Selembut Kasih

Selembut Kasih
Bab 32.


__ADS_3

Jeniffer Lin sedang memasak makanan untuk dirinya sendiri di siang hari ini di dapurnya ketika ia mendengar suara bel di gerbang rumahnya dari dapur. Gadis cantik usia dua puluh satu tahun ini bergegas menuju ke ruang depan untuk melihat siapakah orang yang datang bertamu ke rumahnya?


"Papa Suhandi Pratama, mau apa dia datang ke rumahku di siang hari begini? " batin Jeniffer Lin sambil mengintip dari balik gorden ruang tamu.


Suhandi Pratama tampak biasa saja saat pria itu menunggu untuk dibukakan pintu gerbang warna hitam tua oleh putri tirinya itu dan bibirnya telah mengembang seakan-akan ia seorang Papa yang baik untuk putrinya.


"Jen, Papa datang ke rumah mu untuk meminta mu untuk mengunjungi Oma Wina yang sudah lama kamu tidak kunjungi. " kata Suhandi yang telah duduk di ruang tamu setelah Jeniffer Lin membukakan pintu dan mempersilahkan pria itu masuk serta di suguhkan sepiring camilan buah pir dan segelas teh hangat di meja tamu.


"Iya, Pa. Sebenarnya Jen juga sudah kangen nih sama Oma Wina namun Jen harus tanyakan dulu kepada Kak Reynaldi suaminya Jen.Apakah dia mau menemani Jen pergi mengunjungi Oma Wina atau tidak? Karena, Jen tidak bisa pergi sendiri ke rumah Oma untuk saat ini, Pa. " kata Jeniffer sopan.


"Kenapa,Nak? Apakah Reynaldi masih marah dan kecewa dengan sikap Oma Wina yang waktu lalu terlalu menghinanya yang hanyalah seorang putra adopsi dari O'om Dean Ambrose Putra Adiwijaya mu? " tanya Suhandi Pratama dengan senyuman kebapakan kepada Jeniffer Lin yang duduk di sofa panjang di depannya.


"Tidak kenapa- napa, Pa. Oh, Kak Reynaldi tidak pernah menyimpan rasa marah dan kecewa terhadap sikap Oma Wina. Dia bahkan meminta Jen untuk sering menelepon Oma untuk sekadar menyapa saja juga kalau Kak Reynaldi ada waktu dia akan mengantarkan Jennie ke rumah Oma Wina untuk mengunjungi Oma, cuma hari ini atau belakangan ini pekerjaan Kak Reynaldi sedang banyak yang hampir menyita waktunya lebih banyak di kantor daripada di rumah, itu saja kok, Pa. " jawab Jeniffer Lin tetap bersikap sopan kepada Papa tirinya.


"Ouh, begitu rupanya? Hmm, gimana kalau kau pergi mengunjungi Oma Wina hari ini dengan di antar Papa? " tanya Suhandi Pratama dengan sikap manis sambil memerhatikan Jeniffer Lin yang duduk di sofa panjang berhadapan dengan nya.

__ADS_1


"Hmm, boleh sih. Tapi, Jeniffer telepon dulu Kak Reynaldi untuk kabari kalau Jeniffer hari ini pergi mengunjungi Oma bersama Papa Suhandi. " jawab Jeniffer Lin yang merasa tak sopan dan hormat kalau dia tidak menyetujui usul dari Papa Suhandi Pratama untuk mengunjungi Oma Wina nya.


"Iya, bagus itu. Silakan saja.. " kata Suhandi yang mengizinkan Jeniffer Lin menelepon Reynaldi Ricardo Milos melalui HP gadis yang duduk di sofa panjang di depannya itu.


Namun HP Jeniffer Lin tidak bisa menghubungi Reynaldi Ricardo Milos yang rupanya sedang di luar kantor untuk melihat proyek di lapangan sehingga suami dari Jeniffer Lin itu tidak bisa mendengar suara hpnya yang berdering keras di kantornya yang terkunci rapat.


