
Wanita itu membantu Laras berdiri dengan di bantu yang lain. Laras pasrah, tubuhnya tak lagi bertenaga.
Tubuh Laras di bersihkan, luka-lukanya di berikan salep. Setelah selesai di ganti baju, Laras diantar kembali ke kamarnya. Kim yang melihat keadaan Laras sebenarnya tidak tega, begitu pula pelayan yang bekerja di mansion kecil Laras. Tetapi mereka tidak mampu untuk berbuat apa-apa, mereka hanya perkerja biasa di tempat itu.
Tempat ini seperti neraka, mereka semua jahat! Kenapa Nyonya, berbuat seperti ini padaku?
Laras merasakan sakit yang teramat di seluruh tubuhnya, perih dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Tubuh mungil itu mengigil kedinginan, Laras menyelimuti tubuh dengan selimut tebal.
Dalam hati Laras ia terus mengumumkan nama yang sudah mengisi hatinya. Saat ini ia sangat menginginkan kehadiran pria itu.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" Tanya Kim, yang baru saja masuk ke kamar Laras untuk membawakan obat.
Laras tidak menjawab, tubuhnya gemetar hebat. Kim yang merasa curiga dengan keadaan Laras segera memeriksa wanita itu, ia meletakkan obat yang ia bawa dan menyentuh kening Laras.
"Astaga! Panas sekali," pekik Kim terkejut.
Kim mengambil ponsel untuk menghubungi Jason, tetapi pria muda itu tak kunjung mengangkut teleponnya. Dan hal sial lainnya terjadi, telepon Kim berdering nyaring, dengan nama sang Tuan tertera di layarnya.
Kim menelan salivanya sebelum mengangkat telepon itu.
"Kenapa lama sekali Kim? Apa tanganmu patah?!"
"Maaf Tuan, saya sedang berusaha menghubungi Tuan Jason tadi," jawab Kim cepat.
"Ada apa kau menghubungi Jason?"
Kim, terdiam ia takut jika sang Tuan marah jika ia bicara jujur. Namun, di sisi lain Kim juga tidak bisa berbohong, karena Tuannya pasti akan lebih marah jika ia melakukan itu.
"Kenapa kau diam Kim?!"
"Maaf Tuan, terjadi sesuatu pada Nona Laras."
Di ujung sana, Adam mengeratkan giginya, tangannya mengepal kuat.
"Apa yang terjadi?"
Tiga kata yang mampu membuat tubuh Kim menegang, bukan karena katanya tapi intonasi suara Adam yang terdengar begitu dingin. Kim tidak bisa membayangkan jika sang penguasa kejam itu ada di hadapannya sekarang.
"Nona Laras demam tinggi Tuan."
Adam langsung menutup sambungan teleponnya. Kim hanya bisa menghela nafas, berharap sesuatu yang buruk tidak akan terjadi. Kim kembali memeriksa kondisi Laras, ternyata gadis itu sudah tidak sadarkan diri. Ia tidak merespon suara dan tidak bisa minum obat, meskipun Kim berusaha menyuapinya dengan sendok.
Kim hanya bisa mengompres kening Laras, berharap bisa menurunkan suhu tubuhnya. Pintu kamar Laras terbuka, Kim segera bangkit menyambut sang Tuan yang datang bersama dengan seseorang yang memakai cheongsam.
__ADS_1
Adam dengan cepat melangkah menghampiri Laras, ia menyentuh kening Laras, untuk merasakan suhu tubuh wanitanya.
"Aku sudah ada di sini Tuan, apa yang kau risaukan. Tolong minggir sebentar, biar aku memeriksa cantik ini," ucapnya.
Adam berdecih, tetapi ia menurut dan bergeser agar orang itu bisa memeriksa kondisi Laras. Sementara Kim terpaku mendengar suara yang sungguh sangat berbeda dengan bentuknya.
"Berapa sering kau berhubungan intim dengan cantik ini Tuan?" Tanya Frans.
"Hampir setiap malam sampai menjelang pagi," jawab Kim yang telah sadar dari keterkejutannya.
Frans mendelik tajam pada Adam yang terlihat biasa-biasa saja.
