SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Dua puluh empat


__ADS_3

Sejak tadi pagi aku pengen makan gado-gado tapi malas mau buatnya sendiri. Alhasil aku nyuruh Allen yang buat. Awalnya dia nolak, tapi karena aku buat alasan anak akhirnya dia mengalah.


Berhubung jiwa jahilku lagi kumat, aku mau membuat Agarish susah dulu.


"Halo Ga..."


"Iya kenapa Yas?"


"Mmm aku pengen makan sesuatu. Tapi musti kamu yang beliin"


"Emang mau makan apa?" Aku bersorak didalam hati ketika tidak ada penolakan darinya.


"Itu pengen makan gado-gado"


"Apa? Gad.. apa Yas?" Aku terkikik geli mendengar suara Agarish yang kebingungan.


"Gado-gado loh" ucapku pura-pura ngambek.


"Iya tapi Gado-gado itu apa, aku belum pernah denger Yas"


"Ck masa itu aja gak tau. Bilang aja kamu gak mau beliin sama aku iyakan?" Aku pura-pura ngamuk. Padahal emang disini gak ada yang namanya gado-gado.


"Bu-bukan gak mau ya Tuhan. Tapi aku emang gak tau makanan itu Yasmin" jawabnya dengan sedikit prustasi.


"Yaudah deh gak usah jadi. Aku gak usah makan aja"


"Jangan! Tunggu bentar yah biar aku cariin"


Aku tidak menjawab lagi, sambungan telepon langsung aku putus.


Mau kau cari dimana pun itu gak bakalan ada Agarish.


Terkutuk lah kau Tania, mengerjai suami sendiri. Tapi gak ada salahnya yah kan, orang aku beneran pengen makan gado-gado ko. Masalah ada atau gak nya itu bukan salahku.


Berkali-kali Agarish mengirim pesan padaku kalau dia tetap tidak bisa menemukan makanan yang aku minta. Dia udah keliling kota tapi tetap tidak ada.


Bahkan katanya dia diketawai sama beberapa restoran saat menyebutkan nama Gado-gado.


Agaris+h


Yas..


Kamu aku beliin makanan yang lain aja yah


Aku udah dua jam loh keliling buat nyari tapi tetap gak ada.


Satu jam lagi aku bakalan ada rapat penting, jadi minta yang lain aja yah 🙏


Alu meringis sendiri membaca pesan darinya. Pasti dia capek bangat kesana kemari buat nyari makanan yang emang gak ada didunianya ini.


Akhirnya aku mengalah dan menyuruh dia untuk mengambil gado-gado ke cafe dan memintanya langsung pada Allen.

__ADS_1


Selang dua puluh menit Agarish sampai dirumah. Penampilannya sekarang sangat kacau yahh walaupun masih tetap kelihatan oke dimataku. Tidak bisa dipungkiri kalau dia memang tampan walau sudah kusut begini.


"Capek banget yah Ga?" Tanyaku padanya yang baru saja duduk di sofa ruang santai.


"Mmm" dia hanya bergumam sebagai jawaban. Aku meringis sendiri.


Aku keterlaluan bangat yah ngerjainnya?


"Maaf yah" pintaku memelas sambil menggoyangkan lengannya.


"Udah gapapa. Makanlah, katanya tadi pengen"


Tuh kan aku malah makin gak enak sekarang.


"Yaudah makan bareng aja, kamu belum makan juga kan?" Gak usah pun dia jawab aku udah tau dia belum makan. Soalnya tadi pas aku telepon baru jam istirahat.


"Aku bisa makan dikantor nanti"


"Ck, udah makan disini aja. Buka mulutnya!" Aku mengarahkan sendok padanya. Mau tak mau Agarish membuka mulut.


"Enak gak?" Tanyaku ketika dia mengunyah Gado-gado yang dibuat Allen.


"Mmm enak sih. Aku baru kali ini makan" jawabnya sambil menganggukkan kepala.


"Iyakan. Makanya aku pengen banget dari tadi pagi" aku ikut menyuapkan gado-gado kedalam maulut lalu bergantian menyiap Agarish.


"Aku sebenarnya mau nanya ini dari dulu sama kamu, tapi gak pernah kesampaian" dia menatapku intens.


