
Pria tampan nan kejam itu berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Setelah dua hari masa berduka, mengenang kepergian ayah dan bunda. Adam bangkit.
"Tunggu aku, Lucius," gumam Adam dengan menatap tajam bayangannya dalam cermin.
Hari ini Adam akan melakukan perjalanan panjang, bukan tentang bisnis. Ia akan melakukan sesuatu yang sudah sangat ia inginkan sejak lama, balas dendam.
Laras yang tiga hari tidak melihat sang penguasa hidupnya merasa cemas, ia bahkan tidak berselera untuk makan sama sekali. Ingin rasanya ia pergi ke mansion utama, tetapi Kim mencegah ia pergi. Kim menasihati Laras agar tidak menemui Adam saat ini.
Kini wanita tanpa suara itu, berdiri di depan mansion kecilnya. Berjalan mondar-mandir dengan gelisah, ia berharap sang pujaan hati akan keluar dari pintu besar bangunan utama itu.
'Tuanku, bagaimana keadaan Anda? Tolong kasihanilah aku, setidaknya biarkan aku melihat wajah Anda hari ini, agar kegelisahan dalam hati sedikit mereda,' gumam Laras, dengan tatapan lurus pada mansion utama.
Brum.
Deru mesin mobil sport membuat mata Laras berbinar, mobil itu keluar dari garasi yang ada di samping mansion. Kuda besi mahal berwarna keemasan itu bergerak perlahan hingga berhenti di depan Laras.
Namun, senyum dan binar di mata Laras memudar seketika. Saat pria yang turun dari mobil itu, bukan yang ia harapkan.
"Hai nomer sembilan," sapa Jason dengan melambaikan tangannya.
Laras memasang wajah ramah yang ia buat-buat, tanpa menghiraukan Jason yang semakin mendekat. Laras duduk di sofa yang ada di terasnya, wanita yang mengenakan dress warna putih dengan motif bunga mawar besar itu duduk sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Kenapa malas seperti itu? Apa kau galah, karena merindukanku, gadis?" Goda Jason sambil menaik turun alis.
"Haduh Tuan Jason, maafkan saya. Tapi saya wanita bersuami, tentu saja saya sedang memikirkan suami saya."
Laras menggerakkan tangannya, bicara. Kemudian ia membuang mukanya mendengus dingin.
"Hahahaha ... Bersuami!" Jason terkekeh sendiri mendengar jawaban Laras.
__ADS_1
Laras menoleh, mengerutkan keningnya menatap Jason yang tengah tertawa.
"Apa ada yang lucu?" Tanya Laras dengan bahasa isyaratnya.
"Kau .. kau yang lucu, apa katamu tadi bersuami. Hahaha ... Kau hanya selir Kakakku, pernikahan yang kau katakan tadi hanya sebatas perjanjian di atas kertas bermaterai bukan. Bukan janji suci, yang di ikat depan Tuhan. Jangan berharap terlalu tinggi Nona, semua selir akan ada masa kadaluarsanya," ujar Jason dengan nada ketus.
Anda benar," gumam Laras lirih dalam hati, wajahnya seketika menunduk lesu.
"Aku tidak ingin membuatmu sedih, tapi itulah kenyataannya. Kakakku hanya membeli mu saja, menjadikan mu penghangat ranjang sampai dia bosan. Jadi, nikmati saja fasilitas yang kau dapatkan di sini sebelum kau kembali ke tempat asalmu, jangan terlalu menganggap serius apapun di sini. Apalagi masalah hati, jika kau tidak ingin terluka." imbuh Jason lagi.
Laras menunduk, ia sadar ia hanya hiasan. Saat raganya tak lagi bisa membuat sang penguasa puas, atau jika penguasa itu tak lagi tertarik padanya ia bisa di buang kapan saja seperti sampah. Jika jiwa masih terkandung di badan, itu adalah hal yang sangat beruntung.
Karena selama ini, tak ada seorang selir pun yang kembali setelah memasuki gerbang besar itu. Entah hilang atau mati, Laras juga tidak tahu.
