SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
01


__ADS_3

"Mencoba bunuh diri heh?" bisiknya tepat ditelingaku, jagan lupakan senyum sinis yang ia berikan padaku.


"Awas kau" aku mendorong bahunya agar menjauh dariku. Dia membolakan mata mendapat perlakuan yang baru saja aku berikan.


"Apa heh?, kaget akan perubahanku?" aku tersenyum sinis padanya.


Kau kira aku tidak bisa bilang heh juga, gampang itu mah.


"Ohh sudah mulai berani kamu yah, atau.. jangan-jangan kepalamu rusak saat mencoba bunuh diri kemaren?" dia mengangkat daguku.


"Lepaskan tangan kotormu itu dari daguku jingan!"


"Hati-hati kamu kalau bicara!" dia mencengkram daguku kuat, rahangnya mengeras hingga panggilan dari ambang pintu mengalihkan perhatiannya.


"Tuan setengah jam lagi akan ada rapat dengan pihak investor" ucap seorang pria yang aku yakini adalah sekretarisnya. Ah tunggu?, aku menatap wajah laki-laki itu, sektika aku jijik. Dia, dia adalah kawan bercinta lelaki bajingan dihadapanku sekarang.


Cih menjijikkan.


Tanpa ada ucapan lain, dia beranjak dari duduk lalu tersenyum kearah laki-laki diambang pintu. Keduanya keluar tanpa menoleh sedikitpun.


"Anjiinggg jijik gua hiii" aku bergidik ngeri kala mengingat senyumannya pada sekretaris tadi.


Sial otakku kenapa berkelana tentang percintaan panas akan keduanya selama ini?, pasti sangat ahh gak tau aku. Aku berlari kekemar mandi untuk muntah.


"Goblok!, ngapain juga gue mikirin percintaan dua manusia menjijikkan itu" aku bergidik lalu keluar dari kamar mandi.


Aku menatap pantulan diri dicermin, masih dengan kulit yang lumayan gelap namun masih kelihatan sexy.


Ck tapi apa-apaan penampilanku saat ini?. Rok panjang warna coklat dan atasan panjang warna putih benar-benar sangat kampungan. Lagi-lagi aku berdecak, cepu sekali pemilik badan ini dahulu.


Aku berjalan kearah pintu yang mirip lemari di samping pintu kamar dan sekali lagi aku hampir menjerit melihat pemandangan didalamnya. Ternyata itu pintu menuju ruangan tempat pakaian, tas, sepatu dan berbagai macam perhiasan lainnya.


Ini mah udah kayak toko bukan lagi koleksi pribadi. Aku menyusuri setiap sudut ruangan, benar-benar menakjubkan.


Aku mengambil celana pendek jeans diatas lutut, lalu kaos pendek berwarna putih polos dan ah yah jangan lupakan sneakers berwarna putih juga.


Aku memandang pantulan diri didepan cermin, perfect. Ini baru Tania Putrisya Manopo, eh? Bukanlah geblek, lo kan sekarang Yasmin Mauretta.


Aku geleng-geleng kepala, lalu menuruni anak tangga, perutku rasanya sangat lapar dan tujuanku saat ini adalah meja makan.


"Pagi non Yasmin" sapa para pelayan.


"Pagi juga" sapaku kembali lalu menarik kursi untuk sarapan.

__ADS_1


Jadi Agarish Moracco ini seorang CEO disebuah perusahaan besar di negara ini. Dia masih lumayan muda, baru berusia 28 tahun. Dia dan Yasmin itu dijodohkan.


Awalnya Yasmin mengira kehidupan dia bakalan bahagia, namun ternyata dia salah besar.


Suami yang ia kira laki-laki sempurna ternyata seorang penyuka sesama jenis. Hal ini ia ketahui setelah keduanya menikah.


Yasmin tidak sengaja melihat keduanya bercumbu mesra duruangan kantor milik Agarish. Pantas saja sudah beberapa hari menikah Agarish belum pernah menyentuhnya.


Semenjak kejadian itu juga sikap lembut Agarish berubah, dia menjadi lebih kasar dan mendiamkan Yasmin. Bahkan mereka pisah ranjang selama setahun terakhir ini.


🌞🌞


Aku bersenandung kecil kala memasuki area taman yang terbentang luas disamping rumah megah ini.


