
Matahari terbit dengan malu-malu, tapi tidak dengan penguasa kita. Seulas senyum sinis yang begitu menakutkan tersungging di bibirnya, ruang mewah ini sejak kemarin malam terasa begitu mencekam, lebih tepatnya sejak Adam datang.
Awalnya ini hanya sebuah pertemuan bisnis yang biasa dilakukan oleh para ketua mafia dan orang-orang yang terlibat bersama mereka, tentu pertemuan itu dilakukan secara tersembunyi di sebuah pulau yang hanya segelintir orang yang mengetahuinya.
Namun, ada yang berbeda malam kemarin. Kedatangan Rey tertua yang di tuakan oleh para mafia di sana, iya dialah anak buah Adam yang kini mengambil alih white clown. Meski tak sebesar dulu, tetapi tetap saja white clown tidak bisa dianggap remeh.
Taring kekuasaan white clown masih tertancap pada sendi-sendi perbisnisan gelap. Apalagi setelah Marquis kang juga bergabung dengan white clown.
"Apa kalian masih ingin di sini?" Tanya Adam dengan dingin, kesepuluh jemari Adam bertaut dengan siku yang menipu di meja, Adam melihat sekeliling dengan tatapan dingin.
Kelima pemimpin di daerahnya masing-masing tetapi masih di bawah kuasa white clown, mereka masih menimang baik buruknya keputusan Rey, dan tentu saja imbas bagi mereka. Malam saat Adam bergabung, saat itu juga Rey mengangkat Adam sebagai ketua White clown. Tentu saja hal ini di terima oleh anggota lain, meski mereka punya kelompok sendiri. Namun, segala yang mereka lakukan tidak lepas dari white clown.
"Paman, aku tidak ingin membuang waktu ku. Jika kalian setuju tetap di sini, jika tidak setuju silahkan keluar!" Tegas Adam.
Mereka tampak riuh , saling berbisik ada juga yang duduk tenang tak ikut berkelesak-klesik. Tiga orang tampak berdiri, berjalan keluar dari ruang itu. Adam menyeringai licik.
"Samping jumpa paman," ujarnya pada ke tiga orang yang memutuskan untuk pergi, ketiganya sempat berhenti. Namun, kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
"Nah, Paman sekalian. Sepertinya kalian lelah, jadi silahkan beristirahat." Adam bangkit mendorong kursi yang ia duduki sedikit kebelakang hingga menimbulkan bunyi berderit.
Belum sempat Adam menegakkan punggung. Seorang pria berucap menghentikan gerakannya.
"Siapa sebenarnya kau anak muda, aku tidak keberatan jika kau di tunjuk Rey untuk menggantikan dia," ujar seorang pria yang sedari tadi malam terlihat tenang.
Adam hanya tersenyum miring, ia melemparkan sebuah koin perak di atas meja. Pria itu mengerutkan keningnya, begitu juga dia orang lain yang ada di sana. Ya hanya tiga di antara lima orang yang memutuskan untuk tetap di white clown dan menerima ke pimpinan Adam.
Pria bernama Joseph yang tadi bertanya, mengulurkan tangan mengambil koin itu.
"White wolf," gumam Joseph.
Dua pria lain yang mendengar gumaman Joseph terkejut, berarti pria muda tadi adalah pemimpin White wolf yang selama ini sangat di takuti dan begitu misterius. Joseph mengambil nafas lega, keputusannya sudah benar untuk tetap berada di sini, entah apa jadinya jika orang yang di juluki sang penguasa itu memimpin White clown, dan dia berada di sisi yang salah. Hancur, satu kata itu yang akan terjadi.
"Paman Rey," sapa Adam yang baru saja masuk ke kamar orang yang sudah membesarkan dia.
"Bagaimana? Apa mereka menerima mu?" Tanya Rey, yang ternyata juga tidak tidur semalaman.
__ADS_1
Ia ta
.
.
.
.
Sebuah kamar, dua insan bertaut saling menghangatkan. Anne menggeliat, merasakan tubuhnya yang remuk redam.
"Siapa kau?!"
"Apa yang kau lakukan!"
"Bangsat!"
"Bajingan!"
