Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 16


__ADS_3

Laras berlutut, tangan lentiknya mengusap benda keras yang begitu menantang dari balik celana Adam. Pria itu mendesis nikmat, saat Laras mulai memainkan benda keras itu dengan tangannya.


Namun, Adam segera menarik rambut Laras yang tergerai saat bibir lembut itu hendak menyentuh pusakanya.


"Naiklah," titah Adam dengan suaranya yang berat.


Mata yang terlihat sayu, menatap Adam dengan mesra. Adam seorang terbius oleh Laras mengangkat tubuhnya mengusap pelan paha polos Adam, dengan mata yang tak lepas menatap wajah tampan pria itu.


Permainan mereka di mulai, kali ini Adam membiarkan Laras sedikit mendominasi. Tubuh mungil itu mulai meliuk, bergerak naik-turun di atas benda keras milik sang penguasa. Pelan tapi pasti, Laras semakin menambah ritme permainannya, mengejar gelombang kenikmatan yang sudah ingin dicapai.


Adam menyeringai, ia hanya menatap tubuh Laras yang meliuk bergerak bebas dalam pangkuannya, Sesekali ia meremas, dan mengigit gemas ujung aset yang bergelantungan di hadapannya. Tubuh Laras menengah, wajahnya menengadah ke atas, Adam tahu Laras telah mencapai puncaknya.


Tanpa melepaskan aset mereka, Adam mengendong Laras. Melanjutkan permainan panas mereka di atas ranjang. Kini tubuh Laras ada di bawah Adam, menggelinjang merasakan hujaman pusaka sang penguasa.


Pergulatan panas itu berlangsung begitu lama dan mesra, menumpahkan semua rindu yang Laras rasakan. Sentuhan Adam yang begitu lembut menjamah tubuh Laras dengan semua hasrat yang begitu besar. Setelah menumpahkan cairan hangat miliknya untuk kesekian kali dalam rahim Laras, Adam menindih tubuh Laras, memeluk wanita itu dengan erat.


Nafas keduanya memburu, menikmati sisa puncak yang baru saja mereka gapai bersama. Penuh peluh dan cairan lengket diarea yang di apit paha, tetapi Laras belum ingin ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia seorang tak rela berpisah dari Adam walaupun hanya untuk sesaat, cukup rasanya berat rindu yang ia tanggung beberapa hari terakhir. Terasa sangat menyiksa tidak bertemu dengan sang penguasa itu.


Adam berbaring dengan Laras yang menjadikan dadanya sebagai sandaran. Tangan lentik Laras memainkan bulu halus yang menghiasi dada bidang itu.


"Aku akan pergi beberapa hari," ujar Adam tiba-tiba menghentikan gerakan Laras.


Laras menarik dirinya sedikit menjauh, agar bisa menatap wajah tampan yang mengisi seluruh hatinya. Adam tersenyum, tangannya terulur menyisipkan rambut Laras yang menutupi wajahnya.


"Tidak akan lama, aku akan segera kembali," ucap Adam lagi, seolah paham dengan arti tatapan Laras.

__ADS_1


'Bisakah Tuan tidak pergi kali ini? Saya tahu saya tidak berhak melarang Tuan pergi, saya bukan siapa-siapa di sini selain penghangat tubuh Tuan, tetapi saya mohon kali ini saja. Tolong tunda kepergian Anda," ujar Laras mengunakan bahasa isyarat.


Adam berdecak kesal, ia malas untuk menggunakan ponsel mengartikan isyarat Laras, tetapi ia juga tidak mengerti apa yang Laras katakan dengan isyarat itu.


"Kapan Frans akan memulai operasi mu, aku tidak bisa mengerti bahasanya jika terus seperti ini," keluh Adam sambil menatap wajah Laras.


Laras tersenyum kecil, terlihat begitu menggemaskan bagi Adam. Wanita tanpa busana itu meraih tangan Adam, mengecupnya dengan lembut kemudian menempelkannya di pipi.


'Saya khawatir karena Anda Tuan,' ucap Laras tanpa kata.


