
Adam lebih banyak menghabiskan waktu bersama Laras. Menemani sang selir yang sedang menjalani masa pemulihan.
"Laras," panggil Adam saat membuka pintu mansion milik selir cantiknya.
Tuan.
Laras yang duduk di kamar sambil menatap keluar jendela seketika menoleh, senyum bahagia tanpa jelas di wajah cantiknya yang pucat. Ia hendak bangkit, berniat menghampiri Adam . Tetapi gerakan Laras terhenti, mana kala penguasa itu mengarahkan tangan, mengisyaratkan pada sang selir agar tetap di tempat.
"Jangan mendekat, aku baru dari luar. Kau baru saja pulih," ucap Adam, Laras pun tersenyum sambil mengangguk kecil.
Pelayan mansion membungkuk hormat, dengan hati-hati ia melepaskan jaket blazer hitam yang ia pakai. Lalu mengantungkannya di tempat khusus.
"Apa kau sudah makan?" tanya Adam sambil mendekati kearah Laras.
Belum.
Laras menggelengkan kepalanya pelan. Alis Adam menyatu, matanya memicing melihat Laras.
"Kenapa? Apa masakan koki tidak sesuai seleramu?"
Tidak Tuan, masakan mereka sangat lezat. Saya hanya menunggu Tuan pulang, saya ingin makan bersama Anda.
Ucap Laras dengan gerakan tangan. Adam hanya bisa menghela nafas, ia tidak mengerti apa yang selir kesayangannya itu katakan.
"Siapkan makanannya, Nona kalian akan makan!" Titah Adam pada dua orang pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Baik Tuan," jawab salah satu dari mereka, kemudian ia berjalan ke dapur.
Setelah makanan siap, mereka berdua pun menikmati makan malam yang sudah sangat telat itu. Laras menunduk, memakan steik yang baru saja selesai dipotong kotak-kotak kecil oleh Adam.
"Jangan menunggu ku pulang, beristirahatlah. Agar tubuhmu cepat pulih."
Laras mengangguk, raut wajahnya terlihat sedikit kecewa.
Alis Adam menyatu, melihat pada sang wanita. "Apa kau masih takut padaku?"
__ADS_1
Laras mengangguk pelan, tapi secepat kilat kemudian ia menggelengkan kepalanya. Ia bisa masih mengingat dengan jelas kejadian kemarin malam.
Flashback on.
Brugh
Sebuah tendangan mendarat di perut sixpack Kim, hingga laki-laki itu jatuh tersungkur.
"Sudah aku bilang jaga Laras dengan baik, Kim!"
Adam menatap laki-laki sipit itu dengan nyalang, kakinya menginjak tepat di dada Kim dengan kuat.
"Ma-maafkan saya Tuan, saya tidak bisa membantah Nyonya besar," jawabannya dengan terbata, beban yang menghimpit dadanya terasa sangat sesak.
"Aku tidak perduli, dia sudah benar-benar melewati batasnya kali ini. Bawa semua orang yang telah menyentuh Laras ke barak , kecuali dia!"
"Baik Tuan," sahut Kim sambil memegangi dadanya.
Laki-laki itu bangun setelah Adam mengangkat kakinya, dengan cepat Kim segera pergi ke mansion milik Anne. Ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi, dan membuat Adam marah.
Amarah dan kecemburuan sang Nyonya selalu menumbalkan nyawa para selir, kedatangan mereka ke mansion ini seolah hanya untuk menyerahkan nyawa pada Anne. Tetapi semua orang mengira sang penguasa lah yang menghabiskan mereka, tidak dapat di pungkiri jika Adam memang menganggap para selir sama halnya seperti baju. Saat bosan dan sudah tidak menarik, ia tidak akan memperdulikan mereka lagi.
Kim pun merasa aman-aman saja saat membiarkan Laras mansion sang Nyonya, Ia sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Meskipun ia tahu sang Tuan memberi perhatian lebih untuk selirnya kali ini. Namun, Kim tidak menyangka Tuannya akan semarah ini.
