Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 8


__ADS_3

Sudah sebulan lebih Laras tinggal di mansion itu, Adam memperlakukan ia dengan baik. Begitu juga para pekerja di sana.


Laras berjalan cepat mengikuti langkah Kim, sang Nyonya besar ingin bertemu dengannya. Rasa takut sudah menyelimuti hati Laras bahkan sebelum ia bertemu dengannya.


Anne bersandar bersantai di kursi panjang, menikmati cahaya matahari hari di tepi kolam renang miliknya.


" Nyonya," ucap Kim sambil menunduk hormat.


Anne menoleh, ia bangkit dari tempat ia duduk.


Laras pun ikut menunduk menunjukkan rasa hormatnya. Anne menatap Laras dengan penuh benci.


"Selir agung akhirnya berkunjung ke tempatku, apa kau tidak tahu sopan santun! Setiap selir Adam selalu datang kemari untuk melayaniku, lalu apa yang membuatmu berbeda heh!"


Laras menunduk takut.


Maaf, maafkan saya Nyonya. Saya tidak tahu.


Laras menggerakkan tangan, berusaha menjelaskan apa yang ingin ia bicarakan. Anne semakin marah, ia melemparkan cangkir yang berisi teh panas hingga membasahi tubuh Laras.


Aduh ... Panas.


Laras mengusap air panas yang mengenai tubuhnya. Kim yang melihat itu segera membantu Laras, memberikan sapu tangan yang selalu ada di sakunya.


"Nyonya, tolong maafkan Nona Laras. Dia memang tidak mengerti hal seperti itu," ucap Kim, ia merasa tidak tega melihat Laras diperlakukan seperti ini.


Anne mendelik tajam." Jangan ikut campur Kim, pergilah! Aku akan mengajak tamuku berkeliling."


"Tapi Nyonya, saya-


"Aku bilang pergi!" Teriak Anne.


Kim tak bisa lagi membantah, bagaimana pun ia hanya seorang pegawai di mansion ini. Ia tidak bisa membantah perintah atasannya. Kim menunduk hormat, sebelum berlalu ia sempat melirik iba pada selir Tuannya.


"Lemparkan Dia!"


Dua orang wanita pengawal Anne menyeret tubuh kecil Laras, melemparkannya begitu saja ke kolam renang yang ada si sana.


Agh ... A .. tolong, Nyonya tolong selamatkan saya.


Melihat Laras gelapan, Anne tersenyum menyeringai. Air kolam beriak hebat, Laras terus mengerakkan tangan agar tidak tenggelam.


Gadis yang tak lagi perawan itu terus berteriak minta tolong, walaupun tidak ada seorang yang mendengarnya. Laras terus bergerak, sampai ia kelelahan dan kehilangan kesadaran. Melihat hal itu Anne menyuruh orang-orangnya untuk mengangkat tubuh Laras, ia tidak ingin membiarkan wanita itu mati dengan mudah.


Kedua pengawal yang tadi menyeret Laras, kini masuk kedalam kolam. Mengangkat tubuh kecil itu, membawanya ke tepi. Laras tergeletak di atas ubin dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Buat dia sadar, lalu bawa dia ke kamar belakang," ujar Anne sambil berlalu.


"Baik Nyonya."


Kedua wanita itu melakukan CPR pada Laras, hingga wanita malang itu batuk dan memuntahkan air dari mulutnya.


Laras terbatuk-batuk dengan suara seperti kodok yang tercekat, mata lentik Laras terbuka. Ia memukul-mukul dadanya sendiri, dengan nafas yang tersengal.


Ah .... Terima kasih, sudah menyelamatkan saya.


Laras berucap dengan tatapan matanya, melihat kearah seorang wanita yang berjongkok di sampingnya. Laras merasa lega bisa bernafas kembali, tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama.


Wanita bertubuh besar yang ada di sampingnya, menyeret Laras.


Agh! Sakit tolong lepaskan aku!


Laras memekik keras dalam hening, tangan pucat Laras menahan rambutnya yang di tarik kuat. Wanita itu menyeret Laras dengan menarik rambut hitam Laras, dengan posisi terlentang Laras berusaha memberontak. Ia meringis merasakan sakit dipunggung nya, yang terbentur lantai marmer.


"Diam, dasar Bisu!" Bentak wanita yang berjalan di belakang Laras, ia menendang kaki gadis malang yang terus memberontak.


Tolong, lepaskan aku, rintih Laras hatinya.


Kedua orang itu tidak peduli dengan Laras yang terlihat kesakitan, mereka terus menyeret tubuh yang sudah lemas tak berdaya itu.


