SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Sembilan Belas


__ADS_3

Pagi hari aku udah siap untuk berangkat kembali ke kota. Beberapa bulan tinggal disini membuat aku sedikit berat untuk melangkah pulang.


"Nanti kamu boleh datang kesini lagi kapan pun kau mau nak" seakan tau apa yang aku pikirkan, nona Emily mengelus sayang rambutku.


"Yasmin bakalan rindu sama nyonya" aku mendekapnya dengan erat. Emily yang merawatku selama disini, dia tidak pernah mengeluh walau aku kadang merepotkan.


"Aku yang bakalan lebih rindu denganmu nanti. Kalau kau lelah kembali lah kesini, pintu terbuka lebar untukmu"


"Pasti nyonya, kau udah seperti seorang ibu untukku" Emily terisak lalu melepas pelukan kami.


Karena tau akan pulang, maka tetangga disini pada ngumpul buat ngantar kepulanganku.


"Kamu mau pulang Yas?" Tanya Harry dengan tatapan sendu.


"Iya nih. Kalau aku pulang gak bakalan ada yang nyusahin kamu lagi hehehe" aku terkekeh melihat wajah lesu Harry.


"Iya kamu emang selalu menyusahkan Yas" ucapnya lemah. Memang diantara anak muda disini Harry yang lebih sering aku minta tolongi.


"Jangan sedih gitu dong.."aku memeluk Harry.


"Gak ada lagi dong yang suka beli ikan yang aku tangkap nanti" aku makin terkekeh mendengar ucapannya. "Padahal kau itu orang kota tapi selalu norak kalau udah dapat ikan segar"


"Kurang ajar kamu Ry" aku mencubit perutnya lalu melepas pelukan kami.


Setelah pamitan akhirnya mobil kami melaju meninggalkan perkampungan. Allen duduk di depan bersama supir, sedangkan Agarish duduk sebelahan denganku dikursi penumpang.


Canggung. Itu yang aku rasakan saat ini. Tapi ada juga dorongan yang buat aku pengen manja sama dia. Apa ini namanya bawaan bayi? Aku tuh dilema tau.


"Ada yang sakit?" Agarish menatapku, mungkin dia sadar akan kegelisahan yang aku rasakan.


"Eh? Gak ada" aku menggeleng tegas. Agarish menghela napas kasar.


"Yasudah kalau ada apa-apa bilang yah" Agarish tersenyum hangat padaku.


Please jangan senyum kayak begitu, nanti yang ada aku gak bisa lama-lama benci sama kamu.


Semakin lama aku makin gelisah. Aku sesekali melirik Agarish yang sedang tertidur disampingku. Kasihan mungkin dia kecapean, wajahnya juga masih kelihatan pucat. Dia itu bodoh mau bela-belain jemput padahal belus sembuh total.


Aku gak tau ini perasaan apa, tapi ko aku pengen bangat tiduran dipangkuan Agarish terus meluk dia. Sumpah ini murni, jujur aku pengen bangat melakukan itu saat ini juga.


Aku makin kasak kusuk, rupanya hal itu disadari Agarish. Dia reflek membuka matanya lalu menatapku.


"Kenapa Yas, ada yang sakit? Dia bertanya dengan nada khawatir. Aku menggeleng, malu mau bilang apa. "Kenapa hmm? Bilang aja kamu perlu apa" Agarish megelus rambut.


"Eh itu..." Aku memainkan jari.


"Apa bilang aja" ucapnya dengan lembut.


"A-aku boleh tidur disitu?" Tunjukku pada pahanya. Dahi Agarish mengernyit lalu ia terkekeh pelan.


"Kamu mau tidur disini?" Tunjuknya pada pahanya, aku mengangguk malu. "Yaudah sini" dia menepuk pahanya.


"Gapapa?" Tanyaku lagi meyakinkan.


"Gapapa, ayo sini" aku dengan gerakan canggung merebahkan kepala dipaha Agarish.


"Mmm..." aku bergumam tidak jelas.

__ADS_1


"Ada lagi?" Tanya dia kemudian. Aku lagi-lagi mengangguk. "Mau apa?"


"Bolehpeluk" ucapku dengan cepat dan langsung menutup mata.


"Hahaha kamu lucu bangat sih" Agarish mencubit pelan hidung mancungku. "Peluk aja sepuas kamu, daan... kalau mau peluk juga gak usah minta ijin" ucapnya kembali terkekeh.


Aku dengan cepat meneggelamkan wajah diperutnya, bukan karena kebelet pengen peluk, tapi karena malu sama Agarish.


Agarish mengusap-usap rambutku dan seketika rasa kantuk menyerangku setelahnya.


🐣🐣


Aku mengerjapkan mata kala mendengar pergerakan.


"Eh udah bangun? Baru aja mau aku gendong kerumah" aku menatap Agarish, masih mencoba mengumpulkan nyawa.


"Kita udah nyampe?" Agarish mengangguk.


"Lo tuh kebo bangat gak sih tidurnya" seru Allen dari depan. Aku mencebik lalu duduk.


"Gak usah sewot deh lo! Namanya juga ngantuk" kesalku. Agarish dan supir melongo akan bahasa yang kami gunakan.


"Ka-kalian ngomong apa?" Bingung Agarish.


"Gak ngomong apa-apa. Ayo turun aku capek" awalnya Agarish masih diam, namun ketika aku turun lebih dulu ia juga buru-buru ikut turun.


"Gak mampir dulu All?" Tanyaku pada Allen yang masih setia duduk didalam mobil.


