
Laras mengangguk. "Kenapa Frans begitu aneh hari ini? Dia berbicara lagi formal, sangat aneh. Dan apa janji yang kalian bicarakan tadi? Apa aku boleh tahu?"
Adam tersenyum, ya laki-laki itu sekarang lebih banyak tersenyum bila berada bersama Laras.
"Tentu saja, aku rasa tidak ada alasan untuk aku menyembunyikan darimu. Ini tentang mu, tentang Adam junior."
Adam sedikit memutar tubuh Laras, dari wanita itu duduk menghadapnya.
"Adam junior?" Tanya Laras dengan polos, Adam mengangguk.
Ia membuka sedikit kaki Laras, hingga kedua kakinya terbuka dan dan benar-benar menghadap Adam, dengan manja Laras mengalungkan tangan di leher sang penguasa.
"Sebenarnya ada sesuatu yang belum sempat aku ceritakan, kau mengalami infeksi setelah keguguran. Kata dokter itu akan membuat kita mungkin akan sulit mempunyai keturunan, tapi bukan berarti tidak bisa. Frans berjanji akan membantu kita, untuk itulah tadi dia meminta waktu dua bulan," ujar Adam panjang lebar.
Laras mengambil nafas berat, dengan tatapan kosong ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Adam. Adam tahu betapa sedih Laras saat ini, karena dia pun sama, dengan sayang dia mengusap surai hitam yang tergerai indah.
"Jadi teh pahit yang aku minum selama ini itu untuk memulihkan rahimku?"tanya Laras lirih dalam dekapan Adam.
"Hem."
Laras melingkar tangannya erat di pinggang Adam, dengan satu tangan Adam menopang tubuh Laras. Pria itu bangkit dari duduknya, mengendong Laras seperti koala. Dari kursi kerja Adam, mereka berpindah ke sofa besar yang nyaman yang ada diruang itu.
Dibaringkannya Laras di atas sofa itu, mata keduanya saling bertemu dengan tatapan penuh kasih Adam mulai menyusuri lekuk leher sang permaisuri.
"Bagaimana kalau ada yang masuk?" Tanya Laras dengan nafas memburu.
Adam menarik tubuh, setelah meninggal beberapa jejak di leher Laras. Ia mengusap bibirnya yang besar dengan ujung jempol.
"Tidak ada yang berani masuk tanpa izin dariku, Sayang."
Adam kembali menyatukan mereka, menyesap hangat dan manis bibir Laras. Tangan kekarnya tak tinggal diam, ia mulai menyusup, menjelajahi tubuh Laras yang mulai polos.
Kembali kedua insan itu memadu kasih, mereguk kenikmatan surga untuk ke sekian kali. Seolah tak pernah cukup bagi Adam untuk menyentuh tubuh Laras, yang sudah sangat membuatnya candu.
"Apa kau bahagia?" Tanya Adam saat mereka selesai.
Laras mengangguk, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Wanita itu bersandar manja di dada sang suami yang bersandar pada sofa.
__ADS_1
"Apa ini benar-benar tidak nyata? Semua ini seperti mimpi."
Adam mencubit gemas pipi Laras, hingga wanita itu merengek manja. Membuat Adam tertawa dan malah mencubitnya lagi.
"Sakit," rengek Laras. Ia sedikit menarik wajahnya agar bisa melihat wajah Adam yang tertawa melihat dia kesakitan.
"Kau suka sekali menyakitiku," ujar wanita itu dengan cemberut.
"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi." Adam mencium pipi yang ia cubit sebelumnya.
Adam merasa takut jika Laras benar-benar marah padanya. Laras tersenyum kecil, ia tidak menyangka jika reaksi Adam bisa seperti itu.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Laras dengan ragu.
"Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan," ucap Adam.
Laras kembali bersandar manja di dada polos Adam." Apa sebelumnya kau juga seperti ini dengan selir-selirmu?"
Dahi Adam berkerut mendengar pertanyaan sang istri.
