SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Tiga Belas


__ADS_3

Happy reading


Saat ini aku sedang duduk berdua dengan Arthur di kursi bagian luar cafe.


Malam sudah maulai naik tapi keadaan Cafe masih rame. Syukurlah.


"Gak kedinginan kamu make baju kayak gitu?" Aku melihat penampilanku sebentar. Iya sih aku hanya memakai celana pendek diatas lutut juga atasan tidak berlengan. Entahlah aku nyaman sekali memakai pakaian kurang bahan ini.


"Biasa aja tuh" ucapku lalu Arthur hanya mengangguk. Arthur memang tidak terlalu banyak bicara, dia lebih ke menunjukkan tindakan. Termasuk orang yang Introvert sih.


"Kamu udah ada cewek belum Thur?"


"Belum ada kenapa emang?" Tanya dia menaikkan alis.


"Emm berarti sama dong kayak si Allen" ucapku sambil nyengir.


"Gak usah ada niatan ngejodohin kita yah Yas, aku gak setuju" aku mendesah kecewa.


"Padahal aku pengen jodohin kalian" bahuku merosot, gagal susah rencana jadi mak comblang.


"Kita itu gak cocok Yas, jadi gak usah mengada-ngada" ketusnya lagi.


"Cocok tau Thur!"


"Cocok dari mana? Kita aja kalau ketemu bawaannya pengen berantam terus" ucap dia sambil terkekeh.


"Justru karena itu kalian cocok. Awalnya saling benci terus jatuh cinta deh"


"Udah kayak sinetron aja" ucap Arthur.


Sejenak kami terdiam. "Tapi kalau sama kamu kayaknya aku bakalan mikir deh Yas"


Aku menoleh kearahnya, Arthur tersenyum. "Maksud kamu apaan?" Tanyaku bingung.


"Yah kalau sama kamu aku mungkin bisa terima" jawabnya kembali dengan menaik turunkan alisnya.


"Gila! Kamu suka sama aku Thur?" Tiba-tiba wajah Arthur menjadi pias.


"Sekalian aja pake speaker ngomongnya Yas" ketusnya.


"Hahahaha seorang Arthur suka sama aku? Wahh gila" aku tertawa heboh. Mengabaikan wajah Arthur yang semakin pias lantaran ditatap pengunjung lain.


"Aku kan tadi bilang seandainya Yas, bukan betulan" ucapnya membela diri.


"Aeelahh bilang aja iya kenapa sih Thur" aku menyenggol lengannya sambil teekikik geli.


"Ekhemm" aku mengkatupkan mulut kala mengenali suara deheman tadi. Aku menoleh dan ternyata benar.


"Ha-hay tuan suami?" Sapaku dengan tersenyum canggung. Sumpah, ini kayak kepergok sedang selingkuh.


"Ngapain kalian duduknya dekat-dekatan begitu?" Tanya Agarish tajam memandang posisi duduk kami yang memang duduk samping-sampingan dikursi panjang.


"Enggak kok!" Aku buru-buru menggeser duduk agar lebih menjauh dari Arthur. Si Arthur mah diem bae, dia udah balik ke mode muka datar.


"Tuan suami ngapain kemari, mau makan?" Tanyaku lagi. Tatapan Agarish tetap masih menusuk.


"Gak boleh emang datang ke Cafe istri sendir?"


"Oh boleh dong boleh! Ayo duduk dulu" aku menarik lengannya, namun Agarish menolak untuk duduk.


"Gak mau duduk nih?"


"Aku lapar. Masuk kedalam aja" Agarish menarik lenganku dan membawaku masuk kedalam cafe.

__ADS_1


"Mau makan apa?" Tanyaku kala kami sudah ada diruangan lantai dua.


"Terserah" jawabnya acuh.


"Bah!. Gak ada menu terserah disini" Agarish menatapku tajam.


"Yaudah bawa aja apa yang menurut kamu enak" ucapnya kesal.


"Menurut aku semuanya enak" jawabku mulai ikut kepancing emosi.


"Yasmin!" Bentaknya.


"Iya iya iya!" Jawabku tak kalah kuat. Aku keluar dengan bibir komat-kamit. Tak lupa menyumpah serapahi Agarish didalam hati.


Sialan emang manusia satu itu. Datang-datang ko malah marah gak jelas. Kalau cemburu bilang dong biar aku tau.


Aku akhirnya membawakan seporsi bakso untuk dia. Aku sengaja memberikan banyak cabe biar diam tuh mulutnya.


"Nih makan!" Aku meletakkan semangkok bakso dihadapannya.


"Terima kasih" aku hanya mengangguk lalu tersenyum jahat didalam hati.


Makan tuh bakso biar dower lu punya bibir.


Tapi hampir setengah bakso dia makan gak ada reaksi apa-apa. Dia malah sangat menikmati makanannya.


