SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Lima


__ADS_3

Setelah kejadian dramatis tadi malam, aku enggan turun untuk sarapan pagi ini. Bukan, aku gak malu sama sekali lantaran digendong tanpa baju sama Agarish, wong dia penyuka sesama jenis ko.


Aku hanya malas mau ketemu sama dia, eneg aku liatnya. Jadi aku memutuskan bergelung didalam selimut kembali.


Jujur saja badanku kurang enak pagi ini, mungkin karena berendam air sama tidak pake baju selama tidur kali yah.


Baru saja aku hendak memejamkan mata, hp ku berbunyi dan ternyata dari Allen.


Dia menyuruhku ketemuan untuk menemui lokasi cafe yang akan kami buat.


Katanya ada sebuah kos-kosan yang udah kosong dan mau dijual sama pemiliknya di daerah kampus Allen. Sepertinya itu ide yang bagus. Membuka cafe di daerah universitas itu cukup menggiurkan.


Aku beranjak dari tempat tidur untuk mandi dan bersiap-siap. Kalian mau tau pagi ini mau nyanyi apa?, oke dengar ekhem


Sudah tahu luka


Di dalam dadaku


Sengaja kau siram


Dengan air garam


Kejamnya sikapmu


Membakar hatiku


Sehingga cintaku


Berubah haluan


Percuma saja berlayar


Kalau kau takut gelombang


Percuma saja bercinta


Kalu kau takut sengsara


Jatuh bangun aku mengejarmu


Namun dirimu tak mau mengerti


Ku bawakan segenggam cinta


Namun kau meminta diriku


Membawakan bulan ke pangkuanmu


Oke cukup. Sekarang waktunya keluar. Hari ini aku memakai outfit yang lumayan santai. Hanya rok jeans ketat hingga lutut juga kaos putih press body dan tak lupa sneakers warna putih kesukaan hehehe.


Tapi tunggu deh, ko si Agarish masih ada rumuah sih, kan ini udah jam sepuluh?. Ah bodo amatlah.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" tanya dia ketika aku turun dari tangga.


Aku udah janji pada diri sendiri bakalan cuek sama dia, dan jadilah aku tidak menanggapi pertanyaannya.


"Kalau saya tanya itu dijawab!" Ucapnya sedikit berteriak, karena aku udah sampai di pintu rumah.


"Mau keluar" aku langsung berlari kearah mobil.


Aku sama Allen janjian ketemu di tempat yang bakalan dibeli, mumpung aku belum tau jalan, jadilah kemana-mana aku harus diantar oleh sopir.


"Sudah sampai nyonya" aku langsung turun dari dalam mobil.


Selang berapa lama Allen datang dengan mobil. Yah dia itu memang hebat, dia bisa mengetahui seluk beluk kota ini lantaran ingatan tubuh yang ia pakai masih tersimpan di memory otaknya.


"Gimana menurut lo Tan?"


"Bagus bangat sih All. Nanti kamar-kamar ini kita buat jadi privat room aja biar gak usah bongkar-bongkar lagi" Allen setuju.


"Kita tinggal rombak dikit aja, terus ganti cat nya dengan warna baru"


"Gue udah punya ide sendiri buat ngerombak nih kosan Tan. Lo tau sendiri kan pemilik tibuh ini dulu jurusan design gitu"


Aku menyetujui semua usulan Allen. Banyak hal yang kami bicarakan hari ini, hingga malam sudah mulai larut aku baru kembali kerumah.


Begitu aku membuka pintu utama, aku dikejutkan oleh Agarish yang sudah berdiri didekat tangga sambil bersidekap dada.


"Dari mana?" tanya dia dingin.


"Dari luar" ketika aku mau naik, dia menahan tanganku.


Aku yang sedang capek langsung terpancing emosi.


"Sejak kapan kau peduli padaku heh!. Bukannya dari dulu kau tidak pernah mau peduli atas apa pun yang aku kerjakan?. Jadi kenapa sekarang kau malah ngatur-ngatur?"


Awalnya dia sedikit kaget, tapi kemudian wajahnya kembali berubah datar.


