
Anak buah Rey tiba lebih dulu dari Adam, orang-orang pilihan white clown tentunya. Mereka segera menuju sebuah bangunan yang lebih kecil dari mansion utama, bangunan yang sedang berusaha didobrak oleh beberapa orang. Mereka sedikit kewalahan karena memang semua mansion Adam dirancang dengan keamanan yang tinggi.
"Hey ... Hey ... Ada pesta rupanya, boleh kamu bergabung?"tanya seorang anak white clown, yang mempunyai tubuh tinggi tegap . Ia terlihat seperti pemimpin pasukan yang ia bawa.
Semua orang yang tadinya sedang akan fokus membuka pintu menoleh, begitu pula Anne. Ia memicing mata, memperhatikan pria-pria yang datang tiba-tiba ke mansion.
"Siapa kalian? Siapa yang mengirim kalian kemarin?!"
Anne melangkah maju, menghadap si pimpinan penyusup itu. Pria itu menggeleng pelan dengan mengangkat satu sudut bibirnya.
"Siapa? Kenapa? Itu tidak penting. Kamu hanya di tugaskan untuk melindungi seseorang yang ada didalam bangunan ini!" Tegas pria itu.
Anne berdecih, membuang mukanya dengan marah. Siapa yang melindungi Laras kalau bukan Adam, sesayang itu kah dia dengan wanita bisu itu.
"Lenyapnya semua penyusup ini!" Titah Anne. Ia melangkah mundur, kembali ke pintu depan mansion.
Ia sudah tak lagi perduli, rasa cemburu dan marah sudah menutupi matanya. Yang ia tahu sekarang dia harus melenyapkan Laras seperti selir-selir sebelumnya.
"Ha .. !"
"Heya..!"
Pemimpin pasukan White clown maju terlebih dahulu, menarik bahu orang yang mau menyerangnya. Membenturkan kepalanya dengan keras, dua kubu yang sebenarnya mempunyai satu pimpinan itu mulai saling menyerang.
Dor
Dor
Anne menyuruh seorang anak buah Adam yang tak ikut bertikai untuk menembak lubang kunci di pintu. Anne mencoba memutar handle tapi belum berhasil. Pintu kembali di tembak dua kali, dan akhirnya ...
Ceklek
Pintu berhasil terbuka, Anne menyeringai licik. Ia mendorong pintu sampai terbuka lebar, tiga orang ikut masuk bersama Anne meninggal rekan mereka yang mulai kewalahan menghadapi musuh.
Pemimpin pasukan yang di kirim Rey melihat Anne yang berhasil membuka pintu, segera menyusul langkah wanita itu. Dia tidak mau gagal dalam misi, dia tidak pernah gagal.
__ADS_1
Brugh.
Laki-laki itu memukul salah satu pria yang mengikuti Anne dari belakang hingga tersungkur. Rekan lain yang melihat segera mengeluarkan pistol, pria berjas hitam itu langsung menendang pistol di tangan mereka dengan gerak cepat.
"Agh!"
Laki-laki itu menyerang tangan satu pria, menariknya kebelakang hingga bunyi tulang yang patah terdengar. Satu lagi menyerang, dia mengunakan rekannya sebagai tameng.
Dor
Dor
Dor
Laki-laki bernama Al itu mengelak dari peluru. Lagi,dia menjadikan pria yang tangannya telah ia patahkan sebagai tameng, ia melepaskan mayat yang penuh luka tembak itu, kemudian melangkah maju.
Sst
Sebuah pisau keluar dari lengan baju Al, dengan gerakan cepat ia melemparkan pisau kecil itu, tak menyangka apa yang datang, penembak menangkis dengan tangan, hingga pisau itu menancap masuk, menembus telapak tangannya.
Sementara itu pria yang tangannya terluka oleh pisau Al, masih ingin menyerangnya lagi. Namun, dengan cepat Aku mencengkeram tangan laki-laki itu, membalikkan pistolnya seratus delapan puluh derajat, dan dor. Peluru menembus tengkorak pria itu.