"Hais ... Apa kau pikir dia robot s*x, aku tahu kau punya stamina kuda, tapi si cantik ini punya tubuh yang rapuh. Dia berumur dua puluh tahun tapi tubuhnya sama dengan orang berusia lima puluh tahun, dia sepertinya pernah mengalami malnutrisi. Jangan khawatir dengan kekuatan bulan aku akan menyembuhkannya," ujar Frans sambil mengedipkan matanya nakal.
Kim bergidik geli melihat tingkah wanita paruh jadi itu, berbeda dengan Adam yang terlihat tenang.
"Tapi aku tidak bisa melakukan terapi penyembuhan kalau kau terus melukai tubuhku seperti ini Tuan," imbuhnya lagi.
"Melukai?" Tanya Adam dengan alis yang menyatu.
"Cambuk? Menarik rambut, ckckck ... Rupanya kau nakal juga kalau bermain," ujar Frans, setelah melihat sebuah luka di bahu Laras.
Adam memberikan tatapan membunuh pada Kim yang tengah menunduk.
"Hem, cukup rebus resep ini. Beri dia minum tiga kali sehari, dan beri dia liburan Tuan, burungmu itu harus puasa," Frans terkekeh, sambil memberikan bungkus obat-obatan tradisional China.
Kim menerimanya dengan hati-hati bungkusan herbal berwarna coklat itu.
"Cuci kemudian beri dua gelas air, rebus sampai airnya tersisa satu gelas."
"Baik Tuan."
Frans mendelik tajam pada Kim.
I'm not Mr, Sipit. Call me Miss Frans, paham!"
Kim hanya tersenyum tipis, kemudian berlalu begitu saja.
"Yak, apa kau paham? Dasar pria sipit!" Teriak Frans kesal.
"Diam lah Frans, kau bisa membangunkan Laras!" Tegas Adam, Frans memanyunkan bibirnya dengan tangan yang terlipat.
Adam mengganti handuk kecil yang menempel di kening Laras dengan yang baru. Frans cukup heran melihat Adam yang terlihat begitu perduli pada wanita itu.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang belum aku katakan," tutur Frans dengan serius.
"Apa?" Tanya Adam tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Laras.
"Wanita mu ini terkena racun."
Adam seketika menoleh.
"Racun yang hanya dibuat oleh so raja racun, mematikan tanpa warna dan tidak terdeteksi alat medis."
"Beruntung kita belum sepenuhnya terlambat, tapi aku tidak bisa menyembuhkannya langsung. Aku akan lihat reaksinya. setelah minum ramuan yang aku buat tadi."
"Bagai dengan kebisuannya?"
Frans menggeleng pelan.
"Untuk saat ini kita fokus mendetoksifikasi racunnya terlebih dahulu," jawab Frans. Adam mengangguk paham.
"Baiklah aku harus istirahat, jangan khawatir panasnya akan segera turun setelah minum obat rebusan tadi. Aku harus tinggal beberapa hari di sini untuk memantau kondisinya."
"Minta saja pelayan untuk menyiapkan kamarmu di sini," jawab Adam dingin.
"Baiklah Tuan, dia tubuhnya akan gemetar dan muntah jika obatku bereaksi dengan baik, jangan terlalu panik jika itu terjadi." Frans menggeliatkan tubuhnya, berjalan keluar meninggalkan Adam dan selir kesayangannya itu.
Setelah beberapa menit, Kim datang membawa semangkuk kecil air rebusan obat.
"Tuan, obatnya."
"Hem." Adam menerima obat berwarna coklat tua itu, bau rempah yang sangat menyengat menusuk hidung Adam.
Ia menyendok sedikit obat herbal itu, meniupnya agar tidak terlalu panas. Perlahan Adam menyuapi Laras, tetapi obat itu mengalir keluar, tak tertelan olehnya. Adam mencoba lagi, tapi hasilnya tetap sama.
Prang.
Adam membanting mangkuk kecil itu kelantai.
"Ambil obatnya lagi!"
Kim segera berlari ke dapur untuk mengambil obat lagi. Setelah Kim kembali membawa obat, Adam menyuruhnya untuk keluar.
Adam meminum cairan coklat super pahit itu, ia menyuapi Laras dari mulut ke mulut.
"Akhirnya kau minum juga," gumam Adam setelah selesai menyuapi Laras obat.
__ADS_1
Tak tahan dengan rasa pahit yang memenuhi mulutnya, Adam beranjak ke kamar mandi untuk mencuci mulut.