Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 13


__ADS_3

Kobaran api melahap mansion besar, menjebak dua keluarga yang tadinya sedang menghabiskan waktu kebersamaan mereka.


Seorang wanita yang tengah hamil lima bulan, mengandeng tangan kedua anak laki-lakinya. Mereka berlari di tengah jilatan si jago merah, dengan susah payahnya akhirnya mereka bisa keluar.


"Adam bawa Adikmu pergi, cepat!" Titah Lily pada Adam kecil.


Ia bersimpuh didepan kedua jagoan kecilnya. Wajah penuh keringat dengan raut cemas menatap Adam dan Jason secara bergantian, begitu dalam seolah Lily tidak akan melihat putranya lagi.


"Tapi Bunda mau kemana? Ayah tadi suruh kita buat lari sama-sama kan Bunda, Ayo Bunda pergi sama kita. Sebentar lagi Ayah pasti nyusul," ujar Adam sambil memegangi erat tangan sang Ibu.


Lily langsung memeluk erat Adam dan Jason, mulutnya tak mampu lagi berucap jika sang Ayah tak akan pernah keluar dari mansion megah itu. Tubuh Lily berguncang, air matanya luruh. Namun, ia segera menghapusnya.


"Iya sayang, kita nunggu Ayah sama-sama ya. Bunda nggak akan kemana-mana kok," ujar Lily setelah melepas pelukannya.


Jason kembali memeluk erat sang Bunda, anak kecil yang tadinya begitu banyak bicara kini jadi pendiam. Kobaran api dan sesuatu yang terjadi di dalamnya membuat Jason merasa shock.


"Ayo kita pergi dari sini, Sayang." Lily melepaskan pelukan, mengiring kedua anaknya untuk masuk jauh kedalaman hutan.


Malam begini pekat, tak menyurutkan langkah mereka, dari belakang asap pekat membumbung tinggi. Lily merasa gelisah saat mendengar derap langkah kaki dari belakang.


Lily cepat-cepat mengajak Adam dan Jason bersembunyi di semak-semak yang tak jauh dari mereka, rimbunan itu cukup besar untuk menutup keberadaan kedua anaknya itu. Tapi tidak dengan Lily.


"Adam, jaga Adikmu sebentar. Ibu akan melihat-lihat sebentar." Ujarnya sambil mengusap kepala kedua anaknya.


"Tapi Bunda mau kemana? Kita di sini saja tunggu Ayah datang," ucap Adam, ia begitu enggan dan tidak mau untuk berpisah dengan sang Bunda. Hati kecilnya mengatakan kalau ia harus menahan sang Bunda.


"Justru Bunda mau mencari Ayah, Bagaimana dia akan menemukan kita di sini. Bunda hanya akan membuat tanda di beberapa pohon yang kita lewati, agar Ayah tahu posisi kita," kilah Lily.


"Ayah orang hebat Bunda, dia pasti tau kita di sini. Sudah Bunda di sini saja," kekeh Adam, sambil menggenggam erat tangan Lily.


"Bunda hanya sebentar, Bunda janji. Jason sama Kakak ya," Jason kecil mengangguki perkataan sang Bunda.

__ADS_1


"Adam jaga Adikmu sebentar. Bunda janji hanya sebentar."


Lily mengecup kening kedua jagoannya, ia merapatkan . Wanita yang tengah hamil itu berjalan menjauh, Adam mengeratkan pelukannya pada Jason. Ia mengeraskan hati, berusaha untuk tidak menangis.


"Bunda cepat kembali, Adam takut," lirihnya sambil menatap nanar pada tempat Bundanya menghilang dalam gelap.


Malam itu terasa begitu dingin dan panjang, Jason dengan wajah ketakutan memeluk erat tubuh kakaknya. Wajahnya pucat, seolah darah tak mengalir di sana, bibirnya membiru karena dingin.


Adam merasa takut, ia sangat ketakutan. Namun, ia berusaha tenang ia tidak ingin membuat Jason ikut merasakan hal yang sama.


Adam menoleh sekeliling, gelap. Meski bulan purnama, tetapi awan tebal menghalangi cahayanya.


"Apa kau lapar?"tanya Adam, Jason mengangguk.


