SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Dua puluh tujuh


__ADS_3

Sorenya Agarish udah stay diluar pagar buat jemput aku. Semenjak dari siang tangannya tuh gatal bangat neleponin atapun ngirim aku pesan.


Dikit-dikit banyak aku lagi ngapain. Takut bangat dah aku digebukin sama bapaknya. Padahal mah bapaknya ramah bangat, yah walaupun tetep aja masih jarang bicara. Dan yang lebih dominan ngomong itu mamah mertua.


Bah kalau yang ini banyak kali cakapnya. Aku aja sampe capek ngomong. Tapi gapapa, itu berarti dia sayang samaku.


"Emang minta dihajar itu si Agarish. Udah tau istrinya lagi hamil besar malah markir mobil diluar pagar" mamah mengomel ketika mengantarku hingga kedepan.


"Gapapa mah, Yasmin juga masih bisa jalan ko sampai depan"


"Kamu tuh harusnya lebih keras lagi sama Agarish Yasmin. Kalau begini terus mamah bakalan jemput kamu biar tinggal disini aja"


Bah bagaimana ceritanya musti aku yang lebih tegas dari Agarish? Apa itu bukan terbalik yah?.


"Anggap olah raga aja mah biar nanti Yasmin mudah pas lahiran" tapi tetap aja mamah ngomel panjang.


Padahal dirumah juga aku sering keluyuran keliling rumah buat jalan-jalan kalau lagi gabut. Malahan pas hamil muda malah manjat pohon jambu lagi.


Melihat aku yang keluar dari pagar, Agarish langsung menyambut dan memapahku hingga kedalam mobil. Lebay bangat sebenarnya. Pan aku masih bisa jalan.


"Kamu tuh yah, apa salahnya bawa mobil kedalam sana biar istrimu gak jalan lama heh!?" Agarish diam saja ketika emaknya mengomel.


"Kamu denger mamah ngomong gak sih Agarish?" Kesal mamah kala Agarish tak menanggapi ocehannya.


"Iya" jawabnya pelan lalu masuk kedalam mobil.


"Kamu tuh yang sopan Ga, itu mamah kamu" peringatku pada Agarish waktu memsang seat belt.


"Kita pulang dulu ya mah" pamit Agarish dengan senyum dipaksakan. Bisa aku lihat mamah mematung mendengar perkataan Agarish.


"Iya mah kita pulang dulu. Nanti Yasmin bakalan berkunjung lagi. Dadah mamah" pamitku sambil tersenyum hangat padanya.


Mamah membalas senyumanku dengan mata yang sudah memerah. Sebelum benar-benar pergi, Agarish membunyikan klakson tanda pamit. Mamah melambaikan tangan dan tentu saja langsung aku balas.


"Mamah tuh kangen sama kamu tau Ga" ucapku lalu bersandar dikursi.


"Aku tau" jawabnya pelan. Aku mendengus mendengarnya.


"Kamu juga kangen kan?" Agarish diam saja tidak merespon. "Sesekali mengurangi ego tidak akan membuat kamu kelihatan lemah Ga. Malahan malah sangat kuat" aku mengelus lengannya.


"Kamu tau? Ayah bahkan sangat rindu sama kamu" Agarish melirikku sekilas.


"Tidak mungkin" jawabnya cepat. Aku hanya terkekeh.


"Kamu sama aja kayak ayah. Sama-sama bilang tidak padahal didalam hati bilangnya iya" aku geleng-geleng kepala mengingat tingkah keduanya yang mirip.

__ADS_1


"Sedari tadi ayah sering keceplosan bertanya soal kamu. Lalu kemudian buru-buru disanggah nya. Hahaha lucu sekali melihat ekspresinya ketika aku cerita tentang kamu"


"Kalian berdua itu sama. Hanya saja gengsi kalian sangat tinggi. Yang satu tidak berani minta maaf dan yang satunya lagi tidak berani memberi maaf. Padahal didalam hati kalian sama-sama ingin melepas masa lalu dan kembali seperti dahulu"


Aku berdecak sebal melihat respon Agarish yang biasa aja. Padahal aku sudah bicara panjang lebar.


"Udalaha sebel aku sama kamu" aku memalingkan wajah kearah jalanan. Tangan Agarish mengambil tangan kananku lalu menciumnya perlahan.


