
Bisu
Tidak ada pilihan lain, aku harus merawat dia dengan baik.
Setelah melewati malam panjang yang hanya bersama Laras, Adam merasa candu. Malam ini pun ia pulang lebih awal, setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Derap langkah kaki Adam melangkah pasti, ketempat Laras. Laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu menatap menyeringai, dalam hatinya ia merasa senang melihat Laras yang sedang sibuk berkutat di dapur. Wanita bermayang panjang itu tampak cantik memakai dress selutut dengan rambut dicemol, beberapa anak rambut ia biarkan tergerai.
Jenjang leher Laras, terlihat sangat menggoda. Tak sabar untuk mencicipi, aroma mangsanya. Adam langsung mengangkat tubuh Laras, membawa diatas pundaknya.
Laras memekik tertahan, terkejut saat tubuhnya tiba-tiba melayang. Namun, setelah sadar siapa yang membawanya seulas senyum terukir di bibir mungil yang terpoles lipgloss rasa strawberry itu.
Adam menghempaskan tubuh Laras di atas ranjang, membuka, mengoyak helai benang yang melekat pada tubuh mangsanya. Laras pasrah, dengan permainan kasar sang penguasa. Ini memang sudah haknya, lagi pula Laras tak ada pilihan lain untuk Laras, dia hanya alat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan laki-laki itu.
Tanpa pemanasan Adam langsung menyatukan tubuh mereka, Laras memekik keras dalam keheningan. Tangan lentiknya mencengkeram kuat sprei, bulir bening meleleh dari sudut mata lentik Laras.
Sakit, itu yang Laras rasakan. Benda panjang nan keras itu melesak masuk begitu saja, mengoyak miliknya dengan kasar. Adam memacu tubuhnya, semakin lama semakin cepat, letupan hasratnya sungguh tidak tertahankan. Tubuh Laras seolah candu yang tak mungkin bisa ia hindari.
Setengah jam berlalu, Adam mempercepat gerakan pinggulnya. Tangan besarnya meremas gemas pinggang sang selir, yang kini sedang tertelungkup membelakanginya.
"A ... A ... Agh!" Lenguhan panjang keluar dari pria itu, bersama dengan pasukan kecebong yang masuk dalam rahim Laras.
Laras terkulai lemas, Adam membalikkan tubuhnya. Pria itu menyeringai puas, melihat wajah sayu Laras, dada wanita itu naik turun seiring tarikan nafasnya. Adam menunduk menyatukan bibir mereka dengan lembut, setelah permainan kasarnya.
Menyesap, mencium tiap jengkal kulit yang telah mengeluarkan peluh. Tubuh Laras merespon dengan baik, Adam menyeringai. Ia semakin bersemangat menjelajahi tubuh polos Laras, dia sangat menyukai ekspresi wajah Laras, andai saja wanita itu bisa mengeluarkan suara manja. Adam mungkin akan semakin menggila.
Adam kembali menyatukan tubuh mereka, setelah merasa tubuh Laras siap. Meski sudah payah Laras tetap melayani Tuan nya. Setelah bermain kasar, Adam bermain dengan lembut hingga membuat Laras terbuai.
Perasaan Adam untuk Laras tumbuh semakin kuat, meski pria itu belum menyadarinya.
Cahaya matahari masuk menerobos celah tirai kamar Laras. Wanita itu mengerutkan keningnya, saat cahaya itu menimpa tepat di wajah polosnya.
"Egm ...." Laras menggeliat, menyentuh sisi ranjang yang telah kosong.
Mata Laras membeliak lebar, menoleh kearah sisi lain ranjang.
Di mana Tuan?
__ADS_1
Kosong, hening hanya ada dirinya dalam ruangan bernuansa putih itu. Laras menunduk sadar, ia hanya sekedar mainan untuk sang penguasa. Tentu saja dia akan pergi setelah selesai bermain.
Tak ingin berlarut dalam rasa kecewa, Laras bergegas turun dari ranjang. Membersihkan dirinya yang sudah lengket karena beradu peluh semalam.
Ternyata hampir tengah hari saat laras membuka matanya. Ia pun memutuskan untuk membuat sesuatu di dapur. Meskipun ada pelayanan, tetapi Laras tidak pernah menyuruh mereka. Ia juga tidak ingin bantuan dari mereka, bagi Laras derajat mereka sana dengan dia. Sama-sama perkerja. Hanya beda yang di kerjakan saja beda jalur.
Laras merasa bosan tak melakukan apapun di mansion kecil itu. Semua pekerjaan sudah di kerjakan oleh asisten yang ada di sana.
