Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 20


__ADS_3

"Kau tidak percaya? Tanyakan sendiri pada Adam dan Ayahmu! Mereka lebih tahu yang sebenarnya. Bangunlah dari mimpimu Anne, sudah saatnya kau sadar. Adam tidak akan pernah menjadi milikmu!"


"Pembohong!" Teriak Anne tidak terima.


Jason tersenyum getir melihat Anne, wanita cantik itu begitu keras itu. Anne melemparkan bantal pada Jason, wanita itu berteriak. Mengumpat pada laki-laki yang selama ini begitu tulus mencintainya.


"Terserah padamu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Selama ini aku begitu mencintaimu, tapi kau tidak pernah menganggap aku serius," ucap Jason, menatap Anne dengan penuh arti.


"Pergi! Pergi!"


"Aku akan pergi, aku akan bertanggung jawab jika kau mau," ucapan terakhir yang keluar dari mulut Jason sebelum ia berlalu dari balik pintu.


Jason bersandar di pintu yang baru saja ia tutup dengan keras. Semalam bukan sepenuhnya salah Anne yang menganggap dia sebagai Adam, Jason juga bersalah. Ia terlalu terbawa emosi karena ucapan Anne.


Dia hanya lelaki bodoh yang selalu mengikuti ku. Jika saja dia bukan adik Adam, aku tidak suka terlalu dekat dengannya.


Jason mengepalkan kedua, ucapan Anne kala itu di Klub, benar-benar membuat dia geram. Seperti itu rupanya Anne melihatnya selama ini, Jason tersenyum getir. Dia memang bodoh, melakukan apapun demi cinta, bahkan memaksa Adam untuk membantunya.


Jason pergi ke Utara seperti perintah Adam, meninggalkan Anne sendirian di kamar itu. Inilah waktunya, untuk dia melepaskan cinta yang selama ini ia genggam erat, cinta sebelah hati yang ia miliki. Berat, tetapi ia tak mau lagi di anggap bodoh. Mencintai tanpa dicintai itu sakit, lelah, cintailah orang yang juga mencintaimu. Berdirilah di tempat dimana kau dihargai.


.


.


.


.


.


.


Adam menyeringai licik, laki-laki tampan itu tak lagi memakai jas lengkap. Kali ini tubuh tegap atletis itu ia balut dengan kaos berwarna hitam, dengan rompi anti peluru di dalamnya.


"Kalian siap?" Tanyanya.


"Siap, menunggu komando," jawaban dari seberang.


Adam bersembunyi di balik lebatnya pojok Pinus, malam ini langit turut melindungi sang penguasa dan pasukannya. Setelah menjadi ketua White clown, hal pertama yang ia lakukan adalah melumpuhkan musuh yang selama ini mengganggu bisnis mereka.


Di sebuah dermaga yang tersembunyi jauh dari keramaian, tempat yang terlindung oleh lebatnya pohon pinus. Tampak dua orang sedang bertransaksi, Adam mengenal salah satu dari mereka. Eiger, orang yang kemarin keluar dari ruang rapat karena tak setuju Adam menjadi ketua.


Perlahan, dengan mengendap-endap Adam mendekat. Gerakannya cukup cepat, berpindah dari satu pohon ke mobil anak buah Eiger.


"Ugh."

__ADS_1


Brugh


Satu persatu anak buah Eiger yang berjaga rubuh, terkena peluru tak bersuara milik Adam. Pria dingin itu semakin dekat, bagai bayangan di kelamnya malam. Tak tak terlihat, tetapi begitu mematikan.


Hanya tinggal dua penjaga yang berdiri di belakang Eiger yang tersisa. Adam sengaja tidak menyergap mereka secara langsung, pria itu masih berguna untuk rencananya.


"Bagaimana, barang sebagus ini hanya bisa kau dapatkan dariku kan?" Ucap Eiger dengan bangga pada pelanggannya itu.


Pria itu menyeringai, dijilatinya bubuk putih yang ada di ujung pisau. Bibirnya mengecap, senyum puas tersungging di bibirnya.


"Murni, aku sangat suka. Kapan kau bisa mendapatkan sisanya?" Tanya pria bermata biru itu.


"Aku tidak bisa memastikannya, ada sedikit perubahan di sana. Aku harus lebih berhati-hati sekarang," jawab Eiger.


