Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 38


__ADS_3

Seorang laki-laki yang sudah tak mempunyai tangan di gantung di atas akuarium berisi ratusan ikan piranha yang kelaparan. Pria itu hanya mengenakan celana pendek untuk menutupi area intinya.


Adam berjalan sambil menggulung lengan kemejanya, senyum smirk dingin dengan mata elang yang penuh amarah menatap tawanan yang ia jadikan umpan untuk memancing hari ini.


Seorang pengawal mendekatkan kursi untuk Adam, pria itu duduk dengan menyilangkan kedua kakinya tangan Adam terlipat dengan tubuh yang bersandar sepenuhnya pada kursi hitam yang ia duduki.


"Ehhmm!" teriak pria yang tergantung itu, tetapi tertahan karena sumpalan kain bau yang memenuhi mulutnya.


"Buat dia bicara!"


Salah satu anak buah Adam menaiki tanga di sebelah akuarium untuk mengambil kain yang menyumpal mulut Yang.


"Hah ...hah ....hah...!" Yang meraup oksigen sebanyak yaang ia banyak yang ia bisa.


"Bunuh aku sekarang, Bangsat!" teriak Yang, Adam tersenyum miring menanggapi teriakan Yang Jiang.


"Apa Kau tidak ingin bermain dengan ku? bukankah kau tadi begitu bersemangat Yang?" tanya Adam dengan sinis.


"Cuih, aku lebih baik mati daripada menemanimu bermain!"


Adam bangkit, berdiri dengan tangan yang ia masukkan ke saku. Dengan dagunya Adam memberikan isyarat pada algojo untuk menurunkan Yang kedalam akuarium.


Bau amis darah dati luka yang menetes tentu mengundang ikan ganas itu mendekat. Yang menjerit saat merasakan kakinya terkoyak oleh ratusan gigi yang mulai mengoyak daging kakinya, warna merah mulai menyebar dalam akuarium. Jerit kesakitan Yang bagai alunan lagu yang indah ditelinga Adam.


Penguasa itu mengangkat tangan, sang algojo mengerti dan mengangkat kaki Yang yang sudah tercabik dan hampir memperlihatkan tulang kakinya.


"Bangsat! bunuh aku cepat!" Teriak Yang yang sudah merasakan sakit yang teramat, kakinya terkoyak sampai betis darah segar mengalir dari sisa daging yang menempel di tulangnya.


"Ck, kenapa kau merengek seperti perempuan. Hanya luka seperti itu kau sudah menyerah," ejek Adam, pria dingin itu mengerakkan kepalanya.


Katrol kembali diputar, tubuh Yang kembali masuk ke akuarium besar. Yang kembali menjerit kesakitan, kali ini gigi tajam ikan pemangsa itu sampai keatas lutut.


Butiran keringat sudah membanjiri tubuhnya, rasa sakit yang teramat membuat Yang perlahan memejamkan mata dan hampir tidak sadarkan diri. Namun, sebelum itu terjadi Adam menyemprotkan air dingin tepat diwajahnya, membuat Yang kembali tersadar.


Anne yang melihat penyiksaan itu hanya bisa ketakutan, tubuhnya gemetar sampai tak sanggup lagi berdiri. Andai tubuhnya tidak duduk dan terikat pada kursi, mungkin saat ia dia sudah terkulai lemas di tanah. Wanita itu dipaksa membuka mata untuk melihat tiap tetes darah yang menetes dari luka ditubuh Yang, setiap kali ia memejam atau menunduk, pria di sampingnya akan menarik rambut Anne hingga kepala wanita itu kembali tegak.


Air mata Anne sudah berderai membasahi kain yang menutupi mulutnya. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Adam padanya, menyesal itu yang Anne rasakan saat ini. Namun, itu percuma, Adam tak akan memberikan maaf untuknya, Meski dia bersujud meminta ampun pada Adam. Saat ini dia hanya bisa berharap dewa kematian menjemputnya sebelum Adam mulai bermain dengan tubuhnya.


"Bunuh aku! Tolong bunuh saja aku!" Yang mulai berteriak-teriak, memohon kematian.


Rasa sakit yang ia rasakan sekarang sungguh tak bisa ia tahan lagi. Tubuhnya terasa dingin penuh keringat, tangan yang putus oleh samurai milik Rayden saja masih berdenyut sakit. Sekarang Adam menambah penderitaan Yang dengan gigi-gigi tajam ratusan piranha lapar.

__ADS_1


"Aaaah!"


Teriakan Yang menggema memekikkan telinga, saat salah seorang anak buah Adam memberikan bubuk cabai pada bekas luka mengangg di lengan Yang yang sudah buntung.


"Bunuh saja aku, aku mohon bunuh aku!"