"Kamu sama Allen tau dari mana makan asing kayak begini?" Tanya Agarish memicing.


"Ya- ya kami belajar lah. Buat varian... iya. Belajar buat makanan yang lain dari pada yang lain" Agarish menatapku kembali seolah belum puas sama jawaban yang aku kasih.


"Serius loh Aga, ini tuh hasil eksperimen kami berdua" jawabku kembali meyakinkan.


Padahal mah bohong


"Oke itu bisa aku terima. Tapi soal bahasa kalian berdua itu bagaimana?"


Mampus! Aku harus jawab apa coba?


"Kenapa diem?"


Ayolah Tan mikir, mikir.


"Ahh itu juga bahasa yang kami buat-buat sendiri. Soalnya biar gak ada yang tau kalau kami itu lagi ngomongin apa. Iya begitu" aku berkeringat dingin saat ini.


"Yakin kamu?" Tanya dia curiga.


"Yakinlah! Udah cepat sini biar aku suapi lagi. Habis ini kamu mau ada rapat lagi kan?" Agaris menepuk jidatnya sendiri.


"Astaga aku lupa. Udah segitu aja makannya aku pergi dulu" Agarish buru-buru bangkit dari sopa lalu mencium pipiku sekilas sebelum berlari keluar rumah.

__ADS_1


Aku mematung mendapat serangan tiba-tiba darinya.


Astaga jantung gue!


Aku memegang dadaku sendiri.


🐣🐣


Sejak tadi dua satpam yang berjaga di depan gerbang terlihat gelisah, sesekali juga mereka menelepon seseorang. Karena penasaran aku mendekat.


"Ada apa?" Tanyaku pada keduanya.


"Itu non mantan sekretaris tuan ada didepan" jawab salah satu dari mereka.


"Maksud kamu Bram?" Tanyaku meyakinkan.


"Iya nyonya anda benar" aku mengerutkan kening. "Terus kenapa gak dibolehin masuk?"


"Tuan melarang kami membuka gerbang kalau dia datang kesini nyonya" aku ber oh ria.


"Buka aja gerbangnya, suruh dia masuk" putusku kemudian.


"Ta-tapi tuan melarangnya nyonya" jawab mereka hampir bersamaan.


"Udah gapapa buka aja. Saya yang kasih ijin" keduanya saling menatap. "Saya yang akan bertanggubg jawab nanti" akhirnya mereka mengangguk lalu membuka gerbang.


Sebuah mobil berwarna merah memasuki area rumah, aku ikut berjalan dibelakang. Setelah Bram turun, aku mengajak dia masuk kedalam ruang tamu.


"Mau cari siapa Bram? Kalau kau mau cari Agarish dia belum ada dirumah" Bram mendengus.


"Aku kesini bukan mencari dia, tapi mau bicara sama kau" ucapnya ketus.


Bah sombong sekali tamuku ini


"Mau bicara apa? Emang kita ada urusan sampe mau membicarakan sesuatu" aku menaikkan alis menatap Bram.


"Cih gak usah sok polos kau. Kau jelas tau tujuan aku datang kemari" dia menatap tajam kembali.


"Emang apa tujuan kamu? Perasaan kita gak pernah ada urusan deh" aku kembali mengerutkan dahi.


"Gak usah pura-pura bodoh kau Yasmin!" Dia membentak. Jujur saja aku sedikit kaget.


"Hahahahaha" aku tertawa melihat wajah memerah milik Bram.


"Kenapa kau tertawa?" Dia menggertakkan giginya.


"Kalu lucu sekali Bram" aku menghapus air mata yang baru saja keluar lantaran kebanyakan tertawa. "Harusnya aku yang membentak dan mengintimidasi kau bukan kau yang mengintimidasi aku" aku menatap Bram tanpa ekspresi.


"Kau pikir pihak yang dirugikan disini itu kau?" Aku mendekatkan wajahku padanya. "Aku yang dirugikan disini asal kau tau" aku menatap tajam padanya lalu menarik kembali wajahku agar tidak berdekatan dengannya.


"Tapi gapapa. Aku pengen dengar apa yang akan keluar dari mulut sampah milikmu itu" aku tersenyum miring melihat wajahnya yang makin memerah.

__ADS_1


__ADS_2