Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 22


__ADS_3

Dengan cemas Frans berusaha menghubungi Adam, entah sudah berapa kali ia mencoba. Tetapi, pria itu tak menjawabnya.


"Angkat bodoh, angkat!" Maki Frans kesal pada layar ponselnya.


Andai Adam ada di hadapannya, Frans tidak akan berani mengatakan hal seperti itu. Frans mondar-mandir, sambil terus mencoba menghubungi Adam. Sesekali matanya melirik pada pasien yang terbaring lemah di atas ranjang.


Wajah Laras terlihat pucat, seolah darah tak mengalir di sana. Ada sesuatu hal yang baru saja hilang dari Laras, sesuatu yang amat berharga. Jika Adam tahu, entah seperti apa reaksinya nanti. Tak ingin di anggap berbohong atau menutupi kebenaran, Frans mencoba untuk menghubungi sang penguasa itu.


Saat ini Kim juga tidak bisa diandalkan, ia baru saja Frans beri obat untuk menetralisir racun yang ada ditubuhnya. Dan itu butuh waktu, kondisi di luar juga tidak kondusif. Anne sedang mengamuk, mencoba masuk ke mansion milik Laras lagi. Para penjaga tentu saja lebih patuh pada Anne saat ini, dengan statusnya yang masih menyandang nama nyonya besar. Sedangkan Kim, yang di berikan kepercayaan oleh Adam untuk menjaga Laras dalam kondisi tidak baik-baik saja.


"Angkatlah, atau selir cantikmu tidak selamat malam ini," gumam Frans sambil mengigit ujung kuku yang di poles cat warna pink menyala.


"Halo, hah ... hah ...," Jawab Adam, suara deru nafas terdengar berat dan tersengal.


"Tuhan, akhirnya kau mengangkat telepon ku."


"Cepat katakan, ada apa!?" Tanya Adam cepat.


Frans menduga jika posisi Adam sekarang tidak sedang kondusif untuk menerima telepon.


"Laras sekarat, Anne sedang mengepung mansion kecil ini, sepertinya dia akan membunuh selirmu dengan cara apa saja," jawab Frans tanpa basa-basi lagi.


"Dimana Kim?!"


"Dia terbaring di ranjang, masih belum pulih dari racun. Dia tidak lebih baik dari mayat hidup."


"Agh!" Adam mengerang marah, tangannya mengepal kuat.


"Aku butuh solusi Tuan, bukan kemarahan mu! Aku tidak bisa membawa Selirmu keluar dari sini, ini seperti simalakama. Di sini dia mati, keluar juga mati," ujar Frans, ia sendiri merasa frustasi karena tidak bisa melakukan apapun.


Tas yang berisikan obat-obat herbal miliknya, terjatuh diluar saat ia menyelamatkan Laras.


"Sepuluh menit, bantuan akan datang. Bertahanlah," ujar Adam sebelum menutup teleponnya.


"Halo -halo, ck ...!"


"Semoga kau bisa bertahan, Laras," tutur Frans sambil menatap wajah pucat Laras dengan iba.

__ADS_1


Dari sela paha Laras masih mengalir darah kental, meskipun tak sederas tadi. Namun, tetap saja ini bukan pertanda yang baik. Frans tahu itu bukan darah mentruasi, hal ini tentu saja membuat Frans semakin cemas. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini, hanya mengompres bagian bawah perut Laras dengan air hangat, dari kamar mandi.


Sepuluh menit yang Adam janjikan, terasa seperti setahun. Jarum jam seolah


tak bergerak sama sekali, suara bising di luar semakin membuat Frans takut, dia bisa mengatasi satu, dua orang. Namun, suara di luar mengatakan lebih dari itu, jika saja Kim bisa di andalkan sekarang.


"Bagaimana kau bisa sebodoh ini, diracun oleh seorang wanita. Cih ... Semua pria sama saja, gampang sekali tergoda," cibir Frans sambil melirik malas pada Kim yang juga sudah ia bawa ke kamar Laras.


Ia mendudukkan pria sipit itu dengan susah payah. Ia tidak mau kebingungan harus bersama siapa jika sampai sesuatu hal terjadi.


.


.


.


.


Beberapa jam sebelum Frans menelepon Adam.


"Tuan kali ini saya dapat barang bagus, apa Anda mau mengambilnya?"


