
"Apakah kau menyesal telah memilih ku?"
Adam terkejut, matanya terbuka lebar, menatap tajam pada mata teduh yang tengah melihatnya dengan senyuman.
"Tentu saja tidak Sayang, kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Maka percayalah, aku juga tahu dengan pilihan yang aku buat. Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di mansion ini, aku suka menyerahkan hidup untuk mu."
Adam tersenyum dan memeluk erat tubuh Laras yang ada di hadapannya.
Sarapan telah siap saat Adam dan Laras keluar dari kamar. Tak satupun dari orang yang duduk di meja makan itu menyentuh makanannya, sebagai bentuk rasa sopan dan penghormatan untuk sang tuan rumah.
"Maaf membuat kalian menunggu," ujar Laras dengan lembut, ia merasa tidak enak membuat para tamu dan sahabatnya kelaparan menuggu di meja makan.
"Tidak perlu minta maaf Sayang," sahut Adam dingin.
Semua orang menunduk, tak ada yang berani menyahuti, kecuali Jason. Adam melepaskan tangan Laras yang melingkar di lengannya, menuntun tangan kecil itu, Adam bahkan menarik kursi dan mempersilahkan sang ratu untuk duduk, Jason yang melihat itu pun tak mau kalah. Dia mengambilkan makanan untuk Jane dan mengusap sudut bibir sang istri yang tidak kotor sama sekali.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jane lirih, ia merasa risih Jason memperlakukan dia seperti itu. Apalagi di depan Adam.
"Aku hanya menunjukkan rasa cintaku padamu, Sayang," jawab Jason dengan santai, meski Jane memberikan lirikan maut untuknya.
Laras tersenyum, melihat kemesraan adik iparnya itu. Sementara Adam, dia terlihat cuek saja, sama seperti Adam raut wajah Frans terlihat datar dia makan dengan tenang sangat berbeda dari biasanya.
"Apa kau baik-baik saja Frans?" Tanya Laras yang merasa aneh dengan sikap Frans.
"Ya tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku hanya merasa aneh, kau tidak biasanya diam seperti ini." Laras menyiapkan makanan Adam, tetapi di hentikan oleh pria dingin itu.
"Duduklah, ada pelayan yang akan melakukan ini." Laras tersenyum dan kembali duduk sesuai perintah Adam.
Pelayan pun segera menyiapkan makanan di piring Adam dan Laras. Kim yang berdiri tak jauh dari mereka, tampak sesekali mencuri pandang pada Frans, entah mengapa dia ingin meminta maaf pada Yusuf wanita itu. Jujur saja Kim tidak begitu mengingat kejadian semalam, tetapi dia yakin jika malam itu dia tidak beradu dengan pisang.
Setelah menyelesaikan sarapan, Adam harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena acara resepsinya, dengan di temani Laras, Adam pergi ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Jangan terlalu memforsir diri Sayang, kau harus banyak istirahat," ujar Adam tanpa menoleh, dia masih sibuk mengetik di laptop.
"Iya sebentar lagi," sahut Laras dengan nafas tersengal.
Iseng karena bosan menunggui Adam yang hanya duduk di kursi sambil menatap laptopnya, Laras memutuskan untuk melakukan mempraktekkan senam kegel yang ia temukan di salah satu channel media sosial. Dia ingin segera mewujudkan keinginan Adam untuk memiliki momongan, jujur Laras juga ingin segera hamil lagi.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" Sahut Adam, setelah melihat siapa yang mengetuk pintu lewat cctv-nya.
Pintu besar itu di dorong dari luar, Frans masuk dengan langkah gemulai. Ia terkejut saat melihat Laras berbaring di atas karpet beludru, dengan tubuh kaki yang di tekuk dan tubuh yang diangkat keatas.
"Apa yang kau lakukan Nyonya Mahadev? Senam di atas karpet?"
Laras menurunkan tubuh, dia bangkit dan duduk bersila, menyengir memamerkan gigi putih menawan khas iklim pasta gigi.