"Aku masih butuh waktu Yas. Jadi jangan paksa aku yah" aku menghela napas lalu mengiyakan.


"Yaudah" kami terdiam sebentar. "Aku boleh ke cafe gak Ga? Udah kangen bangat tau kesana. Udah berapa bulan aku gak kerja"


Aku mengingat kembali kebelakang. Sudah lama sekali aku tidak kesana. Terakhir kali adalah pagi hari setelah Agarish menggagahi ku waktu itu.


"Yasudah kita kesana sekarang" putusnya kemudian.


"Benaran?" Tanyaku antusias.


"Iya" jawabnya sambil tersenyum.


"Aahhh makasih Aga" aku langsung memeluk tubuhnya dari samping. Bisa aku rasakan kalau untuk beberapa detik badannya menegang ketika mendapat serangan mendadak dariku.


🐣🐣


"HELOO EVERYBODY..." teriakku kala memasuki area dapur.


"YASMIN?" teriak mereka secara bersamaan.


"Kangen sama aku gak?" Mereka semua mengangguk kecuali Arthur.


"Biasa aja" jawabnya lempeng. Wajahku berubah datar kala mendengar jawabannya.


"Waahhh minta dihajar kau yah Thur!" Aku mendekat lalu menjitak kepalanya.


"Masih ingat juga kamu kemari" dengusnya.


"Heh! Ingatlah. Ini kan cafe punyaku juga" ucapku nyolot.


"Yah biasa aja dong ngomongnya gak usah nyolot begitu" ucapnya datar.


"CK ngomong sama es batu mah percuma" aku beralih dari dapur menuju ruangan milikku dan Allen.


"Allen yuhuuuuu. Dimana kah dirimu wahai Allen?" Teriakku kala membuka pintu.


"Astag nyet! " Allen yang sedang berkutat dengan Laptop sekarang beralih melihat padaku.

__ADS_1


"Yah Tuhan kangen bangat gua Tan" Allen langsung memeluk leherku dengan erat.


"Woyy hati-hati dong! Anak gue kegencet nih" aku memukul punggung Allen.


"Adududuh maaf yah ponakannya aunty, gak sengaja suer deh" dia mengelus perut buncit milikku.


"Sama siapa Lo kemari nyet?" Allen menuntunku duduk di sofa.


"Sama bapak Agarish yang terhormat lah" aku meminum jus pokat milik Allen yang terletak di atas meja.


"Dia ngebolehin Lo kemari?"


"Iya nih. Tadi mumpung habis ngunjungin rumahnya mertua"


"Lah udah baikan mereka?" Bingung Allen.


"Belum juga sih"


"Terus ko Lo bilang baru dari sana?"


"Iya gue baru dari sana. Tapi sendiri aja. Agarish cuman ngantar sama jemput doang. Belum baikan die Ama bonyoknya" ucapku sambil menandaskan jus milik Allen.


"Padahal yang salah bokapnya, tapi nyokapnya malah ikutan didiemin. Aneh si Agarish yah" aku hanya menggidikkan bahu.


Semua masa lalu Agarish memang udah aku ceritakan sama Allen tanpa terlewat sedikitpun. Walaupun jarang ketemuan, komunikasi kami tetap lancar ko.


"Oh ya All. Gimana kabarnya nona Emely?" Tanyaku penasaran.


"Baik die. Cuman katanya sering rindu sama elu" aku hanya terkekeh mendengarnya.


"Gue juga sama rindunya All" aku tersenyum ketika mengingat kebersamaan kami dulu.


"Nanti katanya kalau lu ngelahirin dia bakalan datang kemari"


"Serius Lo?" Tanyaku girang.


"Serius lah nyet, ngapain juga gue bohong"


"Aahhh gue bakalan seneng bangat ketemu sama Emily lagi" jawabku antusias.


Lama ngobrol sama Allen, Agarish malah ngetuk pintu ngajak balek. Mau tak mau aku harus nurut. Lagian dia juga capek habis dari kerja.


"Gue pamit dulu yah All. Sesekali mainlah ke rumah. Biar gue ada temen" pelukku padanya.


"Iya nanti kalau ada waktu gue berkunjung. Jaga kesehatan yah" aku hanya menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Kita pulang ya Allen. Selamat malam" pamit Agarish pada Allen.


"Iya hati-hati kalian" jawabnya lalu melambaikan tangan.


__ADS_2