"Tentu Tuan tentu, tapi saya harus mengubah tempat kita. Saya rasa dermaga itu sudah tidak aman, dan kalau bisa saya ingin Tuan mengambilnya, saya tidak ingin mengambil resiko," ujar Eiger, dengan keringat dingin dan darah yang menetes dari pelipis atas.


"....."


"Baik, Baik. Saya akan share lokasinya."


Beb telepon ditutup, anak buah menjauhkan ujung pistol dari belakang kepala Eiger, ternyata selama ini Eiger berkerja sama dengan musuh terbesar Adam yang tengah bersembunyi. Lucius, orang yang telah menghabisi nyawa ayah dan bunda Adam.


Dia bukan Lucius yang ayah Adam makamkan, dia seseorang anak yang Lucius rawat sejak kecil, ia sengaja memakai nama Lucius karena ingin mengenang pria itu. Tahu ayah angkanya dibunuh oleh Aric, membuat dia balas dendam. Begitu pula Adan sekarang, ia ingin balas dendam pada pria itu.


Dor


Adam menembus tengkorak Eiger dengan peluru dari pistolnya. Rencananya kali ini harus berhasil, sudah bertahun-tahun dia mencari pria itu. Namun, Lucius sangat licik, dia bisa lepas dari Adam selama ini. Ia tak menyangka jika selama ini, Anak buah Rey berkhianat dan berkerja sama dengan pria menjijikkan itu.


Jebakan berhasil, Adam mengurung Lucius bersamanya dalam sebuah gudang tanpa senjata. Hanya mereka berdua, tetapi tetap saja Lucius bisa menyembunyikan senjata di balik tubuhnya.

__ADS_1


"Uhuk ...," Darah segar keluar dari mulut Adam, ia meludah mengeluarkan sisa cairan amis itu dari mulutnya.


Sambil memegangi lengannya yang berdarah, Adam mencoba berdiri. Begitu pula seolah pria yang menjadi lawan duelnya. Rambut pirang yang tadinya terikat rapi kini sedikit tergerai.


Keadaan pria itu tak kalah buruk dari Adam, meskipun dengan tangan kosong. Adam mampu tubuh tangguh itu mengeluarkan darah.


Keduanya kembali memasang kuda-kuda, pria itu masih membawa tongkat besi yang tak begitu panjang, sebagai senjata. Sedangkan Adam, mengeratkan kepalan tangan dengan kuat.


"Make it the last," ujar pria itu kemudian meludah ke samping.


Adam hanya menyeringai menatapnya dengan penuh kebencian.


"Hia ...!"


"Ha ...!"


Mereka berdua maju, Lucius menyerang bertubi-tubi dengan cepat, kanan-kiri kanan-kiri. Ia melakukan itu dengan sangat cepat, tak memberi Adam jeda untuk menyerang. Adam menangkis pukulan besi tumpul itu dengan kedua lengannya.


Brugh.


"Aghh!" Pekik Lucius saat Adam berhasil menendang tulang kering bagian belakang.


Melihat lawannya tak menikmati kesakitan, Adam tak tinggal diam. Sebuah tinju ia arahkan ke dagu, serangan dari arah bawah keatas, sangat cepat dan penuh tekanan.


"Emh."


Lucius bisa merasa lidah yang tergigit, rahangnya terasa bergeser. Adam kembali menyerang, kali ini dada dan perut sebagai sasaran pukulan, tanpa kata hanya bunyi tinju yang beradu dengan tubuh Lucius.


"Ha...!" Satu tendangan di perut berhasil membuat Lucius rubuh.


"Agh ....Agh!"


Adam menginjak perut pria itu, meninju wajahnya dengan kepalan tangan-tangan berkali-kali hingga tubuh itu tak bergerak sama sekali.


Nafas Adam tersengal, perlahan dia bangkit dari raga yang tak lagi bernyawa itu. Ia sudah membunuh, pembunuh itu. Namun, tak ada kelegaan dalam hatinya.


Adam berjalan dengan kaki dengan gontai, membuka pintu besi besar yang sedari tadi tertutup rapat. Rey yang sedari tadi menunggu di luar segera menyambut Adam.

__ADS_1


Saat inilah Adam baru mengangkat telepon dari Frans, dengan menggunakan helikopter Adam bergegas pulang. Meskipun Rey sudah menghubungi anak buahnya untuk membantu Laras, tetapi tetap saja Adam merasa khawatir.


__ADS_2