SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Tiga


__ADS_3

Suasana hatiku pagi ini cukup bagus. Aku berniat akan membuat bakso percobaan hari ini. Aku akan menyuruh semua anggota dirumah ini untuk mencoba masakan legend dari negara tercintaku dahulu. Semoga saja respon mereka bagus, biar nanti rencana buka cafe dengan Allen berjalan mulus.


Pagi ini aku memakai celana kulot warna Lilac dan kaos oblong pendek warna putih, juga masih dengan snikers warna putih kesukaanku.


"Selamat pagi semua" ucapku riang dari undakan tangga.


Semua mata memandang kearahku, bingung kali yah sama aku yang udah semangat pagi ini.


"Selamat pagi nyonya, suasana hati nyonya sepertinya bagus pagi ini" sapa kepala pelayan yang selalu setia mendampingi kami di meja makan.


"Yaaa lumayan lah" jawabku dengan senyum mengembang. Aku menarik kursi didepan Agarish.


"Hay selamat pagi juga tuan suami" sapaku dengan mengedipkan mata padanya.


"Ukhuuk ukhuuk" dia sampai terbatuk kala aku menggerling nakal padanya.


Ckk baru segitu kau udah gak tahan, dasar lemah


"Ehemm. Kali ini mau kemana lagi kamu?" tanya nya setelah acara batuk lebaynya selesai.


"Ah hari ini mau belanja bahan dapur. Aku boleh keluar kan?" oh aku juga masih punya adab tau. Aku tau statusku sekarang sudah menjadi istri, yah walaupun my husband adalah seorang yang berkelainan.


"Ngapain belanja bahan dapur?, disini semuanya sudah lengkap" kernyintnya bingung.


"Yaa aku tau. Tapi kali ini biarkan aku yang belanja sendiri. Aku ingin membuatkan makanan spesial nanti malam" aku tersenyum riang kala mengingat rencanaku hari ini.


"Kamu mau memasak?" tanya Agarish meyakinkan.


"Ya. Emang kenapa, gak boleh?" aku mengamgkat satu alis.


"Ya boleh aja sih, tapi kamu yakin bakalan bisa?" tanya Agarish meremehkan.


"Ck, kamu belum pernah makan masakanku rupanya. Oke, nanti malam kamu boleh mencicipi, setelah itu barulah kamu bisa menilai"


Aku menyendokkan sarapan kemulut. Mengunyahnya dengan anggun, lalu sesekali tersenyum mengingat rencana yang sudah aku susun.


"Apa yang membuat hatimu sebahagia ini?" aku mendongak kala Agarish bertanya.


Ah ternyata dari tadi ia memperhatikan aku


"Tidak ada. Hanya saja aku merasa bersemangat untuk acara masak nanti. Makanya kau jangan lupa untuk pulang cepat nanti" ucapku lagi dengan memainkan satu mata.


Hahahaha dia salah tingkah guys, sepertinya ini akan menjadi hobby baruku juga. Menggoda tuan Agarish si kelainan sex. Kita lihat seberapa lama dia akan bertahan dengan dunianya yang sekarang.


"Sepertinya aku akan pulang lama malam ini. Ada urusan penting"


"Aaaa..., aku tau. Kau akan keluar bersama sekretarismu itu kan?" dia menatapku tajam. "Yah silahkan saja tidak apa-apa tuan suami. Berbuatlah sesukamu, jangan salahkan nanti kalau aku ada niatan mencari pria yang lebih gagah darimu"


Hahaha lagi-lagi aku memainkan mata. Astaga Tania!. Nakal sekali memang otakmu ini.


"Coba aja kalau kamu berani" ucapnya datar. Mendadak suasana dimeja makan menjadi hening dan mencekam. Tapi jangan lupakan aku adalah Tania bukan Yasmin.


"Aku juga pengen kali merasakan berkeringat bersama dengan suasana yang ahhhh"


Hahahahah terkutuk lah kau Tania, bisa-bisanya aku mendesah dimeja makan pagi ini.


Brakkk.