"Aku suami mu jadi wajar kalau aku larang ini itu"


Aku menarik napas. Aku sedang lelah hari ini. Aku juga tau kalau aku memang salah. Yasudah lah lebih baik mengalah saja.


"Oke aku minta maaf" putusku lalu menaiki anak tangga.


Badanku rasanya lemas bangat, mungkin karena terlalu dipaksakan hari ini. Tadi pagi juga memang sudah tidak enak badan.


Aku memutuskan tidak mandi, walau badanku udah terasa lengket banget, tapi entahlah malas sekali rasanya mau menyentuh air. Jadinya aku memutuskan untuk tidur saja.


🐣🐣


Betul saja badanku hangat pagi ini, tapi tenang saja aku ini Tania bukan Yasmin yang lemah. Aku sudah terbiasa hidup susah di dunia, apalagi kerjaanku dahulu tidak memandang kondisi. Maka mau sehat atau enggak kalau sedang ada job harus dilaksanakan.


Aku yang biasanya memakai celana pendek kini memilih memakai trening panjang dan atasan sweater panjang juga. Pilihanku sekarang adalah berjemur di taman. Aku butuh matahari untuk menghangatkan badan.

__ADS_1


"Loh nyonya, wajah anda pucat sekali. Apa nyonya sedang sakit?" Kepala pelayan menghampiriku.


"Tidak. Aku baik-baik saja" aku menjauh dari area meja makan.


"Mau kemana, sarapan dulu" perintah Agarish.


"Nanti saja"


Aku melenggang pergi. Aku lagi malas bedebat. Dengan langkah pelan, aku membawa kaki ketaman belakang.


Sinar matahari pagi ini cukup membuat hangat badanku yang sedikit mengigil, alam memang yang terbaik.


"Kalau sakit istirahat saja kenapa musti keluar kamar?" Ah lagi-lagi suara ini.


"Lagi pengen cari matahari tuan" aku tidak membuka mata sama sekali.


"Badanmu hangat, ayo kita ke rumah sakit sekarang" aku membuka mata kala mendengar suara panik dari Agarish.


"Aku baik-baik saja tuan"


"Baik darimana? badan kamu hangat, belum lagi wajahmu juga pucat. Ayok!" dia menarik lenganku.


"Aku tidak apa-apa. Jadi gak usah berlebihan" ucapku dengan memaksakan senyum.


"Sekali aja nurut kenapa Yas!" Suaranya kini meninggi. Aku benci dibentak.


"Tolong jangan berlebihan tuan, aku takut kalau kamu menjadi baik. Aku takut menyalah artikan perhatianmu. Aku manusia normal, jadi aku takut nanti muncul sedikit perasaan berharap padamu. Jadi mari bersikap seperti biasanya saja"


Aku tersenyum lalu bangkit dari kursi. Meninggalkan dia sendirian di bangku taman.


Biarkan dia berpikir tentang perkataanku barusan.


Aku ini manusia normal. Dia itu tampan dan tentu saja aku sebagai wanita ada rasa ketertarikan padanya.


Sebelum aku benar-benar menjauh dari taman, dia mengatakan sesuatu yang cukup menarik ditelingaku.


"Bagaimana kalau aku tetap memberikan perhatian padamu selayaknya seorang laki-laki kepada perempuan, apa kau tidak ada masalah dengan itu?"


Aku berhenti melangkah lalu menatapnya.


"Silahkan saja. Cobalah lawan monster yang ada didalam jiwamu sekarang. Kalau kau berhasil, aku akan menjadi orang pertama yang akan menerima mu tanpa melihat siapa kau di masa lalu"


Dia tersenyum sangat tipis, dan itu sudah cukup membuat jantungku berdetak lebih kencang.


Sialan!


Bisa-bisanya jantungku berdetak tidak karuan hanya karena ia senyumi! Aku rasa aku sekarang sudah mulai gila.


Aku membawa kaki kedalam rumah, tidak ingin berbincang lagi dengan Agarish.


Terima kasih sudah membaca part ini :)

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen


NurDyh


__ADS_2