"Hem, lebih cepat lebih baik. hubungi aku jika barangnya sudah siap." Pria itu memberi kode pada anak buahnya agar memberikan koper yang mereka bawa.


Eiger menerimanya dengan senang, ia buka koper itu dengan tidak sabar. Mata Eiger berbinar hijau melihat isi koper yang penuh dengan tumpukan uang, dengan senang ia menggosok kedua tangannya.


Ia menatap si pelanggan tanpa nama itu kemudian mengangguk kecil, tanda kesepakatan telah tercapai. Pria itu menyuruh anak buahnya mengambil kotak hitam yang yang telah dibeli, untuk membawanya ke kapal.


"Tunggu kabar baik selanjutnya Tuan," ucap Eiger pada pelanggannya, yang sudah berbalik badan dan melangkah menjauh.


Mereka menaiki kapal kecil, dan mulai meninggalkan dermaga.


"Lancar sekali bisnis Anda Tuan."


Tubuh Eiger membeku, ujung pistol milik Adam menekan di punggungnya. Sekali saja Adam menarik pelatuknya, benda itu akan menembus jantung dan menghentikan detaknya.


"Tu-Tuan," Eiger berucap dengan terbata, keringat dingin mulai membasah leher dan keningnya, ludah yang ia telan seperti bara di tenggorokan.


Duk.


Adam menendang lutut Eiger, membuat laki-laki duduk bersimpuh di tanah. Bukan hanya kehadiran Adam yang membuatnya takut. Tetapi ia sudah di kepung, anak buah yang menjaganya sudah tak bernyawa. Serangan senyap Adam tak pernah gagal.


"Berapa kau menjualnya?" Tanya Adam setelah membuka koper yang berisi uang hasil transaksi Eiger.


Adam melangkah berjalan mengelilingi Eiger yang bersimpuh, pistol yang ada ditangannya ia ketuk-ketukan pada kepala Pria itu.


"Saya bisa menjelaskannya Tuan, ini tidak seperti yang Anda lihat," kilahnya berusaha meyakinkan Adam.


"Oh."


Adam menjentikkan jari, seorang datang membawa kursi kecil yang entah dari mana. Ia meletakkannya untuk sang penguasa duduk, tepat di depan Eiger yang sedang bersimpuh dengan semua pistol yang mengacung kearahnya.


Adam menyalakan korek api, ia biarkan kilatan api menyentuh ujung cerutu ditangannya.

__ADS_1


Ssshh.


Huff.


Penguasa itu menghembuskan kepulan asap putih di wajah Eiger yang ketakutan. Laki-laki bertubuh tambun itu bahkan tak berani terbatuk, ia terlalu takut untuk mengeluarkan suara.


"Jadi ini alasanmu tidak ingin aku menggantikan Paman Rey, kau pasti mendapatkan banyak keuntungan dari bisnis sampai ini,"Sindir Adam.


Adam berkata dengan penuh penekanan, matanya begitu tajam menatap mangsa yang ada di hadapannya.


"Menyenangkan bukan, bermain seperti ini."


"Sa-saya-,"


Dor


"Agh ..." Eiger mengerang, dua peluru menembus lengannya.


"Ah, ... Meleset. Hei kau kemari!" Panggil Adam pada salah satu anak buahnya.


Seorang pria berpakaian serba hitam, datang mendekat. Ia membungkuk hormat pada sang penguasa.


"Tembak kakinya, kedua kaki," titah Adam.


"Tuan tolong tidak, jangan. Saya mohon."


Dor


Dor


Dua tembakan menebus kedua kaki Eiger panas dan pedih, laki-laki itu mengerang kesakitan.


"Berisik!"


Adam menendang leher Eiger dari arah samping, laki-laki jatuh tersungkur di tanah. Belum puas, sang penguasa menginjak kepala Eiger berulang kali.


"Seret dia, masukkan kedalam sel. Jangan biarkan dia mati!" Tegas Adam.


"Baik Tuan."


Adam menyeringai, menatap Eiger yang kelelahan dalam sakit yang ia rasakan.


"Gunakan sisa nafasmu untuk membayar apa yang kau lakukan!" Tegas Adam sebelum meninggal pria itu.


Seperti perintah, Eiger seret masuk ke mobil. setelah sampai di markas, ia dimasukkan ke dalam sel bawah tanah.

__ADS_1


__ADS_2