Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 17


__ADS_3

"Sudah lebih baik?" Tanya Jason saat menerima gelas kosong dari Anne.


Anne menggeleng, ia menoleh menatap tajam pada Jason. Pria tampan itu menghela nafas panjang, ia tahu apa yang sedang dipikirkan wanita itu.


"Kau membohongiku J, kau pembohong!" Teriak Anne lagi.


Jason hanya diam tak menjawab, ia hanya menatap Anne dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


"Katakan kapan kau akan membunuh wanita bisu itu, kau berjanji akan menyingkirkan dia dari sini! Dia sudah merebut Adam dariku J, bunuh dia J bunuh!Adam hanya milikmu J, milikku!" Anne menarik kerah kemeja J, mengguncangkan pria itu dengan keras.


Hati Jason terasa perih tiap kali Anne mengatakan ini, ada yang ia sembunyikan rapat jauh di lubuk hatinya. Rasa cinta untuk Anne yang begitu besar, hingga ia bisa melakukan apapun termasuk bersujud merendahkan kepala hingga menyentuh lantai di hadapan sang Kakak. Anne sama sekali tidak tahu apa yang membuat ia tetap bertahan di mansion ini walaupun Adam tidak menginginkan dia, tak ada secuil pun cinta di hati Adam untuk Anne. Penguasa itu hanya mengasihi Anne layaknya Adik saja, itulah kenapa ia tidak bisa menyentuh Anne.


"Anne bisakah kau tenang, Aku akan berusaha melakukan itu, membuat Laras pergi dari mansion ini," ujar Jason berusaha untuk menenangkan Anne, yang masih dikuasai emosi.


"Bunuh dia J, itu akan lebih cepat. Dia sudah merebut waktu Adam, Adam bahkan tidak lagi kemari untuk menemui ku, apa dia marah? Tapi aku sudah minta maaf," rengek Anne di ujung kalimatnya.


Hati Jason mencelos miris, obsesi Anne pada Adam sudah terlalu jauh. Apakah cintanya cukup besar untuk membuat Anne berpaling, tetapi Jason yang kadung cinta kadang menyisihkan segala logika. Ia melakukan apapun demi membuat Anne bahagia.


Namun, kali ini ia merasa kasihan pada Laras. Ia merasa Laras begitu tulus pada Adam, tidak seperti wanita-wanita sebelumnya. Jason secara tidak langsung memang turut andil menyingkirkan selir-selir Adam, ia mendekati wanita-wanita itu, menggoda mereka hingga Adam marah dan tak lagi perduli. Meskipun Adam memang hanya menganggap mereka sebagai pelacur saja.


Jason mengusap lembut pipi Anne yang basah, menatap wajah wanita itu dengan penuh sayang. Anne bukan tidak tahu kalau Jason begitu menyayanginya, apapun yang Anne inginkan Jason akan mendapatkannya untuk Anne. Termasuk saat Anne ingin menjadi pendamping Adam.


Walaupun dengan hati yang hancur, Jason mengabulkan permintaan Anne. Ia memohon kepada Adam agar menerima Anne di sisinya, Adam yang sangat menyayangi Jason tidak bisa menolak saat sang adik memohon kepadanya.


"Anne bisakah kau mencintaiku?" Tanya Jason dengan serius, sebuah kata yang ia pendam cukup lama akhirnya ia katakan.

__ADS_1


Anne menyatukan alisnya menatap Jason dengan heran, tetapi sejurus kemudian ia tertawa terbahak-bahak, sampai air matanya kembali menggenang.


"Kau lucu sekali J, kau bisa membuatku tertawa sampai seperti ini," sahut Anne sambil mengusap sudut matanya.


Jason tersenyum getir, Anne menganggap penyataan cintanya sebagai gurauan semata.


"Hahaha ... Iya kau benar, lucu sekali kan kalau sampai kita pacaran," kelakar Jason, memaksakan diri untuk tertawa.


"Sudahlah kembalilah ke mansion mu, aku sudah tidak apa-apa," usir Anne, sambil mengibaskan tangannya.


