
"Hahahaha dasar bisu- bisu!"
"Sampah!"
"Mati kau!"
Laras duduk meringkuk di kelilingi orang-orang dengan wajah menyeramkan.
Laras ketakutan , ia menutup telinga agar tidak mendengar semua ucapan kasar itu. Tangan-tangan hitam mencoba untuk menjamah tubuh Laras, di iringi tawa yang mengerikan.
Di tengah ketakutan, Laras melihat Adam yang berdiri tak jauh darinya. Laras berdiri, memberanikan diri menerobos kerumunan orang yang mengelilinginya. Semakin Laras berlari, semakin jauh Adam terlihat. Lara berhenti saat melihat tubuh Adam mengurai bagai debu yang terbawa angin.
"Uhm ...uhg ... !" Laras meremas selimut yang menutupi tubuhnya.
Grap.
Mata Laras terbuka, ternyata ia mencengkram lengan Adam.
"Kau sudah bangun?" Tanya Adam, meski semalaman ia menjaga Laras Adam masih terlihat tampan.
Laras masih diam, ia mengerjakan mata dua kali. Gadis itu terkesima dengan pemandangan indah di hadapannya. Adam duduk di samping ia berbaring, kakinya berselonjor masuk dalam satu selimut bersama Laras.
Apa aku sudah mati? Apa aku di surga?Kenapa malaikatnya seperti Tuan Adam?
Mengingat bagaimana sakit yang ia rasakan saat tubuhnya di gotong pulang oleh pelayan dari mansion Nyonya besar. Tenggorokan Laras seperti terbakar, dadanya sakit. Seperti ribuan anak panah yang menghujam jantungnya.
"Laras." Adam menyentuh keningnya, takut jika suhu tubuh wanita itu naik lagi.
Laras terjingkat, mendapatkan sentuhan Adam di kening. Wajahnya memerah karena malu. Tetapi ia sadar, ia baru saja melakukan kesalahan.
Ah, semalam aku tidak melayani Tuan, aku harap dia tidak marah.
"Laras," panggil Adam lagi.
Laras memberikan senyuman manis, meraih tangan Adam dan meletakkannya di dada. Adam menaikkan satu alisnya.
"Kau ingin menggodaku? Kalau begitu kemari." Adam mengangkat tubuh Laras, dengan mudah.
Tubuh mungil berbalut gaun tidur berwarna putih itu berpindah ke pangkuan Adam. Adam sempat mengganti piyama tidur Laras yang basah oleh keringat, dan muntahan yang bercampur darah hitam. Adam merasa lega, karena menurut Frans Laras telah memuntahkan racun dalam tubuhnya.
__ADS_1
Perlakuan Adam pada selirnya membuat semua orang terheran, tak terkecuali Jason yang baru pulang dari perjalanan bisnisnya. Sepulang dari Mexico, Jason langsung menemui Kim dan mendapati sang kakak sedang menjaga Laras dengan penuh kasih sayang.
Kembali pada dua sejoli di atas ranjang.
Laras menunduk dengan senyum manis, pipinya yang bersemu kemerahan membuat Adam merasa gemas. Ia meraih dagu Laras, mendekatkan wajahnya dengan Laras. Pagi adalah saat yang paling baik untuk melakukan olahraga raga pasangan, apalagi jika sudah dalam mode on seperti ini.
Ceklek.
"Yak, aku baru saja memberi si cantik obat dan kau langsung mau menggunakannya!" Teriak Frans marah.
Laras dan Adam menoleh, Laras langsung bangun dan menyusupkan diri dalam gulungan selimut. Ia merasa malu kepergok dalam keadaan seperti ini. Adam menatap tajam pada Frans, yang sedang berdiri berkacak pinggang.
Adam berdecih, ia menyingkap selimut yang menutupi kakinya. Laki-laki bermata coklat terang itu, melangkah keluar. Namun, langkahnya terhenti saat melewati Frans.
"Tahan dirimu Tuan Adam, atau aku tidak bisa menyembuhkan dia. Tak perduli seberapa hebat ilmu pengobatanku," lirih Frans, sambil menepuk pundak Adam.
Adam hanya mengangguk kecil, kemudian melanjutkan langkahnya. Frans menghela nafas panjang, ia kemudian mendekati ranjang dan duduk di tepinya.
