Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 12


__ADS_3

"Kau ingin menghukum aku? Memangnya apa salahku?" Tanya Anne angkuh.


Wanita itu terlihat seperti tak peduli. Namun, Adam bisa melihat setitik ketakutan pada wajah cantiknya.


"Apa kau anggap aku bodoh? Kau mengabaikan peringatanku Anne," suara Adam terdengar begitu dingin dan penuh penekanan.


"Ti-dak, aku tidak pernah mengabaikannya," sahut Anne terbata- ia menunduk, meremas ujung piyama tidur yang ia pakai.


Anne tidak bisa, ia tidak ingin melihat wajah marah Adam.


"Angkat wajahmu dan katakan kau tidak melakukannya Anne kang!" Hardik Adam.


Suaranya yang begitu besar, sontak membuat Laras yang ada di pangkuannya terkejut. Tubuh kecil Laras terjingkat, ia semakin sadar jika laki-laki ini memang sangat berbahaya.


Anne pun sama, ia sangat terkejut. Adam belum pernah bersikap kasar seperti ini padanya, hal ini tentu saja membuat Anne semakin benci pada Laras. Adam berubah setelah datangnya selir murahan itu, Anne bersumpah akan menyingkirkan wanita itu. Mengirimnya ke neraka.


Adam berdecih.


"Mulai pertunjukannya, berikan tempat terbaik untuk Nyonya besar ini,"ujar Adam dengan seringai tersungging di bibirnya, ia menutup mata Laras saat algojo mengangguk paham.


Sebilah pisau panjang ia keluarkan, sang algojo mulai mengayunkan benda pipih nan tajam itu, pekik kesakitan mengalun memecahkan keheningan malam. Mata Anne terbelalak melihat darah yang kembali menetes dari luka menganga dari raga yang telah koyak oleh cambukan.


"Nyonya ... Nyonya! Tolong saya!" Pekik Ursula dengan suara yang serak, karena terlalu banyak berteriak.


Adam memberikan isyarat pada Kim, sang asisten yang mengerti langsung mengerakkan tangannya, memerintahkan algojo untuk melepaskan ikatan wanita paruh baya itu.


Bugh


Raga yang telah memerah karena darah itu jatuh ke lantai, jerat ditangan dan kakinya di lepaskan. Wanita itu mengesot membawa tubuh penuh luka menghampiri sang Nyonya.


"Nyonya tolong saya, saya sudah lama mengabdi padamu. Sejak kau masih bayi, aku tidak pernah membantah perintahmu, bahkan untuk meracuni para selir itu, uhuk ...." Darah segar keluar dari mulutnya.


Jijik, kotor, dan mengerikan sorot mata Anne menatap sang pengasuh yang begitu setia padanya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak pernah menyuruhnya melakukan itu, Adam percayalah! Aku tidak pernah melakukan itu, dia melakukan itu atas pemikirannya sendiri!" Elak Anne. Ia menatap Adam dengan penuh percaya diri, ia yakin sang suami akan percaya sepenuhnya pada dirinya.


Adam memasang wajah datar, alih-alih menyahuti ocehan Anne. Adam lebih fokus memanjakan Laras yang ada di pangkuan. Ia tak ingin wanita cantik itu kedinginan, ia semakin mengeratkan pelukan, menempelkan tubuh mereka.


"Nyonya ... Nyonya." Ursula merayap mendekat. Anne dengan tega ia menendang tubuh wanita yang selama ini begitu menyayanginya.


"Pergi kau, jangan mendekati ku!" Hardik Anne.


"Nyonya tolong saya." Meski tendangan dan pukulan Anne terus menjauhkannya.


Namun, Ursula seolah tidak punya rasa sakit lagi, ia terus lagi dan lagi mencoba mendekati anak asuhnya.


Tubuh Laras gemetar, rintihan Ursula mengingatkannya pada rintihan sang ibu kala di siksa oleh ayahnya.


Tuan hentikan ini, tolong.


Laras menarik pelan jas yang ada pakai, sontak membuat Adam menuduh, memandang wajah ayu Laras yang pucat. Alis Adam menyatu, Laras sedikit mendongak menatap sang penguasa itu dengan mata berkaca-kaca.


Laras mengangguk sangat pelan, bagaimanapun ia tidak tega mendengar rintih kesakitan para pelayan itu.


"Jangan pernah melakukan itu, Laras!" Tegas Adam dengan nada lembut. Namun, penuh penekanan.


Laras diam tak lagi melakukan pergerakan, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya pada sang Tuan. Adam tau hati lembut selirnya, tidak akan mampu melihat pemandangan yang sangat indah seperti ini.


Adam bangkit dengan Laras dalam dekapannya. Melihat itu Anne langsung menghentikan langkah Adam, ia berlari ke depan Adam, merentangkan kedua tangannya di depan laki-laki yang tengah menggendong madunya itu.


Mata coklat Adam menajam, menatap Anne dengan dingin. Anne mengangkat dagu, membalas tatapan Adam dengan angkuh.


"Minggir."


"Tidak akan! Sebelum kau turunkan J**ang itu!" Teriak Anne.


Mendengar itu, Laras menggeliat, Berusaha untuk turun dari tangan kokoh sang suami yang tengah mendekapnya erat.

__ADS_1


"Tetap di tempatmu Laras, lantai dingin ini bisa membuatmu sakit lagi," ucap Adam tanpa melihat Laras, gerakan wanita cantik itu pun seketika terhenti.


Meski dilema dengan keadaan, Laras memilih untuk menuruti perintah Adam. Walaupun ia tahu itu akan membuat sang Nyonya semakin marah dan membencinya. Tetapi apa daya Laras, hidup dan matinya ada dalam genggaman tangan sang penguasa itu.


Anne menurun tangan yang tadinya menggantung di udara. Jemari lentik dengan nail art terbaik itu mengepal kuat, hingga melukai telapak tangannya sendiri. Mata jernih Anne menatap nyalang penuh kemarahan pada Laras.


"Dasar wanita tidak tahu malu! Cepat turun! Beraninya kau menggoda Adam ku!"


Teriakkan Anne menggema di tengah rintih kesakitan para pelayan yang tengah disiksa. Tangan Anne terulur hendak menarik rambut Laras yang tergerai, tapi sebelum itu terjadi. Kim dan Kanye mencegahnya.


"Lepaskan! Beraninya kalian menyentuhku!" Anne meronta-ronta dengan terus berteriak.


"Adam suruh mereka melepaskan ku!"


Adam tidak mempedulikannya, ia berjalan melewati Anne begitu saja.


'Maafkan saya Nyonya,' lirih Laras dalam hati.


"Adam!"


"Adam!"


Anne terus berteriak memanggil nama laki-laki yang terus berlalu, tanpa menoleh sedikitpun menoleh kebelakang.


Malam itu Anne di biarkan sendiri dalam Barak penyiksaan, para pelayan yang terluka di lepaskan. Mereka merayap mendekati Anne, seperti zombie yang tengah mencari mangsa.


Flashback off.


Kejadian malam itu begitu membekas bagi Laras, meskipun ia dan sang ibu kerap mendapat pukulan dan makian dari sang ayah saat dia kalah dalam berjudi. Tetapi belum pernah ia melihat seorang di siksa seperti malam itu. Laras belum tahu jika Adam bisa melakukan lebih dari apa yang lihat malam itu.


"Kenapa melamun? Cepat habiskan makananmu."


Laras terjingkat, ia mengangguk kecil lalu segera menghabiskan makanan yang tersaji di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2