Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 35


__ADS_3

Setelah keluar dari ruang kerja Adam, Frans berjalan dengan cepat dengan tatapan lurus ke depan. Jelas sekali wanita itu sedang mengindari sesuatu, dan itu adalah Kim. Pria tampan bertubuh tegap itu, baru saja akan berjalan kearah nya.


"Hai ... Hei ... Tunggu!" Pekik Kim dengan berlari menyusul langkah Frans. Tetapi langkah kaki pria sipit itu kalah cepat, Frans sudah masuk ke kamarnya. Menutup pintu dengan keras.


"Ciie ... Yang lagi pendekatan," ledek Jason yang melihat Kim berdiri di depan pintu kamar Frans.


Kim menoleh, melepaskan tatapan tajam pada Jason yang sedang melihat dirinya dengan wajah mengejek. Ia melangkah mendekat, tanpa takut singa sipit itu menerkamnya.


"Frans orang yang baik, jangan sakiti dia. Sebenarnya dia sangat rapuh, kau bahkan bisa mematahkan dia hanya dengan jentik jari," ujar Jason mode bijak.


"Jangan ikut campur!" Tukas Kim,. sambil berjalan berlalu.


"Susah banget di bilangin. Nanti nyesel kayak aku baru tau!" Seru Jason, Kim hanya mengangkat tangan tanpa menoleh, ia berjalan lebih cepat ke halaman belakang mansion. Sementara itu Frans, terduduk di lantai. Dia tidak suka dirinya yang lemah seperti ini, sama sekali tidak suka.


"Aku harus segera keluar dari sini, ck Tuhan buat Laras segera hamil," ujarnya sambil mengusap wajah kasar.


.


.


.


.


.


Saat Adam sedang menikmati kebahagiaan pernikahan, ada seseorang yang terluka, marah dia merasa dikhianati oleh sang penguasa itu.


Wanita itu sama sekali tak mengindahkan nasehat Marquis kang, meskipun dia berkata tidak akan menganggu kehidupan Adam lagi, tetapi tidak pada kenyataannya. Anne malah bersekutu dengan seorang yang ingin menghancurkan Adam.


Di sebuah Villa mewah, Anne duduk santai di tepi kolam renang yang luas. Villa itu terletak disebuah pulau terpencil. Tak ada yang bisa menemukan tempat itu, kecuali ada orang-orang yang di beri akses oleh Yang. Pria berkulit putih dengan mata sipit dan banyak tato yang memenuhi tubuhnya.


"Ck, aku tidak yakin dengan semua ini, apa kau benar-benar bisa melakukannya?" Tanya Anne serius.


"Kau meragukan aku Nona Kang," dengan senyuman misterius miliknya.

__ADS_1


Pria tampan dengan rambut tertata rapi kebelakang, dan kemeja putih dengan lengan yang di gulung sampai ke siku. Memperlihatkan tato di lengan sebelah kiri.


Anne menggeleng pelan, menyesap minuman beralkohol yang ada ditangannya. " Hanya saja, aku merasa bingung bagaimana aku harus mendekati wanita itu?"


Pria itu tersenyum, ia mengambil kotak kayu yang terlihat mahal dan memberikannya pada Anne.


"Kau pasti tahu apa itu, berikan padanya sebagai hadiah. Wanita itu polos, dia akan tersentuh dengan sedikit bingkisan dan air mata."


Senyum Anne melebar setelah membuka dan melihat isi kotak persegi panjang itu." Yah, sudah saatnya aku berlakon lagi"


Keduanya mengangkat gelas bersulang, Anne yang sudah gelap mata tak tak perduli lagi dengan siapa dia bekerja sama.


Yang Jian, seorang pria yang memendam dendam pada Adam. Bisnisnya hancur karena kalah saing dengan penguasa itu, tetapi Yang sangat licik. Dia menjalin kerjasama dengan Adam, dan ingin menggerogoti pria itu dari dalam.


Seminggu berlalu.


Adam berdiri di depan cermin besar yang ada di hadapannya. Pria itu memakai jas hitam yang Laras siapkan, tak ada seorangpun yang boleh kecuali Laras yang menyentuh barang pribadinya.


