Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 25


__ADS_3

Matahari sudah meninggi saat Laras membuka matanya, ia melewatkan jam sarapan. Waktu menunjukkan kalau ini sudah mendekati waktu makan siang.


Mata Laras terbuka dengan lebar, saat melihat sang penguasa terlelap disampingnya. Mata Laras mengerjap, seolah tak mempercayai pengelihatannya sendiri,. mungkin SMA seperti pita suara yang kehilangan fungsi, seperti itu juga mata Laras yang mulai berhalusinasi nasi.


Tangan Laras perlahan menyentuh wajah Adam, pipi, hidung dan kedua matanya.


Kenapa ini terasa begitu nyata?


"Apa kau sudah puas, menikmatinya?" Tanya Adam dengan mata yang masih terpenjam.


Laras terkejut, sontak ia menarik tangan yang tertancap slang infus itu menjauh, tetapi gagal karena Adam memegang dengan cepat. Adam membuka matanya, ia terkejut melihat Laras yang meringis kesakitan.


"Maaf, apa terasa sakit?" Adam segera melepaskan genggamannya, ia tidak tahu jika tangan Laras yang menyentuhnya adalah tangan yang tertancap jarum infus.


Deg


Maaf, bagaimana bisa penguasa itu meminta maaf pada gundik sepertinya. Laras langsung menunduk, ia merasa tidak pantas mendapatkan ucapan maaf dari Adam. Siapakah dia? Hingga Adam meminta maaf padanya.


"Hem, bangunlah. Kau sudah melewatkan sarapan tadi," ucap Adam seraya bangkit dari tempat ia berbaring. Menemani sang selir yang masih bingung dengan apa yang terjadi.


Adam turun dari ranjang dimana Laras masih berbaring dengan bingung. Adam menarik troli makanan yang sudah disiapkan khusus oleh pihak rumah sakit, tentu saja sangat berbeda dengan pasien yang lain, sekali pun itu tamu VVIP mereka tidak akan mendapatkan pelayanan seperti Laras.


Adam mengubah posisi brankar Laras, agar selirnya itu bisa duduk tanpa harus bangkit dari tempat ia berbaring. Laras hanya diam, menatap wajah Adam lekat, seolah semua ini mimpi.


"Mungkin bubur ini sudah dingin, apa kau mau aku menyuruh mereka menyiapkan yang lain?" Tanya Adam, sambil mengaduk sesuatu di mangkok.


Laras menggeleng tanpa mengerakkan tangan. Dia hanya terus melihat Adam, laki-laki itu duduk di tepi ranjang. Mengarahkan sesuap bubur pada wanita yang masih menatapnya lekat.


"Perutmu tidak akan kenyang hanya dengan melihatku," ucap Adam sambil menyuapkan sesendok bubur pada sang selir.

__ADS_1


Dengan sukarela Laras membuka mulut, membiarkan makanan itu masuk dengan leluasa. Mata bermanik coklat itu masih menatap Adam dalam, seolah Adam bisa hilang jika dia berkedip.


"Anda juga makanlah," ujar Laras dengan bahasa isyarat.


Adam menghela nafas." Tidak usah banyak bergerak, aku juga tidak paham apa yang kau katakan."


Laras tersenyum, ia mengambil sendu dari tangan Adam. Adam melihat Laras heran, tetapi ia membiarkan wanita itu melakukan apa yang dia inginkan.


Laras menyodorkan sendok berisi bubur pada laki-laki dihadapannya itu.


"Kau saja, aku tidak -," ucapan Adam terhenti, melihat Laras yang menatapnya dengan memohon membuat dia luluh.


Adam pun membuka mulut menerima suapan Laras. Bibir pucat Laras mengembang sempurna. Namun, tiba-tiba Laras meringis sambil memegang perut bagian bawah.


Adam pun sontak meletakkan mangkok yang ia pegang, lalu menekan tombol untuk memanggil perawat.


"Apa masih terasa sakit?"


Laras tersenyum, ia menepuk pundak Adam yang sedang membungkuk disampingnya, turut mengusap lembut perut Laras.


"Apa kau bodoh! Sakit seperti ini juga masih tersenyum!" Bentak Adam.


