
Seperti apa yang telah disepakati, duo J bertemu di pantai. Dengan memakai tank top berwarna hitam dan celana panjang berwarna senada, Jane menunggu kedatangan Jason.
Melihat Jane yang sudah menunggu di tepi pantai, Jason mempercepat langkah kakinya. Meskipun ia ragu, Jason tetap memenuhi janji pada Jane. dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang Jane berikan untuknya.
"Aku kira Anda tidak akan datang Tuan Muda," ujar Jane dengan senyuman miring yang terlihat seperti seringai.
"Aku akan datang, walaupun ini sama saja dengan aku mengantarkan nyawaku padamu," sahut Jason.
"Apa Anda akan menyerah sekarang Tuan Jason Mahadev?"
"Jangan harap!"
Jane langsung menyerang Jason, secara bertubi-tubi ia mengarahkan pukulan ke kepala pria itu. Tenaga Jane begitu kuat meskipun ia seorang wanita, Jason berusaha menepis tapi beberapa pukulan dengan mulus mendarat di pipinya.
Sheet
Jason menendang betis Jane, gadis itu terjatuh. Jason memanfaatkan saat itu di untuk memberikan pukulan tepat di wajah Jane, tetapi kepalan tangan itu berhenti tepat di ujung hidung gadis berambut ikal itu. Jane tertawa hambar saat Jason menarik kembali pukulannya.
Jane kembali menyerang Jason, kali ini pria itu di buat tidak berkutik. Jane menjatuhkan di depan dua kali tendangan di perut, dengan lincah Jane naik ke pundak Jason, saat pria itu lengah. Mengunci leher pria itu dengan satu kakinya, Jason kesulitan bernafas. Tak ingin kalah begitu saja,ia terpaksa mengayunkan kaki kearah kepala Jane.
"Ugh," Jane mengerang, dua kali pukulan mendaratkan di kepalanya.
Jason melempar tubuh wanita yang ia cintai di atas pasir dan menekannya.
"Sudahi ini Jane, cukup. aku tidak ingin menyakiti mu."
Jane melihat wajah Jason dengan rahang yang mengeras, matanya memancarkan kemarahan dan cinta yang teramat.
__ADS_1
"Jangan mimpi!"
"Agh!!"
Jane meraih pisau yang ia sembunyikan di sepatu boot kulit yang ia pakai, mengayunkan benda tajam itu pada lengan Jason. Darah segar mengucur, tak cukup sekali, Jane juga mengarahkan ujung pisau pada wajah dan lengan bagian atas Jason. tentu saja semua serangan itu tak meleset.
Tidak cukup sampai di situ, setelah berhasil lepas dari kungkungan Jason. Jane membalikkan tubuhnya, kini ia ada di atas Jason, menekan pisau atas dada pria itu, sekuat tenaga Jason menahan tangan Jane, agar ujung pisau tak melukai dirinya.
Pisau itu terlempar ke atas pasir, Jason memeluk erat tubuh Jane hingga wanita itu tak bisa bergerak bebas.
Duk
Jane menghantamkan keningnya pada kening Jason, berharap pria itu melepaskan pelukannya. Namun, Nihil tangan Jason tak sedikitpun mengendur, walaupun kepala pria itu terasa pening.
"Cukup Jane cukup. Aku mohon jangan seperti ini!" ujar Jason dengan nada tegas.
Jason menghela nafas, ia melepaskan pelukannya. mengangkat tubuh Jane dan mendudukkan wanita itu di atas pasir pantai. Jason mengambil pisau tergeletak, di raihnya tangan Jane dan meletakkan benda tajam itu di genggamannya.
"Jika kau ingin membunuhku, lakukan. Aku rela jika itu memang keinginan mu." Jason mengarahkan tangannya Jane yang menggenggam pisau tepat ke arah jantungnya.
Jane menunduk, wanita yang selalu terlihat tenang, dingin dan tidak berperasaan itu kini sedang menitikkan air mata karena cinta. Sungguh sangat memalukan.
"Kenapa kau diam, lakukan sekarang. Jika kau memang menginginkannya." Jason semakin menekankan tangan Jane agar benar-benar menancapkan pisaunya.
"Aaagggrrrhhh!"
Jane melepaskan tangan Jason, ia melemparkan pisau ke sembarang arah. Marah, karena cinta yang selama ini ia rasakan tumbuh semakin kuat. Sangat kuat hingga Jane tak mampu lagi mengelak.
__ADS_1
Ia marah pada dirinya, dia tahu betapa tidak pantasnya seorang wanita seperti untuk Jason. Tetapi tetap saja dia mencintai pria itu, dia tahu Jason hanya mengunakan dia sebagai pelarian. Tetapi tetap saja dia mencintai pria itu.
Jane lelah harus bertarung dengan dirinya sendiri. Dengan hasil yang sama, kekalahan telat yang ia dapatkan dari rasa yang ia pendam. Jika rasa itu berwujud, Jane ingin menikamnya hingga tak bisa lagi cinta untuk bertahan. Tetapi apa daya, membunuh rasa itu tak semudah menghadapi pembunuhan bayaran yang selama ini menjadi lawan mainnya.
"Maaf, maafkan aku. aku terlambat menyadari semuanya, maaf," bisik Jason dari belakang telinga Jane dengan memeluk erat tubuh Jane.
Jason tidar menyadari cinta Jane yang begitu besar selama ini, ia menganggap hubungan mereka hanya sebatas sahabat. Tetapi dia salah, Jane sudah sejak kecil sudah menaruh hati padanya.
Andai Adam tak memberi tahu Jason, mungkin sampai saat ini dia tidak akan menyadari cinta itu. Jason yang bodoh malah terjebak dalam obsesi pada Anne yang jelas-jelas hanya memanfaatkan dia saja.
Hening, hanya deburan ombak yang mengalun seperti musik di telinga dua insan yang tengah duduk menghadap lautan.
"kenapa kau ingin aku mati?" tanya Jason memecah keheningan.
"Kalau kau mati, setidaknya aku bisa berhenti mencintai mu."
"Kau yakin?" Jason sedikit menggeser posisi duduk, agar bisa melihat wajah Jane yang masih lurus menghadap pantai.
Jane mengangkat bahunya. " Entahlah.
Keheningan kembali menyelimuti keduanya. Jason menikmati wajah Jane yang begitu cantik, angin yang membelai rambut Jane yang tergerai. Tangan Jason terulur, mengusir pasir pantai yang berada di pipi Jane.
Jane diam, tak mengelak atau mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya ingin menikmati momen ini, ketenangan yang ia dapatkan setelah mengatakan isi hatinya pada Jason.
"Jadilah nyonya Mahadev."
Mata Jane terbelalak, ia menatap Jason dengan kening berkerut penuh tanya.
__ADS_1
"Aku memberikan perintah Jennifer, mau atau tidak kau akan menjadi pengantin ku. Pendamping hidup seorang Jason Mahadev!" ucap Jason penuh ketegasan.