"Kau ingin makan apa? Aku akan membuatnya untuk mu," tanya Laras sampai menepuk pundak Adam, merapikan sedikit baju sang suami.


"Aku kangen di dapur, aku tidak pernah memasak lagi setelah kita menikah," rengek Laras dengan manja.


"Apa kau tidak lelah, kau harus mengurus ku siang malam," ujar Adam sambil menaik turunkan alisnya.


"Kalau cuma masak aku nggak capek kok."


"Oh, nggak capek. Apa aku kurang perkasa tadi malam, sampai kau masih punya tenaga untuk berdiri di depan penggorengan?" Adam semakin mengeratkan pelukannya, membuat tubuh mereka menempel sempurna.


"Bukan begitu maksud ku, aku hanya ingin membuat sesuatu untukmu." Laras menggeliat berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Adam.


Adam terkekeh melihat wajah Laras yang sudah pucat pasti ketakutan. Wajar jika Laras takut, Adam tak memberi jeda dia untuk beristirahat walau sekedar untuk menarik nafas. Pria itu seperti kuda yang berpacu tanpa lelah berpacu di atasnya.


"Kenapa? Takut?" Tanya Adam dengan serius, Laras menunduk mengangguk kecil.


Adam memberikan kecupan hangat di kening sang istri, membuat rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh wanita itu.

__ADS_1


"Jangan takut, aku tidak akan memakan mu," bisik Adam di telinga sang permaisuri.


"Tidak?" Adam menggeleng pelan.


"Aku harus pergi sekarang, ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku tidak akan pulang malam ini, jangan merindukan aku ok." Lagi, Adam mengecup kening dan kedua mata Laras.


Laras terdiam, setelah menikah baru kali ini Adam akan pergi dan tidak pulang di hari yang sama. Meskipun itu sudah biasa saat mereka belum menikah, tetapi kali ini terasa berbeda untuk Laras.


"Kenapa tidak pulang?" Laras melingkarkan tangan di pinggang Adam.


Wanita bertubuh mungil itu tiba-tiba saja bersikap manja pada sang suami, ia bersandar pada dada bidang yang berbalut jas hitam itu.


"Ada sesuatu yang harus aku lakukan," jawab Adam singkat.


Dia tidak mungkin menjelaskan detail pekerjaannya pada Laras, meskipun mereka sudah menikah.


"Kenapa apa kau rindu? Aku bahkan belum keluar dari kamar ini, Sayang?"


Laras diam, dia hanya memeluk Adam semakin erat. Pria itu sedikit menarik tubuh Laras, agar bisa melihat wajah istrinya dengan lebih baik.


"Hey katakan kenapa? Bukankah aku pernah meninggalkan mu lebih lama dari ini sebelumnya?" Tanya Adam dengan tatapan menelisik, mata Laras sudah berkaca-kaca dan akan terjatuh bulir bening itu dalam sekali kedip saja.


"Entahlah," jawab Laras singkat kemudian memeluk kembali suaminya.


Adam mengambil nafas panjang, bagaimana dia bisa pergi jika Laras seperti ini. Dia tidak akan tega meninggalkan Laras jika wanitanya bersedih.


"Langkahku akan terasa berat jika kau seperti ini, Sayang." Adam mengusap rambut Laras kemudian mengecupnya dengan lembut.


Bisnis kali ini tidak bisa ia serahkan pada Jason, para assassin itu ingin bertemu langsung dengan Adam


"Maaf, aku hanya sedikit terbawa suasana," ujar Laras, wanita itu mengusap air mata yang mengenang di sudut matanya.


"Sst, jangan minta maaf. Kau seperti ini karena cintamu."


"Maaf," lirih Laras lagi, ia sadar jika dia tidak boleh bersikap seperti ini dan menjadi suami penghalang untuk sang suami.

__ADS_1


"Its Ok, Honey. " Adam memeluk erat tubuh Laras, dan memberikan kecupan lembut mendarat.


__ADS_2