Tiba-tiba Agarish menggebrak meja. Para pelayan mendadak gugup, mereka tak berani menatap tuannya.


Aku?, biasa aja tuh, malahan aku menyesap teh hangat yang ada ditanganku.


"Ahhhh nikmatnya" memang kalau minum hangat tanpa ada ahhh nya itu belum afdhol.

__ADS_1


Agarish mendorong kursinya kebelakang dengan kuat lalu beranjak dari meja makan. Aku menatap dia dengan alis terangkat.


Setelah badannya menghilang diambang pintu aku tertawa hingga memukul-mukul meja makan.


🐣🐣


"Nonya, ini kenapa dagingnya dihaluskan begini?" tanya kepala koki.


"Yah kalau gak halus gak bisalah buat makanan yang hendak aku masak"


Kesalku untuk kesekian kalinya. Sedari tadi ni kepala koki bacotnya minta ampun. Semua diprotes, kan yang mau bereksperiman aku bukan dia.


Mau tak mau orang itu mengerjakan apa yang kusuruh. Gimana gak diam coba, orang mulutku tak berhenti nyerocos pada mereka.


"Sekarang buat bulatan pada daging ini" perintahku untuk kesekian kalinya.


"Kenapa harus bulat nonya, saya pikir mau dibuat bubur"


"Bubur kepala kau!. Aku itu mau buat bakso bukan bubur. Lagian apa rasanya bubur daging heh?"


Kepala pelayan itu menggaruk kepala lalu mengikuti perintahku.


"Cuci tanganmu itu baru memegang daging, aku gak mau yah ada seekor kutu didalam makanan yang aku buat" aku menggeser baskom berisi daging darinya.


"Hehehhe maaf nyonya"


"Sudah sana cepat, udah mau sore ini. Nanti keburu tuan pulang" untuk kesekian kalinya dia mengangguk.


Ketika aku memasak air untuk kuah bakso, kepala koki lagi-lagi membuka mulut hendak bertanya kenapa aku memasukkan beberapa tulang sapi kedalamnya.


"Kau nanyak sekali lagi, kupecahkan ulu hati kau nanti" amcamku padanya.


Para pelayan lainnya terkikik geli melihat wajah pias kepala koki yang hari ini habis aku maki-maki.


Ketika hari sudah mulai gelap barulah bakso ala chef Tania terhidang diatas meja makan. Beuhh wanginya luar biasa. Bahkan kepala koki sesekali meneguk air ludah melihat bakso yang ada didalam dandang.


Namun sayang hingga jam menunjukkan pukul delapan, si Agarish sialan itu belum muncul juga. Benar-benar memang manusia satu itu. Jangan-jangan dia lagi bercinta dengan sekretaris sialannya itu.


Memikirkannya saja udah membuat kepalaku mendidih. Aku sudah capek-capek seharian ini memasak untuknya, belum sempat mandi hingga sekarang, tapi batang hidungnya belum muncul.


"Oke!" aku menggebrak meja, membuat para pelayan tersentak kaget.


"Panaskan kembali kuah ini" perintahku kepada kepala koki. Dia mengangguk lalu membawa nampan kuah bakso kembali ledalam dapur untuk dipanaskan.


"Dan kalian!" aku menunjuk beberapa pelayan yang setia berdiri diarea meja, "bawa makanan ini kehalaman depan, dan kembangkan tikar disana biar kita makan bersama disana"


Para pelayan terdiam. "Kenapa diam?, cepat laksanakan sebelum aku menghukum kalian!"


Para pelayan mengambil bagian masing-masing. Hingga sepuluh menit kemudian semua sudah tertata rapi dihalaman.


"Ayo ayo semuanya kumpul disini!. Kita makan bareng. Ayo" aku memanggil seluruh pekerja dirumah ini untuk makan bersama dihalaman depan.


Awalnya mereka enggan, namun ketika aku ancam akan menghukum akhirnya dengan ragu-ragu mereka mendekat.


"Ayo berikan mangkok kalian satu-satu biar aku ambilkan bagian kalian"


"Biar saya aja nyonya" panik kepala pelayan.


