Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 6


__ADS_3

Wiliam mengerang merasakan sakit yang teramat, saat sebilah besi tajam itu menembus tengkoraknya. Wiliam dalam keadaan sadar, saat Adam menikamnya, ia bisa melihat dengan jelas seringai mengerikan laki-laki itu.


"Agh ...!" Wiliam memekik keras, kala Adam menggerakkan pisau itu membeli wajahnya menjadi dua.


Adam menyeringai, menjilat percikan darah Wiliam yang mengenai sudut bibirnya.


"Cuih ... Bangsat, Dasar tikus got!"


Adam pergi meninggalkan tubuh tak bernyawa itu. Kedua pengawal Adam, membiarkan mayat Wiliam begitu saja terendam dalam kolam darahnya sendiri, tubuh pria paruh baya itu terlihat mengerikan dengan luka menganga di perut dan kepalanya. Bau amis darah menguar memenuhi ruangan itu.


"Kirimkan hadiah untuk keluarganya," titah Adam dengan datar.


"Baik Tuan," jawab seorang kepercayaannya.


Adam keluar dari gedung besar dengan memakai jas hitam lengkap setelah membersihkan dirinya.


Tak ada yang berani mengangkat kepalanya, saat Adam berjalan melewati anak buahnya yang berjejer rapi diluar gedung itu. Laki-laki dengan jambang tipis diwajahnya itu , naik ke helikopter yang sudah di siapkan untuknya.


Helikopter itu mendarat sempurna, di mansion Adam yang tersembunyi dibalik rimbunnya hutan. Hanya beberapa anak tiga dari anak buahnya yang tahu letak mansion Adam, termasuk pilot yang membawa helikopter itu.


Dalam pekatnya malam, Adam melangkah pasti menuju sebuah bangunan disamping mansion utama. Tidak seperti biasanya, Adam tidak masuk ke mansion utama untuk beristirahat. Hati Adam menuntun kaki sang penguasa untuk menemui mainan barunya. Hati? Entah sejak kapan dia punya sebongkah daging itu.


Adam menyeringai melihat Laras yang tertidur pulas, ia berjalan mendekati si wanita. Duduk samping ranjang, dengan baju sudah ia tanggalkan. Tangan Adam terulur, ujung telunjuknya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Laras.


Merasa ada seseorang yang menyebut wajahnya, Laras mengerjap. Mata lentik wanita itu perlahan terbuka, melihat kearah sang penguasa yang tengah melihatnya dalam. Laras melenguh tanpa suara.


Deg


Jantung Adam berdetak, saat mata bening Laras melihatnya dengan sayu. Tanpa permisi, Adam menunduk menyatukan bibir mereka. Mata Laras membeliak lebar, terkejut dengan perlakuan Adam yang begitu lembut padanya.


Tubuh Laras menggeliat, merespon tangan Adam yang semakin liar menjamah tubuhnya. Laras merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, jika saat pertama kali ia melakukan hal ini dengan Adam. Dia merasa takut, tetapi kali ini sungguh berbeda.

__ADS_1


Adam mengoyak piyama tidur yang Laras pakai, mengeluarkan gundukan kenyal dari pengamanannya. Wajah Laras memerah, ia membuang mukanya ke arah lain saat Adam melihatnya dengan begitu intens.


"Lihat aku, Laras." Adam mengapit dagu lancip Laras, mengarahkan wajah hingga netra mereka bertemu.


Adam tersenyum, ia kembali ******* bibir mungil tanpa lipstik itu, dengan tangannya yang tak berhenti meremas buah dada sang wanita.


Tuhan apa yang terjadi pada ku? Tanya Laras dalam hati.


Jantungnya berdegup cepat, tubuh Laras menegang. Ada rasa aneh yang menggelitik sel syaraf tubuhnya, rasa yang belum pernah ia rasakan. Tiap sentuhan Adam terasa seperti sengatan listrik, seperti ribuan kupu-kupu memenuhi diri Laras.


Dengan lihainya Adam membuai Laras, membuat wanita itu menggelinjang hebat. Tak ada suara manja yang terdengar dari mulut manisnya, tetapi Adam yakin Laras sangat menikmati permainan mereka.