"Gak lah Yas, aku langsung pulang aja. Capek, mau istirahat" aku mengangguk. "Kalau ada apa-apa hubungi aku yah"


"Pasti. Hati-hati berangkatnya" Allen mengangguk. Setelah itu mobil menjauh dari area rumah.


"Gak usah gandeng, aku masih jalan" Agarish menghembuskan napas kasar. Lalu dia berjalan bersisian denganku sambil menenteng tas milikku.


Ketika memasuki gerbang, mataku tertuju pada nobil berwarna putih yang terparkir dihalam.


"Ada tamu dirumah Ga?" Agarish diam sebentar lalu menghela napas kembali.


"Ada mamah didalam"


Deg


Aku menelan ludah kasar. Pasalnya selama aku disini belum pernah sama sekali bertemu sama orang tua Agarish. Mungkin karena gugup aku memegang baju Agarish lalu mencengkramnya kuat.


"Gapapa Yas. Mereka kan sayang sama kamu, jadi kenapa kamu segugup ini?"


Sayang ndasmu!


Aku kan belum pernah ketemu sama mereka.


Iya sih Yasmin dulu juga udah cerita banyak soal orang tua Agarish,tapi kan sama aja aku masih takut. Apalagi selama tiga bulan lebih aku kabur dari rumah.


"Aku takut mereka marah gara-gara aku kabur" cicitku. Bahkan sekarang tanganku udah mulai berkeringat saking gugupnya.


"Hey dengar" Agarish mengapit wajahku dengan kedua tangannya. "Mamah itu gak bakalan pernah marah sama kamu Yas. Sedari dulu dia tuh sayang bangat sama kamu. Jadi jangan takut yah" Agarish tersenyum hangat padaku membuat aku sedikit membaik.


"Baiklah" akhirnya aku pasrah. Kami lanjut memasuki pekarangan rumah yang luas, hingga tiba didepan pintu seorang wanita paruh baya menyambut kami dengan heboh.

__ADS_1


"Ya Tuhan Yasmin.., kamu kemana aja nak? Mama khawatir bangat sama kamu" wanita itu langsung memelukku dengan erat bahkan bisa aku yebak saat ini ia sedang menangis dikatenakan bahunya yang begetar.


"Maaf mah. Yasmin udah buat mama khawatir" aku mengelus punggungnya.


"Tidak nak, ini salah anak kurang ajar itu!" Dia menatap Agarish tajam, sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah datar.


Dasar gak sopan


Setelah acara peluk-pelukan kami memasuki ruang tamu. Mamahnya Agariash banyak mengomel pada Agarish tapi yang diomeli hanya biasa saja.


Aku tau hubungan Agarish dan orang tuanya tidak baik, itu semua aku tau dari Yasmin. Tapi satu hal yang aku dan Yasmin tidak tau, penyebab Agarish membenci orang tuanya.


"Kalian mengobrol saja, aku mau istirahat dulu. Capek" Agarish bangkit dari duduknya lalu naik kelantai dua.


"Anak ini!"


"Udah mah gapapa, Agarish lagi capek. Lagian kan dia belum sembuh total" aku mengelus lengan mamah agar ia tenang kembali.


"Kamu memang baik nak, tidak pernah berubah dari dulu" dia tersenyum hangat lalu merapikan rambutku.


"Terima kasih mah. Oh yah mamah sendiri kesini?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Ah ayahmu itu selalu sibuk. Dihari tuanya sekarang ia tetap mengurus perusahaan karena anak tunggalnya tidak mau membantu" jelasnya dengan lesu.


Iya sih Agarish memang memiliki perusahaan sendiri dan menolak mentah-mentah perusahaan milik ayahnya. Aku juga tidak tau alasannya. Entahlah keluarga ini sangat memusingkan.


Lama mengobrol akhirnya mamah memutuskan pulang karena papah menghubunginya dan menyuruh pulang.


"Mamah pulang dulu yah. Kalau ada apa-apa kasih tau mamah dan jangan main kabur" aku mengaaggukkan kepala.


Setelah mamah pergi aku akhirnya bernapas lega. Sebenrnya badanku capek dan pegal dari perjalanan tadi, tapi tidak tega memberitahu mamah yang sangat antusias ketika mengobrol denganku.


Aku masuk kedalam ruang santai lalu tiduran diatas karpet berbulu. Baru juga mau terpejam udah ada yang mengganggu.


"Kekamar Yas jangan tidur disini" Agarish menepuk lenganku.


"Malas naik tangga Ga. Capek" rengengekku.


"Yasudah aku gendong" tanpa menunggu jawabanku Agarish langsung mengangkat badanku hingga ke kamar.


"Emang aku gak berat Ga?" Tanyaku ketika kami udah sampai dikamar. Ingat yah dikamarnya Agarish.


"Gak tuh biasa aja"


"Padahal aku udah gendutan loh gara-gara baby" aku mengelus perutku lalu tersenyum.


"Gak ko, bagi aku masih sama kayak biasanya" aku hanya ber oh ria.


"Ngobrolin apa sama mamah? " dia ikut naik keatas tempat tidur.


"Gak ada. Cuman ngobrol biasa aja" aku menarik tangan Agrish lalu menaruhnya diatas perutku.


"Elus-elus, aku mau tidur" awalnya Agarish diam, namun kemudian menurut setelah aku pelototin.


MAKASIH UNTUK KALIAN YANG UDAH BACA PART INI


Dukung terus yah biar aku bisa up tiap hari :)

__ADS_1


Nur Dyh


__ADS_2