Anne memukul sosok laki-laki yang tidur dalam satu selimut bersamanya dengan bantal.
"Anne, ini aku ... Hei hentikan!" Pekik Jason.
Anne yang tadinya memukul Jason dengan membabi-buta pun berhenti. Ia menajam menatap wajah laki-laki yang telah tidur bersamanya.
"Ja-jason, apa yang terjadi? Kenapa kita di sini? Apa yang kita lakukan?" Cerca Anne, ia gugup karena melihat Jason tanpa busana.
Ia menunduk, dan melihat dirinya sendiri juga sudah polos tanpa sehelai benang. Jason menunduk, ia memalingkan wajahnya agar tak melihat bagian sensitif Anne yang tak tertutup apapun.
"J, apa ini tolong jelaskan!" Sentak Anne marah, ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Jason bangkit ia tak menjawab apa yang Anne tanyakan. Laki-laki itu memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai kamar.
"Jawab aku J! Apa yang kita lakukan!" Teriak Anne, di sela tangisnya.
__ADS_1
Air mata wanita itu sudah meleleh, membasahi pipinya. Jason tidak menjawab, malah ia melemparkan baju milik Anne padanya.
"Pakai bajumu! Kita sudah dewasa Anne, kau tau apa yang sudah kita lakukan dengan keadaan seperti ini," sahut Jason dengan dongkol.
Tangis Anne semakin menjadi, Jason memakai pakaiannya tanpa memperdulikan Anne. Wanita yang semalam telah ia prawani. Bukan karena inginnya, tetapi keadaan yang tidak bisa ia hindari.
Keduanya sama-sama mabuk, Anne meracau dan terus menerus meminta Jason menyentuhnya. Seorang laki-laki dewasa di bawah pengaruh alkohol, tentu saja lebih tidak bisa mengontrol dirinya.
Jason melangkah mendekati Anne, ia sebenarnya juga tidak tega melihat wanita yang teramat ia cintai menangis seperti itu.
"Pergi! Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu!" Teriak Anne, tangannya menepis kasar tangan Jason yang hendak menyentuhnya.
"Anne kita sudah dewasa, maafkan aku telah melakukan ini padamu. Tapi, semalam kita sama-sama mabuk, apa kau ingat. Kita melakukan ini dengan tidak sadar, sudah ya jangan menangis. Aku akan bertanggung jawab untuk ini," Jason bicara dengan nada yang lembut pada Anne.
Wanita itu menoleh, menatap tajam dengan sangat marah pada Jason.
"Aku tidak sudi, kau tidak lebih baik dari gigolo! Kau pembohong J, huhu ... Bagaimana aku akan mengatakan ini pada Adam, aku telah mengkhianatinya ... Huhu ...," Anne kembali menangis.
Jason meradang, dalam hati ia tidak terima Anne selalu meremehkan dia. Jason sudah sangat bersabar selama ini menghadapi Anne, ia membeli segalanya, bahkan harga dirinya sebagai seorang pria. Namun, Anne tak pernah melihat barang sedikit saja pada Jason.
"Cukup Anne, bangunlah dari mimpimu!" Sentak Jason.
Anne terjingkat, ia merapatkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Kau tidak menghianat siapa pun, kau dan kakakku bahkan tidak punya ikatan apapun dengan dia! Kau ada di sana hanya karena aku, Adam menerimamu karena aku, paham!" Bentak Jason.
Anne menatap Jason dengan tidak percaya, kepalanya menggeleng pelan.
"Kau bohong, tidak mungkin. Itu tidak mungkin, kau bohong!"
Jason tersenyum getir, Anne tidak akan pernah percaya padanya. Di mata Anne Jason hanyalah seorang pria tak berguna, tak sebanding dengan sang Kakak Adam.
Hal itu membuat Jason membenci Adam. Namun, ia tidak suka jika Anne terus menerus membandingkan dia. Obsesi Anne pada Adam, sudah membutakan mata hatinya. Ia tak bisa melihat bagaimana pengorbanan seorang Jason demi dirinya.
"Kau tidak percaya? Tanyakan sendiri pada Adam dan Ayahmu!"
__ADS_1