Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 32


__ADS_3

Mata Kim terbuka lebar saat melihat seorang manusia yang tengah duduk di sofa yang ada di ruangan itu, kakinya menyilang. Dia menatap lurus pada jendela kaca yang terbuka lebar, mempersilahkan cahaya purnama masuk dengan leluasa.


Kimono mandi yang di gunakan menyibak sampai ke paha, seolah sengaja memamerkan betapa cantik dan indahnya dia.


Kim memegangi kepalanya yang berdenyut. Jam dinding berdentang menunjukan pukul dua dini hari. Kim menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya yang polos. Ingin tak percaya tetapi sepertinya inilah yang terjadi.


"Apa kita benar-benar melakukan itu?" Tanya Kim saat ia sudah berdiri berhadapan dengan Frans.


"Menurutmu?" Frans masih menatap jauh pada indahnya rembulan, rasa dingin seolah tak mengusiknya begitu pula keberadaan Kim yang tak memakai sehelai benang pun di hadapan wanita berambut pendek itu.


Kim berdecih, menjambak rambutnya frustasi. Bagaimana dia bisa melakukan hal seperti itu dengan Frans, mahluk jadi-jadian yang paling Kim benci. Kim melirik tajam pada Frans yang duduk mematung memuja sang rembulan.


"Kau tau, aku tidak tahu bagaimana ini terjadi, mungkin aku terlalu mabuk. Aku harap kau bisa bisa melupakan ini, anggap ini tidak pernah terjadi!" Tegas Kim.


"Terserah," jawab Frans tanpa menoleh.


Kim berdecak, ia merasa Frans mengacuhkannya. Tetapi perduli setan dengan itu, Kim sendiri merasa jijik dengan dirinya sendiri karena melakukan hubungan intim dengan Frans, entah lubang mana yang i a masuki saat mabuk tadi.


Kim melangkah menjauh, memunguti pakaian dan segera memakainya. Setelah itu Kim keluar dari kamar Frans tanpa menoleh atau basa-basi sedikitpun.


"Aku benar-benar gila! Menjijikkan!" Umpat Kim sepanjang perjalanan ke kamarnya.


Fransisca, mana itu tersemat untuk dia saat Frans lahir. Semua orang senang saat kelahiran seorang bayi dalam keluarga, tetapi tidak keluarga Frans. Wanita hanya menambah beban, kehadiran seorang putra lah yang paling di nanti keluarga itu.


Apalagi seiring pertumbuhan tubuh Frans, ada hal lain yang mulai tumbuh, dan lainnya malah tak berkembang dengan semestinya. Dia dianggap kutukan, monster, mahkluk aneh. Bimbang dan bingung dengan dirinya, Frans bukan tidak mendapatkan dukungan justru ia di bully bahkan di keluarganya sendiri.


Wanita itu mendesah pasrah, menyandarkan tubuhnya di sofa. Kepala Frans mendongak menatap langit-langit. Kim, tidak terlalu buruk sebagai laki-laki pertama yang menjamah tubuh Frans.


Fransisca mempunyai lahir dengan alat kelamin wanita. Namun, ada alat kelamin pria yang tumbuh meskipun tidak sempurna. Frans, miliki kelamin ganda yang tidak sempurna, sebagai seorang wanita dia tidak punya rahim dan sebagai pria alat kelaminnya juga tumbuh hanya seukuran kelingking dan tidak memiliki buah *****.


Saat usia lima tahun keluarga Frans meminta dokter untuk menutup alat kelamin wanita miliknya. Namun, karena pembentukan alat kelamin pria yang tidak sempurna akhirnya jahitan pada kelamin wanita kembali di buka dan di kembalikan seperti semula. Selama hidup, Frans merasa seperti boneka.

__ADS_1


Ia di jadikan kelinci percobaan oleh beberapa orang gila yang mau membayar pada orang tuanya. Tentu saja mereka sangat senang, karena me dapatkan uang dengan jumlah yang cukup lumayan.


Hal yang sangat langka, Hanya lima orang di dunia ini yang lahir dengan kelamin ganda dengan berbagai macamnya. Frans yang sering di bully karena kelainan itu memutuskan untuk menjauhi ikatan yang dinamakan cinta, pernah sekali ia jatuh hati pada seseorang pria. Hancur, hanya satu kata itu akhir yang Frans dapatkan.