Tubuh Laras di lemparkan begitu saja. ia mengaduh, saat punggungnya membentur tembok ruang gelap itu. Laras mengigil, ia memeluk dirinya sendiri.


"Halo Nona bisu, bagaimana dengan mandi pagimu? Menyegarkan bukan."


Anne sedikit membungkukkan badan, agar bisa menatap Laras dengan baik di remangnya ruangan itu. Laras mengangkat wajahnya, menatap Anne dengan memohon.


Nyonya, tolong lepaskan saya.


Laras mengerakkan tangannya yang gemetar karena dingin, berharap Nyonya besar itu mengerti apa yang ingin ia katakan.


"Kau bilang apa? Kau haus? Ah .. aku lupa menjamu tamu penting ini," ujarnya dengan seringai.


Laras menggeleng cepat.


Tidak Nyonya, tidak. Saya hanya ingin kembali ke kamar saya, saya mohon.


"Pelayan bawa air jeruk itu kemari!" Teriak Anne. Ia menegakkan tubuhnya, dan mundur beberapa langkah.


Seorang laki-laki membawa se ember air yang di penuhi irisan lemon segar, dan...


Byur

__ADS_1


Air bercampur es batu itu menguyur tubuh Laras. Wanita berambut panjang itu gelagapan, tubuhnya yang sudah menggigil bertambah dingin.


"Hahahaha ... Bagaimana? Kau menyukainya?"


Laras menggeleng, ia mengusap wajah dan matanya yang terasa panas, terkena siraman air lemon itu. Merasa kurang puas, melihat Laras. Anne menengadah satu tangannya ke samping, sang pelayan yang mengerti langsung memberikan cambuk kecil pada majikannya.


Cets


Cambuk itu mendarat dengan mulus di lengan Laras, meninggalkan luka panjang menganga di lengannya.


Agh ...! Pekiknya tanpa suara, hanya mulut mungil membiru yang terbuka.


Anne tersenyum, ia kembali mengayunkan cambuk berukuran satu meter yang terbuat dari kulit ular itu.


"Gara-gara J***ng seperti mu, Adam tidak lagi datang ke mansion ini!"


"Mati kau, mati!"


Anne begitu menggebu-gebu mengayunkan cambuknya, Laras hanya bisa pasrah. Berteriak pun percuma, hanya air mata yang semakin membuat lukanya terasa pedih. Keringat dingin bercampur dengan perasan air lemon yang tadi mengguyur tubuh kecil Laras, membuat lukanya berkali-kali lebih pedih.


Ampun Nyonya, ampuni saya.


Laras mengiba, memohon belas kasih Anne dengan tangan yang menyatu di dada. Anne tidak perduli, ia malah dengan tega menendang perut Laras.


Dada Anne naik turun seiring tarikan nafas yang penuh amanah, ia melampiaskan kekesalannya pada Laras. Bukan salah wanita malang itu jika Adam tidak pernah mendatangi Anne, sebelum adanya Larasati Adam memang sudah jarang bertandang ke mansion Anne.


"Nyonya, sepertinya wanita itu sudah mendapatkan pelajaran," ucap seorang wanita paruh baya, dengan posisi sedikit membungkuk di belakang Anne.


"Tahu apa kau! Apa kau membelanya iya!" Bentak Anne


"Tidak Nyonya, tentu saja tidak. Tapi saya takut Tuan akan marah melihat bekas luka di tubuhnya," wanita itu mencoba menjelaskan agar Anne tidak salah paham.


"Agh ... Sial dasar J***ng kotor, menyusahkan."


Anne membuat cambuknya begitu saja, menatap sinis pada selir cantik yang meringkuk kesakitan.


"Jangan pikir ini akhir dari deritamu, ini baru saja dimulai Laras, baru saja dimulai," ucap Anne penuh penekanan, amarah dan benci terlihat jelas di matanya.


"Obati lukanya, pake obat yang biasa aku pakai agar lukanya cepat sembuh. Dengan begitu aku bisa bermain dengannya lagi."


"Baik Nyonya," jawab wanita itu.


Anne berlalu meninggalkan ruangan itu, Laras hanya bisa menatap punggung sang Nyonya besar dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia marah, kesal. Tetapi Laras juga tahu dia tidak punya hak untuk itu.


Wanita paruh baya itu menghampiri Laras, memperhatikan wanita itu lamat-lamat.

__ADS_1


"Kasihan sekali nasibmu Nak, kau tidak seharusnya ada di sini, jika tidak ingin berakhir seperti selir-selir sebelumnya."


__ADS_2