"Maksudnya, kau punya banyak selir dan bahkan seorang nyonya besar di rumah ini. Apa kau juga memperlakukan mereka seperti aku? Aku tahu seharusnya aku tidak bertanya tentang ini, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Tidak apa-apa kan?" Ada rasa takut yang terselip di pertanyaan Laras.
Adam tersenyum miring, dia sedikit menjauhkan tubuh Laras agar bisa melihat wajah ayu sang istri dengan lebih leluasa. Mata lentik Laras mengerjap, menatap sang suami dengan polosnya.
Adam mengecup kening, dia kelopak mata secara bergantian, ujung hidung dan berakhir dengan ciuman mesra di bibir Laras yang sudah polos tanpa lipstik.
"Hanya kau yang pernah aku perlakuan seperti ini," jawab Adam, ia mendekap tubuh polos Laras erat.
"Aku akui aku memang berhubungan intim dengan mereka tapi tidak dengan Anne, dia ada di sini hanya karena permintaan Jason."
Hati Laras merasa tercubit mendengar jawaban Adam, ah seharusnya dia tidak bertanya. Tapi itulah wanita, mereka ingin tahu kebenaran meskipun itu mereka tahu kalau itu hanya akan membuat mereka sakit.
"Tapi percayalah, aku tidak pernah menganggap mereka lebih dari sekedar pemuasku. Aku juga selalu mengunakan pengaman," sahut Adam cepat, ia tidak ingin istrinya itu berpikir kalau dia mengunakan perasaan saat bersama selir-selirnya dulu.
Laras mengambil nafas dalam, kemudian mengeluarkannya dengan helaan berat.
"Lalu bagaimana denganku? Aku juga datang sebagai pemuasmu, apa aku juga sama seperti mereka?" Laras melanjutkan pertanyaan bodohnya.
__ADS_1
"Tidak."
"Tidak?" Ulang Laras.
"Hem, kau aneh. Kau tidak sama dengan mereka. Pertama kali aku melihatmu, kau seperti kucing kecil."
"Aku, kucing? Kau samakan aku dengan kucing?"tanya Laras dengan nada yang mulai meninggi.
Laras mendorong tubuh pria itu menjauh, dengan berani dia memelototi Adam.
"Sssh ...." Adam merapikan rambut Laras, menyisipkan anak rambut ke belakang telinga.
"Wanita lain datang dan menawarkan tubuh mereka. Tapi kau, saat aku datang ke kamar, kau malah menggigil ketakutan, kau seperti kucing yang basah kuyup oleh hujan. Mahluk kecil yang membuat aku merasa harus melindungi mu," Adam berkata dengan lembut, ia belum pernah berbicara semanis ini sebelumnya. Pada siapapun, termasuk Jason.
Laras pun luluh dengan ucapan Adam. Masih dengan muka yang pura-pura cemberut, Laras bangkit, bertumpu pada kedua lututnya. Dengan berani ia mengalungkan tangannya di leher Adam, menarik wajah pria, itu hingga tak ada lagi jarak diantara mereka.
"Dengarkan aku Tuan Adam Mahadev, untuk sekarang dan sampai akhir hidupmu. Kau tidak diperbolehkan untuk menyentuh wanita manapun selain aku, di matamu ini tidak boleh ada bayangan wanita lain selain aku, selagi aku bernafas kau hanya di perbolehkan untuk memujaku. Apa kau mengerti Tuan."
Adam tersenyum miring." Sesuai perintah Anda Nyonya Mahadev."
"Bagus."
Laras memekik kecil, saat Adam membalikkan tubuh Laras dan kembali mengungkungnya.
"Kita akan terus bicara seperti ini, atau melakukan hal lain?" Tanya Adam dengan senyum nakal.
"Apa ada hal lain yang bisa kita lakukan Tuan?"
"Tentu."
"Apa?"
"Apa pun permintaan Anda akan saya lakukan."
"Hem, kalau begitu bisa kau menghangatkan aku Tuan, aku sedikit kedinginan."
"As your wish, My lady."
__ADS_1
Keduanya tertawa kecil, Adam belum pernah sebahagia ini sebelumnya. Ia berharap kehidupannya bersama Laras akan terus bahagia.