
Happy reading
Pada akhirnya aku dan Agarish sekarang satu kamar walau pakaian aku masih ada didalam kamar lama.
Dibilang udah ada kemajuan, aku juga belum yakin sih. Pasalnya kami udah beberapa bulan tidur bersama tapi tidak pernah melakukan itu layaknya sepasang suami istri.
Entahlah, aku rasa benteng antara aku dan Agariah itu masih terasa walau dia udah berusah membuka diri.
Aku tidak masalah, selagi ia mau berusaha. Aku juga tidak terlalu menuntut karena dari awal yang yang udah berniat membantu dia agar kembali normal.
Tapi beberapa hari belakangan ini dia agak berubah, tidak seperti biasanya. Kini wajahnya sering terlihat kusut dan bahkan ia sering pulang malam.
Biasanya dia yang duluan sampai kerumah sebelum aku, tapi kini bahkan aku udah terlelap baru ia pulang kerumah. Sifat lamanya juga seperti kembali, tidak banyak ngomong dan terkesan cuek.
Aku sudah beberapa kali berpikir keras apa ada yang salah sama hubungan kami beberapa bulan ini, tapi seberapa keras pun aku berusaha tetap tidak bisa aku temukan diamana letak salahnya.
Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus membicarakan ini sama Agarish biar jelas. Untuk itu aku memutuskan untuk menunggu ia pulang walau mataku udah berat ingin istirahat, namun aku tetap memaksakan diri.
Hingga pukul 1 dini hari ia memasuki kamar. Penampilannya sangat kacau, bahkan ada aroma alkohol ketika ia memasuki rumah.
"Baru pulang Ga?" Dia sesikit kaget kala mendapati aku belum tidur.
"Emmm, kamu kenapa belum tidur?" Tanya dia balik.
"Aku nunggu kamu pulang" iawabku tanpa melepaskan pandangan darinya.
Agarish membuang muka lalu membuka jas yang ia kenakan. Setelah itu dia ikut naik keatas ranjang.
"Ga?"
"Emm"
"Aku ada salah apa sama kamu?" Gerakan Agarish yang hendak menyelimuti badan terhenti lalu menegakkan badannya kembali.
"Maksud kamu apa?" tanya dia bingung.
"Aku ada salah apa sama kamu hingga kamu berubah. Kamu sekarang kembali cuek sama aku bahkan kamu sekarang pulangnya pagi, salahku apa Ga?" Tanyaku dengan suara serak.
"Kamu gak ada salah apa-apa" jawabnya lalu kembali membaringkan badan, bahkan kini ia memunggungiku.
"Terus kamu kenapa berubah Ga?"
"Udah malam Yas. Tidur!" Ucapnya dengan tegas tanpa menoleh padaku.
Jujur saja aku merasa sedikit sakit hati disini. Salahku terlalu berharap kalau dia akan berubah, salahku juga berani menaruh hati padanya padahal jelas-jelas ia menyukai orang lain.
__ADS_1
Mau melabrak orang yang ia sukai saja aku tidak mampu karena malu. Malu dianggap tidak bisa menarik perhatian suami. Lalu juga aku takut kalau Agarish dianggap buruk oleh orang lain kalau aku berani buka suara.
Ya Tuhan apa harus sesesak ini yang aku rasakan?
Aku memejamkan mata walau tidak bisa tidur. Bagaimana kau bisa tidur dengan perasaan yang masih saja kacau?.
🐣🐣
Sudah hampir sebulan Agarish bersikap dingin padaku. Lama-lama aku juga tidak tahan dengan sikapnya. Maka aku memutuskan untuk kembali tidur dikamarku dulu.
Untuk apa aku satu kamar dengan orang yang sudah tidak menghargai aku lagi. Sudah cukup aku bertahan sebulan ini.
Baru juga aku hendak memejamkan mata, pintu kamarku digedor gedor dari luar.
Brak brak brak
Aku mengumpat didalam hati kepada orang yang menggedor pintuku sperti hendak merobohkan.
"Yasmin buka pintunya!" Aku menghela napas kasar kala menyadari siapa dalang kericuhan malam ini.
Dengan langkah gontai aku beranjak dari tempat tidur lalu membukakan pintu.
Ceklek
"Kamu mabuk lagi Ga?" Aku menuntunnya agar naik keatas tempat tidur. Sejudes apapun dia sekarang aku tetap mencoba baik.
"Kenapa emang heh! Gak suka kamu?" Bentaknya padaku. Aku tidak menjawab, aku membuka jas yang ia kenakan.
"Kalau kamu terus-terusan mabuk kayak begini nanti berefek pada kesehatan kamu Ga" aku tetap mencoba sabar.
"Bukan urusanmu!" Ketusnya. "Lagia kenapa kamu pindah kekamar ini heh!" Dia mencengkram erat lenganku.