Adam bisa merasakan rasa yang begitu hangat dan tulus dari sorot mata Laras yang teduh. Bukan seperti wanita-wanita lain yang pernah menjadi selirnya. Bagi Adam perempuan hanya seperti baju yang akan dia ganti saat bosan, tetapi Laras berbeda. Adam menginginkan lebih dari sekedar hubungan badan dengan Laras.


Adam menarik kepala Laras, merebahkannya kembali ke dada bidang miliknya. Tangan Laras memeluk erat tubuh kekar itu, merasakan hangat dan aroma maskulin dari sang penguasa.


Sementara itu di mansion lain.


"Agh ...! Dasar j`lang, wanita murahan. Beraninya dia merebut Adam dariku!" Teriak Anne dengan marah.


Prang.


Prang.


Ia kembali mengayunkan tongkat golf itu, memecahkan guci besar yang baru ia beli beberapa waktu yang lalu. Anne suka membeli apa saja tanpa berpikir, ia hanya berbelanja untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu memikirkan Adam yang mulai tidak memperhatikan dirinya.


Pada pelayan yang berdiri di sana hanya bisa, melihat kelakuan sang Nyonya dengan perasaan takut. Mereka tak bisa pergi atau berhenti dari pekerjaan mereka, meskipun mereka sudah tidak ingin lagi berkerja. Setiap orang yang berkerja di mansion itu, sudah menandatangani kontrak kerja seumur hidup dengan segala perjanjian yang ada. Namun, sebenarnya itu semua terbayar karena gaji yang di berikan cukup besar.

__ADS_1


Hanya, kadang sikap Anne yang semena-mena, membuat mereka ketakutan. Apalagi semenjak kematian Ursula karena hukuman yang Adam berikan. Mereka pun semakin takut dengan orang-orang yang ada di mansion ini.


"Anne, ada apa ini?!" Tanya Jason yang baru saja datang karena mendengar keributan dari luar.


Anne seketika menoleh, membuang tongkat golf yang semula ia genggam. Dengan tatapan nyalang, Anne melangkah lebar menghampiri Jason yang sedang menatapnya.


"Kau pembohong! Kau pembohong!" Teriak Anne sambil memukul Jason dengan kedua tangannya.


"Hei ... Hei ... Tenang, tenang jangan seperti ini, ini tidak baik untukmu." Jason berhasil menangkap kedua tangan Anne, pria tampan itu melirik. Mengerakkan matanya, mengisyaratkan agar semua pelayan yang ada di sana keluar.


Mereka pun mengerti dan mengangguk patuh, satu persatu pelayan mulai keluar. Menyisakan Jason dan sang Nyonya, pelayan terakhir yang keluar menutup pintu besar yang ia lewati.


Jason menarik Anne, membawa wanita cantik itu dalam pelukannya. Anne menolak, memberontak. Namun, Jason semakin mempererat pelukannya.


"Kau jahat! Jahat! Pembohong!" Teriak Anne dalam pelukan Jason.


Tangis Anne akhirnya pecah, seiring tubuhnya yang mulai melemah. Anne pasrah dalam pelukan Jason, pria itu memejamkan mata. Turut merasakan sedih dari tangis yang begitu menyayat hati. Ia biarkan Anne menumpahkan air mata dalam pelukannya, sesekali tangan Jason mengusap lembut rambut Anne yang tergerai.


Cukup, lama Anne menangis dalam pelukan Jason. Jason mulai mengendurkan pelukannya, sedikit menarik tubuhnya menjauh agar bisa melihat Anne.


"Sudah lebih tenang?" Tanya Jason lembut, Anne hanya mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan.


"Kemari, duduklah. Aku akan mengambil minum untukmu." Lagi-lagi Anne hanya mengangguk, ia menurut saja saat Jason menarik tangan Anne dan mendudukkan dirinya di sofa.


Jason melangkah agak jauh ke meja yang belum tersentuh oleh amukan Anne, mengambil air dan memberikannya pada wanita cantik itu.

__ADS_1


"Minumlah." Anne mengangguk patuh, ia menenggak air yang diberikan Jason hingga tandas.


Berteriak dan menangis dalam durasi yang cukup lama membuat kerongkongan Anne terasa kering.


__ADS_2