"Pa, aku tak bisa menghubungi Kak Reynaldi nih, aku kirim pesan melalui WA nya saja, ya? " Ucap Jeniffer Lin yang mengutak-atik hpnya tanpa melihat ke arah Suhandi Pratama yang sepasang mata laki-laki paruh baya itu menatapnya hingga tak berkedip.


"Sejak kapan bocah ini tumbuh dewasa dengan begitu cantik dan manis seperti ini?Aku jadi tidak bisa mengalihkan pandangan mataku darinya. Ah, aku harus bisa membawanya pulang ke rumah Nyonya besar Wina Yulianti Adiwijaya dan memanfaatkannya untuk mengambil hati Dean Ambrose Putra Adiwijaya agar aku tahu dimana surat wasiat Tuan besar Eros Adiwijaya berada selain aku harus menemui pengacara keluarga besar Adiwijaya, yaitu Tuan Joshua Bell yang telah ku dengar akan mengunjungi Jakarta pada bulan Juli tahun ini bersama dengan istri dan putranya. " batin Suhandi Pratama.


******


Kota Barcelona, Spanyol.


Hari itu adalah awal musim panas yang sangat panas bagi seorang pemuda remaja tanggung yang memasuki ruang tamu di apartemen super mewah di kota Barcelona. Pemuda remaja ini tersenyum senang melihat koper- koper telah di siapkan di ruang tamu oleh seorang wanita yang cantik dan bertubuh indah di hadapannya dan seorang pria usia empat puluh tahun memeluk wanita itu lalu mencium bibir wanita itu begitu saja di hadapan pemuda remaja.

__ADS_1


"Dad, kalau Daddy masih ingin bermesraan yang lebih manis lagi dengan Mami, sebaiknya Daddy ajak saja Mami ke kamar, dan tinggalkan koper -koper bersama ku di sini."kata Dylan Bells yang menahan gagang koper yang dipegang oleh tangan Mami nya yaitu Emilia Gustavo.


" Dylan,kamu memang seorang anak yang paling pengertian terhadap Daddy mu ini. "kata Joshua Bells mencubit pipi putranya sambil melepaskan ciumannya pada bibir istrinya.


" Ahh, siapa suruh aku menjadi anaknya Daddy Joshua Bell's yang lahir dari Mami Emilia Gustavo... ? " ucap Dylan yang mengambil koper dari Emilia Gustavo lalu di seret keluar dari pintu apartemen mereka.


"Emi, apakah kamu yakin untuk liburan musim panas di Indonesia?" tanya Joshua Bell's dengan sikap halus sambil menyeret koper lainnya di ruang tamu ke pintu depan.


"Iya,Jo.Aku mau mencari tahu tentang keluarga besar Adiwijaya setelah aku mengetahui bahwa Eugene sialan itu pernah berpacaran dengan pria bernama Dean Ambrose Putra Adiwijaya yang menjaga bayi ku dengan Roger Ricardo Milos." jawab Emilia Gustavo yang rupanya telah selidiki kasus putranya sebelum dirinya menikah dengan Joshua Bell's melalui temannya yang tinggal di kota Paris beberapa waktu lalu.


"Emm, kalau kamu yakin bahwa Reynaldi Ricardo Milos adalah putramu yang di asuh oleh Tuan Muda Dean Ambrose Putra Adiwijaya berarti anak muda yang menikah dengan Jeniffer Lin memang putramu yang dengan Roger Ricardo Milos. " kata Joshua Bell's yang bekerja sebagai pengacara keluarga besar Adiwijaya telah lama menyelidiki tentang jati diri Reynaldi Ricardo Milos.


"Iya, namun aku harus bisa memastikan anak itu benar-benar putraku langsung dari Tuan muda Dean Ambrose Putra Adiwijaya sendiri agar aku tidak salah menduga dan meresahkan hatiku yang selama ini merasa bersalah karena aku ini telah membuang anak itu sejak bayi sehingga ia menjadi seorang anak yang kekurangan kasih sayang seorang ibu kandungnya sendiri. " kata Emilia Gustavo dengan sepasang matanya yang berlinang airmata menatap suaminya.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2