Ehm ... Tuan, aku mohon hentikan. Laras mencengkeram kuat lengan Adam, tubuhnya melengkung keatas.


Laras tak bisa menahan sesuatu yang ingin meledak di dadanya, sentuhan cepat jemari Adam di area sensitif Laras. Ia terkulai lemas, saat cair bening membasahi miliknya, nafas Laras tersengal, intinya berkedut hebat. Adam menegakkan tubuhnya, menyeringai puas menatap Laras, yang tumbang hanya dengan permainan jari. Adam menjilat kedua jarinya yang basah oleh cairan milik Laras.


Tuan, itu sangat kotor, lirih Laras yang tak mungkin terdengar.


Adam menindih tubuh Laras, kembali mengecap manisnya bibir mungil itu. Tangan Laras meremas sprei berwarna putih yang ia tempati, sesuatu yang besar melesat masuk menyatu dalam tubuhnya.


Ugh ...


Laras melenguh panjang dalam diam, hanya tubuhnya saja yang melengkung keatas, saat penyatuan mereka. Mata Adam terpejam menikmati penyatuan yang sungguh luar biasa baginya. Adam bukan orang suci yang tidak pernah menyentuh wanita, tapi dengan Laras ia merasakan sesuatu yang berbeda.


Adam biarkan Laras terbiasa dengan senjata besar yang berukuran extra itu, sebelum ia mulai menggerakkan tubuhnya. Pemain dimulai, menu utama sudah dibuka, peluh mulai membasahi kening dan leher Laras, beberapa anak rambut tampak menempel di lehernya.


Suara penyatuan mereka mengalun merdu memenuhi ruangan itu, hanya suara Adam yang mendominasi. Tapi Laras, wanita itu hanya bisa merengek manja tanpa terdengar. Namun, Adam sangat menikmati ekspresi wajah Laras yang membuatnya ingin melakukan itu lagi dan lagi.


Adam menghentakkan pinggulnya dengan cepat dan dalam, sebelum akhirnya cair kental menyembur masuk memenuhi rahim Laras untuk yang kesekian kalinya.


Mata Laras terpejam, tenaganya sungguh terkuras habis oleh permainan Adam.

__ADS_1


"Kau lelah?" Tanya Adam, setelah mencabut miliknya dan berbaring di samping Laras.


Tidak Tuan, saya tidak lelah.


Laras menggerakkan jemari tangannya, untuk berkomunikasi. Adam tersenyum miring, ia bangkit lalu duduk bersandar.


"Aku tidak mengerti maksudmu," ujar Adam sambil menatap lurus, dengan kepala yang bersandar.


Ah ... Maaf saya lupa, tidak semua orang mengerti bahasa isyarat. Bagaimana agar Anda bisa mengerti maksud saya.


Laras memberanikan diri, menyentuh tangan Adam. Adam langsung menoleh kearah Laras, manik bening Laras menatap lembut pada laki-laki itu, kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa kau ingin mengatakan kalau kau tidak lelah?" Tanya Adam dengan alis terangkat. Ia tahu kalau gadis itu tengah berbohong.


Laras mengangguk cepat, pipinya memerah karena Adam menatap lekat padanya.


Ais ... Kenapa Tuan menatapku seperti itu.


Laras menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


"Kau bisa kehabisan nafas kalau seperti ini." Adam menarik selimut yang menutupi wajah Laras. Laras terjingkat, ia mempertahankan selimutnya. Namun, tenaganya tak sebanding dengan pria itu.


"Kemari. Tidurlah di sini." Adam menepuk pahanya.


Mata lentik Laras mengerjap pelan, terlihat sangat lucu di mata Adam. Gadis polos itu, sungguh telah mencuri hatinya.


Karena tak kunjung merespon ucapannya, Adam mengangkat tubuh Laras. Meletakkan kepalanya diatas pangkuan polos paha Adam.


Dengan lembut ia mengusap mayang panjang, yang lepek karena pertempuran peluh mereka. Hingga akhirnya Laras terlelap, ia tidak bisa berbohong. Tubuhnya terasa amat lelah.


Adam menatap wajah yang terlelap di pangkuannya.

__ADS_1


__ADS_2