
Adam menghempaskan tubuh mungil Laras yang terlihat kurus di atas ranjang. Tentu saja wanita itu diam tak bersuara. Adam menatapnya dengan tajam, ada kilatan amarah dalam sorot matanya.
Adam mencengkeram leher Laras, membuat wanita itu kesulitan untuk bernafas. Namun, Laras menyentuh tangan sang penguasa yang terluka.
"Beraninya kau menggoda laki-laki lain, apa kau begitu gagal untuk di sentuh laki-laki,hah," geram Adam, semakin menekan leher Laras.
Laras menggeleng pelan.
'Saya pernah ingin di sentuh siapapun selain Anda Tuan,' ujar Laras tanpa suara.
Sakit, sangat sakit, nafas Laras semakin tersengal tetapi ia masih tersenyum pada Adam. Adam tertegun melihat senyum Laras, raut wajahnya terlihat begitu kesakitan tapi senyum itu.
Sang penguasa itu berdecih, melepaskan leher Laras. Wanita yang terbaring itupun meraup rakus oksigen. Laras mengusap pelan lehernya yang memerah. Terlihat jelas jejak jemari Adam.
Laki-laki bertubuh tegap itu menjauh, merapikan pakaian kemudian berjalan dan menhenyakkan bokongnya di sofa yang ada di sana. Laras bangkit, ia mengambil kotak obat yang ia simpan di meja samping ranjang.
Mata elang Adam terus saja mengekor pergerakan Laras. Tanpa suara, Laras datang mendekat. Berdiri di depan Adam dengan membawa kotak obat. Ia berlutut, meraih tangan Adam yang berbalut perban.
'Ini pasti sangat sakit,' ucap Laras tanpa kata. Adam hanya diam ia membiarkan Laras melakukan apa yang ia mau.
Perlahan Laras membuka balutan perban yang sama sekali tidak rapi itu, Adam tersenyum miring melihatnya. Ia bahkan tidak sadar kalau darah telah merembes membasahi perban. Laras meringis saat ia mengoleskan obat di luka-luka Adam.
"Aku yang di obati kenapa kau yang meringis seperti itu?" Tanya Adam heran. Laras hanya menggeleng pelan.
'Lukamu juga terasa sakit untukku,Tuan.'
Laras fokus pada telapak tangan Adam. Setelah selesai ia mengecup lembut, tangan dalam balutan perban itu. Kemudian menempelkannya di pipi, Laras memejamkan mata menikmati hangat tangan sang penguasa.
"Kenapa kau melakukan ini?"
__ADS_1
Laras mengeluarkan ponsel yang baru beberapa hari yang lalu di berikan Frans, ahli herbal itu juga yang mengajarinya untuk menggunakan benda itu.
Alis Adam menukik menyatu, ia sungguh heran dari mana ia mendapatkan ponsel pintar itu. Padahal Adam belum pernah memberi Laras ponsel.
"Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Adam menatap yang sedang mengetik dengan tajam.
'Frans yang memberikan ini pada saya Tuan, dia juga yang mengajari saya mengetik, membaca dan menggunakan benda canggih ini. Apa tangan Tuan masih sakit? Apa sangat sakit?'
Ia menyodorkan benda pipih itu agar sang pujaan hati bisa membacanya. Wajah polos Laras tampak sangat khawatir, Adam tersenyum kecil. Ya, laki-laki angkuh dan arogan itu lebih mudah tersenyum saat bersama Laras.
Masih jelas jejak jemari Adam yang melingkar erat di leher Laras. Namun, wanita cantik ini justru lebih khawatir dengan keadaan Adam.
"Tidak sama sekali, sekarang jawab pertanyaan ku. Apa yang kau lakukan bersama Jason? Jawab dengan jujur Laras." Adam mengapit dagu Laras dengan telunjuk dan ibu jarinya.
Laras mengangguk, ia pun mulai mengetik kembali.
Laras kembali menyodorkan ponselnya.
"Lalu apa yang dia bicarakan? Dan, dari mana kau tahu hari ini aku akan datang?" Tanya Adam lagi.