"Selamat pagi setengah siang Cantik, bagaimana keadaanmu? Apa dadamu masih terasa sakit? Bagaimana dengan luka bekas cambuknya, apa masih perih?" Cerca Frans sembari membuka kotak obat yang ia bawa.
Dia tahu aku di cambuk? Apa Tuan juga tahu? Bagaimana mereka bisa tahu?
Perlahan Laras mulai menyembulkan kepalanya, ia menatap Frans dengan bingung.
"Kenapa? Kau tidak ingat aku? Padahal aku yang mengobati mu semalam, ah aku lupa. Kau semalam tidak sadar hehehe," Frans terkekeh sendiri.
Laras masih menatap Frans dengan waspada. Frans pun tidak merasa risih dengan itu, ia sudah terbiasa dengan tatapan aneh orang lain pada dirinya.
Frans mengeluarkan sebuah wadah kayu kecil berbentuk bulat, bau herbal yang sangat kuat menguar saat ia membukanya.
"Buka bajumu," titah Frans.
Mata Laras terbelalak, ia menyilangkan tangan di dada.
"Hey Nona yang sudah tidak perawan, kalau kau tidak membuka baju. Bagaimana aku bisa mengoleskan salep ini pada lukanmu, lagi pula punyaku sama dengan punyamu!" Tegas Frans dengan suara serak dan berat.
Saya akan mengobatinya sendiri.
Laras mengerakkan tangannya.
__ADS_1
"Mengobati sendiri? Bagaimana luka yang di punggung, apa tanganmu bisa menjangkaunya?"
Saya akan-
Eh, Anda mengerti bahasa isyarat saya!
"Tentu saja aku mengerti, aku ahli herbal paling cantik, paling berbakat, paling seksi yang hidup di abad ini," ucap Frans sambil melenggak-lenggokan tubuhnya, tak lupa ia menambahkan sedikit kibasan rambut sebagai pemanis.
Cantik? Seksi?
Laras menatap wajah Frans dengan heran. Manusia di hadapannya itu memang terlihat cantik, tetapi ada yang jangan dengan suaranya. Terdengar serak dan berat seperti seorang laki-laki, Laras jadi bingung dia perempuan atau laki-laki?
siapapun yang melihat Frans pasti akan melihat dia sebagai wanita, tapi begitu ia berbicara maka. maka semua akan menjadi abu-abu.
"Kenapa? Apa kau terpesona dengan kecantikan paripurnaku wahai selir Ke-9 Adam."
"Ah ... Sudahlah, tidak ada waktu untuk kau terkesima. Cepat buka baju mu, aku harus mengoleskan salep ini agar lukanmu tidak berbekas."
Saya bisa mengoleskannya sendiri!
Laras mendorong tubuh Frans menjauh, ia merasa malu jika harus melepaskan bajunya di depan orang lain. Apalagi orang yang baru ia kenal.
"Aduh ....lebah, kelinci, manis. Cepatlah, jangan rewel. Adam bisa menembak kepalaku jika kau tidak segera aku Obati," keluh Frans.
Mata Laras terbelalak, apa mungkin Adam setega itu. Main tembak, menghilangkan nyawa orang lain sesuka hatinya. Ya, itu mungkin saja. Mengingat bagaimana sang penguasa itu terkenal kejam dan sangat di takuti.
Dengan terpaksa akhirnya Laras melepaskan gaun tidur yang ia pakai, meskipun risih dan malu. Laras memutuskan untuk berkerja sama, ia tidak ingin orang lain mati karenanya.
"Nah gitu dong, lagian Adam tidak akan mengizinkan aku menyentuhmu jika milik kita berbeda," tukas Frans, sambil mengoleskan salep berwarna kuning pucat pada luka Laras.
Milik? Maksud Kakak apa?
"Hehehehe ... Tentu saja itu, masak aku harus menjelaskan dengan jelas," Frans berkata sambil meliriknya area sensitif Laras.
Benarkah?!
"Ih nggak caya benget deh kamu. Kapan-kapan aku ceritain deh, kenapa punya kita bisa sama. Sekarang yang penting kami sembuh dulu." Frans membenarkan gaun tidur Laras.
Terima kasih, Kakak.
__ADS_1
"Sama-sama adik" sahut Frans dengan senyum manis.
Orang itu berlalu pergi dari kamar Laras. Frans masih harus memasak obat untuk Laras.