
Acara resepsi pernikahan Laras tinggal hitungan menit, para tamu sudah menunggu kedatangannya di tempat acara.
Untuk kedua kalinya, Laras mengenakan gaun pengantin. ia tampak begitu gugup, duduk di depan meja rias.
"Bagaimana penampilanku?" tanyanya untuk kesekian kalinya.
"Kau cantik, jangan membuat aku bosan menjawab pertanyaanmu. sudah berapa kali kau menanyakan hal ini Nyonya Mahadev."
Frans menyimpan ponselnya di saku, ia bangkit dan melangkah mendekat ke arah Laras.
"Kau cantik, Kau begitu lembut dan penyayang Laras. Kau akan menjadi air yang akan mendinginkan Adam yang tempramen, kalian pasangan yang sempurna. Aku berdoa semoga Tuhan memberkati kalian," ucap Frans dengan tulus.
Laras tersenyum. "Kau juga semoga kau lekas menemukan jodoh dan kebahagiaan mu."
Laras menggeser duduknya, menggenggam tangan wanita yang menjadi sahabat sekaligus kakak bagi Laras.
Frans tertawa, tawa yang begitu hambar tanpa rasa. "Aku sudah bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang Laras, aku kaya, single dan sekarang aku juga menjadi kerabat dekat Adam. Sang penguasa terkuat, mau apa lagi."
Laras tersenyum." Tapi di sini, dingin dan kosong."
Laras menyentuh dada Frans, senyuman Frans memudar. Tak bisa ia pungkiri, ia merindukan seseorang yang bisa mencintai dia dengan tulus dan apa adanya. Namun, Frans tak ingin lagi kecewa.
"Apa sih, sudahlah. Ini hari bahagiamu, jangan ngedrama dan bikin aku jadi melow," tukas Frans.
"Ayo, sudah waktunya."
Frans mengandeng tangan mungil Laras, membantu wanita cantik itu berjalan. Gaun besar berwarna putih mengembang bak ratu, Laras tampak begitu anggun dan menawan. Gaun yang ia pakai kali ini adalah pilihannya sendiri, tidak seperti saat dia di paksa untuk datang ke mansion ini.
Semua sudah berbeda, bunga yang digunakan untuk dekorasi, makan yang di suguhkan untuk tamu, musik dan semua yang terbaik untuk acara ini adalah pilihan Laras. Karpet merah menyambut kedatangan Laras, seorang laki-laki gagah memakai jas lengkap, menuggu Laras di depan semua orang.
Senyuman manis tersungging di bibir wanita cantik itu, mata Laras menatap lekat pria yang sudah menjadi suaminya secara hukum. Hari ini sebenarnya mereka hanya melakukan resepsi saja, Adam hanya ingin membuat Laras bahagia.
"Tahan emosimu Anne, jangan membuat keributan," Marquis menasehati putri semata wayangnya itu.
Tangan Anne mengepal kuat, dia sungguh marah melihat pemandangan manis yang tersaji dei depannya. Seharusnya Anne yang ada di sana, menjadi pusat perhatian dan berdiri di sisi Adam, bukan malah duduk menjadi tamu undangan.
Di tambah lagi Jason datang dengan wanita, laki-laki itu tak lagi perduli dengan dia. Hal itu membuat Anne semakin kesal, ia merasa dikhianati oleh Jason.
Alunan musik dari piano tua mengalun mengiringi langkah dansa para tamu undangan dan mempelai pengantin.
__ADS_1
"Kau sangat cantik Sayang, aku tak sabar untuk memakanmmu," bisik Adam di telinga istrinya.
"Adam," rengek Laras manja. Adam tergelak melihat wajah Laras yang memerah.
Sumpah demi apapun, Adam tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Dia pun tidak pernah membayangkan sebelumnya, yang dia tahu hanya membunuh dan mencari keuntungan saja. Laki-laki itu tak berniat untuk mengenal cinta, tetapi saat Laras datang dalam kehidupan Adam, semua berubah.
Gadis itu seolah punya sihir yang membuat Adam lemah. Tak ada hal yang istimewa yang Laras perbuat untuk Adam, hanya dengan tersenyum menyambut Adam pulang. Hal itu sudah mampu membuat Adam kehilangan akal.
"Kapan kau akan pensiun jadi jomblo?" Tanya Jason dengan nada menyindir pada Kim.
"Setelah kau," jawab pria sipit itu datar.
"Hahahaha ... Berarti kau harus segera menemukan pasanganmu Tuan Kim."
"Apa maksudmu?" Tanya Kim dengan raut wajah heran.
Tak menjawab dengan kata, Jason memamerkan cincin putih yang melingkar di jari manisnya kemudian menunjuk seorang wanita cantik yang sedang berbincang dengan Frans.
