
Adam menatap lurus pada wanita yang terbaring lemah di hadapan, dokter baru saja selesai memeriksa dan memberikan penanganan yang tepat untuk Laras. Tentu saja semua itu dilakukan dihadapan Adam, dia tak beranjak sedikitpun dari ruang rawat Laras, atau kemana pun Laras di bawa.
Awalnya dokter tidak mengizinkan, karena takut Adam akan menganggu jalannya prosedur dalam menangani pasien. Tetapi siapa mereka yang bisa menentang keinginan sang penguasa itu.
Saat ini Adam duduk, sementara Frans mulai mengobati luka di tubuhnya. Frans menjahit bagian lengan Adam yang terluka, dengan kondisi Adam yang sadar sepenuhnya saat ini. Pria itu dengan tegas menolak di bius, walaupun bius lokal.
"Sudah," ujar Frans setelah selesai melilitkan perban di lengan Adam.
"Hem," jawab Adam singkat, pria itu bangkit dari duduknya, ia berjalan perlahan menghampiri Laras.
Wajah cantik yang biasa tersenyum kepadanya, kini terlihat pucat. Mata lentik yang sedang tertutup menyembunyikan manik mata berwarna coklat itu sungguh manis.
Ada sesuatu yang tidak bisa Adam mengerti, kenapa dia begitu ingin wanita itu membuka mata. Kenapa dia sangat perduli dengan Laras? Cinta, apa yang ia rasakan saat ini adalah Cinta? Atau sekedar kasihan karena wanita itu begitu lemah, dan Adam bersimpati karena dia mengandung anaknya.
Laras menggeliat, mengagetkan Adam dari lamunannya.
__ADS_1
" Tidurlah, aku akan menjagamu di sini," bisik Adam pada Laras, wanita itu pun kembali tenang dan terlelap.
Frans menatap sepasang kekasih itu dengan nanar, akan sulit bagi Laras jika Adam menjadikan dia istri sesungguh. Saat ini banyak sekali orang yang mengincar nyawanya, dan Laras juga belum bisa bela diri.
Tanya Adam masuk kedalam selimut, di usapnya perut Laras yang masih rata. Baru beberapa jam yang lalu Frans membawa kabar bahwa dia akan menjadi seorang ayah. Tentu saja Adam bahagia, meskipun kehamilan Laras bukanlah sesuatu yang ia rencanakan.
Sorot mata Adam begitu dingin, saat dokter menyatakan kalau janin dalam kandungan Laras sudah terlepas dari dinding rahim. Dan harus di keluarkan segera.
Dengan berat hati Adam mengizinkan dokter mengeluarkan janin yang masih berupa gumpalan darah itu. Saat melihat proses, dan benar-benar melihat apa yang dikeluarkan dokter dari Laras, tubuh Adam menegang, tangannya mengepal kuat mengutuk perbuatan Anne yang berani melangkah sampai sejauh ini.
Adam hanya mengangguk mengiyakan, tetapi ia tidak beranjak sama sekali dari samping sang selir. Frans hanya bisa menghela nafas melihat Adam, di saat seperti ini ia tidak akan mendengar ucapan orang lain, lebih dari biasanya.
Frans pun memilih meninggalkan dua sejoli itu, memberikan mereka ruang untuk bersama.
Perlahan Adam naik keatas ranjang yang selirnya tempati. Adam tidur miring, memeluk erat tubuh Laras dalam pelukannya.
__ADS_1
"Selamat Laras, kau satu-satunya wanita yang mampu membuat aku lemah, kau berhasil memporak-porandakan hatiku," ujar Adam lirih ditelinga Laras..
Tak ada respon dari wanita itu, ia masih di bawah pengaruh obat bius. Adam menyibakkan rambut Laras yang menutupi wajahnya. Cantik, sangat cantik. Bahkan di saat seperti ini sekali pun.
Keduanya terlelap, setelah sama-sama melewati hari yang melelahkan.
.
.
.
Pagi menyapa, cahaya matahari baru saja berpendar menyinari bumi dengan begitu malas. Pagi ini memang mendung, awan-awan pekat sudah bergelayut manja dengan langit, seolah.
Laras baru saj membuka matanya, ia terkejut melihat sang penguasa ada disampingnya. Laras menusuk-nusuk lengan Adam, seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa ini adalah kenyataan
__ADS_1