Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 28


__ADS_3

Brugh


Brugh


Seorang wanita bertubuh tegap melayangkan tendangan di pinggang Jason yang terbuka, Jason meringis berusaha menyembunyikan raut kesakitan. Jason berusaha membalas, tapi dengan sigap wanita itu menghindar.


Shet


Wanita itu menyerang kaki Jason hingga membuat pertahanan pria itu rubuh, tapi sebelum dia benar-benar jatuh Jason menarik lengan Jane, hingga keduanya jatuh dalam posisi saling bertindih.


"Kau! Lepaskan!" Jane meronta dalam pelukan Jason, tetapi pria itu hanya tersenyum miring melihat wajah Jane yang begitu dekat dengannya.


"Beri aku jawaban, dan aku akan melepaskanmu," Jason berbisik pelan.


"Jawaban apa?! Cepat lepaskan!" Jane melemparkan pandangan ke sekeliling, ia takut jika senior lain melihat dia dalam posisi seperti ini.


"Jane please, answer me."


"I can't," lirih Jane sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah raut wajah kecewa, Jason melepaskan tangannya yang mengunci tubuh Jane, wanita itu pun beranjak dari atas tubuh Jason. Jason perlahan bangkit, ia berjalan pergi meninggalkan Jane begitu saja di tempat latihan, wanita dengan rambut di kepang kebelakang itu hanya bisa menatap nanar punggung Jason yang berlalu.


"Maafkan aku," gumam Jane sendiri.

__ADS_1


Jane segera berdiri, dengan raut wajah yang ia buat seolah tak ada yang terjadi. Ia memutuskan untuk membersihkan diri, tubuhnya terasa lengket setelah latihan.


Jane adalah salah satu senior yang dipercaya untuk menjadi pelatih di sana. Dia di adalah seorang gadis malang yang di beli Adam di sebuah tempat prostitusi saat ia masih berusia empat belas tahun, dia di jual oleh ayahnya sendiri karena kehabisan uang di tempat perjudian.


Jane juga tidak tahu alasan Adam membelinya saat itu, tapi dia merasa beruntung karena tidak harus lagi melayani manusia bejat di tempat kotor seperti itu. Jane dilatih di tempa menjadi sosok mesin pembunuh, ia juga menyembunyikan rapat luka yang sudah tertoreh dalam di jiwanya.


Di bawah guyuran air dingin, Jane berusaha menwaraskan diri. Ungkapan cinta Jason padanya tempo hari membuat dia porak-poranda, wanita seperti dia mana bisa mencintai, dia hanya tahu menghabis saja. Sebenarnya dalam hati Jane ia sudah sangat lama mengagumi Jason, meskipun dia sangat jarang bertemu dengan pria itu. Tetapi pertemuan mereka selalu berkesempatan bagi Jane, entah angin apa yang membuat Jason datang dan tinggal cukup lama di sini.


"Jane, cepatlah. Lelet banget!" Seru seorang pria mengetuk pintu kamar mandi dengan keras.


Jane berdecak, dia seharusnya mandi di kamarnya saja. Ia segera menyelesaikan mandinya. Setelah memakai bajunya, Jane pun keluar, menatap tajam pada Zoro. Tidak ada yang tahu nama sebenarnya, itu adalah nama panggilan untuk pria berambut panjang itu.


"Lemah," gumam Zoro yang langsung di sambut dengan lengan Jane yang yang mendesak Zoro hingga tubuh pria itu menabrak pintu kamar mandi yang tertutup.


Mata Jane menajam seolah menembus otak Zoro, Jane tahu kenapa pria itu mengatainya lemah. Zoro pasti melihat bagaimana Jane jatuh dalam pelukan Jason ditempat latihan.


"Heh, kenapa? Apa kau tersinggung? Mesin pembunuh yang bisa jatuh dalam sekali tarikan seorang pria lemah, menggelikan," ujar Zoro panjang lebar, rahang Jane mengeras mendengar ucapan pria itu.


Lutut Jane bergerak cepat memberikan sentuhan di tempat sensitif pria itu, Zoro meringis memegangi burung yang baru saja mendapatkan benturan hebat. Jane tersenyum, ia mundur membiarkan Zoro menikmati rasa ngilu.


"Kurang ajar ajar Kau!"


Jane hanya tersenyum miring, lalu meninggal Zoro begitu saja.

__ADS_1


"Kau memalukan Jane, kalah dari pecundang itu!"


Jane tak menghiraukan umpatan dan cemoohan Zoro. Jane rasa hari ini sudah cukup untuk memberi dia pelajaran, Jane mengalami cepat menuju kamarnya. Sebuah bangunan yang terpisah dari tempat latihan, di rumah besar itu para senior yang melatih anak buah White clown bisa beristirahat.


Jane menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan sprei berwarna hitam. Terdengar helaan nafas Jane yang berat, wanita itu melihat foto jadul yang terbingkai apik di atas meja rias.


Umur hanya satu tahun lebih muda dari Jason, seulas senyum pahit tersungging di bibir ranum Jane.


Rasa ragu menyelimuti hati Jane, dia bukan wanita yang pantas untuk Jason. Meskipun ada rasa kagum yang selama ini Jane pendam rapat dalam relung hatinya, tetap saja Jane menolak Jason. Selain merasa tidak pantas, Jane juga enggan untuk menjadi pelarian pria itu, semua orang tahu bagaimana Jason memuja wanita bernama Anne itu.


....


"Tuan, Nona Laras sudah siap," ujar seorang wanita paruh baya dengan menunduk hormat.


"Hem," jawaban singkat dari Adam.


Tirai berwarna putih perlahan bergeser, memperlihatkan seorang wanita yang telah berbalut gaun pengantin nan cantik, Adam berdiri mematung melihat Laras yang tampak begitu cantik. Wanita itu menundukkan, menyembunyikan rona wajah yang memerah karena tersipu.


Adam mengibaskan tangannya, semua orang yang ada di sana mengerti dan pergi dari tempat itu. Memberikan ruang pada sua sejoli yang sedang saling mengagumi. Langkah Adam terdengar berat mendekat ke arah Laras, pandangan mata wanita cantik itu tertuju pada ujung sepatu Adam yang menyentuh gaunnya.


Perlahan kaki berbalut sepatu berwarna hitam mengkilap itu berjalan mengelilingi Laras, tak ada kata yang terucap. Hanya decak kagum Adam yang terdengar dari bibir sang penguasa.


"Kau sangat cantik, Sayang," bisik Adam dari belakang telinga Laras, tangan kekar itu merambat melingkar di pinggang rampingnya.

__ADS_1


Laras memejamkan mata, merasakan hembusan nafas hangat Adam yang menyapu lehernya. Satu tangan Adam naik, mengapit dagu Laras dan menggerakkannya kiri, kini keduanya saling bertemu. Entah siapa yang memulai kini keduanya saling memagut mesra.


Laras memukul dada Adam saat oksigen dalam dadanya mulai berkurang. Adam melepaskan tautan bibir mereka, mengusap bibir Laras yang basah karena ulahnya.


__ADS_2