SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Tiga puluh


__ADS_3

SPESIAL POV AGARISH


Aku benar-benar akan gila saat ini. Ini semua terlalu cepat. Aku bahkan masih syok dengan kejadian yang baru saja menimpa Yasmin, istri aku.


Akan aku habisi siapa yang sudah berani mencelakai Yasmin. Lihat saja akan aku buat menderita dia seumur hidupnya.


Ini sudah sejak satu jam lalu aku modar-mandir didepan ruangan bersalin. Para dokter sialan itu tetap saja belum keluar dari sana.


Bagaimana keadaan istri dan anakku? Apa mereka baik-baik saja?. Akkhhh bisa gila aku sekarang.


Drapp drap drap


Suara langkah kaki dilorong rumah sakit membuatku menoleh, dan di sana sudah Allen yang berlari menuju arahku.


"Dimana Yasmin!?" Bentaknya kala sudah berada dekat denganku.


"Ada didalam" jawabku singkat.


"Kamu apakan dia hah! Kamu apakan dia kurang ajar!" Allen menarik kerah kaos yang aku kenakan. Wajahnya sekarang kacau, air matanya membanjiri pipi.


"Maaf Len aku gak bisa jaga Yasmin" ucapku mengalah.


"Emang sedari dulu kamu tidak pernah becus jaga Yasmin! . Menyesal aku dulu mengasih tau dimana Yasmin padamu. Kalau dia tetap di sana gak bakalan ada kejadian kayak begini. Kurang ajar kamu Agarish kurang ajar" aku hanya diam kala Allen mengeluarkan emosinya padaku.


Emang benar ini semua kesalahanku. Aku tidak becus menjaga Yasmin, sedari dulu yang aku lakukan hanya terus-terusan menyakiti dia.


"Sudahlah" Allen menjauh dariku lalu memilih duduk di kursi tunggu.


"Siapa yang mendorong dia tadi?" Tanya Allen setelah kami lama saling diam.


"Aku belum tau Len. Tapi tenang saja, orang ku sudah menyelidiki soal kecelakaan ini" Allen hanya mengangguk. Aku tidak mengira kalau dia akan sekalem ini, walau tadi sempat mengamuk.


Aku bukannya tidak tau bagaiman hubungan Allen dengan Yasmin. Bahkan aku rasa Allen lebih memahami Yasmin dari pada aku.


Tak berapa lama ruang operasi terbuka, menampakkan dokter yang baru saja keluar.


"Bagaimana istri dan anak saya dok?" Tanyaku dengan cepat.


"Anak bapak lahir dengan selamat dan jenis kelaminnya laki-laki" aku mengangguk, aku udah tau itu. " Lalu istri anda belum sadar, masih dalam kritis"

__ADS_1


Lutut ku rasanya menjadi tak bertulang. Aku luruh ke lantai rumah sakit yang dingin. Allen langsung membantuku berdiri.


"Jangan begini Agarish, ingat kamu sekarang sudah menjadi seorang ayah. Ayo kita lihat anak kalian"


Aku menganggukkan kepala lalu berjalan pelan keruangan rawat Yasmin.


Aku membeku menatap bayi mungil yang sedang digendong oleh suster. Tidak bisa dipungkiri wajahnya sangat mirip denganku. Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara tangis.


"Mau digendong bapak?" Tanya suster. Aku hanya menggeleng. Aku tidak berani menyentuh nya.


Pandanganku kini beralih pada Yasmin yang sedang terbaring lemah diatas ranjang. Aku mendekat padanya dan membiarkan anakku yang mulai merengek digendongan suster.


"Bawa aja ke ruangannya suster, teman saya masih syok dengan keadaan yang sekarang" perintah Allen pada suster yang menggendong anak kami.


"Yasmin bangun" aku menciumi tangannya yang hangat. Wajahnya pucat sekali. Dia pasti kesakitan tadi hingga tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali saat perjalanan menuju kemari.


"Kenapa lagi-lagi kamu yang harus sakit Yas. Aku yang seharusnya terluka bukan kamu. Sudah cukup dari dulu kamu terluka terus. Maafkan aku" aku tergugu di samping ranjangnya.


"Yasmin itu kuat Aga, jadi berdoa saja semoga Tuhan menolong nyawanya" ucap Allen dengan suara bergetar.


Aku tau dia juga sama khawatirnya denganku, tapi dia pura-pura kuat.


Aku serasa ditampar mendengar nasihat dari Allen. Harusnya aku tidak begini. Benar kata Allen, aku akan menjadi kuat demi anakku dan juga Yasmin. Aku bangkit lalu berjalan keruangan khusus bayi.


Setelah meminta ijin pada suster, akhirnya aku dibawa pada kotak bayi yang berisikan bayi mungil yang masih merah.


