
Set.
Melihat keadaan gelap gulita, membuat laki-laki berambut sebahu itu menyeringai senang. Setelah berhasil membuka jendela kamar yang menjadi targetnya, Jason masuk dengan mengendap-endap seperti maling ayam.
Sret
Jason menyibakkan selimut yang menutupi sesuatu dibawahnya. Jason melebarkan mata, tubuh pria itu menegang saat benda dingin dan tajam menekan di pembuluh darah lehernya.
"Ja-jane, ini aku," Jason berkata dengan terbata-bata, mata pisau semakin mendekat dan menekan kulitnya.
Set
Brugh
Jane menarik pisau dari leher Jason, menindih pria itu dengan lutut dan mengunci tangannya kebelakang.
"Apa yang kau inginkan,"ujar Jane dengan suara dingin.
"Lepaskan aku dulu, please. Kita bisa bicara baik-baik," ujar Jason memohon.
"Please Jane, tanganku sakit."
Jane berdecih, dan melepaskan tangan Jason. Jane bangkit dan menyalakan lampu kamar, dalam sekejap kamar menjadi terang. Jane berdiri dengan tangan yang dilipat di dada dan menatap nyalang pada Jason. Pria itu perlahan bangkit mengusap pergelangan tangan yang sedikit memerah.
Jason tersenyum memamerkan gigi putih menawan miliknya pada Jane, sedangkan wanita cantik hanya memutar matanya jengah melihat Jason.
"Ada apa kau ke kamarku? Dan kenapa kau tidak mengunakan pintu Tuan Jason?!" Tanya Jane dengan setengah berteriak pada Jason.
"Aku hanya ingin bertemu dengan mu, apa jika aku mengetuk pintu kau akan membukanya? kau terus berusaha menghindar dari ku Jane, kenapa?" Jason bangkit dari tempat tidur Jane, ia berjalan mendekat pada wanita cantik berbalut pakaian serba hitam itu.
"Aku rasa Anda salah paham Tuan, saya tidak pernah menghindari Anda. Saya hanya berusaha melakukan tugas saya di sini dengan baik," jawab Jane tanpa keraguan.
Jason menatap wajah cantik Jane lekat, wanita itu menatap tajam pada Jason yang sedang memperhatikannya.
__ADS_1
"Jangan mengunakan tatapan mata itu padaku Jane."
Perlahan Jason mengitari tubuh Jane, perlahan tangan kekar pria berambut sebahu itu melingkar di pinggang kecil Jane.
"Jangan lari dari hatimu, aku serius dengan ucapan ku waktu itu. Jennifer, aku menyukaimu," lirih Jason berbisik dari belakang telinga Jeniffer.
Jennifer menutup matanya, merasakan hembusan hangat nafas Jason yang menyapu leher jenjangnya. Hanya Jason yang akan memanggil dia dengan nama Jane yang sebenarnya, Jeniffer Hanna. Dan dia selalu menyukainya.
Jennifer menangkap tangan Jason yang mulai nakal, menekuknya kebelakang mendorong tubuh pria itu hingga menabrak dan menghimpitnya di dinding.
"Jangan samakan aku dengan wanita yang ada di luar sana Tuan Jason, saya tidak ada terlena dengan rayuan murahan Anda." Jane semakin menekan tubuh Jason pada dinding kamarnya.
"Aku tidak pernah merasa kau sama seperti wanita lain, ugh. Aku benar-benar menyukai mu, aku mencintaimu Jennifer ugh."
Jane menendang menyerang bagian belakang lutut Jason, hingga pria itu mengerang keras dan jatuh bersimpuh.
"Keluar J, sebelum aku menghajar mu!" Pekik Jane kesal, ia melepaskan tangan Jason dan melangkah menjauh dari pria yang juga ia cintai itu.
Jennifer menghempaskan tubuh di sofa, memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Selama beberapa hari ia memang sengaja menghindar dari Jason, bahkan saat latihan ia menyuruh senior lain untuk mengantikan dia. Jennifer lebih memilih untuk berjaga di pos-pos penjagaan yang ada di pulau itu agar tidak bertemu Jason, dan tentu saja Jason mengetahui hal itu.