'Saya tidak tahu Tuan akan datang, saya hanya menunggu Tuan setiap hari di teras. Dan Tuan Jason, hanya memperingatkan saya agar sadar posisi saya.'
Adam menyeringai, ada sesuatu yang hangat mengalir dalam hati pria itu. Saat tahu Laras setia menanti kedatangannya. Beberapa hari ini ia memang tidak datang menemui Laras atau siapapun, dia tidak ingin ada yang menganggu saat mengenang hari ternaas dalam hidupnya.
"Lalu kau tahu posisimu, di sini?"
Laras mengangguk, dengan senyuman. Walaupun senyum itu tidak bisa menutupi raut sedih di wajah cantiknya.
'Selir Tuan.'
__ADS_1
Adam tersenyum miring, ia mengangkat tubuh Laras yang terasa ringan, hingga baik ke pangkuannya. Laras memekik kecil, tentu saja tanpa suara, hanya mulutnya saja yang sedikit bergerak.
Kini posisi Laras duduk dengan kaki terbuka, dipangkuan Adam. Mereka duduk saling berhadapan, Laras merasa sangat canggung. Ia menunduk, tangannya menutupi area V sambil meremas ponselnya.
"Apa kau merindukanku?" Tanya Adam dengan tangan yang mulai membelai pinggang Laras, dan terus kebelakang.
Laras mengangguk malu, hatinya berdebar merasakan sentuhan lembut Adam.
"Angkat wajahmu, Laras." Laras mengangguk, dengan malu-malu ia mengangkat wajahnya hingga mata bening miliknya bertemu dengan mata elang Adam.
Sesaat keduanya terpaku, menyelam hati lewat mata tanpa kata. Entah keberanian dari mana, Laras memajukan wajahnya, mencium lembut bibir Adam yang tak begitu tebal. Hanya menempel saja, tapi itu cukup untuk membuat jantung Laras berhenti.
Sadar sudah bertindak lancang, Laras segera menarik wajah menjauh. Namun, Adam segera menahannya. Bibir keduanya pun menyatu saling bertaut dengan lembut.
Resleting gaun berwarna peach perlahan turun, begitu pula dengan pengait bra yang Laras pakai. Adam menurunkan lengan dres yang membalut tubuh mungil Laras, wanita itu tak tinggal diam, ia pun turun bergerak mempermudah pekerjaan Adam. Kini tubuh Laras polos sampai bawah perut, Adam sedikit menaikkan bibirnya, melepaskan pagutan mereka.
"Tunjukkan, seberapa besar rasa rindumu," bisik Adam dengan tangan yang menarik rambut Laras, hingga wanita itu mendongak ke atas.
Laras mengangguk, Adam mulai menikmati leher jenjang Laras yang memerah. Menyesap, menggigitnya pelan, membuat Laras menggelinjang kegelian. Aroma khas tubuh Laras membuat Adam semakin candu, mencium leher jenjang itu dengan semakin dalam. Ciuman itu perlahan turun ke aset yang menggantung di dada, seperti bayi yang lapar. Adam mulai memainkan ujung kecil berwarna pink dengan lidahnya.
Laras, mendesah tanpa suara, tubuhnya mulai meliuk dengan nafas yang memburu. Laras mengigit bibir bawahnya, sambil meremas pelan rambut Adam. Adam melepaskan bibirnya, saat Laras terlihat sangat menikmati kemesraan mereka.
"Sekarang giliranmu," ujar Adam dengan seringainya.
Laras tersentak, tetapi sesaat kemudian segera mengangguk. Pelan-pelan, dengan tangan yang sedikit gemetar ia membuka tiap kancing jas, kemudian kemeja Adam. Pria itu begitu menikmati wajah Laras yang malu-malu tetapi juga penuh hasrat.
Laras sudah melepaskan jas dan kemeja Adam, perlahan ia turun dari pangkuan Adam. Dengan gerakan yang begitu menggoda, Laras melepaskan sisa kain yang menempel di tubuhnya. Adam tertegun melihat Laras yang begitu berani.
Laras berlutut, tangan lentiknya mengusap benda keras yang begitu menantang dari balik celana Adam. Pria itu mendesis nikmat, saat Laras mulai memainkan benda keras itu dengan tangannya.
__ADS_1