"Sudah biar aku yang melayani kalian malam ini. Ayo kemarikan mangkok kalian" mereka bergiliran memberikan mangkok padaku.


"Nah makanlah!, tapi sebelum itu kalian harus memberitahu aku bagaimana pendapat kalian tentang makanan ini" mereka semua mengangguk.


Aku memperhatikan mereka kala menyuapkan kuah bakso kedalam mulut, aku udah cemas. Namun melihat wajah sumringah mereka membuat rasa was-was ku menguap entah kemana.

__ADS_1


"Enak sekali nyonya" puji kepala koki dengan mata berbinar.


"Benarkah?" tanyaku malu-malu.


"Benar nyonya. Bahkan aku baru pertama kali memakan makanan seperti ini. Rasanya sangat lezat" kemudian yang lain juga mengangguk setuju.


"Syukurlah kalau kalian suka" ucapku tersenyum pada mereka yang begitu antusias memakan bakso yang aku buat.


"Kalau aku buka cafe dengan menu ini apakah menurut kalian akan laku?" tanyaku ragu.


"Bahkan sangat laris nyonya, ini benar-benar enak" puji kepala koki kembali.


"Aiihh kalian bisa aja. Ayo siapa yang mau nambah bilang saja, masih banyak ini yang tersisa"


Aku memang sengaja memasak banyak. Bukankah aku sudah mengatakan akan menyuruh seluruh manusia di rumah ini mencicipi masakanku.


"Tuan pasti sangat menyesal tidak iku makan ini nyonya" bisik kepala pelayan padaku. Aku hanya yersenyum menanggapi.


Tiba-tiba suasana makan yang damai terganggu oleh suara klakson mobil dari luar. Kedua penjaga yang biasanya jaga dipintu pagar terlonjat kaget.


"Sudah, biar saya aja yang buka. Kalia lanjut makan saja. Tidak ada bantahan!" ucapku membuat mereka kicep.


Aku berjalan menuju gerbang lalu membukanya. Bisa aku lihat sopir Agarish terlonjak kaget melihat aku yang membuka pagar.


"Nyonya" dia langsung terburu keluar dari kemudi, menghentikanku membuka pagar.


"Biar saya aja nyonya" ucapnya panik.


"Tidak apa-apa, masukkan saja mobil itu. Kau tidak lihat tuanmu sebentar lagi akan berubah menjadi monster didalam sana" si sopir menoleh lalu buru-buru masuk kembali kedalam kemudi.


Aku menutup gerbang kembali lalu bergabung kearea makan. Wajah mereka menegang semua kala mendapat tatapan tajam dari Agarish.


"Aku yang menyuruh mereka makan, jadi jangan coba-coba untuk marah. Kalau berani, kupotong burungmu itu!" bisikku ditelinganya.


Seketika badan Agarish menegang. Aku terseyum didalam hati. Mampus dah lo kalau ntu burung gue potong.


"Aku menyuruh mereka makan lantaran kamu tidak pulang-pulang. Daripada makanan yang sudah aku buat terbuang sia-sia lebih baik mereka ikut makan"


Agarish menatapku lalu kearah bakso yang tergelatak diatas tikar. Kuahnya masih mengepul lantaran baru dipanaskan.


"Ayo kamu juga duduk, coba cicipi makanan yang aku buat"


Tanpa menunggu jawabannya, aku menarik lengan Agarish untuk duduk lesehan ditikar.


"Nah cobalah" aku memberikan semangkok bakso padanya.


Dia mencicipi kuahya terlebih dahulu lalu memakan bakso berukuran kecil.


"Gimana?" tanyaku antusias.


"Lumayan" jawabnya.


"Lumayan katanya tapi tetap menikmati bakso yang aku buat" aku mencebik kearahnya.


Dan tanpa disangka pemirsa, dia terkekeh lalu mengusap kepalaku sebentar. Aku membeku, njirrr senyumnya itu loh.


Cukup sampai disini,


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote atau kemen ya


Terima kasih


NurDyh :)

__ADS_1


__ADS_2