Saat awan bergerak, sesorot cahaya bulan membuat Adam sadar jika ia bersembunyi dalam rimbunnya pohon kerdil blueberry. Tangannya meraba-raba, memijat buah bulat kecil itu untuk memilih yang sudah masak. Setelah memperoleh beberapa, ia memberikannya pada Jason.


"Ini makanlah, rasanya sedikit asam tapi ini sangat enak," ujar Adam meyakinkan sang Adik, Jason hanya diam ia menatap ragu pada buah berwarna ungu kebiruan itu.


"Lihat, Kakak sudah makan satu. Ini sangat lezat, bahkan lebih enak dari pada rumput," ujarnya sambil tersenyum lebar.


Jason melebarkan bibirnya, ia kemudian mengambil satu lalu memasukkan dalam mulut.


"Apa enak? Enak kan?" Jason mengangguk kecil. Ia terus memasukkan buah kecil itu tanpa henti.


Awan kembali menutup sang rembulan, menyembunyikan dua wajah kecil dalam bayangan malam.


"Aaaagh!"


Pekikan memilukan terdengar begitu kencang.


"Bunda!"

__ADS_1


Jason langsung mendekap sang Kakak, saat mendengar suara itu. Tanpa berpikir panjang, Adam berlari sambil menggendong Jason di punggungnya. Ia melajukan kaki ke arah jeritan itu berasal.


"Bunda!!"


😶😶😶


"Hah ... Hah .. Bunda!"


Adam bangun dan langsung terduduk, keringat dingin membasahi kening dan lehernya. Ia mengusap wajah dengan kasar.


Pria dingin itu menekuk lutut, menyandarkan kepalanya di sana. Bayangan masa lalu Adam selalu menghantuinya, bertahun-tahun sudah berlalu. Namun, itu semua seperti baru saja terjadi. Menganggu di setiap malam sebelum peringatan kematian Bunda dan Ayahnya.


Adam mengambil nafas dalam, menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Pria itu memutuskan untuk menyegarkan diri dan pikiran dengan air dingin.


Tidak seperti malam lain yang ia habiskan bersama Laras. Malam ini, Adam memilih untuk sendiri, menggenang pahit dan rasa yang masih tertinggal sejak malam itu.


Adam tidak ingin siapapun melihat ia yang lemah, dia yang bisa menitikkan air mata kala rasa rindu dan sakit itu merajam hatinya. Pria itu hanya ingin dunia tahu betapa kuat dan tangguh Adan mahadev putra Aric, sang penguasa ini tanpa celah.


Tetapi tiap malam ini datang, dia akan begitu rapuh.


Bara api dendam, yang menyala semakin besar di tiap tahunnya. Dengan hanya memakai kimono mandi, ia berjalan menuju rak yang penuh dengan botol kaca, berbagai macam jenis minuman terbaik ada di sana. Tentu saja dengan kadar alkohol yang tidak sedikit.


Sebuah botol bening berisi cairan berwarna biru elektrik yang mencolok menjadi pilihan Adam, untuk menemaninya malam ini. Sebelum wine yang hanya bisa ditemukan di 25 negara terbatas.


"Selamat Malam Bunda, Aku sudah menunaikan janjiku padamu. Aku menjaga Jason dengan baik, semoga kau dan Ayah bisa melihatku dan memberi aku kekuatan untuk membalas dendam ini. Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi. Kalian akan bisa beristirahat dengan tenang."


Adam mengeratkan giginya, menggenggam kuat gelas kaca hingga remuk dalam tangannya. Darah mengalir deras, tetapi rasa sakit sama sekali tidak Adam rasakan.


Adam jatuh bersimpuh memegangi dadanya yang terasa sesak, air mata mulai mengalir tanpa permisi. Begitu sakit, terasa dalam hatinya. Seperti tercabik-cabik, ia selalu menyalakan diri karena tak mampu melakukan apapun malam itu.


Dia begitu tidak berguna, sehingga tidak dapat melindungi keluarganya dengan baik.

__ADS_1


Adam mengangkat wajahnya. menatap rembulan dengan mata yang merah menyala, penuh amarah, penuh dendam dan kebencian. Ia bersumpah akan membalas si pelaku, membuatnya berkali -kali lipa merasakan sakit, melebihi yang Aric dan Lily rasakan.


__ADS_2