Jennifer tidak menjawab, ia dengan sengaja melemparkan pandangan sembarangan menghindari Jason. Pria tampan itu berlutut di depan Jane, menggenggam tangan wanita itu erat.
Jennifer menoleh, matanya membeliak lebar melihat apa yang dilakukan Jason.
"Apa yang kau lakukan?! Berdiri! Tidak pantas seorang Tuan muda melakukan hal ini!" Bentak Jennifer saat melihat Jason.
Jason menggeleng. Jane melepaskan tangan dari genggaman Jason, dan mendorong tubuh pria itu menjauh. Namun,Jason kembali pada posisinya semula, berapa kali pun Jane mendorong tubuhnya,meskipun sampai jatuh tersungkur.
"Ayolah J, jangan seperti ini. Kau menjijikan! Apa seperti ini caramu memohon cinta pada wanita-wanita diluar sana?! Menjijikkan J, sangat menjijikkan, kau membuatku mual!" Jennifer berteriak kesal.
Ia bangkit dari duduknya, tetapi Jason terus sana meraih dan memegangi tangannya dengan memohon.
"Aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, pada Anne sekalipun," sahut Jason dengan penuh penekanan, Jane berdecih melepaskan tangan yang segera di genggam kembali oleh Jason.
__ADS_1
Jane berusaha bangkit, tetapi Jason membuatnya kembali duduk. Mendengar nama Anne membuat Jennifer kesal, seberapa kuat dia, seberapa tangguh dia melumpuhkan lawan, Jennifer tetap saja seorang wanita biasa punya sisi seperti wanita pada umumnya.
"Apa lagi J, jangan harap aku percaya dengan semua ucapanmu." Jennifer tersenyum miring, meremehkan pria yang ada di hadapannya.
"Aku tahu mungkin sulit bagimu untuk percaya padaku."
"Bukan mungkin, tapi mustahil aku untuk percaya padamu. Pergilah, kau membuat udara di sini tercemar." Jennifer mengibaskan tangannya, menatap benci pada Jason.
"Aku mohon Jane, beri aku kesempatan sekali saja, aku mohon." Jason menakupkan kedua tangannya di dada, melihat Jeniffer dengan mata yang melebar, memelas.
Jennifer menghela nafas panjang, memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening." Astaga, kau benar-benar huff .... Baiklah, aku beri satu kesempatan."
Mata Jason berbinar, mendengar ucapan Jane.
"Besok pagi temui aku di pantai, jika kau kalah jangan pernah mendekati aku lagi," ucap Jeniffer dengan penuh penekanan.
"Kalah? Apa kita akan duel?"
Jennifer mengangguk. Jason meneguk ludah, tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering.
"Satu kali kesempatan Tuan Jason, sekarang keluar dari kamar ku!" Jane menegakkan telunjuknya ke arah pintu.
"Baiklah, besok aku pasti akan mengalahkan mu." Jason bangkit dari langit tempat ia bersimpuh, meskipun dengan tertatih karena merasakan kesemutan pada kedua kakinya.
Jane mengibaskan tangannya, ia sudah malas melihat Jason.
"Good night."
Jennifer menunjukkan tinjunya, saat Jason hendak mendekat dan mendarat ciuman di kening. Dengan kecewa Jason pun mundur teratur, meskipun tak mendapatkan ciuman selamat malam. Namun, Jason merasa senang bisa mendapatkan satu kesempatan.
Setelah Jason pergi, Jeniffer masih duduk tercenung di sofa. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Dia ingin percaya tapi takut kecewa, dia ingin mencintai tapi sadar dia siapa.
Dia bukan orang yang sepadan dengan Jason. Jane tersenyum getir, menyadari betapa munafik nya dia. Selama ini dia bermimpi untuk bisa bersama dengan laki-laki itu, tetapi saat dia datang Jane tak bernyali untuk menggapai cinta itu. Dia tak cukup berani untuk mengambil resiko patah hati, jika Jason hanya menjadikan dia sebagai pelarian saja.
__ADS_1
"Aku harap kau akan mundur setelah besok, Jason," gumam Jane lirih, berat baginya seperti ini.