Tanganku sedikit bergetar ketika suster memberikannya padaku.


"Hati-hati pegangnya yah pak" peringat suster. Aku hanya menganggukkan kepala.


"Halo anak ayah" sapaku dengan suara bergetar. Tanganku mengelus pipi mungilnya.


Ahh dia tampan sekali, cocok sekali dengan warna kulitnya yang sedikit lebih gelap dariku. Ternyata dia mengambil sebagian warna kulit ibunya, tapi wajahnya tidak bisa dipungkiri hampir persis sepertiku.


"Sehat-sehat yah nak. Kita berdoa bareng-bareng biar mamah cepat sembuh. Biar nanti kamu juga bisa digendong sama mamah, okey?" Seakan mengerti apa yang aku ucapkan, bibirnya sedikit terbuka lalu tersenyum.


🐣🐣


Ahh tidak terasa ini sudah bulan ke enam sejak Yasmin terbaring di rumah sakit.

__ADS_1


Iya sudah selama itu ia tertidur. Masa kritisnya sudah lewat, tapi ia masih enggan untuk bangun. Kata dokter harusnya Yasmin sudah tidak apa-apa, hanya saja tubuhnya menolak untuk bangun.


Satu lagi fakta yang membuatku hampir saja tidak percaya. Ini soal Yasmin.


Suatu hari Allen datang padaku lalu menceritakan asal-usul mereka. Awalnya aku tidak percaya dengan omong kosongnya, namun melihat setiap bukti yang Allen berikan membuatku akhirnya memilih percaya padanya.


Katanya Yasmin dan dirinya itu berasal dari dunia lain, jadi jiwa mereka sudah berganti dengan jiwa tubuh yang mereka pakai saat ini.


Karena itu juga Allen berkeyakinan kuat kalau sebenarnya Yasmin sekarang sedang kembali ke dunianya dahulu, makanya ia tidak sadar sampai sekarang.


Pantas saja Yasmin yang dulu lemah lembut tiba-tiba berubah menjadi gadis yang urakan. Ternyata dia telah bertukar jiwa karena tidak sanggup menghadapi ku yang dulu.


Sebenarnya aku tidak masalah dengan itu. Justru aku lebih menyukai Yasmin yang urakan daripada yang dulu. Walaupun jelas karena sikapku lah Yasmin memilih bertukar jiwa.


Tapi jujur saja aku sudah jatuh cinta dengan Yasmin yang sekarang. Walaupun aku belum pernah mengatakan yang sebenarnya padanya. Waktu itu aku belum yakin dengan perasaanku, hingga aku dihadapkan dengan keadaan yang sekarang. Karena kejadian ini aku menjadi tau perasaanku sendiri.


Aku sebenarnya ketakutan saat ini. Bagaimana kalau Yasmin menolak untuk kembali lagi kesini? Bagaimana kalau dia emang sudah tidak sanggup juga dengan sikapku dan memilih pergi seperti Yasmin yang dahulu?


Aku benar-benar tidak sanggup Tuhan.


Ah satu lagi, pelaku yang mendorong Yasmin pagi itu adalah Bram. Aku benar-benar murka dengannya. Ketika dalam pengejaran oleh polisi ia lebih memilih menabrakkan badannya ke kereta yg yang sedang melaju daripada minta maaf apalagi dipenjara. Sependek itu jalan pikirannya.


"Jangan melamun terus " tepukan di pundakku membuat aku tersadar dari lamunan.


"Ayah?" Iya dia adalah ayahku. Kami sekarang sudah berbaikan.


Hari itu ketika orang tuaku tahu kalau Yasmin koma, mereka terburu-buru datang ke rumah sakit. Mamah sangat histeris saat itu, dia terpukul sama sepertiku. Disaat itulah ayah datang menguatkan kami berdua.


Dia datang padaku dan meminta maaf akan kesalahannya dimasa lalu. Aku yang memang sudah capek akhirnya memilih memaafkan sama seperti permintaan Yasmin sebelum ia tidak sadarkan diri.


Sedari hamil ia selalu menyuruhku berbaikan dengan ayah, apalagi setelah acara 7 bulanan hari itu. Ia terus-terusan mendesak ku agar berbaikan lagi.


Aku yang sudah lelah dan ingin mengabulkan permintaan Yasmin akhirnya memilih memaafkan ayah.


"Istirahatlah nak, pulang ke rumah. Sedari tadi Theo menangis terus, mungkin dia pengen kau gendong" aku menatap Yasmin sebentar lalu menganggukkan kepala.


"Titip Yasmin yah Yah"


"Bakalan ayah jaga, sudah sana pergi temui anakmu"

__ADS_1


Aku meninggalkan ruang inap milik Yasmin menuju rumah. Theodoric Moracco, nama yang aku berikan untuk anak kami.


__ADS_2