Dengan nafas yang masih tersengal Al menyusul langkah Anne yang sudah berada di depan pintu sebuah kamar, Anne menggedor pintu kamar dengan keras.
"Nyonya saya tidak ingin menyakiti Anda, sebaiknya Anda ikut saya," ujar Al masih dengan sopan.
Anne menatap tajam pada pria yang ada di sampingnya.
"Kau tidak tahu siapa aku! Jangan ikut campur!" Sentak Laras.
Pria itu tersenyum miring, bagaimana dia tidak tahu kalau yang ada di hadapannya itu adalah Nyonya besar di mansion ini sekaligus putri Marquis kang sang ahli racun, salah satu tetua di white clown.
"Saya tahu, maka dari itu saya bicara dengan sopan pada Anda. Memberikan pilihan sebelum saya bertindak lebih jauh lagi," jawab Al tenang
Keributan di luar semakin membuat Frans kebingungan, Laras sudah semakin lemah, suhu tubuh mungil itu semakin menurun.
__ADS_1
"Kim, buatlah dirimu berguna!" Pekik Frans frustasi.
Kim hanya diam menunduk, ia sebenarnya juga sama frustasi dengan Frans. Entah bagaimana dia harus menyembunyikan rasa malu saat bertemu Adam, sudah dua kali ia gagal menjaga Laras.
Brak.
Frans terjingkat kaget, ia semakin ketakutan. Namun, setelah tahu siapa yang membuka pintu kamar, Frans merasa lega.
Adam datang di saat yang tepat, dengan Marquis kang yang ikut bersamanya ia bisa mengatasi Anne. Adam sudah berjanji pada Marquis, tidak akan turun tangan pada Anne saat ini.
"Apa yang terjadi kenapa dia begitu dingin?" Tanya Adam yang sedang memegangi tangan dingin Laras.
Frans sempat tertegun melihat keadaan Adam. Pria itu begitu kacau, ada luka besar lengannya, lebam dan kotor. Tak memperdulikan dirinya sama sekali, Adam langsung kembali dari pertempuran untuk sang selir, sakit. Orang jatuh cinta memang sakit.
"Frans!" Teriak Adam membuat Frans terjingkat kaget.
"Buka bajumu!" Titah Frans pada Adam, tak membantah Adam segera melepaskan kemeja hitam yang melekat di tubuhnya.
Frans membuka baju Laras, melihat itu Adam yang melihat Kim duduk diam bagai patung langsung menutupinya dengan kemeja yang baru ia lepaskan.
Laras polos tanpa sehelai benangpun. Frans meminta Adam mengendong Laras seperti koala, setelah memberi kain bersih pada area V Laras yang masih mengeluarkan darah.
Frans menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut tebal. Dengan posisi seperti itu, Adam mengendong Laras naik keatas helikopter. Ia dan Frans membawa Laras ke rumah sakit.
"Katakan apa yang terjadi pada wanita ku?" Tanya Adam, tangannya melingkar , memeluk sang selir erat.
"Apa kau tahu dia hamil?" Frans balik bertanya, ia menatap Adam penuh selidik.
"Ha-hamil?"
Frans mengangguk. Ada senyuman tipis yang tak bisa Adam tahan, selama ini ia memang tidak memakai pengaman saat berhubungan intim dengan Laras. Tak seperti selir-selir yang lain. Melihat senyum terukir di bibir Adam, membuat Frans ikut tersenyum getir.
"Berdoalah, agar anak itu masih ada. Meskipun aku tidak yakin," ujar Frans sambil menatap lurus pada pilot helikopter.
Helikopter mulai membawa mereka menjauh dari bangunan besar itu, meninggalkan sepasang mata yang melihatnya dengan marah. Mendengar kalimat terakhir yang Frans ucapkan, membuat rahang Adam mengeras. Sorot matanya sangat dingin.
__ADS_1