
Happy reading
Sudah seminggu aku berada dirumah Allen. Orang tua Allen begitu hangat dan menerima aku dengan baik. Mereka juga tidak berkomentar apa-apa tentang masalahku.
Namun yang paling heboh sekarang adalah Agarish. Dia setiap hari datang ke Cafe seperti orang gila, badan tidak terurus dan suka marah-marah karena tidak ada yang mau buka mulut soal keberadaanku.
Bahkan Allen berkali-kali mengusir Agarish dari Cafe namun tak ia pedulikan. Aku juga bingung kenapa ia seheboh itu. Apa dia merasa bersalah padaku atau gimana.
Aku juga memang sejak hari itu memilih tidak masuk kerja, aku belum siap ketemu Agarish. Katakanlah aku egois, tapi hatiku masih sering sakit kala mengingat kejadian malam itu. Apalagi ketika mulutnya memdesisikan nama Bram disela-sela ia menyetubuhiku.
Sialan!. Aku menyeka air mataku dengan kasar. Hingga saat ini masih saja sesak ketika mengingat semua kejadian itu.
"Lo mau liburan gak Tan?" Tanya Allen padaku. Sedari tadi dia tau kalau aku menangis tapi memilih diam.
"Liburan kemana?" Tanyaku tertarik.
"Ke kampung emak gue" aku mengernyitkan dahi. "Enak tau Tan disana, udaranya masih seger terus pemandangannya juga oke. Gue jamin dah lo bakalan betah kalau udah nyampe" seru Allen heboh.
"Kayaknya menarik All"
"Mangkanya itu gue kasih tau sama elu" Allen mendudukkan pantatnya. "Gini yah Tan, lo itu butu tempat yang nyaman buat refresing. Biar gak nangis mulu, enek gue tau liat muka sepet lo seminggu ini" aku terkekeh melihat Allen yang cemberut.
"Tapi cafe gimana All?"
"Itu mah gak usah lo pikirin biar gue aja yang ngurus. Lo nenangin diri dulu. Kalau suasana hati lo udah bagus baru deh lo boleh ngurus cafe. Tenang Tan, uang terus mengalir didalam tabungan lo" kali ini aku langsung nagakak mendengar celoteh Allen.
Aku juga memang meninggalkan semua kemewahan yang diberikan Agarish. Aku sudah memutuskan tidak mau terlibat lagi dengannya.
Sudah cukup. Aku udah pernah bilang bukan kalau aku akan berhenti kalau aku sudah tidak sanggup lagi? Bahkan aku juga mengatakan itu pada Agarish.
Jadi aku akhirnya memutuskan menjauh dari ibukota dan menyetujui ide Allen. Nenek Allen juga antusias kala mendapat kabar bahwa akan ada yang berkunjung ke kediamannya.
Namun ternyata dibalik Allen menyuruhku liburan adalah karena Agarish makin gencar mencariku. Bahkan ia sudah tau alamat rumah Allen, aku tau itu dari mamahnya Allen. Dia bercerita bahwa Allen sangat peduli padaku, aku juga tau itu. Sejak diduniaku dahulu ia juga selalu pasang badan kalau ada netizen yang membullyku.
Aku berangkat dengan diantar oleh supir pribadi keluarga Allen. Butuh lima jam lamanya hingga kami sampai disebuah pedesaan yang menurut aku sangat luar biasa.
__ADS_1
Pemandangannya masih sangat hijau, rumah penduduk masih terbuat dari papan dan semuanya masih rumah panggung.
Aku berdecak kala turun dari mobil, begitu indah ciptaan Tuhan yang aku lihat sekarang.
Disini, di desa ini udaranya begitu sejuk. Perkampungan ini dikelilingi oleh bukit yang menjulang tinggi, dan dibawah kaki bukit itu mengalir sungai yang luar biasa jernih.
Sungai itu berada tepat dibelakang rumah penduduk, saking asrinya disini, aku masih bisa mendengar gemericik air sungai dari belakang rumah.
"Selamat datang nak Yasmin" seorang wanita yang sudah berumur menyambutku dengan hangat. Dia Emily neneknya Allen. Rambutnya sudah memutih tapi badannya masih kelihatan bugar. Betul-betul menakjubkan.
"Terima kasih sudah mau menampung saya nyonya Emily" aku memeluknya sebentar lalu kami duduk disebuah bale didepan rumah. "Ah segar sekali" ucapku kala menghirup oksigen disini.
"Tentu saja segar, disini belum tercampur oleh polusi seperti dikota" aku mengangguk mengiyakan.