Malam itu, saat Laras masih terlelap. Adam tengah menikmati tiap rintih kesakitan para pelayan Anne. Lima orang itu di gantung, dua orang di gantung dengan terbalik. Keduanya adalah wanita yang memaksa Laras meminum racun.
Tak ada yang berani bersuara meski mereka telah berlumuran darah, mereka di berikan cambukan lima kali lebih banyak dari Laras, di seret dengan paksa mengunakan kuda dari mansion sampai ke barak. Berteriak, mengaduk, memohon ampun tentu sudah mereka lakukan, tetapi itu hanya menambah hukuman mereka. Kini dalam keadaan tergantung seperti ini , mereka pasrah. Jika bisa mereka lebih memilih mati daripada harus terus di siksa seperti ini.
"Tuan Nona Laras sedang mencari Anda, dia baru saja bangun," lapor salah seorang anak buahnya.
"Bawa dia kemari, dan suruh Anne datang menjemput orang-orangnya," ucap Adam santai sambil menyeruput kopi hitam miliknya.
"Baik," sahut Laki-laki itu. Ia membungkuk hormat, kemudian melangkah menjauh.
Beberapa saat kemudian, Laras dan dengan duduk di kursi roda. Meski, ia menolaknya, tetapi Kim tetap memaksa gadis yang sudah tidak perawan itu untuk memakai kursi roda. Ia tidak mau lagi kena marah Adam, karena membuat Laras kelelahan. Jarak mansion dengan barak penyiksaan memang sedikit jauh.
__ADS_1
"Kau sudah datang rupanya, kenapa kau biarkan kakimu?" Tanya Adam pada Laras yang terpaku terkejut.
Tubuh menegang melihat pemandangan yang begitu mengerikan di hadapannya. Lima orang tergantung pada tiang besi, tangan dan kaki mereka terikat kuat. Warna merah darah, meleleh dari luka-luka menganga bekas cambuk. Bau amis menyeruak terbawa semilirnya angin malam.
Melihat Laras diam, Adam langsung mengangkat tubuh mungil Laras, memindahkan sang selir ke pangkuannya.
"Adam kenapa kau-"
Anne tidak melanjutkan ucapannya, bibirnya mengatup rapat, terasa kelu melihat pemandangan yang mengerikan di hadapannya saat ini. Keadaan para pelayan itu sungguh sangat mengenaskan, ia bukan tidak pernah melihat pertumpahan darah. Namun, kali ini, sungguh membuat Anne mual. Apa lagi luka di wajah dan perut mereka.
"Apa yang kau lakukan pada mereka!?" Anne mendelik tajam pada Adam, mata Anne melebar saat melihat Laras duduk meringkuk dalam pangkuan Adam.
"Aku hanya mengembalikan apa yang mereka lakukan," jawab Adam sambil mengusap lembut punggung Laras yang bergetar.
Wanita itu sangat ketakutan, ia tidak berani melihat apa yang ada di hadapannya. Laras memilih menyembunyikan wajahnya di dada Adam. Tetapi hal itu membuat Anne semakin geram, tangannya mengepal dengan mata yang menyorot tajam penuh kebencian.
"Nyonya tolong kami," lirih salah satu pelayan.
"Tolong kami."
"Tolong kami."
Mereka saling bersahutan, memohon pertolongan dari sang Nyonya besar. Selama ini mereka sangat patuh dan loyal pada Anne.
"Diam kalian semua!" Teriak Anne.
Bukannya diam mereka malah semakin merintih, dan memohon supaya Anne bisa membebaskan mereka dari hukuman sang penguasa itu.
"Apa kau tidak ingin membantu mereka?" Tanya Adam dengan dingin.
"Tidak, untuk apa aku melakukan itu. Mereka sendiri yang melakukan kesalahan," jawab Anne dengan ketus.
Adam tersenyum miring, menatap Anne hingga wanita itu salah tingkah. Tetapi wanita itu berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
"Jangan kau pikir aku tidak berani menghukum mu!"
__ADS_1
"Kau ingin menghukum aku? Memangnya apa salahku?" Tanya Anne angkuh.