"Untuk apa aku tidur disana kalau kamu saja tidak pernah menganggap aku ada" jawabku dengan suara serak. Jujur saja saat ini aku mau menangis lanataran cengkraman tangan Agarish. Bisa aku tebak kalau lenganku sekarang udah memerah atau lebam karena cengkramannya.
"Kamu itu istri aku Yas jadi gak boleh seenaknya bersikap. Jadi apapun kamu harus melapor padaku!"
Cukup. Aku sudah tidak tahan diam seperti ini terus. Aku menatap tajam Agarish, mengabaikan rasa sakit dilenganku.
"MASIH PANTAS KAMU DIANGGAP SUAMI HAH!. APA PERNAH KAMU MENGANGGAP AKU HINGGA KAMU MENYURUH AKU BUAT MENGANGGAP KAMU, KATAKAN AGARISH!"
"Berani kamu membentak aku sekarang yah" ucapnya dingin.
Dia membantingku diatas tempat tidur lalu melalukan pelecehan. Dia mencium bibirku dengan kasar, berkali-kali aku berontak namun tetap tidak bisa karena Agarish lebih kuat.
Aku pasrah akan apa yang ia perbuat padaku, aku menangis sepanjang ia menyetubuhiku. Aku terluka sangat terluka, ia menyetubuhiku tapi nama yang ia sebutkan adalah nama Bram.
__ADS_1
Berkali-kali ia mengucapkan maaf kepada Bram, berkali-kali juga hatiku rasanya dicabik-cabik. Sakit sekali.
Bukan ini yang aku harapkan, aku memang mengharapkan Agarish agar menjadi normal tapi tidak dengan begini.
Aku tidak tau dia sadar atau tidak akan kelakuannya malam ini. Tapi yang jelas ia menyakiti jiwa dan juga ragaku secara bersamaan.
Ketika Agarish sudah terlelap aku beranjak kekamar mandi. Walau rasanya sakit tapi aku tetap memaksa. Aku berendam cukup lama, menangisi kejadian yang baru saja aku alamai.
Setelah mandi dan berganti pakaian aku memutuskan keluar dari rumah dan menuju Cafe. Hanya itu tujuanku sekarang, tidak mungkinkan aku kerumah Allen dipagi buta begini? Jam baru menunjukkan pukul 3 pagi.
Aku tidak ingin bertemu dengan Agarish saat ini, dan aku rasa hingga kapan pun aku tidak mau bertemu dengan dia.
"Tania bangun" aku merasakan kalau badanku disenggol seseorang. Dengan malas aku mengerjapkan mata. "Lo ngapain tidur disini Tan?" Tanya Allen khawatir padaku.
"Allen" aku langsung berhambur kepelukan Allen saat itu juga. Awalnya Allen kaget, namun akhirnya ia menepuk-nepuk punggungku tidak mau bertanya.
"Ada apa?" Hanya itu yang Allen katakan ketika aku sudah kembali menguasai diri.
Mau tak mau aku menceritakan semua tanpa ada yang tertinggal sedikitpun kepad Allen. Bisa aku lihat wajahnya mengeras dan tangannya terkepal namun dia tidak mengeluarkan kata-kata.
Begitulah Allen. Secerewet apapun dia biasanya dia akan menjadi bungkam kalau itu menyangkut aku. Bukan karena tidak peduli, justru karena ia peduli makanya ia lebih memilih bertidak daripada mengoceh.
"Jadi lo sekarang maunya apa?" Tangan Allen mengelus lenganku lembut.
"Aku gak mau ketemu dulu sama dia All" aku kembali terisak.
"Iya gapapa. Lo gak usah ketemu dia dulu, lo tinggal sama gue aja yah" aku mengangguk lemah.
Setelah itu aku dan Allen memutuskan untuk pulang. Kunci mobil aku titipkan pada Arthur, mana tau nanti Agarish atau siapapun datang menanyakan aku maka mereka harus memberikan kunci mobil dan tutup mulut tentang diriku.
Aku sengaja tadi pagi tidak membawa hp dan hanya membawa mobil. Karena tidak mungkin juga kan ada Taxi pagi-pagi buta begitu.
Dan benar saja Agrish datang ke Cafe dan marah-marah karena tidak mendapati aku disana. Anak-anak tetap bungkam walau sudah diancam akan dilaporkan ke polisi lantaran tidak mau buka mulut. Tapi untunglah mereka tetap kekeh pada pendirian mereka dan memilih mengabaikan Agarish yang kesetanan karena tidak mendapatkan apa-apa.
_________
Gimana, gimana?
Udah dapat feelnya belum?
Jangan lupa tinggalkan vote yah :)
Thank you
Nur Dyh
__ADS_1