Tapi apakah salah rasa jika benih cinta ini tumbuh? Adam memperlakukan dia dengan sangat baik, bahkan pria kejam itu merawatnya saat ia sakit. Laras bukan tidak tahu seberapa kejam dan bengis Adam, tetapi ia jatuh cinta pada sisi lain yang ada dalam diri sang penguasa.
"Heh, ... Jauhkan pikiran itu dari kepalamu, aku tau kau menginginkan kakakku. Dan itu tidak mungkin, tidak akan pernah." Jason menepuk kepala Laras, sang gadis membiarkan itu dan bersikap acuh.
"Jason."
"Iya kak siap!" Seru Jason, langsung bangkit dan berdiri tegak.
Laras pun menoleh, matanya berbinar melihat Adam datang.
"Tuan," Laras segera bangkit dan berhamburan ke pelukan Adam. Namun, Laras menghentikan langkahnya tepat di depan Adam, ia belum berani bersikap lancang dengan menyentuh Adam.
Adam mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan Laras yang terus menatapnya sambil memainkan jemari.
"Berdiri di sampingku!" Titah Adam, Laras mengangguk cepat. Ia langsung berdiri di sebelah Adam.
__ADS_1
"Kau punya banyak waktu luang rupanya, kalau begitu kau bisa mengawasi barak di Utara," ujar Adam sambil melangkahkan kakinya masuk.
"Tapi Kak, aku baru pulang dari kota C. Aku butuh istirahat," protes Jason.
Barak Utara, tempat yang paling Jason hindari. Di sana adalah tempat menempa, prajurit-prajurit baru untuk organisasi mereka. Dan mau tak mau Jason harus mengikuti semua latihan dengan disiplin jika ada di sana.
"Istirahat? Aku rasa tidak, kalau kau ingin berisi ada kamar yang luas di mansion utama, untuk apa kau malah duduk di sini dan menggoda selirku," Sindir Adam sambil terus berjalan tanpa henti.
Kim dan Laras mengikuti langkah Adam, begitu pula Jason. Bagaimana pun dia harus menyakinkan Adam agar tidak mengirim dia ke barak Utara. Tempat terpencil itu, siapa yang sudi ke sana.
"Ayolah Kak, aku hanya bermain sebentar dengan dia. Lagi pula dia yang memanggilku kemari," tutur Jason mencoba untuk mengalihkan kesalahan pada Laras, ia tahu Adan akan lebih percaya padanya dari pada orang lain.
Adam menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap tajam pada Laras yang sedari tadi memperhatikan tangan Adam yang terluka.
"Apa benar seperti itu?" Tanya Adam pada sang selir.
Ada apa dengan tangan Tuan? Kenapa dia bisa sampai terluka? Apa beberapa hari ini dia berkelahi dengan musuhnya? Apa masih sakit aku -
Plak.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Laras. Laras terkejut, ia memegangi pipinya yang memerah dan terasa panas. Bukan hanya Laras, tetapi Jason dan Kim juga terkejut dengan hal itu.
"Kenapa kau diam! Jawab pertanyaanku? Apa kau menggoda adikku dan menyuruhnya ke sini?!" Tanya Adam dengan marah.
'Tidak Tuan, saya tidak pernah melakukan itu,' ucap Laras, andai Adam bisa mendengarnya. Adam hanya melihat wanita itu menggeleng cepat, sambil memegangi pipinya.
Netra bening Laras menatap Adam, memohon agar sang penguasa itu percaya dia tidak pernah melakukan hal itu.
"Ikut aku!" Adam menarik lengan Laras, menyeret tubuh wanita itu dengan kasar menuju kamar.
__ADS_1
Kim menatap punggung Laras dengan iba, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kim menoleh melihat Jason dengan tatapan remeh
"Selamat, usahamu untuk membuat satu nyawa lagi melayang mungkin akan segera terwujud. Kau memang hebat Tuan Jason, tapi sayang matamu masih saja buta," ujar Kim dengan ketus, kemudian berlalu. Meninggalkan Jason yang masih mematung sendiri.