"Kau adu pisang dengan mahluk jadi-jadian itu!" Pekik Kim terkejut, mata sipitnya melebar sakit terkejutnya.
"Jane, Kim. Aku menikah dengan dia kemarin, lagi pula aku tidak bernafsu untuk merebut kekasih mu," tukas Jason cepat.
"Kekasih ku?"
"Ya, Frans. Dia kekasih mu bukan?"
"Aku tidak bernafsu dengan pisang," tukas Kim dingin. Dia melengos saat tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Frans.
Lagi-lagi Jason tergelak melihat tingkah Kim, entah mengapa dia merasa kalau Frans dan Kim pasangan yang sangat cocok.
Anne menenggak minuman dengan sekali teguk, ia tak bisa lagi menahan amarahnya melihat Laras dan Adam bermesraan. Seorang pria yang melihat keadaan Anne menyeringai licik, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Halo Nona Anne, sepertinya Anda sangat suka dengan anggur ini," ujar pria itu basa-basi.
Anne melengos, ia tak ingin perduli dengan laki-laki yang ada didepannya itu. Pria berambut pirang itu tersenyum miring, ia menyodorkan secarik kertas pada Anne.
"Lain kali aku akan mentraktir Anda minum," ucapan sebelum pergi.Anne tak menjawab, ia mengambil kertas itu dan menyimpannya di saku.
Malam semakin larut. Pesta yang berlangsung meriah pun telah usai, kini Adam dan Laras berada dalam kamar pengantin mereka. Laras tak lagi menempati mansion kecil, dia sudah resmi menjadi seorang nyonya Mahadev, satu-satunya Nyonya besar di mansion itu.
__ADS_1
Wanita cantik itu duduk di meja rias yang baru saja di tambahkan dalam kamar Adam beberapa hari yang lalu.
"Adam, bisakah kau membantuku melepas gaun ini?"
"Tentu Sayang." Adam bangkit dari sofa, berjalan mendekat ke arah Laras.
Perlahan pria itu menurunkan resleting gaun pengantin yang istrinya kenakan. " Kau tahu apa artinya meminta seorang laki-laki membuka resleting saat seperti ini, Sayang?"
Laras menggeleng." Apa?"
Wajah Polos Laras menatap Adam dari pantulan cermin besar yang ada di depan mereka.
"Ini artinya, kau sedang menggoda ku," bisik Adam dengan nafas berat dan memburu.
"Meng-menggoda, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya minta tolong saja," jawab Laras dengan terbata, ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sebuah kecupan lembut Adam berikan pada bahu Laras yang terbuka. Perlahan gaun yang wanita itu kenapa mulai di turunkan sampai sebatas perut oleh sang suami.
Ciuman Adam membuat Laras terbuai, bibir tebal yang basah itu mulai menyusuri leher jenjangnya. Tangan kekar Adam tak tinggal diam, jemarinya mulai lincah memainkan ujung berwarna pink yang sudah bebas dari pengaman. Tubuh Laras menggeliat hebat, seperti sengatan listrik yang menggelitik tiap ujung syarafnya.
Melihat Laras mulai bereaksi, Adam segera mengangkat tubuh wanita itu ala bridal, dan membaringkannya perlahan di atas ranjang. Dialah wanita pertama yang Adam baringkan di sana, hanya Laras wanita pertama dan terakhir yang akan menepati ruangan pribadi Adam itu.
Adam melepaskan semua benang yang menempel di tubuhnya maupun tubuh Laras. Dalam keadaan polos, Adam mulai memainkan dua jari diarea intim sang permaisuri.
"Ad-Adam aku, emh ...."
"Lepaskan Sayang." Adam semakin mempercepat tempo permainannya.
Laras mencengkeram kuat kain hitam yang menjadi tempat peraduan mereka, ia mulai merintih merasa gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat.
"Ah ....!" Tubuh Laras mengejan, cairan lengket tanpa warna membasahi jari sang suami.
Adam menyeringai, menjilat habis cairan yang menempel di jarinya, tanpa rasa jijik.
"Itu kotor," ucap Laras, wanita itu menutupi wajahnya dengan lengan, ia merasa malu melihat apa yang Adam lakukan.
Adam menyingkirkan lengan dari wajah Laras, menikmati wajah yang baru saja mendapatkan ******* pertamanya.
Adam menyatukan bibir mereka, membuat Laras hasrat Laras kembali naik sebelum menikmati menu utama.
__ADS_1
Malam itu begitu panjang, suara merdu dua insan yang tengah mabuk cinta menemani indah bukan purnama. Bukan hanya Adam, tetapi juga Jason dan Kim juga tengah menikmati panas ranjang dengan peluh dengan pasangan masing-masing.