tamu.


Aku bangkit dari duduk lalu menyalami tangannya. " Maaf yah baru bisa berkunjung sekarang" dia tersenyum lalu mengelus kepalaku pelan.


"Tidak apa-apa. Aku tau anakku yang tidak tau sopan santun itu pasti yang melarangmu untuk tidak datang kesini" aku hanya tersenyum kikuk menanggapi perkataannya.


" Hehehe ayah bisa aja"


"Bagaimanapun juga Agarish itu anakmu Yah, jadi gak usah macam-macam" ancam mamah yang tentu saja membuat nyali ayah menciut seketika.


"Lihatlah.... sekali dia mengancam saja aku sudah tidak berani berkutik" ucapnya dramatis. Aku hanya bisa terkekeh.


"Dia tidak datang kemari bersamamu Yasmin?"


"Maaf ayah Agarish belum mau mampir kesini. Tapi dia yang mengantar Yasmin tadi" ucapku sedikit membela Agarish.


"Tidak sopan sekali. Padahal apa salahnya dia mampir sebentar kesini" dengus nya tak suka.


"Tenang saya Ayah. Nanti sampaikan kalau ayah rindu sama Agarish"


"Tidak! Aku tidak pernah mengatakan kalau rindu sama anak kurang ajar itu" aku hanya mengangguk saja. Padahal mah dia emang lagi rindu sama anaknya.


"Mulutmu aja yang bilang tidak. Padahal dalam hati kau udah rindu sekali dengannya" cibir mamah.


Tawaku seketika pecah melihat wajah masam milik ayah. Aku baru tau ternyata orang tua Agarish adalah orang yang hangat.

__ADS_1


Hanya saja kesalahan beliau dimasa lalu menghancurkan semuanya. Agarish keburu kecewa dengan sang ayah.


__ADS_2