"Sakit ini tidak masalah bagiku Tuan, aku rela merasakan sakit seperti ini setiap saat jika itu membuat Anda bisa di sisiku seperti ini," gumam Laras dalam hati.


Betapa bahagianya Laras mendapatkan perhatian seperti ini dari laki-laki yang begitu ia cintai. Laras sadar, siapa dirinya, tidak pantas ia mengharap Adam untuk membalasnya, biarlah dia cinta sendiri, biarlah dia melayani sang penguasa dan menyerahkan seluruh hatinya. Biarlah.


Beberapa saat kemudian dokter bersama perawat datang dan memeriksa keadaan Laras, tentu mereka tak lepas dari amukan Adam yang menilai mereka terlalu lambat.


"Tidak ada yang serius Tuan, ini hanya gerakan otot rahim untuk mengeluarkan darah kotor yang tersisa, rasanya sama seperti saat kram datang bulan," ujar sang dokter menjelaskan.

__ADS_1


"Apa katamu?! Tidak ada yang serius! Lalu kenapa dia kesakitan seperti itu, jawab!" Teriakan Adam menggema di seluruh ruangan.


Mendengar penjelasan dokter tentang datang bulan membuat Laras sadar, ia belum mentruasi bulan ini. Mata Laras terbelalak, ia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.


Apa-apa aku hamil? Lalu apa, kenapa tadi dokter bilang, kram seperti datang bulan?


Tidak, ini tidak mungkin seperti yang aku pikirkan.


Laras menoleh, dengan tangan gemetar ia menarik ujung lengan kemeja yang melekat di tubuh Adam. Laki-laki yang sedang mengomeli dokter dan perawat itu menoleh seketika, ia tertegun melihat Laras yang menatapnya dengan sorot mata yang menuntut jawaban.


"Keluar dan suruh Frans kemari!" Titah Adam pada dokter yang memeriksa Laras.


"Baik Tuan."


Dokter dan perawat itu segera pergi menjauh, dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Adam.


"Kita tunggu Frans." Adam menghenyakkan bokongnya di tepi ranjang, di pelukannya tubuh Laras yang mulai gemetar.


Tak seperti biasanya, pelukan Adam sama sekali tidak bisa meredam rasa yang berkecamuk dalam hati Laras. Dia butuh jawaban, dia butuh sebuah penjelasan.


Adam bukan tidak tahu apa yang ingin Laras tanyakan. Bukannya ia tidak bisa berkomunikasi mengunakan ponsel dengan Laras. Namun, dengan adanya Frans yang mengerti bahasa isyarat akan lebih efesien. Dan juga , Frans yang tahu dengan pasti apa yang terjadi pada Laras malam itu.


Ribuan pertanyaan berjubel di pikiran Laras, sebuah ketakutan yang besar mencengkeram relung jiwanya yang rapuh. Ia berharap semua yang dia pikirkan tidaklah benar, tetapi entah kenapa hatinya mengatakan apa yang ia pikirkan benar adanya.


Dalam kekalutan Laras tak henti memanjatkan doa, tangannya yang pucat memegang erat kemeja Adam. Ia semakin menenggelamkan diri dalam pelukan Adam, mencari ketenangan di sana.


Tak lama Frans datang, Laras yang mendengar suara deritan pintu terbuka tak berani mengangkat wajahnya. Ia sungguh takut menghadapi kenyataan, Adam menoleh mengisyaratkan agar Frans duduk di sofa yang terletak tak jauh dari ranjang Laras.


Frans yang mengerti segera melangkah kemana dagu Adam bergerak. Hening, suara angin terdengar lemah membelai tirai jendela, membuat kalian berwarna hijau itu meliuk-liuk, menari dengan bebas.

__ADS_1


"Apa kau ingin menanyakan sesuatu padaku?" Tanya Adam memecah keheningan di ruangan itu.


Laras semakin merapatkan matanya, seiring tarikan nafas dalam Laras, ia menarik wajahnya sedikit menjauh agar bisa melihat wajah Adam. Manik mata Adam menatapnya dengan penuh arti, Laras mengangguk. Ia kemudian berganti menoleh melihat Frans, setelah mengambil nafas dalam, Laras mulai menggerakkan tangannya.


__ADS_2