"Gak pedas Ga?" Tanyaku kemudian.


"Gak. Ini pas bangat pedasnya, cocok untuk makanan berkuah begini" aku melongo mendengar perkataannya.


Gagal dah buat ngerjain anak orang.


🐣🐣


"Ko manyun terus sih Yas?" Tanya Agarish kala kami memasuki rumah.


"Gak tau!" Aku menghentakkan kaki kesal.


Sampai diatas aku tambah kesal dibuatnya.


"Ini lagi kenapa AC kamar aku belum diperbaiki sih!"


Brakkk


Aku membanting pintu kamar, padal didepan pintu masih ada Agarish.


"Ya Tuhan Yasmin!. Kau mau membuat suamimu ini mati jantungan heh!" Teriaknya dari luar kamar.


"Bodo amat!" Teriakku lalu masuk kedalam kamar mandi.


Aku butuh berendam air dingin untuk menenangkan saraf-saraf otakku agar tidak mati muda.


Hampir sejam aku berendam membuat Agarish khawatir setengah mati.


"Yasmin!, kalau kamu tetap diam dan gak mau buka pintu, bakal aku buat kamar mandi kamu saat ini tanpa pintu!, ayo cepat buka" sedari tadi Agarish menggedor-gedor pintu.


Aku keluar dari dalam bethub dengan malas.


Ceklek


Aku memutar knop pintu lalu memandag malas kearah Agarish. "apa sih heboh bangat" aku melewatinya yang berdiri didepan pintu.


"Kamu tuh yah, gak ada rasa bersalahnya sama sekali udah buat orang khawatir" Agarish mengacak rambutnya kasar.

__ADS_1


"Gak ada yang nyuruh kamu buat khawatir tuh" ucapku santai lalu memakai baju dihadapannya.


Santai aja dia kan belum normal. Aku terus saja mendengarkan omelannya, hingga aku udah beres pakai baju.


"Udah deh Ga, panas kuping aku dengerin kamu ngoceh terus" Agarish mendekat kemeja rias tempat aku duduk memakai skincare.


Takk


Dia menamapar keningku pelan, mungkin saking kesalnya.


"Pukul aja terus sampe kamu puas" Agarish menghela napas.


"Maaf Yas" dia duduk dipinggiran kasur. "Makanya kamu tuh jangan suka buat orang khawatir"


"Iya iya" jawabku malas.


Sesungguhnya mataku udah mengantuk sedari tadi, bahkan aku tertidur didalam kamar mandi saking nikmatnya berendam. Aneh memang, orang mah ketiduran karena berendam air hangat, lah aku karena air dingin, udah gitu pas malam pulak itu.


"Udah yuk tidur, aku udah ngantuk" aku menarik lengannya agar berdiri. Tapi sebelum itu aku mau ngerjain Agarish sebentar.


"Ga.."


"Iya kenapa?"


"Gendong.." ucapku sambil merentangkan tangan.


Awalnya Agarish terdiam, lalu mendesah pelan. Mau tak mau dia menuruti kemauanku menggendong hingga ke kamarnya yang berada disebelah.


"Kamu tuh yah udah gede masih aja kayak anak-anak. Tadi aja sok kegatelan ngegodain laki-laki lain"


Ternyata omelannya masih terus berlanjut.


"Ish! Aku gak ada ngegodain Arthur yah" ucapku tak terima.


"Gak ada gimana?, buktinya kamu tadi duduknya gempetan terus ketawa-ketawa sama dia" aku mengerucutkan bibir.


"Kamu cemburu yah?" Tanyaku dengan senyum jahil.


"Enggak!" Jawabnya yakin lalu meletakkanku diranjang.


"Bilang aja iya kenapa sih Ga?" Tatapku pada Agarish yang kini tidur memunggungiku.


"Gak usah geer kamu, aku negur tadi karena gak patut aja punya istri yang dekat-dekat sama laki-laki lain"


Aku tertawa didalam hati.


"Halaahhh bilang aja kamu cemburu" aku menoel noel punggungnya.


Namun si agarish tetap tidak terganggu. Hingga aku memutuskan lebih mendekat kearahnya lalu meniup leher Agarish dari belakang.


Sekali tiup dia masih diam, kedua juga, hingga yang ketika dia berbalik lalu langsung mengapitku kedalam pelukannya.


"Kamu jangan nakal Yasmin" ucapnya lalu memelukku dengan erat


"Aga lepas! Aku susah napas tau!" Aku memukul punggungnya dengan tangan kiriku yang masih bebas.


"Ini hukuman karena kamu udah nakal" katanya lalu mengencangkan pelukannya. Sudahlah aku pasrah saja.


Heyy kalian, Thank you udah baca hingga part ini 😙


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote yah


Nur Dyh

__ADS_1


__ADS_2