Adam hanya mengangkat bahu dan tetap fokus pada pekerjaannya.
"Kau harus mengunakan matras yoga, pake sepatu dan pakaian yang nyaman jika ingin melakukan ini Laras," omel Frans, ia menarik lembut lengan Laras membantu wanita mungil itu untuk bangkit.
"Tapi aku tidak apa-apa kan Frans."
"Ish, udah salah, jawab lagi! Awas saja kalau sampe kenapa-kenapa, aku nggak akan bantu kamu." Frans menghenyakkan bokongnya di sofa yang ada dibawah jendela besar ruangan itu.
Laras memanyunkan bibirnya, ia berjalan kearah Adam, mengalungkan tangannya di leher sang suami yang sedang bekerja.
"Lihatlah, Frans memarahiku," Adu Laras dengan manja. Mendengar hal itu Frans memutar matanya jengah.
"Kadang-kadang aku berharap kau bisu lagi," celetuk Frans dengan jengah.
"Jaga mulutmu Frans!" Frans mengangkat kedua tangan, tanda menyerah.
__ADS_1
Laras tersenyum sambil menjulurkan lidahnya kearah Frans. Adam mengehentikan pekerjaannya, ia melepaskan tangan Laras dan menuntun sang wanita untuk duduk di pangkuannya.
"Adaa apa?" Tanya Adam pada Frans, dia tahu Frans tidak mungkin menemuinya tanpa alasan.
Frans mengambil nafas dalam sebelum mulai bicara." Aku ingin kembali ke China."
Mata Laras melebar mendengar ucapan Frans, ia terkejut dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Berbeda dengan Laras, Adam tidak terkejut sama sekali.
"Kenapa tiba-tiba? Apa kau tidak suka disini? Apa kau merasa tidak nyaman?" Cerca Laras dengan raut wajah terkejut.
Frans membuang pandangan ke Semarang arah, dia tidak mampu untuk melakukan mata Laras yang berkaca-kaca menatapnya. Laras adalah salah satu dari dua orang yang tidak memandang dia rendah, dan Laras juga satu-satunya teman Frans.
"Tenanglah Sayang." Adam mengusap lembut rambut Laras.
"Tapi Dia,-"
Adam menempelkan telunjuknya di bibir sambil mengangguk, Laras pun mengerti dan tak melanjutkan ucapannya.
"Kalau kau memang ingin pergi aku tidak akan menghalanginya, tapi apa kau lupa satu janjimu Frans?"
"Saya tidak akan lupa dengan apa yang saya ucapkan Tuan, saya akan pergi setelah saya menepati janji saya. Anda tidak perlu khawatir," ucap Frans dengan pasti, Adam mengangguk paham.
"Lalu kenapa kau mengatakan mau pergi sekarang? Kau bahkan belum melakukan apapun untuk menepati ucapan mu."
Laras menatap wajah Frans dan Adam secara bergantian, ia sama sekali tidak mengerti dengan janji yang mereka berdua bicarakan. Laras pun tak berani untuk menyela.
"Dua bulan, saya hanya butuh waktu dua bulan untuk itu!" Tegas Frans.
"Hanya itu yang ingin saya sampaikan, permisi." Frans bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju ke arah pintu, tetapi berhenti sejenak dan menoleh.
"Tuan, jangan izinkan wanita Anda melakukan kegiatan seperti tadi tanpa pengawasan dari saya, permisi." Frans melanjutkan langkah, dan menutup pintu.
Mata Laras yang sedari tadi memperhatikan Frans kini beralih menatap Adam, pria tampan bermata coklat terang itu hanya tersenyum melihat kebingungan di wajah sang istri.
"Kau ingin menanyakan sesuatu, Sayang?"
__ADS_1
Laras mengangguk. "Kenapa Frans begitu aneh hari ini? Dia berbicara lagi formal, sangat aneh. Dan apa janji yang kalian bicarakan tadi? Apa aku boleh tahu?"