Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 18


__ADS_3

Sadar, Laras langsung melepaskan tangan dan memberingsut mundur. Wajah tanpa polesan make up itu terlihat semakin memerah.


Ya Tuhan, kenapa aku melakukan itu? Bagaimana kalau Tuan marah? gumam Laras gelisah.


Adam melangkah maju, ia sedikit menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Laras. Tanpa kata, Adam mengetuk pipi dua kali dengan telunjuknya, Laras tentu paham dengan kode itu. Tapi, apakah harus sekarang?


Banyak pengawal dan juga Kim di sana, bagaimana Laras melakukan itu. Melihat wajah Laras yang gelisah sambil celingukan melihat sekeliling, Adam pun paham. Pria tampan itu menegakkan badannya.


"Ehem, berbalik!" Seru Adam, semua pengawal mengerti dan membalikkan tubuh mereka membelakangi Adam dan Laras, termasuk Kim yang berdiri di belakang sang penguasa itu.


Adam mengangkat satu alis sambil sedikit memiringkan kepalanya, malu-malu Laras mulai mendekat. Ia berjinjit, karena tubuh mungil Laras hanya mencapai pundak Adam saja. Saat Laras hendak mencium pipi Adam, laki-laki itu langsung menoleh hingga bibir mereka bertemu. Laras melotot terkejut dan segera menarik wajahnya menjauh.


Adam tergelak melihat tingkah Laras yang sungguh menggemaskan. Laras sudah cukup menahan malu saat Adam mencium kening dan bibirnya tadi, sekali lagi dia harus merasa lebih malu, karena permainan sang penguasa.


"Jaga dirimu, aku akan kembali dalam lima hari," ujar Adam sambil mengacak gemas rambut Laras, Laras mengangguk pasti dengan senyuman manis khas miliknya.


"Kita berangkat!" Seru Adam.


Semua anak buahnya berbalik seperti semula. Adam berjalan pasti dengan, pasukan pilihan yang ikut bersamanya kali ini. Pemandangan manis yang dilakukan Adam dan Laras tak luput dari perhatian Anne, wanita cantik itu melihat dengan jelas dari jendela kamarnya.


Laras melepaskan kepergian Adam dengan hatinya yang gelisah. Dalam hati ia selalu berdoa agar Adam kembali pulang dengan selamat. Sementara Anne menatap Laras dengan tajam dan penuh amarah.


"Tunggu saja, sebentar lagi kau tidak akan bisa menggoda Adam lagi dengan senyum murahan mu itu," gumam Anne penuh amarah, tangannya mengepal kuat menahan amarah yang bergemuruh di dada.


Selepas kepergian Adam bersama rombongan anak buahnya. Laras kembali ke mansion kecil miliknya, dengan Kim yang setia menjaga di belakang.


"Frans kenapa, belum kembali? " Tanya Laras menggunakan ponsel yang di arahkan pada Kim.

__ADS_1


Kim menghela nafas panjang, ia sebenarnya malas membahas makhluk jadi-jadian itu.


"Dia sedang ada perlu di luar kota Nona, dia tidak bisa di sini terlalu lama. Mahluk itu punya alamnya sendiri," jawab Kim terkesan dingin.


"Mahluk?" Laras memiringkan kepalanya, menatap Kim dengan sedikit bingung. Tentu saja Laras mengetik lagi di layar ponsel.


"Iya , mahluk itu." Tak berniat bicara lebih banyak lagi pada Laras, Kim pun berlalu melewati Laras begitu saja.


Pria tampan berambut hitam, yang selalu tersisih rapi itu pergi ke dapur. Ia harus merebus obat herbal untuk Laras, Adam tidak percaya pada orang lain selain Kim untuk melakukannya.


Obat Herbal yang di resepkan oleh Frans. Bisa membantu pemulihan pita suara dan tenggorokan Laras, sekaligus mendetoksifikasi sisa racun yang belum sepenuhnya hilang dari tubuh mungil Laras.


"Frans kenapa lama sekali perginya, aku sangat kesepian di sini," gumam Laras dalam hati.