"Aduh, hatiku sakit Tuan putri. Habis manis sepah di buang, bisakah Tuan putri sedikit berbelas kasih pada pujangga kesepian ini," ujar Jason penuh drama.


"Pergilah ke Pub kalau kau kesepian, bukan di sini. Di sini sepi, hanya ada aku," lirih Anne, ia sebenarnya juga merasa kesepian tetapi obsesinya pada Adam membuat Anne tidak ingin jauh dari laki-laki itu.


Ia ingin berada di tempat dimana laki-laki kembali pulang. Jason hanya menatap wajah Anny dengan seksama, Jason tahu dia tidak punya kesempatan untuk berada di hati wanita pujaannya itu.


"Tapi lain halnya jika kau ikut aku ke tempat itu, maka aku akan senang hati pergi ke sana."


"Baiklah, tapi besok saja. Hari ini aku lagi nggak mood," sahut Anne malas sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Besok aku harus ke utara Anne."


"Ke Utara? Kenapa?" Tanya Anne keheranan, ia tahu Jason dengan baik. Dan laki-laki itu tidak akan ke utara jika tidak terpaksa, tempat itu terlalu terpencil untuk Jason.


"Kakak menyuruhku ke sana," ujar Jason sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Adam sangat menyayangi Jason, tidak mungkin secara tiba-tiba menyuruh Jason ke sana.


"Kenapa Adam menyuruhmu ke sana?" Tanya Anne penuh selidik.


"Aku merusak mobil koleksi Kakak," jawabnya asal sambil nyengir kuda.


"Yakin?"


"Iya, sampai sekarang mobilnya masih di bengkel," sahut Jason asal, ia berusaha meyakinkan Anne kalau memang itu yang terjadi.


Jason tidak ingin Anne semakin membenci Laras, karena wanita itu tak bersalah. Ia lumayan menyukai Laras, dari sorot mata Laras, Jason bisa melihat ketulusan dan cinta yang besar untuk kakaknya, Adam. Karena itulah Jason tidak ingin membuat Laras meregang nyawa di tangan Anne, dan Adam juga seperti menaruh perhatian lebih pada wanita bisu itu.


"Baiklah, aku mau siap-siap dulu." Anne beranjak dari sofa, berjalan menuju kamar melewati benda-benda yang sempat ia hancurkan.


Jason bernafas lega, Anne percaya padanya. Tetapi pemuda itu khawatir dengan keadaan Laras sekarang, apakah Adam marah dan menyiksa Laras? Apa wanita bisu itu baik-baik saja?


Sementara itu dalam kamar Laras, Adam sudah bersiap-siap untuk pergi. Setelah membersihkan diri dan mengganti jas yang ia pakai, lelaki itu mengecup bibir dan kening Laras cukup lama.


"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik," pamit Adam, Laras mengangguk ia memberikan senyum termanis yang ia miliki untuk sang penguasa hati.


Meski ada rasa tak rela dalam hati, Laras tak berhak untuk menahan Adam lebih lama. Adam mematung, menatap Laras lebih lama dari biasanya.


'Kenapa Tuan, menetapku seperti itu? Apa dia menginginkan sesuatu? Seperti salam perpisahan, misalnya.' gumam Laras dalam hati, ia mulai menunduk malu dan salah tingkah. Karena tatapan Adam yang begitu intens.


Adam tersenyum kecil, sebuah senyuman yang sangat natural. Bukan senyum mengerikan yang biasa ia perlihatkan pada orang lain, Kim sampai di buat takjub dengan senyum sesaat atasannya itu. Selama ia berkerja dengan Adam, baru kali ini ia melihat laki-laki kejam itu tersenyum sedemikian rupa.

__ADS_1


"Kenapa kau malu? Bukankah aku hanya menatapmu saja? Apa kau lupa dengan apa yang baru saja ki-."


Laras langsung membungkam mulut Adam dengan kedua tangannya, pipinya yang bersemu kemerahan menggeleng cepat. Kim terbelalak tak percaya Laras melakukan hal itu. Belum ada yang berani berbuat hal begitu sembrono seperti Laras.


__ADS_2