
Sumpah yah si Agarish tuh kekanakan bangat. Masa yah aku dia diemin setelah acara selesai? Pan yang bawa aku bapaknya bukan aku juga yang minta.
"Ga jangan diem terus dong.." aku menggoyang-goyangkan lengannya yang berbaring memunggungiku.
Tapi tetap saja dia gak nge respon. Kalau ini lagi ada di rumah kami, udah aku maki habis-habisan dia. Tapi ini masalahnya kami lagi nginap di rumah mertua.
"Jangan nakal yah nak, ayah kamu lagi ngambek. Dia gak mau ngajak kamu ngobrol sama ngelus-ngelusin kamu malam ini" aku menarik selimut lalu ikut memunggungi Agarish.
Aku bukan sengaja yah nyindir dia, tapi ini tuh emang kemauan anaknya. Pasalnya sejak kami masuk kamar,
dia gak ngajak ngobrol anaknya kayak biasa. Biasanya tuh sebelum tidur dia ngelus-ngelusin perut aku dulu baru tidur, tapi malam ini dia malah pake acara ngambek segala.
Tuh kan, anak aku nendang-nendang lagi. Malah akresif bangat lagi geraknya.
Aku membalikkan badan menjadi telentang. Mencoba mengelus-elusnya namun tetap aja gak mau berhenti. Aku melirik Agarish, dia masih dalam posisinya seperti tadi.
Lama-lama aku makin gak nyaman, aku bahkan meringis sekarang. Bahkan tanpa sadar aku udah nangis kejer lantaran nih anak aku gak mau diem.
"Loh Yas kamu kenapa?" Agarish buru-buru bangkit dari tidurnya.
Dalam hati aku udah memaki-maki Agarish yang dengan wajah polosnya sok bertanya aku kenapa.
"Ka-kamu kalau memang hiks marah sama aku hiks jangan nyiksa begini dong hiks. Anak kamu sedari tadi nakal tapi kamu diem aja hiks" aku udah sesenggukan sekarang.
"Ya Tuhan Yas maaf. Aku ketiduran" tangannya langsung menyentuh perutku dan menenangkan anaknya.
__ADS_1
"Sayang jangan nakal dong. Mamah kamu udah nangis tuh kamu buat. Kasian mamahnya mau bobo tapi Adek malah nakal" Agarish mengelus perutku hingga kembali enak lantaran si baby udah adem.
Aku masih diam sambil terus sesenggukan. Mau maki tapi gak tega. Apa katanya tadi, ketiduran? Mau tak tampol aja tuh mulutnya pakek bantal.
"Gimana udah enakan gak?" Tanya dia padaku, aku hanya mengangguk sekilas. "Maaf yah aku ketiduran. Padahal tadinya cuman iseng diemin kamu, eh taunya malah kebablasan tidur"
Aku mendelik sebal mendengar penjelasannya. Dia mah enak tidur, lah aku musti drama dulu sama dedek bayi.
"Halahh bilang aja kamu sengaja iya kan? Kamu sengaja biar aku susah sendiri. Kamu kan tau kalau anak kamu udah kebiasaan dielus-elus dulu sebelum aku tidur. Ka-kamu sengaja kan? Biar aku kesakitan kayak tadi?" Air mataku kembali menggenang.
"Enggak Yas enggak. Sumpah aku gak sengaja. Maaf maaf " Agarish membawaku kedalam pelukannya. Udahlah aku mewek lagi. Cengeng bangat emang sekarang.
🐣🐣
Waktu terkadang secepat ini berlalu. Usia kandunganku sekarang udah 9 bulan, kata dokter seminggu lagi aku bakalan lahiran. Oleh karena itu juga setiap pagi aku sama Agarish suka jalan-jalan keliling lingkungan tempat tinggal kami.
"Huhhh huhhh" baru berjalan sepuluh meter aja aku udah ngos-ngosan.
"Berat bangat yah?" Tanya Agarish sambil menghapus keringat di dahiku.
"Ya beratlah! Kamu kira ringan kaya bawa kapas sekilo?" Agarish hanya cengengesan tiap kali aku marah begini.
Dikiranya hamil itu gampang kali yah. Dia aja yang enak sekali buat langsung jadi, seterusnya aku yang menanggung.
Lagian dia ko sedari dulu bisa tokcer begitu sih? Sama Sona juga cuman sekali buat udah jadi, sama aku pun juga. Udah gitu sama-sama dibuat pas dia lagi mabuk juga. CK dasar laki-laki lucknut emang.
__ADS_1
"Kita lanjut apa pulang aja?" Ucapnya kemudian.
"Lanjut ajalah" putusku kemudian. Aku dan Agarish kembali berjalan pelan.
Semenjak kehamilanku berusia 9 bulan, Agarish emang udah gak kekantor lagi. Semua pekerjaannya diantar sekretaris agar dia bisa kerja sambil mengawasi aku juga.
Lagi jalan santai tiba-tiba melintas motor dengan kecepatan tinggi, setibanya tuh motor dekat dengan kami, seseorang yang berada diatas motor tersebut mendorong badanku hingga limbung dan terjatuh kebelakang.
Kali ini Agarish tidak bisa menangkap ku seperti yang terakhir kali kala Bram mendorongku hari itu.
"YASMIN..." Teriak Agarish.
Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan suara saat ini. Punggungku rasanya seperti diremukkan saking sakitnya. Perutku juga nyeri luar biasa. Hanya air mata yang bisa aku keluarkan.
Tuhan sakit sekali
Agarish makin kelagapan, dia menggendongku hingga kedepan rumah dan meneriaki satpam agar memanggil sopir dan membawa kami ke rumah sakit.
Aku bisa melihat dengan jelas wajah khawatir miliknya. Berulang kali dia meminta maaf namun suaraku rasanya hilang. Jujur saja aku terharu ketika melihat dia se khawatir ini padaku.
Makin lama sakit yang aku rasakan semakin menjadi, penglihatan ku juga mulai kabur.
"Jangan tidur Yas kumohon" Agarish menepuk-menepuk pipiku.
Aku tersenyum padanya lalu mengatakan kata maaf walau tanpa suara.
__ADS_1
"Bukan, bukan kamu yang harus minta maaf Yas tapi aku. Aku yang gak becus jagain kamu. Maaf maaf" kini air matanya mengalir dengan jelas.
Kesadaran ku seperti ditarik secara paksa, dan seketika semuanya gelap.