"Ck, diamlah. aku hanya sedikit bermain, kenapa kau ingin sekali mati. Bukankan ini menyenangkan," ujar Adam dengan seringainya.


Seorang laki-laki berpakaian serba hitam mendekat pada sang penguasa yang tengah menikmati pemandangan indah yang ada dihadapannya. Pria yang mendekati Adam itu menunduk sebelum bicara.


"Tuan Rayden sudah datang, Tuan," lapor pria itu.


"Hm .. bawa dia kemari, " sahut Adam dingin.


"Baik," jawab pria itu seraya menunduk hormat.


Tak selang berapa lama Rayden datang, pria itu cukup terkejut melihat tubuh yang yang sudah berdarah-darah. Ia mengira adam akan langsung membunuh pria itu, nyatanya dia bermain dengan cara yang cukup sadis.


"Kau sudah datang?" tanya Adam tanpa menoleh, ia hanya mendengar suara langkah kaki Rayden mendekat.


"Iya Tuan," jawab Rayen, ia menghentikan langkah tepat di samping Adam.


"Hem ..."


Adam melihat lembaran kertas itu sekilas, memeriksanya sejenak. Ia kemudian memberikannya pada Rayden, pria bermata sipit itu tentu menerima dengan wajah sumringah.


"Kau bisa mengambil semuanya, Tapi ingatlah kau masih dalam pengawasannku, aku tidak suka penghianat Rayden-san," ujar Adam sambil menatap pria sipit itu dingin.


"Tentu Tuan Adam , saya mengerti."


Apa yang di lihat Rayden hari ini cukup untuk membuat dia tahu bagaimana Adam akan bermain dengan dirinya, saat dia merasa kecewa.


"Tuan, Nyonya sudah sadar," ucap seorang laki-laki yang baru saja mendapatkan kabar dari penjaga yang berjaga di depan kamar Laras.


Mata Adam melebar mendengar kabar itu, tentu saja dia sangat senang Laras telah sadar.


"Masukkan dia!" titah Adam.


Blur!


Tali yang mengikat lengan Yang di potong, tubuh yang sudah terkoyak itu terhempas begitu saja masuk kedalam akuarium penuh iblis kecil yang lapar. Air akuarium meluap hingga membanjiri sekitar.

__ADS_1


Rayden memicing mata, melihat tubuh Yang menggeliat saat gerombolan ikan pemakan daging itu mulai menyerangnya.


Begitu pula Anne, matanya terpejam tubuh gadis itu semakin bergetar menahan rasa takut yang teramat. Dia tinggal menunggu giliran untuk di eksekusi oleh penguasa kejam itu.


Adam melangkah cepat menuju kamar Laras, dia membuka pintu dengan kasar. Laras sudah duduk di atas ranjang, dan sedang berbincang ringan dengan Frans yang polos tanpa make up.


Brak.


"Laras!" Pekik Adam.


Laras menoleh, tersenyum tipis dengan bibir yang pucat. Adam melangkah mendekat, di peluknya tubuh mungil yang sekarang sudah terasa hangat.


"Aku permisi, jangan lupa habiskan sup mu," Ujar Frans sambil beranjak dari sisi ranjang Laras, Laras hanya mengangguk sambil berucap Terima kasih tanpa suara.


Adam benar-benar bersyukur Laras sadar, ia tidak bisa membayang jika laras tidak bangun. Meski Frans mengatakan tidak terjadi sesuatu yang serius pada sang istri, Adam tetap merasa cemas sebelum Laras membuka mata.


"Adam, sesak," Lirih Laras, Adam memeluknya dengan sangat erat dan lama.


"Maaf," ujar Adam sambil melepaskan pelukannya.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Adam sambil menatap Laras penuh telisik.


Laras menggeleng, karena dia memang hanya merasa lemah.


"Benarkah?"


"Iya."


"Syukurlah, maaf aku tidak menjagamu dengan baik."


Adam mencium kening dan kedua pipi sang istri, Laras sedikit mendorong tubuh Adam menjauh.


"Kenapa? Apa kau marah?"


Laras menggeleng sambil menunduk.


"Lalu, kenapa kau menolak ku?"


"Ak-aku belum mandi," Jawab Laras lirih.


"Aku sudah mengelap tubuhmu, menganti baju, apa kau belum sadari nya?"

__ADS_1


Laras menunduk, memperhatikan baju yang ia pakai. Pipinya bersemu merah membayangkan Adam saat membasuh tubuhnya.


Kehidupan tak akan pernah mudah untuk Laras dan Adam, musuh akan selalu mengintai mereka. Tetapi Adam akan selalu melindungi Laras dengan jiwa raganya, begitu pula Laras dia kan selalu menemani Adam meskipun badai akan selalu menjadi sahabat setia mereka. Cinta mereka menjadi kekuatan bagi pasangan itu untuk menjalani kehidupan ini.


__ADS_2