"Sudahlah, anggap saja ini mimpi," gumam Frans sambil menutup mata dengan mengunakan lengan.


Area inti Frans masih terasa nyeri akibat ulah Kim yang bermain sedikit kasar. Berusaha untuk menganggap malam ini hanya mimpi, jika itu mungkin. Sekarang saja masih terasa begitu nyata, dia mana tangan Frans menyentuhnya, masih terasa hangat bibir tipis saat mereka saling memagut.


Frans menggeleng cepat, ia tidak ingin mengingat hal itu lagi. Kim sama dengan yang lain, menganggap dia sebagai mahluk aneh, manusia jadi-jadian.


"Semua sama saja!" Frans mengepalkan tangannya, ia bangkit dan melangkah cepat ke kamar mandi meskipun masih terasa nyeri untuk berjalan.


Sementara itu Kim di kamarnya melakukan hal yang sama. Ia berdiri mengguyur diri di bawah air dingin. Menggosok tubuh dengan kuat, seolah tubuhnya sangat kotor.


"****! Kenapa tidak hilang juga!" Pekiknya kesal.


Aroma manis parfum Frans masih saja melekat di tubuhnya, menempel dengan kuat. Bagaimanapun Kim mencoba untuk menghilangkan wangi itu, tetap saja tidak hilang.


Gerakan menggosok tubuh Kim terhenti, saat sekilas wajah Frans melintas di benaknya. Sayu, tampak begitu ayu tanpa polesan make up sedikitpun. Mata beningnya memancarkan rasa kecewa, kosong ada sebuah amarah yang ia pendam sangat jauh di sana.


.


.


.


.


.


Pagi menyapa, Kim sudah siap untuk menjalankan aktivitas seperti biasa. Tak ada libur untuknya, ia juga tidak mengharapkan itu.

__ADS_1


Jika Kim sudah siap, berbeda dengan Adam yang masih bergulung dalam selimut, meskipun Laras sudah membangunkan dia beberapa kali. Laras duduk menghadap jendela besar yang telah di buka dengan perintah suara. Tangan lentiknya tak berhenti mengusap rambut Adam yang sedang bermanja di pangkuan Laras.


Tangan Adam menyusup dibalik gaun tidur yang istrinya kenakan, mengusap lembut perut Laras yang masih rata.


"Apa belum ada tanda-tanda, Adam junior disini?" Tanyanya dengan mata terpejam.


Laras menggeleng cepat." Sepertinya belum, aku masih kedatangan tamu bulanan kemarin."


"Tamu bulanan?"


Adam membuka matanya, menautkan kedua alis dengan heran, ia perlahan bangkit dan duduk.


"Tamu? Siapa? Apa ada orang yang berani masuk ke mansion tanpa sepengetahuan ku?!"


Laras menoleh, menatap wajah Adam yang geram dengan tatapan lucu.


"Siapa yang berani masuk ke sini tanpa izin Anda Tuan, bahkan nyamuk saja harus punya izin terbang khusus jika ingin masuk ke dalam mansion ini. Maksud ku bukan orang, tapi em... Hal yang di alami wanita setiap bulannya," ujar Laras menjelaskan dengan sedikit malu-malu di akhir kalimatnya.


"Hem, kapan Junior bisa ada?" Adam menarik tubuh mungil Laras kedalam pelukan.


"Tidak tahu, kenapa? Apa kau ingin anak dariku?"


"Tentu saja, kalau bukan darimu lalu dari siapa aku akan mendapatkan keturunan, Sayang." Adam mencubit gemas hidung Laras yang lancip.


"Aa.... Sakit,"rengek Laras sambil mengusap hidungnya yang memerah.


Adam tergelak, ia menyatukan keningnya dengan sang istri. Mata Laras terpejam, merasakan deru nafas hangat Adam yang menerpa wajahnya.


"Apa kau siap? Setelah ini hidupmu tak akan sama lagi, kemanapun kau melangkah semua orang pasti akan memperhatikannya, mereka akan mencari celah untuk mendekati dan melukaimu, karena kau adalah kelemahanku."


Laras tersenyum, masih dengan terpejam dia Laras menyentuh rahang kokoh Adam.

__ADS_1


"Apakah kau menyesal telah memilih ku?"


Adam terkejut, matanya terbuka lebar, menatap tajam pada mata teduh yang tengah melihatnya dengan senyuman.


__ADS_2