Wanita cantik itu berjalan gontai menuju kamarnya. Frans adalah satu-satunya orang yang bisa menemani Laras, selama dia merawat Laras, Frans sering mengajarinya hal-hal yang belum Laras mengerti. Membaca, menulis bahkan urusan ranjang, Frans berkata kalau Laras harus pandai-pandai mengambil hati Adam, hidup dan mati Laras ada di tangan sang penguasa itu.


Sesampainya di kamar, Laras mengedarkan pandangan, tempat itu baru saja penuh dengan ******* kenikmatan dia dan penguasa itu. Laras tersenyum saat melihat baju milik Adam yang masih berada di sofa, dengan langkah pasti ia berjalan ke arah sofa. Diraihnya kemeja berwarna putih itu, Laras memeluknya erat, menghirup aroma parfum Adam yang masih tersisa di sana.


Sambil bersenandung kecil, dengan tetap memeluk kemeja itu. Laras menari, melangkah dengan riang mengitari kamarnya.


Senyum manis tak lepas dari bibirnya yang mungil. Gadis bisu itu merasakan hangatnya cinta yang luar biasa, perhatian dan perlakuan Adam yang lembut membuat cinta di hati Laras semakin kuat.


Brugh.


Wanita itu menjatuhkan diri ke ranjang yang masih berantakan. Masih tersisa aroma cinta dan semua yang telah ia lakukan dengan Adam. Sengaja Laras mengunci pintu kamar saat ia mengantarkan Adam ke luar, karena dia tidak ingin para pelayan yang ada di mansion membersihkan kamarnya.


Dia ingin tetep menyimpan semua yang terjadi hari ini, setidaknya ini bisa sedikit mengobati rasa rindu pada penguasa itu. Lima hari, bukanlah waktu yang singkat bagi Laras. Entah karena cintanya yang terlalu besar atau ada sesuatu yang lain, Laras seolah susah untuk bernafas saat Adam tak ada di sekitarnya.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain.


Gemerlapnya bintang di langit , masih kalah dengan sorot lampu yang menaungi puluhan manusia yang sedang berpesta. Mereka saling menggoda, saling bertukar peluh dan gerakan di sayu tempat. Alunan music keras mengiringi hentakan kaki dan liukan para penikmatnya.


Anne menenggak bir langsung dari botolnya, menikmati malam yang indah bersama Jason.


"Anne, sudah. Kau bisa mabuk," cegah Jason saat Anne hendak menenggak botol ke lima.


Anne menoleh, menatap Jason dengan tatapan yang lucu serta bibir yang berhenti tersenyum.


"Ini enak J, kau mau .. hiks ...." Anne mengayunkan botol kecil itu di wajah Jason.


"Nggak, kita pulang sekarang. Kau sudah mabuk!" Tegas Jason dengan serius.


"Nggak, aku nggak mau pulang. Aku masih mau menari, ada kamu yang menjagaku kan ... Hiks ... Jadi santai, santai Tuan," ujar Anne yang sudah setengah sadar.


Jason menggeleng pelan dengan menghela nafas panjang, tadinya ia mengajak Anne keluar memang untuk menghiburnya. Namun, Jason tidak menduga kalau Anne akan minum sampai kebablasan seperti ini.


"Ayo J, kita menari!" Seru Anne.


Wanita itu bangkit dari duduknya, ia menarik tangan Jason. Mau tak mau Jason pun menurutinya, ia tidak mungkin membiarkan Anne menari sendiri di antara puluhan umat itu. Apalagi keadaan Anne sudah mabuk seperti ini.


Anne mengalungkan tangannya di leher Jason, tubuh seksi Anne meliuk bergerak mengikuti irama musik. Wajah Anne yang memerah, membuat Jason merasa gemas. Tubuh mereka sangat dekat hingga.


Cup


Jason mendaratkan ciuman di bibir seksi milik Anne, wanita itu terkejut. Namun, sesaat kemudian ia pun membalas ciuman Jason. Keduanya saling mel**at diantara manusia yang berpesta.

__ADS_1


__ADS_2