Aku masih ting ting


Dijamin masih ting ting


Sama sekali belum berpengalaman


Ahh serrr


Jangan lupakan goyangan ngebor yang aku berikan, beberapa pelayan rumah terkikik geli dengan tingkahku, namun tak kupedulikan.


Ah goblog disini kan dunia antah berantah, mana ada tek tok . Ahhh Aku mendesah, gak jadi ngebor deh gue.


Capek dengan goyangan heboh, aku mendudukkan pantat dikursi taman. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku yang glowing tapi coklat ini assiiik.


Tapi jujur suasana disini enak bangat, gak tau deh diluar pagar yang tinggi ini. Nyatanya rumah ini begitu tertutup, temboknya tinggi menjulang. Sementara gerbang depan juga sama tertutup besi yang selalu dijaga oleh dua pengawal. Berlebihan sekali si cowo kelainan itu.


Hingga menjelang sore hari aku hanya menghabiskan merenung ditaman, makan siang aku lewatkan. Aku sibuk memikirkan keadaan ragaku di dunia, apakah badanku banyak lecet, apakah Yasmin sudah sadar disana?. Ah menyebalkan sekali.


Aku berkali-kali merutuki diri yang mau saja menerima pertukaran jiwa yang aneh ini.


Terus bagaimana caranya aku mengembalikan jiwa kejantanan si Agarish?. Eitss jangan salah, kalau menurut cerita Yasmin dulunya Agaraish itu cowok normal.


Buktinya dia pernah pacaran dan merusak anak orang, namun entah karena apa Agarish berubah haluan. Ah pusing pala berbie.


Aku melangkahkan kaki memasuki rumah, disana dimeja makan sudah tertata rapi makanan, jangan lupakan tatapan memohon dari para pelayan agar aku makan.


"Nyonya belum makan dari tadi siang. Ayo sekarang sudah sore, nyonya harus makan" pintanya dengan raut sedih.


"Aku belum lapar, nanti malam saja sekalian" aku melenggang pergi kelantai dua menuju kamarku.

__ADS_1


Setelah berendam lama didalam bathup. Badanku rasanya ringan, dengan bersenandung aku memasuki kamar ganti.


Mana mungkin selimut tetangga hangat ditubuhmu dalam kedinginan


Malam malam panjang setiap tidurmu selalu mimpikan dia


Ah random bangat sih lagu gue. Dan kali ini setelah menatap lama lemari pakain, aku memutuskan memakai baggy pants warna abu dan sweater berwarna pink.


Hmmmm ck cantik sekali diriken. Dududud dududu


Mungkin karena dulunya aku penyanyi, jadi setiap saat mulutku tak henti-hentinya bersenandung.


Kali ini aku tidak memoles wajah sedikitpun, aku membongkar laci meja rias dan mataku langsung berbinar kala menemukan sebuah hp.


Yes gue punya hape!


Aku melompat-lompat riang seperti anak yang baru saja dikasih ijin untuk mandi disungai. Oke lupakan. Aku membuka hp dan melihat aplikasi, aihh membosankan sekali tidak ada aplikasi tek tok.


Tok tok tok


"Waktunya makan malam nona, tuan sudah menunggu di meja makan"


Tanpa menjawab aku keluar dari kamar, menuruni tangga dengan mulut yang masih saja bersenandung.


Harusnya aku yang disana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia....


Semua mata memandang kearahku, terutama si Agarish. Dia mengerutkan dahi kala mendengar suaraku yang aduhai.


"Kenapa kalian menatapku?, apa suaraku terdengar..... buruk?" aku khawatir juga yakan, siapa tau suaraku cempreng atau apalah.


"Enggak nona, suara nona sangat bagus. Tapi hanya saja kami tidak tau nona menyanyikan lagu apa" cicit kepala pelayan.


"Ahahahaha tak usah dipikirkan, ayo makan" aku mengibaskan tangan lalu menarik satu kursi tepat didepan Agarish.


Ia masih memandangku dengan tatapan yang aku tidak tau apa maksudnya.


"Apa kau benar-benar lupa ingatan?" kernyitnya bingung.


"Ahahaha maksud tuan apaan, aku baik-baik saja. Hanya mungkin sedikit mengubah penampilan"

__ADS_1


Dia tidak menjawab lagi, kemudian memulai menyuap nasi kemulutnya.


__ADS_2