Hari ini sengaja Laras berhias dengan cantik, entah pantas atau tidak ia melakukan hal ini. Ia hanya seorang selir, seorang wanita pemuas nafsu sang penguasa. Namun, perasaan dalam hati Laras mulai tumbuh untuk pria itu.
Bintang sudah mulai menampakkan dirinya, bias rembulan bersinar melengkapi indah malam ini.
"Ehem kau menunggu Tuanmu rupanya?"
Laras menoleh, ia terkejut melihat seorang laki-laki datang mendekat. Pria itu, pria yang sama yang ia lihat waktu itu. Laras mundur dengan wajah pias.
Siapa Anda? Tolong Anda segera pergi dari sini!
Laras mengerakkan tangan berbicara. Pria itu mengerutkan keningnya.
Kau mengerti bahasa ku? Tanya Laras dengan binar bahagia.
Setelah cukup lama berada di mansion ini, akhirnya ada seseorang yang mengerti bahasa isyarat Laras. Hal itu membuat gadis bermayang panjang itu sangat senang.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku masih sayang kepalaku," ketus Jason.
Meski Adam sangat menyayangi Jason, tapi itu tidak menutup kemungkinan Adam marah pada Jason. Meski tingkat kemarahannya tidak seperti pada yang lain.
Maaf. Aku tidak bermaksud membuat Anda dalam masalah.
Laras sedikit membungkukkan, menunjukkan ketulusan maafnya.
"Tidak perlu minta maaf, aku hanya mengingatkanmu. Kakak paling tidak suka, jika barang miliknya di sentuh orang lain. Jadi jaga sikapmu dengan baik, jika masih ingin hidup tenang."
Saya mengerti, terima kasih sudah mengingatkan saya Tuan.
Laras tersenyum begitu manis, senyum yang membuat hati Jason bergetar. Kini ia mengerti kenapa sang Kakak terlihat lebih menyayangi selirnya kali ini. Laras berbeda, dia punya sesuatu yang membuat orang tertarik untuk mendekat, melindungi gadis itu. Terlepas dari kekurangannya.
__ADS_1
Kenapa Tuan ini menatapku seperti itu.
Laras menunduk, menghindari tatapan Jason yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ehem."
Jason tersadar dari lamunannya, oleh deheman Kim yang baru saja keluar.
"Ada perlu apa Tuan Muda kemari?" Tanya Kim dengan nada tidak bersahabat.
"Hanya mencari angin, tidak usah begitu tegang Kim." Jason bangkit dari duduknya, menepuk pundak Kim pelan.
"Saya tidak yakin dengan jawaban Anda."
"Hahaha ... Kau terlalu serius, aku hanya menjenguk kakak ipar saja. Aku lihat dia sedang berdiri sendiri di sini. Jadi aku memutuskan untuk menemaninya, aku adik yang baik kan," ucapnya dengan alis yang naik turun.
Kim memutar matanya jengah. Ia melirik kearah Laras yang terus menunduk.
"Lebih baik Anda kembali ke Kamar Anda Tuan muda, saya tidak ingin ada masalah di sini!" Tegas Kim.
"Baiklah, Baik. Aku akan pergi, sampai jumpa lagi kakak ipar." Laras mengangguk pelan, dengan senyum ramah.
Namun, senyum itu memudar seketika, setelah mendapatkan tatapan tajam dari Kim. Setelah Jason berlalu pergi, Kim memerintahkan Laras untuk masuk.
"Tuan Adam, dalam perjalanan bisnis, dia tidak akan pulang dalam seminggu ke depan."
Wajah Laras terlihat sendu, guratan kecewa terlihat jelas di wajah cantiknya.
Ternyata Tuan, tidak pulang. Padahal aku sudah menyiapkan makanan untuknya.
"Kau tidak perlu terlihat kecewa seperti itu. Dan ingat, kau hanya selir! Jaga sikapmu Nona!" Kim memperingatkan Laras dengan nada tinggi.
Laras terjingkat, dengan cepat ia mengangguk. Kim meninggalkan Laras di kamarnya sendirian.
Aku tahu posisiku Tuan Kim, aku sangat sadar kalau aku tak lebih dari pelacur untuk Tuan Adam. Tapi aku tidak bisa melarang hatiku untuk mencintainya.
Laras terduduk di tepi ranjang, menatap kosong pada jendela yang belum ia tutup. Semilir angin malam, membelai rasa rindu Laras untuk sang pujaan hati yang tak tergapai.
__ADS_1