🐣🐣
Setelah beristirahat aku menyusul nyonya Emily yang sedang mandi di sungai. Hari memang sudah sore, waktunya para warga desa ini berkumpul disungai. Ada yang mencuci pakaian, piring, mengambil air dan juga untuk mandi tentunya.
"Nyonya Emily.." sapaku kala sudah berada dipinggiran sungai.
Nyonya Emily memberiku kain untuk menutupi badanku. Airnya luar biasa dingin, aku bahkan memutuskan untuk mengguyur kepala saking segarnya.
"Jangan membasahi rambut kalau udah sore Yasmin, nanti kau masuk angin" omel Emily. Aku hanya terkekeh. Gimana mau masuk angin, berendam malam hari saja aku tidak pernah masuk angin.
"Jangan khawatir nyonya Emily badanku sangat kuat tau" cengirku. Para ibu-ibu disana ikut tertawa melihat wajah masam Emily.
Malamnya kami masak makan malam, aku bahkan takjub dengan Emily yang sangat telaten menggunakan tungku.
"Wiihh nyonya Emily keren, aku aja gak bisa loh dari tadi ngidupin apinya" kagumku padanya. Pasalnya sedari tadi aku mencoba menghidupkan api bahkan sudah berapa banyak daun kelapa yang aku habiskan untuk menghidupkan api tapi tetap saja gagal.
"Itulah hebatnya orang kampung nak, tidak seperti kalian anak kota yang semua serba instan" aku menganggukkan kepala.
Dua jam berkutat didapur akhirnya kami bisa makan malam.
"Ya Tuhan enak bangat" ucapku bersemangat kala menyuapkan nasi kedalam mulut. Padahal kami hanya makan dengan sayur bayam rebus dengan lauk ikan sambal.
__ADS_1
"Tentu saja enak, semua yang kita makan ini dihasilkan langsung oleh alam dan baru diambil sore tadi"
Itu betul, bayam kami petik dari kebun nyonya Emily yang terbentang disamping rumah. Sedang ikan dibeli dari hasil pancing para anak muda tadi sore.
"Aku bahkan baru kali ini makan dengan sangat enak" aku benar-benar menikmati makan malam kali ini. Nona Emily terkekeh melihat reaksiku yang berlebihan.
Biarlah kalian bilang aku norak, tapi itulah kenyataannya. Makan makanan yang dimasak dengan kayu bakar itu rasanya benar-benar nikmat, kalian harus mencobanya nanti.
Selesai makan kami berdua duduk diruang tengah sambil menonyon tv. Heyyyy kalian berpikir kalau disini tidak ada listrik bukan? Kalian salah guys. Di dunia ini sepedalaman apapun sebuah perkampungan maka pemerintah akan mengalirkan listrik kesana.
Jalan keperkampungan pun semuanya mulus tanpa ada lobang, jadi seluruh warga disini bisa menikmati penerangan dimalam hari.
"Apa nyonya Emily tidak kesepian tinggal disini sendirian?" Tanyaku disela-sela kami menonton.
"Tidak sama sekali. Aku dilahirkan disini dan aku berharap mati disini juga. Banyak kenangan dirumah dan diperkampungan ini nak" nona Emily tersenyum lembut.
"Yang dikatakan nona Emily benar, kita tidak bisa melupakan begitu saja kejadian dimasa lalu" aku mendesah pelan.
"Kita memang tidak bisa memaksakan untuk melupakan masa lalu tapi kita punya pilihan untuk mengikhlaskan" nona Emily mengusap punggungku. "Jika memang masa lalu itu sangat menyakitkan dan tidak bisa dilipakan maka cobalah untuk mengikhlaskan. Memang itu cukupa susah namun sangat ampuh nak. Ikhlaskanlah biar hatimu lega"
Aku berhambur kedalam pelukan Emily, menangis tergugu mengingat kejadian yang baru saja menimpaku.
Apa sebaiknya aku mengikhlaskan saja seperti saran nona Emily? Kurasa ada baiknya juga.
Baiklah Tania. Mulai malam ini cobalah untuk mengikhlaskan semuanya.
Ahh terima kasih untuk kalian yang masih setia menunggu cerita ini,
Aku tau pembacanya tidak banyak, tapi walaupun begitu aku selalu semangat tiap kali ada yang baca walau hitungan jari.
Apalagi ada beberapa orang yang memberikan vote, bah itu malah buat aku makin semangat 😊
Thank you banyak-banyak😙
Nur Dyh
__ADS_1